Exhibitionism

Sepanjang minggu-minggu ini kita selalu disuguhi berita tentang hebohnya video porno yang dilakukan oleh orang-orang yang mirip beberapa artis. Bahkan diduga kuat, si lelaki pelaku memiliki kelainan seksual semacam exhibitionism.

Ah, rasanya bosan juga ya mendengar berita itu-itu terus… Oke, kali ini aku ingin bercerita tentang pengalamanku saat berhadapan dengan para exhibitionist. Whaaat?? “para”?   hadooohh…

Jreng…jreng!!

Saat aku tinggal di asrama mahasisiwi di Syantikara Yogyakarta, aku mendapat sebuah pengalaman tak terlupakan.

Benar-benar mendebarkan!

Di tahun pertama itu, aku tinggal di unit terluar, persis di samping kali kecil yang dikenal dengan Babilon.

Jendela unitku menghadap ke jalan aspal di dalam asrama di atas Babilon.

Saat itu, kira-kira jam 20.00, waktunya jam studi wajib, jadi diharapkan semua penghuni asrama belajar tenang di biro (meja belajar) masing-masing di dalam unit.

Asrama sunyi. Di luar, hujan baru saja mengguyur, menyisakan rintik-rintik air dan tetes air dari atap genteng.

Salah satu teman unitku membuka jendela nako yang menghadap ke jalan aspal, untuk merasakan segarnya udara hujan…

Sekilas aku lihat sorot senter di luar jendela, di seberang Babilon, kira-kira 3 meter saja dari jendela unit. Sesosok laki-laki berjas hujan dan ber-helm cakil berdiri di sana, menyoroti bagian bawah perutnya dengan senter.

Aku belum sadar apa yang kulihat saat temanku yang bironya mepet pada nako itu tiba-tiba menutup nako dengan panik setengah membanting lalu berteriak dan berlari menjauh dari bironya.

Maka unit kami pun hiruk pikuk dengan jeritan dan tawa setengah panik…dadaku berdebar kencang…

Penghuni unit lain yang tak tahu duduk persoalannya, segera bergabung mencari tahu.

Segera saja teman seunitku itu bercerita tentang apa yang dilihatnya. Sayang, eh, ups! Untungnya, aku tak sempat melihat bagian itu hihi…

Diduga, lelaki di luar jendela tadi itu sengaja mempertontonkan properti pribadinya itu di depan para cewek.

Konon, kejadian serupa pernah terjadi hampir 2 tahun silam. Rupanya, kejadian itu terulang lagi.

Segera cerita itu menjadi topik hangat di sekitar unit kami, bahkan sempat menjalar pula ke unit-unit lain yang lebih jauh.

****

Salah seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Umum berbagi pengetahuan  tentang  exhibitionism. Sejenis kelainan jiwa, di mana si penderita memiliki keinginan kuat untuk memamerkan bagian tubuh paling pribadinya kepada lawan jenis atau mempertontonkan termasuk merekam kegiatan seksualnya. Konon, dia mendapatkan kepuasan tersendiri saat melakukannya. Pernah kudengar kasus ini diderita oleh lebih banyak laki-laki daripada penderita perempuan. Nah loh… bener nggak ya?

Sebaiknya para exhibitionist ini diabaikan saja, dicuekin, dan dianggap tak terlihat. Kabarnya, penderita ini justru akan mendapatkan kepuasan ketika lawan jenis yang melihatnya beraksi, menjerit histeris, ketakutan atau panik. Kepuasan itulah yang membuatnya ingin terus mengulangi perbuatannya.

Ignorance and carelessness, pengabaian dan ketidakpedulian pada aksinya akan membuatnya malu dan kecewa, sehingga besar kemungkinan dia akan menghentikan aksinya.

****

Suatu hari, aku dan si mahasiswi FKU itu berjalan berdua selepas belanja di M*rota, sebuah supermarket terkenal di Jogja. Saat itu kira-kira jam delapan malam saat kami berjalan kaki di trotoar depan sebuah sekolah swasta di dekat bunderan UGM. Trotoar itu cukup gelap. Kami lihat sebuah motor diparkir di pinggir jalan.

Saat kami melewati motor itu, penumpangnya, laki-laki, bergerak-gerak gelisah di motornya. Aku merasakan udara sekitarku seperti menyuruhku waspada.

Laki-laki itu berdesis mencari perhatian, “ Ssst…ssst…sst!”.

Belum sadar apa yang terjadi, temanku mencengkeram lenganku secara tiba-tiba. Antara kaget dan berusaha mencerna apa yang telah terjadi, -yang  seharusnya menjadi jawaban atas rasa waspada itu, temanku telah lari tunggang langgang meninggalkanku sendiri.

Aku tak sempat berpikir lagi. Hanya sepintas saja kudengar kerasak bunyi kantong plastik belanjaannya yang melesat cepat menjauh. Secara spontan aku mengikutinya terbirit-birit. Begitu saja aku tahu. Seorang lagi….Beuh!!

Kudapati temanku itu terbungkuk-bungkuk tersengal-sengal beberapa puluh meter kemudian, wajahnya pucat, diselingi tertawa terbahak yang aneh, gabungan antara panik, geli, lega dan entah apa lagi.

Baru saja kami berhadapan dengan exhibitionist lagi, begitu dekat… tak sampai setengah meter dari kami…

Riuh gemuruh dadaku. Kucubiti temanku itu dengan gemas dan jengkel sambil mulutku terus berkicau.

Lah, kabur nggak bilang-bilang! Nggak mutu ah, huh, nggak lucu!!”, semprotku pedas.

“Kau yang kasih tau untuk nggak panik, kau juga yang bilang abaikan saja orang seperti itu. Kau juga yang pernah dapat kuliah tentang kelainan ini. Mana? Manaa?? Kau kabur! Nggak pamit, diem-diem aja nggak bilang!”, semburku jengkel setengah marah setengah tertawa.

“Aduh, aduh, sorry Nana…. sorry…”, hanya itu yang bisa diucapkannya berulang-ulang dengan ekspresi wajah yang lebih aneh lagi..

Lepas dari “bahaya” itu, dan sudah terungkap rasa jengkelku, malah membuat kami, -entah bagaimana-, merasa lega. Meski belum sepenuhnya hilang kejengkelanku itu, kami berdua tertawa seperti orang gila hingga perut melilit. Kami tak peduli pada pejalan kaki yang terbengong melihat dua orang gadis menenteng belanjaan sambil terbungkuk terbahak-bahak.

****

Kali ketiga, di dalam bis sodara-sodara!

Aku naik bis kota untuk kembali ke asrama. Bis lumayan penuh, hingga aku yang duduk di sebelah lorong, terpaksa tersenggol-senggol penumpang lain. Aku tengah terkantuk-kantuk saat bahu kananku tersenggol penumpang lain. Tersenggol lagi, lagi dan lagi.

Wait!!! Ini bukan tersenggol! Bahuku tergesek berulang kali. Segera aku sadar, bahuku digesek dengan sengaja. Bagian depan celana jeans seorang laki-laki menempel pada bahuku, dan terasa sesuatu yang keras di dalamnya. Kampr*t! Umpatku dalam hati.

Aku menjauhkan tubuhku, merasa jijik luar biasa. Ristluitingnya setengah turun… aku merasa gemas dan jengkel.

I was sexually harrased… huhuhu….

****

Kali keempat nih, di dalam bis yang lumayan penuh penumpang. Aku duduk di bangku yang kosong, lalu seorang lelaki duduk di sebelahku di dekat jendela. Gerakannya gelisah. Kembali sesuatu menyuruhku waspada. Dipangkunya tasnya, dan tangannya bergerak-gerak di bawah tasnya. Kupikir dia ini seorang copet. Refleks kupeluk dan kulindungi tasku sendiri.

Dia berucap pelan, “Mbak….Mbak…sst..Mbak..”.

Sepintas mataku melihat, tasnya telah bergeser, dan…. ristluiting jeansnya terbuka…

Jujur aku kaget tak kepalang. Tapi aku berusaha sedapat mungkin untuk tak peduli, meskipun aku nyaris panik. Aku harus bertahan mengabaikannya karena tujuanku masih lumayan jauh dan hujan pula, tak mungkin aku turun di tengah jalan…

Rasanya tujuanku tak segera sampai!

Rasanya lamaaaaaaa  sekali!

Rasanya aku ingin segera menghambur turun!

Akhirnya, aku minta turun beberapa belas meter sebelum sampai tujuanku, setelah penumpang bus mulai sepi dan laki-laki di sebelahku mulai tambah gelisah dan semakin berani mencari perhatianku.

Sebelum turun, aku mengedikkan bahu dengan seangkuh mungkin, mencibir dan menjentikkan jariku, mengisyaratkan betapa kecil miliknya, bahwa aku tak terganggu olehnya.

Mungkin orang itu marah atau kecewa, entahlah. Saat itu aku turun dengan sok anggun. Padahal aslinya aku gemetaran luar biasa dan gugup ketakutan! Aku takut tiba-tiba dia mengejarku dan memaksaku melihat…. beep beep– nya…. *censored*

Satu hal yang membuatku agak yakin dia tak akan mengejarku adalah di jalan ada banyak orang, setidaknya dia pasti berpikir untuk tidak berbuat nekat. Dan kupikir nggak mungkin kayaknya dia secepat itu membereskan celananya dan menyusul turun. Mosok ya dia nekat gondhal-gandhul begitu (minjem istilah Om NH)🙂

Kini, kalau kuingat-ingat lagi, kadang aku masih merasa jijay dan juga sedikit menyesal. Mungkin sebaiknya aku tak perlu meremehkannya sedemikian rupa. Cukup mengabaikannya saja. Entahlah, saat itu emosiku yang lebih menguasaiku yang mendorongku untuk membuatnya merasa kecil dan tak berarti.

Sekarang aku bisa berpikir, sebenarnya mereka adalah orang “sakit” yang perlu ditolong.

****

Kali kelima… *halah! Akeh banget…udah ah… terlalu banyak malah jadi cerita horor atuh! 🙂🙂

Anda pernah mengalami/ mendengar kejadian serupa?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Intermezo and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

60 Responses to Exhibitionism

  1. Clara says:

    Yaii.. serem amat Mba Nana.. saya belum pernah ketemu yang seperti itu.. tapi kalo sama yang punya kelainan jenis lain pernah dengar.. di kampus dulu ada cowo yang suka buntutin cewe2 naik motor, terutama di tempat sepi trus menjejerin cewe itu buat dipencet *tiitt*nya.. auch.. dengernya aja udah jijik..

    Amit-amit, saya kalo bisa ga ketemu ama yang seperti begituan.. fffffff…

    • nanaharmanto says:

      Yup…seremm….
      aku nggak mau ketemu orang kayak begitu ah… ogah… asli bikin deg-degan dan takut, jengkel, pengen nimpuk…

      Haih, aku jadi gemes sama cowok penguntit itu. anak kampus juga kah? dikenai sangsi nggak tuh?
      Atau hanya pemuda “liar” aja?
      semoga kita semua nggak akan ketemu orang-orang “sakit” begitu ya Cla?

  2. vizon says:

    syukurnya, aku belum pernah mengalami hal yang serupa. tapi, kabarnya, yang paling banyak berpenyakit seperti ini adalah pria, sehingga korbannya adalah wanita. semoga kita terhindar dari penyakit semacam itu ya Na…🙂

    • nanaharmanto says:

      Ya…penderitanya lebih banyak dari kaum laki-laki, dan asrama mahasiswi sering jadi sasaran korban… hiks..
      Aku malah mikir, mungkin dengan sesama cowok nggak berani kali, Uda… bisa-bisa langsung digebuk tuh pelakunya..

  3. hiii…….serem banget ,Mbak.😦
    untung aku gak pernah mengalami hal2 aneh dn horor kayak gini.
    salam

    • nanaharmanto says:

      Iya Bunda, bener…. serem banget…
      saya nggak mau itu terulang lagi… jangan sampai hal ini menimpa yang lain deh…
      Semoga kita semua terlindung dari segala yang buruk, Bunda…

  4. septarius says:

    ..
    kok sering banget kejadian sama embak sih..?
    namanya juga orang sakit, jadi ya emang harus di kasihani..
    ..
    kalo nunjukinnya ke sama cowok, wah gawat..ha..ha..ha..
    ..

    • nanaharmanto says:

      Iyahhh….apesnya aku kali ya, segitu seringnya atau saking banyaknya orang “sakit” di Jogja?
      nggak taulah…yang jelas aku emoh ketemu orang-orang begitu lagi… hiiy…

  5. edratna says:

    Kayaknya di koran beberapa hari lalu ada berita, tentang cewek yang mengadukan penumpang busway ke polisi, tapi karena tak ada saksi (hanya korban…lha mana mau penumpang lain bersaksi, kan jijaj)…akhirnya cowok tadi hanya diminta buat surat pernyataan tak melakukan lagi.

    Ihh Nana, pengalamanmu kok serem amat..syukurlah saya tak pernah ketemu orang seperti itu…saya hanya mendengar dari beberapa teman wanita, yang pernah ketemu orang seperti itu….katanya sih memang sebaiknya diabaikan saja..tapiii…kalau ketemu kali malah pontang panting lari…hiiiiii

    • nanaharmanto says:

      Saya juga dengar beritanya di TV dan di koran. hanya sayangnya kurang ditanggapi serius ya Bu… setau saya, di negara-negara maju seperti Amerika sudah ada undang-undang dan hukum bagi pelaku seperti ini yang telah membuat orang lain merasa terancam dan tidak nyaman.

      apa kabar UU pornografi kita ya? seharusnya di dalammnya juga membahas sanksi bagi orang-orang seperti para exhibitionist dan perlindungan/jaminan keamanan bagi para korban.

      Benar lho Bu Enny, teori boleh saja bicara begini begit, tapi saat menghadapi langsung, otak rasanya langsung buntu karena panik dan takut, hasilnya adalah pertahanan diri paling primitif: lariiiii……

  6. Tian says:

    weleh..weleh..apa mungkin wajahmu bikin orang jadi nafsu kali friend..hehehe…disyukuri aja sebab itu pengalaman yang sangat unik and langka hahahaha…

    • nanaharmanto says:

      Dahi saya berkerut-kerut membaca komen Anda ini. Maksudnya??

      Saya jelas terluka dan nggak nyaman mendapat perlakuan seperti itu, terlepas dari wajah saya bikin nafsu atau tidak.
      Saya merasa selalu membawa diri dengan baik dan menghormati diri saya sendiri, jadi ketika melihat orang lain berbuat tidak senonoh kepada saya, saya jelas-jelas terluka. Saya prihatin juga dengan si penderita itu, dan sekarang saya bisa berpikir, hal serius seperti itu selayaknya bukan hal patut ditertawakan. Orang itu, jelas butuh pertolongan.

  7. nelemima says:

    wak……. di rumah kalasan pernah juga tuh… pas nyuapin elen di depan rumah, ada cowok jalan di dpn rumah… n tiba2 i saw his…… wakkk…. lgs pura2 gak tau, masuk rumah n tutup pintu rapat-rapat dech….

    • nanaharmanto says:

      Waaaah…pas sendirian pula ya?
      yup…kebayang ngerinya… lebih aman memang tutup pintu dan jendela rapat-rapat kalau sedang nggak ada cowok di rumah…
      Itu orang situ atau orang dari luar sih?

  8. nh18 says:

    Lain kali …
    jika ketemu yang seperti itu …

    Jepret aja Mbak … !!!

    ditanggung cleng … kapok dia …

    Banyak orang sakit di luar sana rupanya …

    Semoga tidak ada lagi hal sakit seperti itu di Masyarakat kita ya Na …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Jepretnya pake apa Om? karena nggak ngarepin bakal ketemu orang seperti itu jadi nggak sempet bawa bekel karet Om…
      Jujur saja, saya dulu juga geregetan pengen jepret cowok itu pas di area kebanggaannya ituh… tapi pas ngadepin langsung sih gemeteran Om… nggak yakin bisa membidik dengan tepat deh… lagian kalau harus njepret, berarti aku harus menatap targetnya dong? huaaaa!! no.. no..no…

  9. nh18 says:

    Ada juga istilah … Voyeurism …
    sama nggak ya artinya ?

    • nanaharmanto says:

      Voyeurism itu setauku kegiatan mengintip orang lain terutama saat-saat pribadi korban (Mandi, urusan di WC dan di kamar), termasuk juga mengintip pakaian dalam korban.
      Pokoknya dari mengintip, dia dapat kepuasan dan fantasi tersendiri. Gitu Om, setauku. Mungkin ada yang bisa menambah?

  10. Ifan Jayadi says:

    Ih..ceritanya mengerikan sekali. Beberapa kali harus mengalami yang namanya eksibionisme. Mudah2an itu tidak terjadi pada saya

  11. Ahahaha..pasien-pasienku nggak ada yang kayak gitu. Dan aku nggak pernah ketemu juga. Tapi sekiranya ketemu, mungkin aku juga nggak akan teriak histeris. Paling-paling air mukaku jadi datar, lalu aku akan bilang, “Punya suami gw lebih bagus..” :-p

    • nanaharmanto says:

      hahaha…. andai duku aku lebih punya nyali untuk ngomong begitu ya…🙂

      Mungkin kalau sekarang (amit-amit sih) ngadepin lagi, aku bisa lebih tenang. Dulu waktu msh muda kan rasanya horor gitu..🙂

    • julianusginting says:

      wekekekee…anda bisa karena biasa…kalo yg blm biasa, histeris kali non..😀

  12. PakOsu says:

    Memang kalau si penderita di kasih perhatian, kayaknya, makin belagu, makin puas. Lha, kalau kita cuek bebek, pasti mereka tengsin. Atau diteriakin aja sekalian biar ada shock terapi gitu.
    Memang harus dikasihani si penderitanya.

    • nanaharmanto says:

      Iya bener, kalau kita memberikan reaksi, dia malah makin bertingkah karena merasa mendapat perhatian.
      Semoga saya nggak akan pernah ngalamin lagi deh.. hiiiyy…

  13. arman says:

    wah serem amat ya na… terutama yang di bus gitu…
    wuiii
    tapi emang ada aja kok orang yang kelainan jiwa kayak gitu ya…

    • nanaharmanto says:

      Iya betul…serem banget, apalagi waktu itu aku masih “hijau” hihi… ya jijay, mual, takut, gemeter, gak bisa mikir..huah..campur aduk deh.

      Herannya penumpang lain kok sepertinya cuek ya, atau emang nggak tau ya? *geleng-geleng*

  14. zee says:

    Astagaaaaaaaaaaaa…. hueeekkk menjijikkan.
    Sungguh saya gak tahu apa yang harus saya lakukan kalau ketemu orang-2 model begitu. Atau mungkin saya akan kasih gaya cuek. Biasanya gaya cuek saya berhasil menyingkirkan orang2 ‘sakit’ kayak gitu. Tapi yang model begitu, aihhh jangan sampai lah.

    • nanaharmanto says:

      Yup…itu yang kurasakan waktu itu…jijay…
      didn’t know what to do… sekarang karena udah semakin matang, mungkin aku akan bereaksi lebih cool… eh nggak ding…. nggak mau lagi!.. hiyyy…

  15. riris e says:

    pernah, sekali!! dan waktu itu sempat bikin geger kampung karena aku berteriak2 spt orang gila. aku takut, mual, ingin muntah…duh..cukup sekali dah..amit-amiiiit..tok tok tok

  16. DV says:

    Aku udah pernah ditempel tititnya banci…
    ceritanya aku lagi makan di pecel lele depan kampus duta wacanna… trus tiba2 ada banci nyanyi…
    pas ngelewatin belakangku, tititnya ditempelin di punggungku,seketika aku bangun dan teriak ASU!🙂

    Dia lari dan minta maaf hehehe…

  17. Semua diciptakan tuhan dengan karakter yang berbeda2 tergantung kita bisa bersyukur atau menghargainya..thx

  18. Semua manusia diciptakan berbeda-beda oleh TUHAN, tetapi tergantung kitanya sendiri bisa mensyukuri atas nikmatnya. Thx

  19. monda says:

    aku juga ngalamin pas lagi nunggu bis sendirian, menjauh dikit dari halte krn haltenya rame dgn pedagang

    org itu sambil lewat aja sih manggil ” ibu..”
    saat menoleh dia melakukan aksinya
    aku diam saja, kurasa ekspresipun nggak berubah
    aku tenang saja krn penderita ini tindakannya biasanya ya hanya memperlihatkan saja
    dia berlalu begitu saja,

    kabarnya kepuasan org spt ini kalau korbannya ketakutan

    • nanaharmanto says:

      ya bener Kak…
      penderita begitu memang dapat kepuasan kalo korbannya, terutama lawan jenis, ketakutan, histeris atau bereaksi berlebihan.
      Semoga nggak terjadi lagi ya Kak…

  20. septiandeni says:

    mungkin orang itu ingin memperlihatkan betapa mantapnya anu nya dia,hehehe

  21. Adi says:

    Waduwh, menjijikan. , amit2 dah. .

  22. elmoudy says:

    exhibitionism…. hmmm menarik paparannya…
    kira2… gw termasuk gak yaa… hahhaaaaaaaaaa…
    insyaalllah gak segitunyaaah

  23. julianusginting says:

    wah parah tuh..ngapain ditunjukin property miliknya…itukan rahasia, hanya org tertentu yg bole lihat. memang banyak sekali hari gini org2 yg begitu, gatau knp, waras ga ya org begitu?ccekk..cekk.cekk…

  24. Daenk Afdhal says:

    ihhhhhhhhhhh ngeriii
    memalukan kaum lelaki aja sih :p

  25. ikkyu_san says:

    well NANA…. kejadian begini banyak di Jepang. Mereka menunggu di sudut jalan yang gelap, dan biasanya jika pukul 6 sore-an gitu korbannya adalah murid SD-SMP yang baru pulang sekolah/kegiatan. Makanya di sini anak-anak dianjurkan pulang pukul 5:30 jika harus pulang sendiri, lebih dari itu harus dijemput orang tua (terlebih anak putri).

    Kalau exhibisionist yang berdiri di sudut jalan memang aku belum pernah bertemu. Tapi kalau CHIKAN, yang ramah –rajin menjamah– gitu di dalam kendaraan umum (kereta) ….sering😦 (dulu waktu masih muda dan langsing) Memang mereka bergerilya kalau kereta penuh.

    Tapi kejadian yang memalukan justru waktu aku di Indonesia, waktu naik bus. Masih pakai seragam SMA tuh… hiks. Aku duduk di lorong, dan di sebelahku berdiri seorang laki-laki yang “nempel” terus di bahuku. Dan aku baru sadar waktu ada basah-basah di bahu …hiiiiii baru ngerti. Jadi aku cepat-cepat turun begitu temanku yang duduk di sebelahku turun. Takut kalau orang itu duduk sebelahku.

    Ngga usah cerita berapa kali kejadian ini kan? Yang pasti cukup sering, dan yang aku sayangkan waktu itu aku masih naif +bego ngga tau musti ngapain kecuali turun dan naik bajaj pulang cepet-cepet. Pernah satu kali saking takutnya aku turun bis waktu bis masih dalam keadaan bergerak. Untung aku cuma limbung saja dan tidak terjadi kecelakaan.

    Karenanya perlu orangtua yang mempunyai anak gadis, menjelaskan dengan rinci “bahaya” apa saja yang mengintai di luaran sana. Jangan cuma, “Jangan deket-deket laki-laki, nanti kamu hamil” hihihi. Pelecehan seperti begini pun bisa membawa dampak buruk di masa depan.

    Doooh komentarku kepanjangan ya… mustinya bikin postingan sendiri, tapi aku yakin, aku tidak akan bisa menulis masalah ini selancar kamu🙂

    EM

    • ikkyu_san says:

      Nambah:

      Sayang sekarang ini ngga ada yang mau kasih liat atau godain aku lagi. Coba ada, aku akan bilang..”Ihhhh kecil aja pamer-pamer hahaha”

      EM

      • nanaharmanto says:

        Di Jepang istilahnya apa ya exhibitionism ini, Mbak?
        yang jelas sih memang menggangu dan bikin nggak nyaman… apalagi kalau masih anak-anak…takutnya mereka jadi trauma..
        Kita masih “mending” ya, walau saat ngalamin masih relatif naif dan bego (istilah yang pas nih Mbak, tepat seperti itulah yang kurasakan dulu) tapi kita udah bisa dibilang rada gedean, dan mungkin lebih bisa mengontrol diri dari reaksi yang berlebihan…
        Aku pernah ngalamin diraba cowok gak kukenal pas nonton pameran. langsung kusemprot cowok itu, pengennya sih sodok aja di itunya biar kapok…

  26. kawanlama95 says:

    ya orang kalo udah laen pikirannya kek gitu tuh. heran masih aja ada yang gitu. padahal kiamat dah deket

  27. krismariana says:

    Na, unit itu kan unit yg pernah kita tempati bareng kan? Kayaknya aku lebih mujur, karena selama tinggal di sana nggak pernah liat si exhibionist itu.

    Tapi btw, aku kangen dengan unit itu. Kalau sore seger banget duduk di biro samping nako. Karena itu, aku selalu minta ke suster supaya biroku ditempatkan di dekat jendela.

    Eh, mahasiswi FKU itu maksudnya Kak I**N ya?

    • nanaharmanto says:

      hahaha…yup! seratusss!! itu unit tercinta kita. Sampai aku 2x tinggal disitu..
      pancen menyenangkan duduk di deket nako sore-sore, sambil gosipin cowoknya Mbak-mbak yg tinggal di atas, separo iri, kapan aku bisa pacaran hahahaha…

      seratus lagi…
      mahasiswi itu Kak I**n… di mana dia sekarang ya? I miss her…

      • krismariana says:

        setahuku Kak I**N pulang kampung. Jadi dokter di mana gitu. Aku cuma tau dr (mantan) istrinya Bang H*N…

  28. anna says:

    ya ampun……
    banyak kali mbak ketemu dengan mereka… sampe diberi kata2 ‘para’..

    hm, alhamdulillah sampe sekarang nggak pernah. jangan sampe deh. takut. padahal saya juga di jogja lho mbak.. tapi jangan deh…

    tapi ada seorang teman saya yang ‘disenggol’ seperti mbak nana.

    kejadiannya pas dia lagi naik Haji lho..
    dia lagi belanja pernak2 lah di sebuah toko..
    tau2.. dia merasa ‘di-sampluk’ dengan sesuatu..

    haa.. ternyata di belakangnya ada laki2 arab gede…
    langsung lari deh…😦

    deuh…ngeri…

  29. Pingback: Serba serbi exhibitionism « sejutakatanana

  30. Alhamdulillah ane masih noral, kagak aneh-aneh kayak gtu

  31. q juga pernah alami hal itu,namun dia cewek.diseputaran jln wates jogjakarta.dia suka mamerin payudaranya melorotin celananya sampai kelihat itu V dia,qu selidiki qu ikutin dia ternyata mahasiswi kampus UMY.yg namanya NE, hati2 dia suka makai motor vario hitam berlis merah,sedikit gemuk pendek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s