Ansos

Sudah lebih dari setahun aku tinggal di kota kecil ini. Bisa dibilang aku cukup kerasan di sini. Tak ada masalah berarti yang bisa kujadikan alasan untuk nggak betah di sini.

Well, dari dulu aku suka berteman dengan siapapun. Makanya aku happy-happy aja tuh waktu disuruh tinggal di asrama, kan rame tuh? Asyik lho…banyak pengalaman yang unik dan lucu. Sedih juga ada sih..

Karena aku suka bergaul dan berhubungan dengan banyak orang itulah, aku lebih suka menjadi guru. Nggak terbayang deh, kalau dulu aku harus kerja berhadapan dengan angka, data dan komputer melulu setiap hari. Dengan barang mati๐Ÿ˜ฆ

Aku lebih suka berhadapan dengan orang. Berinteraksi dengan murid-murid dan sesama rekan pengajar. Dari mereka aku banyak belajar hal-hal baru. Aku jadi tertantang untuk menyelesaikan konflik yang timbul gara-gara pergesekan nilai dan salah paham yang ada.

****

Kebetulan juga aku cukup akrab dengan dengan tetangga sebelah sewaktu tinggal di Jakarta, seorang oma-oma yang sangat baik. Sekali waktu aku mengobrol dengannya, mendengarkan keluhan tentang encok-nya, tentang tetangga yang selalu ribut, tentang anaknya dan cucunya yang tinggal di luar negeri. Oma mengatakan padaku, dia tak begitu akrab dengan tetangga yang lain. Hhmmm… ada kesamaan nih..

Aku memang hampir tidak pernah berkumpul dengan tetangga-tetangga yang lain karena aku pulang sore hari, bahkan malam hari karena memberi les tambahan. Kadang-kadang, aku merasa ansos dengan sekitarku, tapi, keadaanku saat itu memang mengharuskan aku pergi pagi hari dan pulang sore atau menjelang malam. Aku tak tahu ibu yang gemuk itu bernama siapa, atau tante yang menor itu siapa. Hanya segelintir yang kutahu, pokoknya ibu-ibu itu dipanggil dengan nama anaknya:ย  mama(nya) Oji, mamanya Dilla dan sebagainya. Nah, anaknya sendiri yang mana, aku tak tahu…๐Ÿ™‚

Paling-paling aku hanya tersenyum, mengangguk dan menyapa mereka saat berpapasan, tanpa terlibat lebih jauh lagi.

****

Ketika memutuskan untuk berhenti bekerja untuk mengikuti suami pindah ke Balikpapan, jujur saja, aku sempat merasa berat, aku harus rela tercabut dari teman-teman dan lingkunganku, untuk memulai hidup di suatu tempat yang asing, dengan alam yang sama sekali lain dan juga… I know nobody there…

Untunglah, di Balikpapan, komplek tempat tinggal kami memang menyenangkan. Banyak tetangga yang sama-sama pendatang dari Jawa. Makin klop deh dengan mereka yang rata-rata berasal dari Jakarta, Bandung dan Surabaya. Jadi, aku tak pernah merasa kesepian di komplek itu. Karena sama-sama pendatang, maka kami mudah sekali berbaur dan akrab. Memang bener sih, di rantau orang, tetangga menjadi saudara terdekat kita.

Aku ikut pula kegitan ibu-ibu komplek, antara lain mengajar anak-anak marginal dan mendirikan rumah baca sederhana. Aku sangat menikmati hal itu…(jadi kangen dengan ibu-ibu di Balikpapan deh…)

Tapi…ternyata, kenyamanan itu harus berakhir juga. Kembali aku harus mau tercabut dari teman-teman baikku, untuk pindah lagi ke pulau seberang, tempat tinggalku kini.

Oh, yah, tetangga-tetanggaku di sini baik, dan aku pun cukup dekat dengan tetangga sebelah. Hanya saja, aku jarang sekali berkumpul dengan ibu-ibu di sini. Apa pasal?

Pernah sekali dua, aku bergabung dengan mereka. Lalu akhirnya, dengan pahit harus kuakui, aku tak begitu merasa nyaman bersama mereka, sebab ย mereka lebih suka mengobrol dengan bahasa daerah yang sama sekali asing untukku; aku tak dilibatkan sama sekali. Mereka tertawa lepas, tanpa peduli padaku yang nggak mudeng apapun…Dan aku merasa tersisih. Mau membuat topik pembicaraan baru kok aneh juga ya…

Terbayang kan, betapa tak enaknya situasi begitu?

Lalu aku lebih suka tinggal di dalam rumah, membaca buku atau main internet. Dan iseng-iseng menulis blog…

Beberapa kali, aku ikut suamiku keluar kota hingga berhari-hari, jadi semakin jaranglah aku berkumpul dengan ibu-ibu tetangga.

Mau dibilang anti sosial? Masa bodoh deh…daripada aku maksa bergabung tapi nggak nyambung, dan toh jadi mahluk asing juga di situ.

Nggak bosan di rumah melulu? Sesekali lah, wajar kan, apalagi dengan rumah berpagar begini, uh, sebenarnya aku nggak suka rumah berpagar, semakin menguatkan dugaan kalau aku ansos hehehe…

Dulu sih kerap pagar itu terbuka, tapi sejak kejadian seringnya orang-orang datang dan nyelonong masuk untuk minta sumbangan, pagar itu lebih sering terkunci. Sekarang ini aku lebih menikmati tinggal dirumah bersama laptop, dan bergosip lewat chatting. Hehe..hmm…nggak kebayang juga sih, gimana kalau nggak ada barang-barang ini…๐Ÿ™‚

Untuk undangan hajatan aku pasti datang, tapi kalau hanya sekedar untuk kumpul-kumpul ngobrol ngalor ngidul, memang agak kuhindari.

****

Anda pernah merasa anti sosial dengan sekitar?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Ansos

  1. nh18 says:

    Ansos ?
    mmm noup … mudah-mudahan tidak …

    Tetapi jujur saja …
    Ini juga tidak sampai bergaul dekat runtang runtung kesana kemari … nongkrong … cangkruan … dsb

    yang sewajarnya saja …
    saya tau bahwa si Itu anaknya 3 namanya A , B, C
    asalnya dari Propinsi itu dst …

    mungkin karena saya Lelaki ya …?
    I dont know …

    salam saya

    (menurut saya … yang namanya Ansos itu … yang pagi – siang – sore – malem sampe pagi lagi …
    sibuk dengan dirinya sendiri … )
    tidak berinteraksi dengan dunia luar atau makhluk luar selain dirinya sendiri … dunianya sendiri …

    • nanaharmanto says:

      Curhat nih Om…
      sering kali ibu-ibu menyapa dan ngajak kumpul-kumpul, tapi seringkali kutolak dengan halus, dengan alasan lagi nyuci, lagi ribet bla..bla..bla… males banget Om kalau nggak mudeng bahasa atau topik yang mereka bicarakan, misalnya tentang si ibu Anu atau anaknya pak Nganu…

      Mending ngumpet di dalam rumah, chatting, ngeblog.. hihi..

      Ohh… jadi aku nggak terlalu ansos dong Om?๐Ÿ™‚

  2. nh18 says:

    wuik …
    fertamas

  3. Clara says:

    Mau sosial susah juga sih Mba.. tetangganya yang ga mau saling kenal di sini, urus urusan masing2, mungkin begitu.. tapi kalo berpapasan sih, tetap saling sapa aja.. dan tetangganya kebanyakan pulangnya malam, trus week end menghilang.. jadi saya bergaul dengan teman2 satu kantor kebanyakan..

    • nanaharmanto says:

      Di kota besar memang rata-rata gitu ya.. urus urusan diri sendiri, mau pulang pagi atau malam nggak ada yang meributkan๐Ÿ™‚
      Yang penting sih tetep saling kenal meskipun nggak terlalu sering ngobrol, apalagi di rantau, harus kenal tetangga karena tetanggalah yang jadi saudara kita…

  4. Ata says:

    ..
    Waktu tinggal di Bali pernah juga sih merasa dikucilkan, karena kendala bahasa..
    Tp waktu aku pengen belajar bhs. Bali, banyak tuh yg berebut ngajarin..
    ..
    So kenapa Mbak Nana gak belajar bhs setempat aja..๐Ÿ˜‰
    ..

    • nanaharmanto says:

      Waahhh…. bahasa Bugis angel tenan Ta… apalagi masing-masing daerah punya dialek sendiri. mumet aku…๐Ÿ˜ฆ๐Ÿ˜ฆ

      Lebih gampang belajar bahasa Inggris je.. hehehe…๐Ÿ™‚

  5. arman says:

    gua kalo ama tetangga selalu ansos dari dulu. dari kecil gak pernah kenal ama tetangga. sejak udah gedean, dan punya rumah sendiri, kenal sih ama tetangga tapi gak pernah hang out bareng juga karena rata2 lebih tua.

    disini juga sami mawon. masih muda2 sih tetangga2 gua, tapi pada gak punya anak. ada 1 yang punya anak tapi masih bayi. malah banyakan tetangga gua masih sekolah. hahahaha.

    tapi sejak berkeluarga emang kehidupan sosial gua menurun drastis. selain temen2 juga udah pada sibuk2 sama keluarga masing2, kita juga gitu. jadi jarang ngumpul2 ama temen. apalgai sejak pindah kemari. semakin jarang aja.๐Ÿ˜€

    • nanaharmanto says:

      Wah, untung aku ansosnya gak separah kamu hihihi…
      ajang ngumpul-ngumpul pindah di dunia maya ya?
      hebatnya ada teknologi yang bisa dijadikan alat untuk berhubungan dengan teman yang bahkan tinggal di benua lain.

      Paling nggak ada event tahun baru atau thanksgiving yang bisa dijadikan moment untuk kumpul-kumpul dengan temen-temen kan?

  6. anna says:

    ansos..
    pernah juga kok saya merasa seperti itu.
    terutama ketika tinggal di rumah mertua.

    karena
    sibuk kerja, pulang udah sore terus, kebetulan.. sering merasa nggak nyambung aja dengan topik pembicaraannya.

    tapi kalo sekarang,
    kebetulan tetangga2 umurnya seusia.. antara 25-30 an.
    kalo pun beda, beda dikit aja

    sama2 sibuk, jadi paling ketemuannya sesekali aja…

    hm, mungkin nih mbak Na..
    gak harus setiap hari sih ketemuan, cuman sesekali lah..
    paling nggak yang kiri kanan rumah aja๐Ÿ™‚
    karena sodara terdekat kan tetangga mbak๐Ÿ™‚

    • nanaharmanto says:

      Ansos banget rasanya nggak enak juga ya…

      aku sih masih mau menyapa dan sesekali menyempatkan ngobrol dengan tetangga, tapi kalau untuk tiap hari begitu emoh ah… kalau nggak benar-benar perlu, aku males ngumpul-ngumpul ngobrol dan bergosip๐Ÿ™‚

  7. novi says:

    aq ansos banget mbak… secara udah beda budaya, jauuuuhhhh… di luar negeri… akan bedalah kalau ada di negeri sendiri secara masih sama budayanya..๐Ÿ˜ฆ

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal ya… Novi tinggal di mana emangnya?
      aku belum pernah ke luar negri, tapi aku bisa ngerti betapa budaya dan bahasa yang berbeda kadang bisa jadi kendala untuk berbaur.
      Semoga menemukan teman/sahabat/tetangga yang bisa diajak ngobrol ya..

  8. monda says:

    kalau ngobrol langsung ke tetangga sih rada jarang ya, paling2 ketemu di pagar pas pulang atau berangkat kerja, to sama bbrp tetangga masih sering kirim2an makanan

    • nanaharmanto says:

      Kapan Kak Monda kirim makanan ke rumahku ya? hihihi…

      Sama kalo gitu Kak, aku juga nggak tiap saat ngobrol dengan tetangga… rda batasin diri sendiri๐Ÿ™‚

  9. Red says:

    kadar ansos di gue ada tapi gak gede2 amat๐Ÿ˜€

  10. DV says:

    Dulu setiap pindah kost pasti jadi anti sosial untuk beberapa lama, tapi kalo udah kenal wah bisa sangat sosial!๐Ÿ™‚

    Aku juga kerasan di Australia hahaha

    • nanaharmanto says:

      yup….bener…
      aku juga merasa ansos waktu awal-awal pindah kost…pengennya ngumpet di kamar aja sambil ngumpulin nyali untuk kenalan dgn penghuni lama/senior๐Ÿ™‚

  11. Eyangresi313 says:

    biarlah berjalan seperti air yang mengalir. Tak kenal maka tak sayang. itu kata orang tua.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya, Eyangresi, salam kenal…
      Saya biarkan berjalan apa adanya, nggak pernah memaksakan diri untuk selalu mengikuti acara ngumpul-ngumpul ibu-ibu di sini.๐Ÿ™‚

  12. Eyangresi313 says:

    Dengan mengenal diri sendiri, seseorang akan sadar dan mengerti tentang kemampuan, karakter, potensi dan kekurangan yang dimiliki di bumi mana ia bertempat serta berdiam diri. Dengan pencapaian kesadaran itu pula, setiap individu yakin akan adanya kekuatan, kekuasaan Maha Besar yang berada jauh dibandingkan dengan dirinya.

  13. zee says:

    Mbak,

    Saya gak ngerti juga apakah saya termasuk ansos atau tidak.
    Karena bisa dibilang saya tak pernah bergaul mbak selama tinggal di sini. Soalnya kanan kiri bisa dibilang bukan tetangga beneran, alias bukan pas nempel dgn rumah orang, jadilah lbh sering merasa tinggal gak bertetangga. Ya habis gimana ya mbak, mau kumpul2 juga kayaknya di dekat rumahku ini gak ada yg doyan kumpul, semua jg capek hbs pulkan ya pd ngedekem di rumah masing2 hehehee…
    Tp mudah2an sih aku gak disebut ansos ya….๐Ÿ˜€

    • nanaharmanto says:

      Kalau di kota besar kayak Jakarta mungkin semua oang juga udah saling ngerti kali ya, kalau abis kerja kan capek dan gak ada waktu lagi buat ngumpul-ngumpul dengan tetangga, semua milih untuk ngabisin waktu dengan keluarga.๐Ÿ™‚

      Dan sepertinya banyak orang juga “takut” di cap ansos ya..๐Ÿ™‚๐Ÿ™‚

  14. Emak Bawel says:

    Hahahhahaha… harus sedikit ‘ngakak’ tadi ..(jadinya ‘ngikik’, ya..). Ansos sama tetangga? Hmmm..susah dibilang, ya.. saling menyapa, iya. Tapi ngerumpi lama2 kagak… Dulu karena tulalit, alias sinyal gak nyambung, jadi kalau diajakin ngobrol senyam-senyum aja, sekarang… rada2 gaul dikit …
    Mungkin aku cukup beruntung karena tinggal di desa, ya… (Dan mertua asli sini, jadi ikutan ‘terkenal’, hehehe..). Tetangga2ku ramah, bahkan pernah waktu hujan deras, nggak ada orang di rumah, tetangga sebelah ‘menyelamatkan’ jemuranku. Temen2 disini juga heran, kok orang di tempatmu ramah2, sih..saling menyapa dan ‘nyangkol’ di pagar tetangga buat ngobrol, hehehe…
    Yah, namanya juga di kampung…. (Hidup wong ndeso!)

    • nanaharmanto says:

      Hore!! hidup wong ndeso… hihi…

      woo…nebeng tenar karena mertua toh? hihihi.. wah, tetanggamu apikan tenan, mau ambilin jemuran hehe..

      Tapi orang-orang di desa malah jiwa sosialnya lebih kental ya..
      di sana ada istilah “nonggo” ora to?๐Ÿ™‚

  15. julianusginting says:

    kalo kita merasa ansos tentunya kita gakan diterima di komunitas masyarakat..padahal tujuan utama kita dalam hidup bermasyarakat adlah bersosialisai…krn kita gamungkin hidup sendiri

    • nanaharmanto says:

      yup…setuju, nggak mungkin kita hidup sendiri…
      hanya saja kita juga harus cerdas memilih komunitas mana yang membuat kita nyaman dan bisa terus berkembang..๐Ÿ™‚

  16. aduh……aduh….giman tuh……???????????

  17. PakOsu says:

    Kalau saya dulu sewaktu masih tinggal di komplek sama keluarga bergaul secukupnya. Waktu masih awal tinggal memang ansos juga sedikit. Tapi seiring perkembangan waktu terjadi perubahan karena tuntutan sosial : ada acara tujuh belasan, kena giliran ronda, ikut gotong-royong bersih-bersih komplek, dll. Salam sukses.

    • nanaharmanto says:

      Hmmm… bener juga Pak Osu…
      tinggal di komplek perumahan mau nggak mau akan terlibat juga dalam kegiatan bersama warga seperti yang pak Osu sebutkan ini.

      Yang mungkin agak perlu dihindari adalah setiap hari sekedar nongkrong dan ngobrol/ ngegosip yang nggak penting.
      salam hangat, Pak Osu…

  18. edratna says:

    Saat kecil, saya akrab dengan tetangga karena memang sering bermain dengan anak-anak yang seumuran denganku. Semakin besar, saya jarang main ke tetangga, apalagi jika tak ada anak yang seumur denganku dan satu sekolah. Tapi saya masih datang di acara-acara di kampung.
    Saat mulai bekerja, karena pergi pagi pulang malam…nyaris hampir tak bergaul dengan tetangga, tapi acara kondangan, acara kampung seperti 17 Agustusan, saya berusaha hadir.

    Setelah pensiunpun, saya sekedar kenal dengan tetangga kiri kanan, karena masing-masing sibuk….

    • nanaharmanto says:

      Waktu kecil anak memang sepertinya lebih mudah berbaur ya Bu… semakin besar semakin ngerti punya rasa malu dan sungkan sehingga nggak sembarangan lagi “bludhusan” ke mana-mana hehe๐Ÿ™‚

      saya mengerti kegiatan kantor memang banyak menyita waktu sehingga nyaris tak ada waktu lagi untuk bergaul akrab dengan tetangga karena kesibukan masing-masing, dan hanya sempat meluangkan waktu untuk menghadiri kondangan, pengajian dan kegiatan bersosial lainnya…

  19. waktu masih kecil, kalau rumah tetangga sudah sama seperti rumah sendiri, ya makan, mandi bahkan sampai tidur segala.
    sekarang gak mungkin bisa kayak gitu lagi ya Mbak Nana, sekarang paling pas ketemu di pagar saling tegur sapa , udah gitu , sibuk dgn urusan masing2.
    walaupun begitu, lumayan jugalah di tempatku masih ada pengajian dan arisan ibu2 sebulan sekali .
    salam

    • nanaharmanto says:

      Waahh…jadi ingat dulu waktu kecil saya juga kadang makan di rumah tetangga hihi… tapi biasanya sih orang tua saya melarang kami makan di rumah tetangga.. anak-anak seperti kami sih asyik-asyik saja, hanya orang tua yang merasa sungkan (saya sadari setelah saya besar) karena anaknya sudah mengurangi jatah nasi keluarga tersebut๐Ÿ™‚

      Arisan dan pengajian memang efektif untuk bergaul dengan tetangga ya Bunda, dan sepanjang saya tahu, kegiatan ini biasanya diikuti ibu-ibu dan berlangsung awet. Kayaknya bapak-bapak jarang ya ngadain acara seperti ini?๐Ÿ™‚

  20. BlogCamp says:

    Saya pernah di Balikapapan selama 12 tahun, anak saya lahir disana semua,
    Saya nggak ada masa;ah dengan pergaulan karena kebetulan semua tetangga adalah seraddu dan mantan serdadu ha ha ha.
    Di Surabaya tetangga saya umumnya Cina, juga nggak ada masalah kok. Kami bisa bertegur sapa dengan baik walau nggak ngumpul2 tiap hari

    Salam hangat dari BlogCamp yang saat ini menggelar acara unggulan:

    1. Ungkapkan Opini Anda
    2. The Amazing Picture.
    3. The Twin Contest
    4. Kontes Menulis Peribahasa

    Silahkan join di Blogcamp dan dapatkan hadiah yang menarik dan bermanfaat.
    Terima kasih

    • nanaharmanto says:

      Bener ya Pakde, yang penting bisa saling kenal dan bertegur sapa dengan baik, meskipun nggak harus ikut kumpul-kumpul tiap hari.

      Segera meluncur ke TKP Pakde..

  21. krismariana says:

    ansos? kupikir kamu mau nulis soal analisa sosial hahaha…

    kalau soal pengalaman bergaul dengan orang yg menggunakan bahasa daerah dan kita dicuekin, aku juga pernah punya pengalaman yg sama. awalnya sih kesel. tapi akhirnya aku enjoy aja tuh. asyik lagi bisa sekalian mengenal “bahasa asing” hehe.

    • nanaharmanto says:

      haha…aku bukan pengamat sosial jeh…

      Hehehe..bener tuh, awalnya aku juga kesel tapi saiki wes ora. Yo wes, memang beda kok bahasa yang digunakan, tur angel dipelajari hihi…setahun lebih tinggal di sini aku baru tahu arti beberapa arti kata bahasa lokal. untuk ngomongnya dalam bahasa lokal? blas ra iso hihi….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s