Papan Tulis Istimewa

Bertahun-tahun lalu, saat aku masih SD, papa selalu berusaha meluangkan waktu untuk memeriksa PR Matematika kami. Papa pandai sekali Matematika. Aku selalu terkagum-kagum, bagaimana bisa papa secepat itu menghitung sedemikian cermat dan menemukan hasilnya dengan tepat? Sementara aku harus repot mencoret-coret, berkomat-kamit, atau mengerahkan jari-jariku untuk mendapatkan hasil akhirnya…..

Bila papa menemukan jawaban kami salah, kadang-kadang papa menyuruh kami memeriksanya sekali lagi. Saat kami tak juga menemukan jawaban yang tepat, papa akan menunjukkan cara mengolah soal itu. Tak pernah papa memberikan jawaban yang benar begitu saja. Kami harus paham betul cara dan langkah-langkah mendapatkan jawaban itu.

“Matematika adalah ilmu pasti, selalu punya cara pasti untuk mendapatkan jawabannya, dan bukan sekedar mereka-reka atau menebak jawabannya”, begitu kurang lebih kata papa.

Biasanya sih, kami mendapatkan nilai sepuluh untuk PR matematika kami. Plok..plok..plok...

Kadang-kadang, kalau kami belum begitu mengerti penjelasan guru kami di sekolah, papa akan menjelaskannya kembali di rumah. Sekali atau dua kali dipastikannya bahwa kami telah benar-benar memahami materi dan langkah-langkah mengolah soal-soal matematika tertentu.

Papa melarang keras penggunaan kalkulator, sebab kalkulator membuat kita malas berpikir.

Saat aku kelas 4 SD, aku dan teman-teman mulai berinisiatif mengadakan belajar kelompok, bergantian dari rumah satu ke rumah yang lain.

Awalnya, kelompokku terlalu besar. Orang-orang dewasa mengatakan bahwa kelompok yang terlalu besar tak akan efektif.

Benar saja, hasilnya bisa ditebak, kami hanya menghabiskan waktu dengan bercanda dan ribut berdebat eyel-eyelan yang nggak penting hihihi….

Akhirnya disepakati, kelompok itu lebih baik dipecah menjadi kelompok-kelompok yang kebih kecil. Seingatku, aku berkali-kali berganti kelompok, dengan begitu, aku jadi punya alasan bagus untuk bisa bermain ke rumah teman-temanku yang lebih jauh…hihihi…dasar!

Teman-temanku senang sekali belajar kelompok di rumahku. Sebab, sesulit apapun soal PR kami, pasti selalu ada jawaban yang tepat. Papa dengan senang hati menjelaskan cara-cara menyelesaikan soal-soal yang rumit tersebut. Rasanya bangga deh, saat hanya kelompokku saja yang memperoleh nilai sempurna di kelas.

Ada kalanya teman-temanku berebut ingin bergabung denganku dengan harapan bisa belajar di rumahku. Selain bisa mendapat koreksi dari papa, -artinya jawaban benar semua- mereka juga bisa bermain di halaman rumahku, sambil berburu murbei…

****

Papa membuat sebuah papan tulis dari papan tripleks sisa. Papan itu bisa kami angkat ke mana saja karena memang sengaja tidak digantung atau ditempelkan pada dinding. Karena hanya merupakan sisa, ukurannya pun agak tak lazim. Bentuknya bujursangkar, besar untuk ukuran kami, kira-kira 130cm x 120cm (kalau nggak salah ya…).

Papa mengecat sendiri papan itu. Di satu sisi hitam polos. Di sisi sebaliknya, papa membuat bidang berkotak-kotak kecil berukuran 5cm x5cm. Kotak-kotak ini dibuat permanen sehingga takkan hilang terhapus. Papa membuat kotak-kotak ini dengan semacam ujung paku yang ditekan cukup keras sehingga menghasilkan “luka” guratan memanjang horizontal dan vertikal yang saling memotong tegak lurus. Terciptalah papan tulis berkotak-kotak kecil yang rapi sekali. Papa memang selalu melakukan apapun dengan sungguh-sungguh dan sesempurna mungkin.

Awalnya aku tak memahami mengapa papa membuat papan tulis berkotak-kotak. Bukankah lebih enak bila hitam polos aja tuh? Jadi kami bisa menggambar sepuasnya dengan kapur.

Kemudian hari, aku menyadari manfaat kotak-kotak itu. Di situ, dengan mudahnya kami bisa menggambar garis bilangan, diagram, tabel, bangun segiempat, segitiga, bujursangkar dan bahkan bentuk dimensi seperti tabung, prisma dan kubus…

Hmmm…papa memang hebat!

Papan tulis itu berjasa besar untuk kami belajar kelompok. Satu soal ditulis di papan tulis dan kami bahas bersama-sama.

Papa yang baru pulang dari kantor sering kumintai tolong untuk mengecek jawaban kami. Meskipun lelah setelah seharian bekerja, papa tetap meluangkan waktu untukku dan teman-temanku. Papa “cukup” memeriksa jawaban kami dari soal yang tertulis di papan tulis. Saat papa menemukan kesalahan, papa akan menulis di papan yang sama, sambil menerangkan cara-cara hingga mendapatkan jawaban yang tepat. Bila jawaban kami benar, papa akan memberi tanda centang. Mirip pak guru deh…🙂

Teman-temanku selalu kagum akan kepandaian papa mencari dan menerangkan cara penyelesaian soal. Menurut kami, kadang-kadang cara penyampaian papa lebih mudah dimengerti daripada guru kami di kelas. Pernah juga papa memberikan alternatif penyelesaian soal yang jauh lebih mudah.

Saking kagumnya atau saking terlalu paham, biasanya temanku akan ber-koor, “Oooooo…….”.

hahaha….

****


Sekali waktu, papa memeriksa pekerjaan kami di papan tulis. Hanya dengan mengamati kerja kami di papan tulis, tanpa mencoret-coret sedikitpun, papa bilang, cara penyelesaian soal itu kurang tepat, satu tahap terlupakan. Papa menyuruh kami mengerjakan ulang dengan lebih teliti. Papa menuliskan jawabannya di bagian belakang bidang papan tulis yang kami pakai, lalu meninggalkan kami.

Kami tertantang untuk menemukan jawaban yang tepat. Rasanya pengeeeen sekali mengintip jawaban benar di balik papan tulis itu. Tapi kami saling mengingatkan untuk tidak mengintip kunci jawaban itu.

Setelah yakin pada hasil yang kami bahas bersama, akhirnya kami melongok jawaban papa di bagian belakang. Hasilnya sama persis!

Horeee….!! kami bersorak-sorak girang seperti menemukan formula rahasia maha dahsyat…

Lalu, temanku berkata betapa beruntungnya aku memiliki papa yang pandai. Hmmm….bangganya aku…

Pernah pula, papa menemukan bahwa salah satu jawaban PR-ku dianggap salah oleh guruku. Papa menyuruhkau menghadap guruku, menanyakan hal tersebut. Pak guru mencorat-coret dan akhirnya setuju bahwa jawabanku lah yang benar..

Papa memang luar biasa!

****

Kupersembahkan tulisan ini untuk Papa, hari ini, di hari ulang tahunnya 5 Juni 2010.


// Terima kasih Papa, untuk segalanya yang terbaik…

Terima kasih untuk tahun-tahun indah yang menjadikanku merasa demikian berharga.

Dan berjuta terima kasih untuk segala kasih sayangmu yang menjadikanku kuat dan tegar, bahkan di saat aku rapuh…

Selamat Ulang Tahun, Papa…

Selamat berbahagia

Doaku untukmu.

I LOVE YOU PAPA…

….Berkah Dalem…//

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Special Ones and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

38 Responses to Papan Tulis Istimewa

  1. ikkyu_san says:

    Waaahhhh benar-benar papa yang hebat
    Selamat ulang tahun ya papanya Nana.

    (Na, kebalikan kalo di aku mama yang jago berhitung, tapiiiii dia ngga bisa njelaskan. Yang jelaskan pasti papa dengan cara MATEMATIKA! hahahah)

    EM

  2. vizon says:

    ada tiga hal Na:

    #1, Selamat ulangtahun buat Papa ya… semoga beliau senantiasa diberi kesehatan dan kebahagiaan sepanjang usia beliau…

    #2, Papaku juga jago matematika. Beliau bisa berhitung, mengurang, mengali dan membagi dengan hanya membayangkan saja, tanpa orat-oret sana sini… Sayangnya, ilmu beliau itu tak menular ke aku, hahaha…

    #3, Papamu luar biasa Na… Kesan positif yang beliau tinggalkan di memori terdalam anaknya, telah mampu mengantarkan kebahagiaan bagi anak-anaknya. Begitulah seharusnya setiap ayah bersikap. Aku sungguh terinspirasi dari beliau… Salam hormatku buat beliau ya…

    • nanaharmanto says:

      #1. Amin….. terima kasih ya Uda…
      #2. sepertinya angkatan Bakidul (Babe kita dulu) lebih jago berhitung deh, Da…. jaman mereka dulu mencongak sangat ditekankan… coba deh lihat orang-orang jaman Bakidul yang lain rata-rata cermat dan tangkas berhitung… aku juga nih Uda… matematika-ku jongkok…hihihi.. maluu…😦

      #3. Terima kasih sekali lagi Uda… aku yakin, Uda juga ayah yang luar biasa bagi the fantastic four. aku ingat betul fotografer yang berkubang di lumpur dan balok untuk Fatih itu… 🙂
      kelak memori indah ini akan diceritakan dengan bangga oleh Fatih…

  3. nakjaDimande says:

    Selamat Ulang Tahun untuk papanya Nana
    salam hormat dari Bukittinggi.

    kenanganku sama almarhum papa, dulu ada program acara cerdas cermat di TVRI. Papa menyuruh kami untuk menuliskan jawaban setiap pertanyaan di atas kertas, jadi seolah ikutan acara cerdas cermat juga.. ramee..!😀

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya Bundo…
      wah, ikutan cerdas cermat dari rumah ya Bundo? pasti seru tuh… saya dulu nggak ikutan nulis jawaban di kertas… cuma ikut nebak-nebak aja. Kalau bener rasanya seneng banget.. hihihi…🙂

  4. septarius says:

    ..
    Selamat ulang tahun untuk Papa-nya Mbak Nana..
    ..
    Tapi sekarang kalo berhitung udah pake’ kalkulator tho Mbak..?😀
    ..

  5. zee says:

    Selamat ulang tahun untuk papanya ya mbak. Semoga di ulang tahunnya ini selalu diberi kesehatan… Memang papa mbak hebat, sampai bisa mematahkan s guru yang sok tau itu🙂

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya Zee….

      Papa emang cermat dan teliti… kesalahan berhitung yang nyaris luput pun bisa diketahui.
      Pak guruku waktu itu mungkin kurang teliti, dan dengan legowo mengakui kekeliruannya….🙂

  6. arman says:

    what a sweet memory…🙂
    kalo dulu gua pas kecil yang selalu ngajarin matematika tuh justru mama. soalnya mama gua dulu kuliahnya jurusan IPA, jadi lebih jago dalam urusan itung2an. hehehe.

    met ultah ya buat papanya… moga2 panjang umur dan sehat selalu!!

    • nanaharmanto says:

      Hmmm…. kubayangin mama-mu dulu sabar banget ya ngajarin anak-anaknya?

      Dulu sih, seperti ada “pembagian” antara papa dan mamaku. Matematika urusan papa, sedangkan pelajaran lain seperti IPS, Bahasa Indonesia, PMP dan IPA bagian mama tuh yang ngebantuin kami…

      Thanks a lot ya Arman….

  7. tutinonka says:

    Selamat ulang tahun untuk papanya ya Na …🙂

    Waktu di SD, aku masih mendapat pelajaran berhitung ‘mencongak’, bahasa Jawanya ‘etung awangan’, yaitu menghitung di dalam otak, tanpa membuat coretan apapun. Pak Guru atau Bu Guru menyebutkan soalnya, memberi waktu kepada anak-anak untuk berpikir, lalu anak-anak harus menulis jawabannya di ‘notes’ kecil. Notes itu buku kecil, biasanya dibuat sendiri dari kertas kosong yang masih tersisa dari buku tulis, khusus untuk mengerjakan ‘etung awangan’. Makanya orang-orang jaman dulu pandai berhitung ‘awangan’, karena waktu kecil memang dilatih …

    • nanaharmanto says:

      Matur nuwun, Bu Tuti…

      Ah ya… mencongak di jaman Bakidul (babe kita dulu) memang sangat ditekankan. Saya pernah diajar oleh guru yang juga suka aktifitas mencongak. Kalau nggak salah ingat, guru saya memberi kertas buram yang dipotong kecil-kecil untuk kertas jawaban murid-murid. tapi tetap saja kemampuan berhitung saya payah hihihi…

      Orang-orang dulu memang lebih pandai dan tangkas berhitung…

  8. PakOsu says:

    Papa yang hebat. Selamat ulang tahun buat papa Nana, semoga panjang umur dan sehat selalu, amin.

  9. DV says:

    Damn! Kamu mengambil angle penulisan yang sangat bagus dan baik untuk mengungkapkan ulang tahun Papamu.

    Selamat ultah, Om!
    Saya menyesal dulu nggak kenal Om, kan saya bisa jadi jago matematik juga!🙂

  10. riris e says:

    Selamat Ulang Tahun, Om
    sehat-sehat selalu dan kiranya penuh dengan berkat Tuhan. Amin

  11. edratna says:

    Papamu hebat sekali Nana…beruntung sekali Nana punya Papa yang memperhatikan kemajuan putra putrinya.
    Salam saya untuk beliau ya Nana, sugeng tanggap warsa…semoga selalu diberikan kesehatan dan kedamaian

    Kembali…saya terharu membaca tulisanmu…sederhana tapi dalam, menceritakan hubungan papa dan anak perempuannya yang sungguh indah

    • nanaharmanto says:

      Matur nuwun Bu Enny…
      saya sampaikan salam Ibu pada papa saya nanti..

      ya saya sangat beruntung punya papa yang hebat. Kebersamaan dengannya menginpirasi banyak tulisan di blog ini….

  12. Clara says:

    Hebat Papanya mba Nana.. mengingatkan saya pada Papa saya sendiri, dan mama saya yang membimbing kami waktu belajar..

    saya baca postingan ini, lanjut ke superdad 1-tamat, dan terharu sampai menetes air mata, padahal sedang ada di kereta Semarang-Jakarta, hiks hiks..

    Buat Papanya Mba Nana.. selamat ultah ya Pak..🙂

    • nanaharmanto says:

      Wah, papa dan mamanya Clara hebat juga tuh, mau membimbing anak-anaknya belajar… salam untuk mereka ya…

      Hmm…. baca superdad sampai tamat? hiyaa…sanjungan untukku nih…. thanks a lot ya..

  13. nh18 says:

    Berbahagialah Na …
    Kamu mempunyai Papa yang asik seperti itu …

    Dan satu lagi …
    Selamat Ulang tahun juga untuk Papanya Nana …
    Semoga sehat dan bahagia selalu …

    Salam saya
    (dan asal tau saja … 5 juni adalah juga hari ulang tahun perkawinan kami …)

    hehehe

  14. Wuih..papa yg luar biasa. Coba zaman dulu, udah ada acara ‘papaku hebat’, papa nya pak nana bisa terpilih jd bintang tamu nya tuh.

    Happy birthday ya papa nya pak nana.

  15. Adi says:

    Met ultah bwt papa.XD

  16. Selamat Ulang Tahun untuk Papanya Mbak Nana.
    Semoga selalu dalam keadaan sehat dan berkah yg tiada putus,amin
    Salam hormat dr kami sekeluarga.
    salam

  17. Emak Bawel says:

    Kadang2 melihat bagaimana Papa membesarkan kita, bikin aku jadi ‘minder’- bisa nggak, ya… kayak dia?
    Yang di bawah ini sih nyomot, sudah kutulis juga di FBmu.
    Apabila seseorang menyimpan banyak kenangan indah di masa kecilnya, maka kelak seluruh kehidupannya akan terselamatkan. Bahkan apabila hanya ada satu saja kenangan indah yang tersiampan dalam hati kita, maka itulah kenangan yang akan memberikan satu hari untuk keselamatan kita” (destoyevsky’ s brothers karamoz)

    • nanaharmanto says:

      Aku baru sekali ini denger Quote ini… tapi bener banget nih… baru selesai baca beberapa buku tentang akibat kekerasan yang dialami seorang anak ketika kecil dulu, dan yang membuatnya survive adalah salah satu kenangan manis di antara masa kelam kanak-kanaknya…

      yup…aku bersyukur banget punya papa, mama dan Bu Sum. mereka orang-orang hebat!:)

  18. Duh senangnya punya papa yg perhatian banget sama anak2 nya, bisa di contoh ni untuk papa-papa muda jangan suma sibuk kerja, anak juga harus dapat perhatian dan kasih saang.
    Salam kenal

  19. nelemima says:

    hik hik… terharu…. pas papa ultah malah papa yg telp aku… soale pas ku telp gak diangkat… I pray for him… cause he is the best father.

    tp kalo pas ngajari PR kadang takut juga je… hehehe… tau sendirilah gimana papa….

  20. krismariana says:

    walah, papamu sasi wingi ultah to na? lha aku telat le ngerti. baru tahu setelah sebulan lewat hehe. dari tulisan ini aku melihat betapa kalian keluarga yg kompak. pasti hasil didikan papamu juga kan?🙂 happy belated for ur dad, na!🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s