Tetap Indah Dalam Kenangan

Sembilan tahun yang lalu, hari Selasa, aku pergi ke rumah pacarku untuk mengambil data skripsiku yang tersimpan di komputernya. Saat aku menelepon ibunya, kudengar suara ibu seperti biasanya. Setelah berbasa-basi sejenak menanyakan kabar bapak yang telah beberapa waktu sakit, ibu mempersilakan aku datang secepatnya. Aku tak punya firasat sedikitpun bahwa hari itu akan berubah menjadi benar-benar berbeda.

Jam 8 pagi saat aku tiba di rumah pacarku, kulihat banyak tetangga dan kerabat berkumpul. Bingung, aku mendekat. Bude Yati, kakak ibu menyambutku. Airmata membanjiri wajahnya.

“Bapak, Mbak…. Bapak……”.

Hanya itu yang mampu diucapkan Bude sambil merangkulku. Semakin bingung, aku hanya bisa membalas merangkul bude dan menuntunnya untuk kembali duduk.

Baru setengah jam yang lalu aku menelepon ibu dan ibu tak menyinggung apapun soal Bapak.

Ibu keluar dari kamar bapak yang penuh dengan kerabat. Aku cukup tahu diri untuk tidak menanyakan apapun, meskipun beribu tanya berjejalan dalam kepalaku. Ibu menelepon rumah sakit, lalu menelepon bude di Solo, meminta beliau segera datang. Dari pembicaraan telepon itulah, aku tahu, bapak tengah kritis. Sangat kritis.

Ibu mengajakku masuk ke kamar bapak. Bapak terbaring dalam kepayahan. Berjuang untuk hidupnya. Aku hanya mampu berdoa sambil memijit kaki bapak yang dingin. “Tuhan dengarkan dan lihatlah kami, berikan yang terbaik bagi  Bapak”.

Paramedis datang. Pertolongan segera dilakukan: CPR dan pernafasan buatan. Aku hampir tak sanggup melihat semua. Melihat sendiri petugas medis melakukan CPR, ternyata tak sebagus aksi yang kulihat di serial Emergency Room di TV.

Ibu, yang seorang perawat, berbicara dengan para petugas medis. Aku tak paham apa yang mereka bicarakan. Aku hanya bisa berdoa dan terus berdoa.

Diputuskan, bapak akan segera dibawa ke rumah sakit.

Setelah bapak dibawa ke rumah sakit, ibu berbisik padaku.

“Mbak, sakjane Bapak wis ra ana, telpon masmu, ngabari kahanan iki”.

(Sebenarnya bapak sudah tiada. Telponlah masmu, mengabari semua ini.)

Gamang. Tak percaya apa yang kudengar. Bagaimana mungkin aku bisa menelepon pacarku di Jakarta menyampaikan pesan ibu? Batinku bergulat. Aku melihat sendiri bapak masih bernafas. Bagaimana mungkin aku mengabarkan bahwa bapak, -yang kulihat dan kupercaya  masih hidup- sudah meninggal?

Kutelpon pacarku, dan kukatakan bahwa bapak kritis. Hanya itu yang sanggup kusampaikan.

Setelah itu, ibu, aku dan seorang kerabat menyusul ke rumah sakit dengan taksi. Sesampai di rumah sakit, di UGD, kulihat paramedis masih berusaha memberikan pernafasan buatan.

Seorang dokter dan dua perawat berdiri di sisi ranjang bapak. Salah seorang perawat, sekaligus sahabat terdekat ibu, menepuk-nepuk bahu ibu dan berbicara lembut pada ibu, lalu ibu mengangguk. Dengan persetujuan ibu, pernafasan buatan itu dihentikan. Bapak berpulang dalam damai. Campur aduk perasaanku. Sedih, kacau, bingung.

Aku kagum pada ibu yang sangat tegar dan tabah menghadapi kehilangan ini. Ibu selalu tenang dalam waktu-waktu yang sangat sulit itu, dan tetap jernih menentukan langkah-langkah selanjutnya.

****

Aku pamit pada ibu untuk menelpon pacarku.

“Lho, kamu belum telpon toh?”.

Dereng, Ibu…”. Dengan sedikit rasa bersalah karena tak menjalankan pesan ibu, aku menuju wartel di luar rumah sakit.

Kutekan nomor telepon seluler pacarku. Berat kusampaikan berita duka itu.

****

Selanjutnya, aku menemani ibu di ruang persemayaman rumah sakit, menunggu bapak dipersiapkan dengan segala yang terbaik.

Hingga sore menjelang, rekan-rekan sejawat ibu terus datang dan memberikan simpati mereka.

Jam 18.00 aku pamit pada ibu untuk pulang ke kos, mandi dan berganti baju. Di tengah jalan, baru kusadari seluruh badanku gemetaran. Dehidrasi. Aku baru ingat, sedari pagi, aku belum makan dan minum sedikit sekali.

Aku sedikit terlambat tiba di ruang persemayaman rumah sakit. Ibadat untuk menghormati almarhum bapak telah dimulai. Aku tak ingin mengusik keheningan dan kekusyukan upacara itu, jadi aku duduk diam-diam di barisan belakang. Kulihat di bagian keluarga yang berduka, ibu duduk didampingi kedua putranya. Mereka tiba dengan pesawat sore itu dari Jakarta. Aku lega. Ibu tak sendirian.

Tengah aku meringis menahan pilinan maag-ku yang kambuh, seorang kawan kami mendampratku.

“Kamu ini gimana sih Na? Jam segini baru datang! Tadi ibu sendirian tauk?!

Kamu kenapa juga duduk di sini? Sana, seharusnya kamu temani keluarga di sana!”.

Aku melongo. Aku hanya bisa diam.

“Ini jam berapa?”, semburnya lagi.

“Aku dikabarin bapak meninggal tadi pagi. Kamu baru nongol sekarang? Kebangeten…”.

Kutahan amarah dan kejengkelanku semata karena dia jauh lebih tua dariku.

..Tuhan, ampunilah dia karena dia tak tahu apa yang dikatakannya..

Ketika ibadat selesai, kuhampiri pacarku dan memeluknya, menyatakan simpatiku. Aku mengerti rasa dukanya, kehilangan yang besar yang dialaminya, dan aku merasa tak perlu panjang berkata-kata. Aku mengerti, sangat mengerti…

Tak ada yang tahu insiden kecil di tengah ibadat itu, dan aku tak bermaksud mengusik siapapun juga dengan menceritakan hal ini.

Biarlah semua tetap indah untuk dikenang.

Bapak dimakamkan keesokan harinya. Kami mengantarnya ke dalam peristirahatannya yang terakhir.

****

Mengenang almarhum Bapak, yang berpulang sembilan tahun lalu, 12 Juni 2001.

Damai bahagia sertamu di surga, Bapak…

12 Juni 2010

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Dari Hati and tagged , , , . Bookmark the permalink.

31 Responses to Tetap Indah Dalam Kenangan

  1. nh18 says:

    Semoga Beliau Bahagia di Alam sana …

    Saya juga pernah membaca ceritanya di blognya Bro …

    Doa saya Nana …
    Doa saya Bro …

  2. DV says:

    Sembilan tahun… kuyakin Bapak telah tenang bersama Tuhan dan menikmati ribuan tahun tak terhingga ke depan di surga…

  3. nanaharmanto says:

    Amin…. matur nuwun Don…

  4. vizon says:

    seperti yang kutulis di fb bro kemarin, aku yakin insipirasi yang bapak tinggalkan bakal terus tetap hidup dalam diri bro dan dirimu Na. buktinya, sampai di sembilan tahun kepulangan beliau, dirimu dan bro masih saja mengenangnya dan merindukan beliau…

    aku doakan, semoga beliau bahagia di sisi Tuhan…

  5. Semoga Beliau bahagia di atas sana ……..

    bunda hanya bisa ikut mendoakan yg terbaik utk Beliau ,Mbak
    salam

  6. semoga almarhum diberikan tempat terbaik di sisi-Nya, mbak Nana. tugas kita yang ditinggalkan adalah meneruskan perjuangan dan meneladani sikap2-nya. doa kami selalu untuk mbak nana dan keluarga.

  7. septarius says:

    ..
    Ingatan Mbak Nana kuat banget, bisa nulis kejadian 9 thn yg lalu dengan detail..
    ..
    Saya mendoakan Semoga Bapak mendapat tempat terindah di sisi-Nya..
    Amiin..
    ..

  8. mascayo says:

    Salam hangat mbak nana.
    Semoga Almarhum mendapatkan yang terbaik ya mbak nana.

  9. zee says:

    Mbak, aku jd emosi dgn komentar teman itu. Kenapa tdk dijawab mbak, biar tidak ada kesalahpahaman di hati.
    Tapi biarlah, kalau sudah dimaafkan hehee…

    • nanaharmanto says:

      Wah…waktu itu aku udah terlalu lemes dan kalau kujawab malah jadi semakin emosi, jadi mending aku nggak jawab aja sekalian. Sekarang udah berlalu kok…🙂

  10. Memang berat ditinggalkan orang yang kita hormati dan sayangi..semoga selalu tabah.

  11. Ria says:

    semoga tenang disana ya mbak.
    seandainya aku yang berada dalam posisimu waktu itu pasti sedih banget deh mbak😦

  12. nanaharmanto says:

    Thanks ya Ria…Aku percaya beliau sudah bahagia di sana..

  13. monda says:

    temennya itu sok tau dan sok judes amat sih mbak,

  14. sunflo says:

    beribu kenangan akan orang tua kita ya mbak… sebagai anak2nya kita tinggal mendoakan beliau… semoga diampuni segala khilaf dan salahnya…

  15. mawarsendu says:

    segala yang telah berlalu akan terukir jadi kenangan.. semoga bapak bahagia ya mbak di sana…

  16. Brotoadmojo says:

    semakin dikenang, semua semakin indah…. salam

  17. edratna says:

    Betapa dalam kasih Nana pada almarhum calon ayah mertua (saat itu)….semoga beliau damai dialam sana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s