Sarung

Aku tak suka rok…

Ya… aku tak terlalu suka pada jenis busana satu ini. Bagiku, rok membatasi gerakanku…

Selepas SMA, aku selalu bercelana panjang untuk kuliah. Berdandan cantik dengan memakai rok hanya “cukup” seminggu sekali ketika pergi ke gereja atau pergi ke undangan resepsi.

Aku lupa kapan terakhir kali aku memakai rok. Kalau nggak salah, tahun 2004, saat aku mengajar di sebuah sekolah swasta di Jakarta. Aku harus memakai rok sesuai dengan peraturan: pengajar perempuan harus memakai rok. Aku benar-benar tersiksa saat itu, karena setiap hari aku harus naik turun empat lantai dengan memakai rok span. Sayang, sepertinya tak ada kesempatan untuk merubah peraturan itu… 😦

Saat aku pindah mengajar, girangnya aku karena staf pengajar perempuan boleh memakai celana panjang! Uhuy…..

Celana panjang membuatku nyaman dalam segala hal. Aku bebas bergerak tanpa harus takut kesrimpet. Aku pun bisa bebas dari segala kerepotan karena memakai rok artinya nggak bisa duduk dengan sikap sembarangan. Apalagi, saat itu aku harus naik angkot untuk pergi dan pulang mengajar. Celana panjang membantuku bergerak lincah mengejar angkot.. dan naik turun tangga.

Begitu juga di rumah. Pakaian kebesaranku adalah celana kulot pendek dan kaos oblong. Seperti ketidaksukaanku pada rok, begitu juga dengan daster. Sssst..aku benci daster! Hihi..

Aku hanya punya 3 daster pendek. Dan itu pun masih sangat bagus kondisinya karena jarang sekali kupakai. Mungkin masa baktinya lebih banyak ditakdirkan untuk teronggok saja di lemari..🙂

****

Sarung…..

Mungkin saat mendengar kata sarung, yang mula-mula terbayang adalah selembar kain dengan jahitan sambungan untuk membentuknya menjadi semacam tabung kain, bermotif kotak-kotak, dan dipakai para pria untuk beribadah ke masjid…

Well, aku punya sarung “cantik” berwarna merah hati. Coraknya kotak-kotak kecil dengan sulaman benang keemasan dan tenunan khas Mandar. Apa sih istimewanya sarung ini? Yup…sarung ini asli tenunan sutra, yang diproses dengan dengan alat tenun tradisional, atau yang lebih dikenal dengan ATBM, Alat Tenun Bukan Mesin.

Bagi masyaakat Bugis Dan Mandar, sarung merupakan kain istimewa. Kain sarung inilah yang dipakai sebagai paduan baju Bodo dan baju khas Mandar. Di setiap pesta, sarung mendominasi busana para wanita dengan warna-warni terang dan mencolok, begitupun dengan para pria, sarung dipadukan dengan jas.. unik ya?

Nah, masalahnya, aku tak biasa memakai sarung… jangankan sarung, memakai rok pun aku tersiksa hihi..

Akhirnya, aku menjahitkan sarungku itu kepada seorang penjahit. Awalnya, si penjahit setengah histeris mendengar permintaanku.

“Sayangnya, sarung  sebagus ini dipotong-potong…. “.

Apa boleh buat, aku tak bisa memakai sarung. Akhirnya, sarung itupun jadi. Berbentuk rok panjang dengan belahan di depan samping.

Sarung itu benar-benar istimewa, terlebih karena aku sengaja memakainya untuk menghadiri resepsi pernikahan Afdhal dan Aida di Makassar, Minggu 4 Juli 2010 lalu.

Aku harus latihan berjalan “manis” sebelumnya, nggak lucu kan, bersarung cantik tapi jalanku seperti mau balapan karung?

Yak…akhirnya, setelah bersalaman dengan kedua mempelai, dan beberapa kali tertinggal langkah dari suamiku, selesailah waktu sarungan itu….

So, Afdhal dan Aida, selamat berbahagia sekali lagi…untuk pesta istimewa kalian, aku rela bersarung… 🙂

corak tenun Mandar dominan di depan, motif kotak-kotak di bagian belakang.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri, Sahabat and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

42 Responses to Sarung

  1. nanaharmanto says:

    hah…tumben aku pasang foto narsis beginih…
    riasan udah ancur tuh…pulang ah! pulang!!

  2. ikkyu_san says:

    CANTIK!!!

    kamu persis adikku Tina. Tidak punya ROK hihihi
    dan dulu mama mewajibkan kita pakai rok kalau ke gereja, tapi di Tokyo tidak wajib….jadi goodbye deh. Kecuali kalau memang terpaksa banget.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya Mbak…
      sekarang ini aku punya 1 rok, yang kubeli tahun 2004. tapi nggak pernah kupakai hihi…sedangkan rok-rok span untuk ngajar dulu, semuanya keberikan pada adik-adikku karena ukuran badan kami hampir sama.
      Sekarang aku ke gereja juga selalu bercelana panjang (bukan jeans).. lebih simpel dan ringkas… 🙂

  3. Adi says:

    Cihuy, mau koNdangan bu, ehe

  4. Clara says:

    Wah, kain mandar ya Mba Na? Cantik ya motifnya? Saya juga ga sukaaaaaa (a-nya banyak) pake rok, kecuali kalo ke gereja dan dianter teman, hehe..

    Kalopun memakai rok, ujung2nya pake dalaman legging supaya kalo tersibak roknya kaki tidak terlihat..

    • nanaharmanto says:

      Iya kain Mandar motifnya khas, dan berwarna-warni.. kebetulan aku dapet yang warnanya bagus, merah hati, jadi gak terlalu mencolok.

      Wah, ternyata kita sama ya nggak suka pakai rok… toss dulu ah! 🙂

  5. arman says:

    jadi kalo kondangan apakah selalu pake sarung na?😀

    • nanaharmanto says:

      enggak…. hehehe….ribet, Man… biasanya aku pakai celana panjang hitam (bukan jeans) yang rada aksi gitu, trus atasannya yang rada feminin dan sandal juga sandal yg buat gaya gitu hehe, jadi meski bercelana panjang tetep kelihatan rada feminin *halah…

      ssst…baru kali ini aku bersarung begini hihi…

  6. riris e says:

    Cantik, Na..baik Orangnya maupun sarungnya😀
    sebenarnya aku seneng pakai rok, lebih terasa “wanita” gitu..hihii..tapi sejak melahirkan anak kedua dan perutku jadi “cacat” aku jadi gak begitu PeDe mengenakan Rok.

    Di gereja yang sekarang juga tidak diharuskan mengenakan Rok, para penatalayan pun mengenakan celana panjang, jadi..aku tidak terlalu pusing dengan kostum ke Gereja.

    Selamat Untuk Afdal dan Aida..semoga rukun2 dan bahagia selalu.

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya Mbak….*jadi GR…🙂

      jadi sekarang ke gereja sering bercelana panjang ya…kalau kerja gimana tuh?

      aku selain gak suka pakai rok, juga karena gak pede juga hehe..

  7. nh18 says:

    Saya akan menyoroti hal yang lain …

    Nana memakai sesuatu yang Istimewa … untuk acara yang khusus …

    Saya melihat ini adalah salah satu bentuk kecintaan dan penghormatan Nana untuk yang punya Hajat …

    Saya yakin Adal dan Istrinya jika membaca postingan ini akan mengerti … bahwa Inilah cara seorang Nana menghormati dan mencintai sahabat baiknya …

    Memakai Pakaian yang terbaik di perhelatan perkawinan sahabatnya …

    Salam saya Nana …

    • nanaharmanto says:

      wah..terima kasih Om…
      iya, sengaja kupakai untuk pertama kalinya di pestanya Afdhal dan Aida..

      Bener juga ya Om… memakai pakaian terbaik untuk acara istimewa sahabat sendiri memang rasanya gimana gitu…

      salam hangat juga ya Om..

  8. edratna says:

    Sarungnya cantik….apalagi yang pakai……
    Dulu..setiap kali ada kesempatn, sambil bertugas, saya berburu sarung, kain panjang, yang khas daerah tsb.

    Sebetulnya menjahitkannya bisa tanpa dipotong kok….namun siapa sih yang mau memanjangkan sarung itu lagi….

    • nanaharmanto says:

      Wah, matur nuwun Bu Enny…
      saya juga kepengen punya koleksi kain-kain khas suatu daerah. Saya punya kain Sasirangan khas Banjarmasin. belum saya jahitkan karena belum nemu model yang cocok dengan corak kain ini.

      Kebetulan sarung tenun Mandar dan Bugis ini potongannya lain dengan sarung yang biasa, jadi dijual dalam bentuk 2 potongan panjang untuk disambung menjadi “tingginya” baru dijahit sambung lagi untuk menjadikannya berbentuk sarung seperti biasa… .

  9. anna says:

    wah…
    sarungnya bagus mbak.. warnanya cocok dengan atasannya.

    special moment jadi pake sarung special dong…

    anyway mbak, ketika awal2 baca postingan, saya kok ya sempat2nya ngebayangin mbak nanan pake sarung yang kotak2 yang biasa dipake ke masjid.. heheh🙂

    peace deh..😉

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya…
      iya emang beli sarungnya disesuaikan dengan warna bahan sutra atasannya yang udah dibeli duluan…

      Hihi…ada-ada aja ya…ngebayangin aku pakai sarung bapak-bapak… eh, tapi aku juga punya sarung begitu lho….🙂

  10. monda says:

    mbak Nana ternyata sama denganku, aku nggak punya rok he..he..

    kondangan sekarang makenya sarung terus, yg udah dijait tentu, praktis

    tapi sebaiknya cari tukang jahit yang bisa jahit sarung tanpa dipotong2,
    sarungku semua model begitu, hanya dilipat2, pasang karet dan resleting, kalau dibuka lagi tetap jadi sarung

    sayang mbak kalau dipotong2

    • nanaharmanto says:

      Waaa…kita sama ya Kak Monda? toss dulu ah…
      kapan-kapan aku mau bikin lagi yang model dilipat, pasang karet dan resleting begitu… tapi mungkin penjahitnya memang harus putar otak.. soalnya bentuk kain sarung di sini terbagi dalam dua bagian… arah motif dan bentang kainnya berlawanan, jadi emang agak ribet…🙂

  11. duh, Mbak Na padahal cantik banget pakai sarung Mandar itu, apalagi sarung ATBM………….🙂
    ( bener tukang jahitnya bilang, sayang banget dipotong kainnya)

    kalau daster memang , aku gak punya dan gak suka , samaan kita ya……….
    dari kecil aku terbiasa memakai pyama yg dijahit oleh ibuku sendiri,Mbak.
    jadi sampai sekarang terbiasa pakainya pyama bukan daster🙂
    salam

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih Bunda ya…🙂

      lain kali kalo bikin sarung lagi saya coba diskusi dulu dengan penjahitnya, bisa nggak tanpa dipotong-potong… hehe…agak ribet memang..

      Saya hanya punya satu stel piyama Bunda… hihi… daster nggak suka, piyama juga gak terlalu suka. Baju favorit saya emang kulot pendek dan oblong.. belum tergantikan nih hehe..

  12. zee says:

    Oh tentu mbak… hahaha… sarung yang cantik tentu wajib kita miliki.
    Saya jg gak suka pakai rok. Gak bebas bergerak. Nah klo sekarang saya gak suka pakai rok, tapi suka pakai dress, karena jatuhnya lebih enak di badan. Nah klo untuk pesta, kain sarung saya udah tak jahitin jadi rok juga, tp yg model lebar, jadi tetep bisa sambil lari2… hehehee…

    • nanaharmanto says:

      Zee…
      sama deh, kita suka yang praktis-praktis…kayak sarung yang dijahitin begitu.. jauh lebih simpel dan praktis dipakai.

      Rok sarung lebar? wah, modelnya gimana tuh?

  13. tutinonka says:

    Ahaha … Nana yang kelihatannya feminin ternyata gak suka pakai rok ya?🙂
    Aku suka beli rok panjang yang berlipit-lipit dan berenda-renda, kayaknya so pretty gitu. Tapi makainya? Wah … jaraaang. Susah menemukan kesempatan yang pas untuk makai rok kayak gitu. Akhirnya tiap hari ya pakai celana panjang, paling enak jeans yang strecht, bisa pas badan tapi tidak menghalangi gerakan.

    Aku suka mengoleksi sarung tradisional (termasuk kain tradisional). Memang betul, sayang kalau dipotong, karena kain-kain itu ibarat karya seni yang berharga, tidak seperti kain biasa bikinan pabrik yang jumlahnya bisa bal-balan dan kita bisa motong berapapun kita mau. Tapi untuk dipakai, memang ribet kalau masih berbentuk kain lembaran atau yang hanya disambung sisi kainnya seperti sarung untuk bapak-bapak. Akhirnya aku pilih beberapa saja yang dipakai untuk dijahit, selebihnya tetap disimpan dalam bentuk kain lembaran …

    Oh, Afdhal sudah menikah ya? Selamat deh … udah lama nggak jumpa Afdhal di dunia maya …

    • nanaharmanto says:

      Hehe…penampilan saya menipu ya Bu? Yang tahu sepak terjang di masa muda bisa semaput nih melihat saya dipuji feminin begini… *blushing*

      Saya jadi mikir nih Bu Tuti…
      memang bener sih…sayang kain itu kalo dipotong.. benar, kain-kain/ sarung tradisional yg masih bibua dengan alat sederhana dan tangan ibarat karya seni yang bernilai tinggi dan sayang kalau harus dipotong.. lain kali saya coba untuk bikin sarung jadi praktis tanpa harus dipotong deh…
      *Bu penjahit semoga bisa mengakalinya..

  14. septarius says:

    ..
    Hi..hi..
    Gak nyangka Mbak Nana yang kelihatan lemah lembut teryata gak suka pake rok..🙂
    ..
    Kalo aku gak suka sarung yang ngejreng dan gemerlap gitu..
    He..he..
    ..
    Ps: foto Mbak Nana cantik..🙂
    ..

    • nanaharmanto says:

      waduh…pujian ke sekian yang tambah membuatku GR….
      hihi… suwun yo Ta…

      Ya iyalah, kebanyakan cowok emang gak suka sarung meling-meling begini… pasti lebih milih sarung yang kotak-kotak itu kan?

  15. krismariana says:

    na, aku juga nggak suka pakai rok. hehe. apalagi kalau bepergian naik kendaraan umum, ribet pol kalau harus pakai rok. mendingan pakai celana panjang atau celana selutut. kalau di Jkt, aku lebih suka pakai celana/kulot selutut, apalagi kalau musim hujan. jadi, kalau kecipratan air di jalan, nggak terlalu ribet untuk membersihkannya. tinggal cuci kaki saja. beres hehe.

    • nanaharmanto says:

      Hahaha… ini salah satu saksi kebadunganku di waktu muda *halah…

      iyo yo Nik… kita dulu di asrama paling nggak pernah pake daster deh seingatku hehe…
      Celana panjang dan kulot emang top markotop!

  16. Daenk Afdhal says:

    Mbak Nana,

    Matur nuwun yahh..matur nuwun sangetttt…
    sudah menempuh perjalanan jauh dari pare-pare – Makassar, melewati ratusan jalan yang berlobang hehehhe
    makasih atas “sarungnya”…
    nanti foto ama pengantin aku kirim yah hehehhe
    biar dipasang lagi di blog
    mbak’e uayuuu kok..mas’e juga gantenggggg hehehe

  17. omiyan says:

    heheheh yang ga biasa bisa juatuh

    salam kenal mba

    kunjungan perdana kalau g salah nih

  18. Sugeng says:

    Tapi dengan memakai rok sarung itu makin kelihatan cantik lho😆
    **bukan gombal tapi kenyataan koq**
    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

  19. DV says:

    Kok sendirian? Si Bro lagi motret yaa?🙂
    Kamu tampak cantik… sarung memang eksotis… tapi u know what, waktu buka postinganmu dan baca awal2nya, kupikir kamu hobi pake sarung kayak bapak2 di pos kamling itu🙂

    • nanaharmanto says:

      hahaha….iyo dee sing motret (tak ancam golok soale)

      suwun yo Don…
      hehe… tapi bener juga, aku hobi ngewer-ewer sarung di rumah, nggo kemulan, karo nyabeti nyamuk, sekalian tadah iler… hehehehe 🙂

  20. vizon says:

    Senada dengan Om Nh… ini adalah sebuah apresiasi yang luar biasa buat sahabat istimewa..

    **menghayal: seandainya afdhal menggelar pesta di jogja, aku akan pakai sarung juga gak ya…?**😀

  21. Hallo Salam kenal dari Sydney..
    Dapat blognya dari blognya Armand.

    Aku juga suka sarung,.. rasanya ademmmmmmmmmm banget. BTW,. bagus sekali kok “rok” sarungnya. Warnanya cerah tapi kalem.

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga ya…
      waktu pertama kali liat sarung ini, langsung deh aku jatuh cinta dan bertekad nih sarung harus jadi milikku, berapapun harganya hehe…

      terima kasih sudah berkunjung ke sini ya…

  22. SIGNAL says:

    mantap lah…yg penting ok…:)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s