Panci oh Panci….

Hari Jumat lalu, aku kedatangan seorang tamu. Setelah tamu itu pulang, hujan deras turun, sehingga aku tak sempat lagi menutup gerbang dan menggemboknya seperti biasa.

Aku memang selalu menggembok gerbang di rumah sejak seringnya orang yang minta sumbangan nyelonong masuk tiba-tiba.

Lalu aku beberes rumah seperti biasa, hingga tak kusadari hujan telah reda, hingga tiba-tiba saja suara seorang laki-laki menyapa di depan pintu. Ketika kutemui, seorang pemuda berbaju necis dan membawa sebuah kotak tersenyum manis padaku.

“Selamat siang Ibu, maaf, saya mau tanya, Ibu biasa cuci piring pakai sabun apa?”

Spontan aku menyebut sebuah merek yang selalu kupakai.

“Boleh lihat buktinya, Bu?”

Kuambil kemasan sabun cuci piring SL tanpa mempersilakannya masuk. Ketika aku keluar, si mas sudah masuk di ruang tamu. ..???..

“Wah, ya, kebetulan sekali, Bu, hari ini Ibu sangat beruntung”.

Sesaat aku sempat melongok keluar, wuih…jangan-jangan ada kamera dan si bintang iklan Kr*sna M*kti nih…lumayan kalau bisa masuk TV  hihi…

****

Si mas menjelaskan bahwa aku adalah orang ke empat dari sepuluh konsumen hari itu yang kedapatan terbukti menggunakan sabun cuci piring SL, dan bahwa panci presto yang dibawanya bisa langsung menjadi milikku.

panci presto, panci bertekanan tinggi ini yang kulihat di TV.

gambar kupinjam dari sini.

Sejujurnya, aku sangat malas meladeni si mas ini. Apalagi setelah dia mulai memuji-muji koleksi buku-bukuku. Hihi..aku tau taktiknya ini: Buatlah calon konsumen senang hati dan GR dulu..


“Jadi, singkatnya gimana nih Mas?” tanyaku sebiasa mungkin.

Lalu si Mas mulai menjelaskan panjang lebar.

“Ibu pernah dengar panci presto? Nah produk NTL ini adalah “kakaknya”. Panci ini lebih begini, begitu…,

…kalau peluit berbunyi, tandanya…. bla..bla..bla..

Bila endapan putih keluar dari sini, berati makanan mengandung borax…bleketek..bleketek…

Kalau keluar ini atau itu, makanan sudah tidak layak konsumsi, sebaiknya dibuang. Jadi panci ini berfungsi juga untuk membantu memilah makanan yang beracun..

Ibu bisa masak bandeng, daging ayam hingga tulang-tulangnya menjadi lunak…plikithi…dan plikithi……”.


****


Aku mulai jemu. Aku putar otak untuk mengusirnya secara halus.

“Singkatnya aja gimana, Mas?”.

Si Mas membuka kotaknya yang bermerek terkenal, NTL, sambil mempromosikan panci yang dibawanya itu. Sambil menunjukkan daftar, si Mas berkata harga aslinya Rp 889.000,00.

“Kami mengadakan di pameran hari Minggu di lapangan kota jam 09.00 WITA dan di sana, produk serupa dijual seharga Rp 589.000,00. Nah, karena Ibu sedang beruntung hari ini, Ibu cukup membayar Rp 288.000,00. Dan garansi tiga tahun lho Bu..”

hah! Sudah kuduga endingnya pasti aku disuruh bayar!

Lalu aku minta untuk memeriksa panci yang dibawanya. Hmmm…aku memang nggak pernah punya panci presto, dan buta mengenainya, tapi aku pernah menonton acara koki memasak di TV swasta dan panci presto di TV itu terlihat sangat mewah, kinclong dan kokoh kuat dan berkualitas. Sedangkan panci yang kupegang, terlihat kurang meyakinkan.  Jauh sekali dengan gambar panci presto di atas, nggak ada penunjuk tekanannya lagi..

Masak dengan penampilan rada ala kadarnya begini harganya hampir 900 ribu?

Yang beneerr…..


Kutemukan baret-baret di tutupnya, dan saringannya pun penyok…

“Kenapa baret-baret begini Mas? Dan ini saringannya penyok”

“Oh, iya Bu, ini kan langsung keluar dari pabriknya dan mungkin tergesek-gesek sewaktu dalam pengangkutan”.

“Lho, memangnya nggak ada standar kualitas sebelum dilempar ke pasar?”

Si Mas berkilah dengan lihainya, bahwa dia hanya bertugas memasarkan barang dalam kemasan yang masih tertutup rapat.

Aku menemukan kejanggalan lagi.

“Lho Mas, ini kenapa nggak ada mereknya di panci?”

“Oh itu Bu, produk ini kan keluar langsung dari pabriknya…”

“Maksud saya, kenapa ini nggak ada mereknya di panci? Tercetak di produknya gitu lho Mas…” aku mulai bawel.

“Yah, pasti perusahaan nggak mau rugi dong Bu, kalau ada mereknya. Perusahaan pasti rugi dong dengan garansi tiga tahun begini”.

(Hadoh…jawaban apa pulak ini?)

“NAH!” potongku tak sabar. “Tidak masuk akal perusahaan sebesar NTL mengeluarkan produk tanpa merek dicetak di produknya, sedangkan panci biasa saya, juga NTL, ada lho cetakan mereknya di dasar panci… Tidak mungkin NTL mempertaruhkan nama baik dengan melempar barang cacat seperti ini ke pasar…”, kujawab si Mas itu dengan sedikit gemas.

Aku tak sadar sejak kapan si Mas ini mulai berkeringat deras. Hihi…kasian juga juga sih..

“Jadi gini Bu, panci ini lebih unggul daripada panci presto yang lebih dulu ada itu, yang itu kan sudah agak tertinggal. Mungkin hanya kali ini saja lho Bu, ada kesempatan untuk memiliki panci presto dengan harga yang sangat murah ya… ”

“Bisa saya pinjam KTP Ibu untuk saya catat?”

Aku benar-benar jemu.

“Begini ya Mas, saya tidak ada uang sekarang, saya menghargai waktu yang Mas luangkan untuk bicara panjang lebar begini. Tapi, yah, saya berikan kesempatan pada orang lain untuk menjadi orang keempat yang bisa memiliki panci ini. Kalau memang SL membagi-bagikan hadiah, dan saya benar-benar beruntung sehingga panci ini menjadi hak saya, akan saya terima. Dan tentunya nggak akan dipungut bayaran bukan?”.

Wajah si Mas terlihat kecewa mungkin juga sebel mendapati calon konsumen yang cerewet sepertiku. Gagal usahanya menjual produk yang dibawanya.

“Terima kasih ya Mas, hanya saja saya tidak suka orang menawarkan barang dengan menjatuhkan merek lain…”.

Skak mat.

…..

…..

“Kalau begitu, saya pamit Bu. (menghela nafas). Bisakah saya minta air putih, Bu?” ucapnya, kuduga lebih pada upaya untuk menyelamatkan egonya.

Kuambilkan air minum kemasan untuknya. Si Mas pamit setelah minum sedikit, dan menolak tawaranku membawa air kemasan lain yang masih utuh.

Lalu kututup gerbang dan menggemboknya dengan gemas. Nah! Gerbang ini lebih baik tertutup!

****

Sore itu juga, aku tahu dari seorang tetanggaku. Dia memiliki panci sama persis dengan barang si Mas sales yang dibelinya tahun lalu seharga Rp 150.000,00.

Hari Minggu, aku ke gereja yang berseberangan dengan lapangan kota. Tahukah Sodara-sodara?

TIDAK ADA PAMERAN di lapangan itu…

What do you think?


Pelajaran yang bisa kita petik *halah!*

1. Hadapi sales seperti ini dengan sopan tapi tegas. Bagaimana pun dia berhak untuk tetap “diuwong-ke”

2. Tolak saja dengan halus sedari awal, jangan sepertiku yang menghabiskan waktunya dan juga waktuku sendiri!

3. Kritislah. Mana ada produk berkualitas yang ngaku-ngaku sebagai “kakak” produk A, kenapa nggak sekalian embahnya atau pakdenya gituh? Lagian, mana ada ya, produk yang memberi garansi 3 tahun? Paling-paling 1 tahun   dengan kartu garansi resmi.

Bisa-bisanya si sales aja nih…

4. Lebih baik tutup saja gerbang Anda! ups! 🙂

****

Pernah punya pengalaman menghadapi salesman seperti ini?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo, Uncategorized and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

48 Responses to Panci oh Panci….

  1. camera says:

    hehehe,….

    saya paling gk suka salesman” yang kaya gitu…

    ribet banget diladeninnya….

    • nanaharmanto says:

      yup…betul… kita juga mesti pinter bersilat lidah dan tegas jangan sampai termakan bualan manisnya 🙂

      salam kenal ya Mas… terima kasih sudah berkunjung ke sini ya..

  2. arman says:

    waduh udah masuk kategori penipuan tuh ya…
    mesti ati2 emang ama para salesman yang door to door gitu. emang sebaiknya pintu dan gerbang selalu dikunci…

    • nanaharmanto says:

      yup… taktik begini sering banget digunakan para sales door to door.
      Bener juga, aku lebih nyaman dengan gerbang yang tertutup, mau menolak sales juga lebih enak/mudah🙂.

      Aku juga heran loh, si mas itu kok langsung masuk padahal nggak kupersilakan😦

  3. Adi says:

    Haha, saya jg sering tau seperti itU, dulu drumah ada jg yg tanya saBun apa yg pke, ujung2nya kudu beli.

    • nanaharmanto says:

      Lumayan ngeselin ya…
      tapi dulu nggak tertipu kan? Semoga ke depannya nggak ada lagi model penipuan seperti ini, jadi semoga saja para sales bisa menawarkan dagangan dengan lebih jujur.. mungkin nggak ya..

  4. julianusginting says:

    aq pikir iklan masuk tipi…hehee…kan lumayan..eh taunya…cek..cek..cek..salessss….😦

    • nanaharmanto says:

      hahaha…. aku awalnya sempet mikir jadi konsumen yang dapat kejutan dari SL, masuk tipi dan didatangin Kr*sna M*kti lagi… hehe…

      Eh, baru ingat, bintang iklannya udah ganti T**ku W*snu ya?

  5. dian says:

    Wah, kemaren teman kantor juga cerita.
    Siang bu, ibu pake sabun apa?
    Sabun X..
    Wuaaaa… selamat, ibu mendapatkan sebuah mesin cuci.
    Gimana nggak girang ibu itu?
    Disuruh bayar berapa juga mau, karena bahasanya itu adalah hadiah khusus untuk pemakai sabun X.
    Fiuh…
    Sayangnya ibu itu nggak punya gerbang, jadi dia tidak bisa menutup gerbangnya🙂

    • nanaharmanto says:

      Waahhh… teman kantor itu kena ya? aduh aku jadi ikut geregetan deh…
      seharusnya kalau memang hadiah ya nggak perlu bayar sepeserpun…
      “licik” banget ya para sales itu… doohhh….

  6. Clara says:

    Dulu di rumah ada Enjoy (doggy saya), jadi sales ga berani masuk karena Joy ribut terus sampai mereka pergi.. hehe..

    Kalo yang datang petugas PLN, air, atau sensus, Joy kami panggil, dan si petugas bisa masuk rumah..🙂

    • nanaharmanto says:

      Hehe..nama doggy-nya kereeenn…
      doggy memang efektif untuk mengusir orang-orang yang nggak kita inginkan ya…
      Dulu di rumah juga ada doggy, jadi rumah bebas dari orang-orang yang kita harapkan seperti pengamen, sales dsb… di rumah kami sekarang nggak mungkin deh piara doggy, bisa-bisa dimusuhin orang sekampun hihihi..🙂

  7. vizon says:

    Ada tuh yang lebih parah dari itu, atau bisa dikatakan lebih berani… Mereka berjualan di mall. Aku pernah nyaris menjadi “mangsanya”. Caranya adalah dengan mendekati kita dan memberikan semacam hadiah yang harus diambil di tokonya. Jadilah kita “terseret” ke tokonya. Dan dengan berbagai macam bujuk rayu, ujung-ujungnya kita diminta untuk membeli produk mereka… Aih, untungnya aku tidak termakan bujuk rayu mereka, bukan karena tidak mau, tapi lebih karena tidak punya uang, hahaha…😀

    Btw, si Bro dan pasukannya tidak memasarkan produk dengan cara seperti itu kan Na…? hahaha… **dipentung Om Nh**

    • nanaharmanto says:

      Aku juga pernah kayak gitu tuh Uda.. jadi sekarang harus hati-hati. aku biasanya lebih “galak” kalau di mall-mall gitu, apalagi dengan sales yang ngeyel dan banyak cingcongnya hihi..🙂

      Komentar terakhir itu biar mereka yang berkompeten lha yang menjawabnya. *ngeles jaya group* 🙂🙂

  8. suzana septi says:

    Ternyata sales begituan sampe juga di negeri antah berantah , kirain di Jakarta aja na he…he

    Kalo aku langsung bilang…
    ” MAAF YA MAS SAYA TIDAK BERMINAT & SEKARANG SAYA LAGI SIBUK”

    (cara ampuh untuk menolak)

    • nanaharmanto says:

      Iya nih, ternyata merajalela sampai ke mana-mana.
      Biasanya aku bilang “tidak berminat” dari balik gerbang yang tertutup. Kemarin ndilalah kok ya pas si mas nyelonong masuk, untung maas-nya sempat ‘takkumbah’ hehe..

  9. nh18 says:

    Dari awal saja sudah kelihatan …
    Pake nanya-nanya SL segala …

    ini kan tekhnik “kuno” untuk mengiming-imingi calon konsumjen …

    dan kalaupun ada promosi seperti itu … (dari SL)
    pastilah … ada komunikasi atau iklannya terlebih dahulu …

    so …
    mestinya dari depan udah langsung …
    Maap terima kasih

    hehehe

    salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Teknik kuno, dan baru sekali itu aku ngalamin yang pake nanya-nanya sabun SL segala .
      Yang dulu-dulu sih biasanya langsung bilang, “Maaf Bu, mau memperagakan ini itu”, atau “Ibu sudah pernah dengar vacuum cleaner merek X? ini saya bawa bla..bla..bla..”.
      yang begitu itu langsung saya tolak dan kulambaikan tangan dari balik gerbang ..🙂

      Kemarin kok ya ndilalah dia langsung nylonong masuk.. jadi pengingat untukku agar selalu waspada, Om..

      Waspadalah! waspadalah! kata bang Napi..🙂🙂

  10. edratna says:

    Saya sering mendaat penawaran seperti itu, tapi karena soal panci urusan si mbak, biasanya sudah melewati acara diskusi dulu dengan si mbak di pelataran, sehingga jarang yang masuk ke rumah.
    Dan alasan lain…..panciku biasa semua, soalnya juru masaknya si mbak, yang tak mungkin dibelikan panci mahal-mahal namun dia tak bisa memakainya (majikan males…:P)

    • nanaharmanto says:

      hahaha…beruntung Bu Enny punya penjaga yang melayani diskusi panel di pelataran…🙂

      Saya juga pakai panci yang biasa, yang aneh-aneh seperti presto dsb, saya nggak mudeng makainya gimana, jadi saya nggak belum berminat untuk pakai panci presto yang mahal hehe.. *ndeso tenan saya ini…🙂

  11. Sugeng says:

    tekhnik penjualan yang seperti ini sudah ditahu banyak orang, untung juga gak ada barang ato perabotan yang ilang😆 bukannya aku menjustise sales semacam itu selalu membawa barang2 dirumah tapi ada juga yang seperti itu😀
    salam hangat serta jabat erat selalu dari tabanan

    • nanaharmanto says:

      Ya, seperti kata Om Nh, ini cara kuno, dan sudah banyak yang tahu. Wah, untung nggak ada barang-barang dari rumahku yang hilang.

      hmm… jadi semakin waspada nih…
      salam hangat selalu Mas Sugeng…

  12. monda says:

    di tempatku yang maksa gitu sales mesin cuci,
    ditolak sekali, datang lagi, datang lagi
    ya udah ngumpet aja, nggak usah dibukain pintu, bosen

    • nanaharmanto says:

      Sales-nya orang yang sama Kak?
      wah ngeselin juga ya…
      saya juga sering tuh Kak, ngintip dulu dari jendela, kalau orangnya bawa buku artinya orang minta sumbangan. Kalau bawa barang, pasti sales.. jadi mending nggak usah keluar sekalian hehe…

  13. anna says:

    pernah juga sih mbak Na..

    tapi dengan modus yang sedikit berbeda.
    mo liat kompor gas di rumah. apakah sudah benar pemasangan selangnya.

    trus mau selonong boy aja masuk ke dapur.
    tapi untungnya saya udah pernah denger modus seperti ini.

    biasanya, kalo sudah berhasil masuk ke dapur dan ngeliat selang kompor gas, trus tanpa kita minta, dia langsung ganti selangnya.. dan kita disuruh bayar.

    untung aja, saya ngotot gak mau diliat kompor gasnya…

    ada2 aja ya..

    anyway, kiat2 mbak Nana oke tuh..🙂

    • nanaharmanto says:

      Wah, mereka ini kadang ngakunya dari P**tamin*.. di rumah ortuku pernah tuh…ternyata sales yang maksa. nyebelin… mana selangnya juga belum tentu sudah terbukti aman.. ngeselin banget deh.
      Dari pengalaman itu, kalau ada orang yang begitu lagi, langsung deh kutolak, “udah diganti kok, baru kemarin…”.
      hehe..pake boong juga ga papa deh..🙂

  14. pakosu says:

    Cara penipuan semakin beragam, perlu ketegasan kita menolak baik cara halus maupun kasar.
    Saya mungkin tidak punya mental sekelas si salesman. Bayangin bisa begitu gigih dan berkelit sedemikian rupa, tapi usahanya tidak membawa hasil pasti masih punya semangat untuk jualan besok harinya. Semangat salesman itu aja kita ambil untuk bekerja dan berusaha berbuat yang baik.

    • nanaharmanto says:

      Sebagai konsumen kita memang harus bisa jeli, teliti dan kritis.

      Membaca komen Anda juga membuat saya berpikir, sebenarnya nyali para sales itu boleh juga. bayangkan saja berapa kali dalam sehari dia dijudesin orang, dibentak mungkin, dijutekin, dicuekin, diabaikan sambil dia terus berusaha tersenyum dan tetap ramah…
      wah… saya juga sama, nggak punya nyali sebesar itu ..😦

      Semangatnya boleh juga ya Pak..
      terima kasih sudah mengingatkan bahwa masih ada hal positif dari para sales ini yang bisa kita tiru: semangatnya untuk terus bekerja meski dia tahu, besok mungkin akan ada lebih banyak penolakan…

  15. Ceritaeka says:

    “Lho, memangnya nggak ada standar kualitas sebelum dilempar ke pasar?”

    *mencoba membayangkan mbak Nana melemparkan pertanyaan itu, dengan nada suara dan mimik wajah yang jemu😀

    kalo aku udh ngedumel kali mbaaak😛 malas hahhaa

  16. DV says:

    Aku lebih banyak kasiannnya ketimbang jengkel melihat sales-sales itu.. makanya aku berusaha untuk tak bertemu langsung dengan mereka supaya tiba2 jadi jengkel hehehe…

    • nanaharmanto says:

      iya sih, jane mesakke … pasti diomelin, dijutekin dan dicuekin banyak orang tu sales-sales begitu…

      Tapi kalau lagi beraksi dan menjurus ke tipu menipu dan bul tukibul ya males juga dong… 🙂

  17. Ehmm..all tumbs up for the smart woman.

  18. Ata says:

    ..
    Strategi pemasarannya ok banget tuh..hi..hi..
    Belajar dimana ya sales itu..😀
    ..

    • nanaharmanto says:

      Wah… kalau pake cara tipu menipu dan bul tukibul yang nggak Oke lagi Ta..
      kasian konsumen yang terkena tipu…

      Para sales itu pastinya udah dibriefing dan dilatih dulu sebelum beraksi door to door…

  19. Daenk Afdhal says:

    haii mbak nana…
    pa kabar….
    siap2 menyambut kedatangan diriku ke pare-pare minggu depan yahhhhhh

  20. Plesiran says:

    Banyak kok nduk sales yang bicaraaaaaaaaaaaaaaaa melulu.
    saya sering terima tilpun yang dia bicaraaaaaaaaaaaa melulu. Hingga akhrinya berhenti setelah saya bilang “: Saya nggak ambil kredit itu mbak uang saya banyak kok disuruh ambil kredit ”
    baru dia stop ngomongnya.

    Terima kasih,salam hangat dari Plesiran.

    • nanaharmanto says:

      Iya ya Pakde…jadi sales itu mesti pinter ngomong. Sering tanpa titik koma… ngeselin juga ya…

      Saya pernah dapet telp dari nomor asing, ngomong panjang lebar promosikan kartu kredit.
      Saya jawab, Maaf, saya tidak tertarik sama sekali. Masih saja dia merayu-rayu. Akhirnya saya stop dengan bilang, “Mas, sebelum saya bicara kasar, mending Mas tutup saja telepon ini, silakan mencari calon nasabah lain”.

      Kita harus tegas kan Pakde? 🙂

  21. kalau ditempatku sales yg suka maksa kayak gini tuh produk vacuum cleaner , akhirnya kalau mereka ketok2 pagar, didiamkan saja, bosen .:(
    salam

    • nanaharmanto says:

      Hehehe… memang lebih gampang mengabaikan orang-orang yang tidak kita inginkan selama mereka di luar pagar ya Bunda… sedikit lebih repot kalau mereka sudah berhasil masuk ke beranda/ sampai depan pintu.. 🙂

  22. soyjoy76 says:

    Waduh, saya kok sotoy banget yah, nggak paham satu pun inisial produk2 yang Mbak Nana sebutin🙂

    Eniwei, kadang serba salah juga ngadepin sales kayak gitu. Disatu sisi kita nggak nyaman terlalu ‘didesak’ sama mereka yang terkadang bikin bete. Disisi lain, ada rasa kasihan juga kalau mau langsung nolak mentah-mentah, pdhl mereka juga lagi mencari sesuap nasi.

    Untuk kasus Mbak, emang nyebelin tuh kalau ternyata ada unsur penipuannya. So, lain kali jangan lupa nutup pagar🙂

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…inisial aja biar lebih aman, soalnya kedua produk itu brand terkenal di seluruh Indonesia je..

      Emang bener… kadang serba salah juga ngadepin sales begitu, apalagi yang pake unsur tpu menipu dan bul tukibul… 🙂

  23. ikkyu_san says:

    Yang pasti satu hal: Jangan lupa kunci pintu!
    Di Jepang juga ada sales door to door, kebanyakan asuransi, koran dan agama Yehova. Untung di sini hampir semua bell rumah/apartemen ada intercomnya sehingga cukup berbicara lewat intercom. Biasanya alasanku : “Maaf sedang kasih tidur bayi” atau “Maaf sedang ada tamu” atau…. “Maaf bukan saya yang punya rumah” hihiihi

    EM

    • nanaharmanto says:

      hehehe..aku juga pernah bilang, “Yang punya rumah lagi nggak ada…”. Aku kan nggak boong… emang yang ounya rumah nggak di situ, lha wong rumahnya kukontrak hihi…

  24. Nurul says:

    hihihi,,,,,,,,, lucu na kisah dr sista,,,,

    aq juga pernah d gituin di Indonesia,,,,,
    duh ribet na minta ampun,,,,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s