Yu Tentrem

Tulisanku kali ini, berawal dari status kakakku di account FaceBook-nya. For safety and private reason, I just quote her status:

Terkenang dan sekaligus mengagumi: Yu Tentrem, seorang perempuan tegar yang bertanggung jawab (setidaknya!) pada cucian 8 anggota keluarga kami, belum lagi setrika. Belum lagi memasak dan membersihkan rumah. Sekarang, untuk cucian 3 orang sekeluarga aja udah mau merepet, nggak kelar2! (Yu Tentrem sekarang di mana, ya??)

Waktu kami kecil dulu, orang tuaku mempekerjakan seorang asisten rumah tangga. Yu (mbakyu) Tentrem namanya. Artinya tenteram, damai..  orangnya sangat sederhana, and in some ways, orang mengatakannya dengan semena-mena “agak kurang genep”.

Kasihan Yu Tentrem, hatinya pasti terluka saat anak-anak kampung itu mengolok-oloknya. 😦

Kusadari setelah dewasa betapa kejamnya predikat itu, hanya karena pikirannya terlalu lugu, terlalu sederhana dan berpendidikan rendah. Seringkali, tertawanya keras kala menertawakan sesuatu dan berkomentar dengan suara keras pula. Ciri khas “wong gunung”, orang desa…

****

Yang kuingat, jarang sekali ia mau mengenakan sandal.

Mungkin aneh, tapi orangnya gemar sekali berlari, atau minimal berjalan cepat menyisakan suara langkahnya… -tak pernah kulihat dia berjalan lambat. Kalau terdengar suara buk..buk..buk.. di tanah, bisa dipastikan, Yu Tentremlah yang lewat. Katanya, ia sering diomelin tetangga karena suara langkahnya itu seperti kebo berlari, gedebam gedebum, tak jarang menyebabkan para bayi menangis ketakutan.

Nah, di balik kekurangannya itu, Yu Tentrem adalah orang yang setia dan rajin. Orangnya sangat telaten mencuci dan menyetrika baju-baju kami. Nggak ringan lho..mengurus laundry 8 orang penghuni rumah kami.

Dia mengerjakan semua tanggung jawabnya dengan sungguh-sungguh. Dia mencuci baju kami bersih-bersih, menyikatnya sepenuh hati, lalu menjemurnya di kawat jemuran. Kadang aku membantunya mengangkat jemuran dengan langsung menyeret baju dari kawat. Alhasil, kawat itu melenting dan melemparkan baju-baju lain yang masih tergantung. Yu Tentrem akan mengomel kalau aku berbuat demikian. 🙂

Begitu pun dengan setrikaan. Dia menyetrika baju-baju kami, menyusunnya dengan rapi. Aku yang nakal, aduh kejamnya aku. Aku menarik begitu saja baju yang ingin kupakai. Hasilnya adalah, tumpukan itu tercerai berai dan berantakan. Aku tak begitu ambil pusing, meski Yu Tentrem akan kembali mengomel. Kalau ada mama atau papa, Yu Tentrem tak berani mengomeliku, maka wajahnya akan berkerut cemberut masam. Sekarang aku sadar..ya ampun…. teganya aku mengacak-acak hasil kerja kerasnya. Kurasakan sekarang, bagaimana rasanya mengerjakan laundry sendirian. Itu pun masih jauh mendingan, karena aku hanya mengerjakan laudry kami berdua, masih dibantu mesin cuci lagi! Bayangkan betapa kerasnya usaha Yu Tentrem mencuci gunungan baju kami dengan tangan, belum lagi mengambil air dengan timba kerek…. 😦

Kadang kala, aku membantunya mencuci baju sambil mengobrol. Hmm…ehm…iya deh… aku memang mengucek dan membilas baju-baju yang kecil-kecil saja. Tak jarang, Yu Tentrem akan menegurku kalau hasil kucekanku sembarangan saja hihihi… kuakui, dalam hal mencuci, dia ketat banget. Semua harus sesuai standarnya..

****

Masakan Yu Tentrem juga enak lho… hasil liwetan nasinya pun khas… enak…

Aku ingat, tempe dan tahu bacem bikinannya enak sekali, sampai sekarang tak ada yang bisa mengalahkan rasa baceman racikannya. Super top!

Di rumahnya nun di lereng gunung Merapi sana, dia memasak mengandalkan kayu bakar. Suatu kali, Yu Tentrem memutuskan memasak di atas tungku kayu bakar di rumah kami. Pengalaman seru untukku, sebab, tak pernah sekalipun mama memasak di tungku kayu bakar begitu. Tungku itu hanya digunakan untuk menjerang air, untuk mandi sekaligus membakar kayu atau sampah kertas.

Nah, saat memasak di tungku tanah liat itulah, aku baru tahu, api yang dihasilkan lebih besar daripada api kompor. Maka, memasak dengan tungku kayu harus sigap, tak boleh lengah, sekali lengah, mungkin masakan jadi gosong… hehe…

Yu Tentrem… Yu Tentrem…

ratusan kenangan singgah menari dalam kepalaku.

Aku dulu nakal sekali. Sering aku menggodanya agar ia tertawa atau marah. Kadang ia mendapat omelan nenekku karena pilihan kata dan ekspresinya itu jauh dari tatacara hasil sentuhan pendidikan, dan aku menertawakannya karena omelan itu.

Well, nenekku memang agak keras dalam hal sopan santun dan tata krama yang “mriyayeni”. Dia terdidik dalam lingkungan pendidikan Belanda, kemudian menjadi guru selama bertahun-tahun, sehingga tak berkenan pada polah dan tutur yang kampungan.

Nah, nenekku mengharuskan Yu Tentrem menggunakan skort atau celemek saat memasak. Dan Yu Tentrem, yang lugu itu, merasa teganggu dengan celemek itu. Menurutnya, tak ada gunanya. Wagu, aneh, katanya, karena dia jadi ditertawakan penduduk desa saat ia tak melepas celemeknya waktu belanja di warung. Biasanya, dilepasnya celemek itu sebelum pergi ke warung, lalu dipakainya kembali saat hendak memasak. Kadang juga dia lupa atau sengaja tak memakainya kembali. Waktu ketauan nenekku, kena tegur lah dia.

****

Suatu siang, aku pulang dari sekolah. Kulihat, Yu Tentrem tengah sibuk memasak di dapur…. sambil menggendong adikku di belakang tubuhnya. Adikku si nomer tiga itu tampak tertidur pulas dalam gendongan Yu Tentrem. Aku heran,Yu Tentrem tak pernah menggendong kami, dan tumben sekali adikku minta gendong “ndeso” seperti itu.  (Kusebut ndeso, karena orang-orang di desaku biasa menggendong anaknya di belakang dengan tetap melanjutkan aktifitasnya, mencuci , memasak, menjemur padi dan sebagainya. Mamaku, selalu menggendong di samping, tak pernah mama menggendong kami di belakang).

Yu Tentrem mengatakan, adikku itu baru saja pulang dari TK, lalu menangis  karena sakit. Masuk angin dan muntah-muntah. Tak mau makan. Lalu digosoknya adikku dengan minyak kayu putih, kemudian digendongnya adikku dengan selembar jarik, dibiarkannya hingga tertidur, sambil Yu Tentrem terus sigap memasak.

Sebenarnya aku tak tega melihat segala kerepotan Yu Tentrem itu, dan bermaksud membiarkannya meletakkan adikku saja di kamar.

“Wes, ben, ra popo, ngene wae sik, ojo diganggu, ben turu sik, mesakke…”

(Udah, biarin, nggak apa-apa, begini aja dulu, jangan diganggu, biarin tidur aja dulu, kasihan..)

Kutatap adikku yang nyenyak, lalu kupandng Yu Tentrem yang bersenandung entah apa. Aku trenyuh tersentuh.

Aduh, Yu…kowe kok apikan banget to….

Wah, menuliskannya ternyata membuatku berkaca-kaca…

****

Seingatku, dari sekian asisten rumah tangga yang pernah membantu kami, hanya dialah yang kreatif membuat berbagai penganan. Ada saja idenya.

Yu Tentrem pandai sekali membuat ‘nyamikan’, makanan kecil yang dihidangkan sore hari. Makanan nyamikan khas desa. Dia jago membuat carang gesing, terbuat dari pisang yang dilumatkan, dicampur tepung, gula pasir dan daun pandan, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus. Pernah juga dia membuat nagasari dan kolak.

Bahkan, singkong yang hanya dikukus, “balok” (singkong goreng) dan “limpung” (ubi yang digoreng) pun jadi terasa sangat enak di tangannya.

Sawut adalah salah satu makanan kesukaanku. Terbuat dari singkong yang dicacah/diparut kasar, dikukus dengan ditambah gula merah, sedikit garam dan parutan kelapa. Menurutku, sawut buatannya enak luar biasa. Dari Yu Tentrem pula, aku jadi ikut belajar membuat bothok, gethuk ubi dan timus (ubi yang dilumatkan lalu digoreng). Wah, sambil menuliskannya, berhamburan semua penganan yang pernah tak sengaja diajarkannya padaku: ada kemplang (parutan singkong dibumbui ketumbar, garam, bawang putih dan daun bawang, lalu digoreng)  dan cemplon berisi gula merah (misro). Bubur sumsum dan sagu mutiara yang dibungkus lalu dikukus. Hmmmm…jadi kepengen semua makanan itu…

Kuingat, bagaimana wajahnya yang berseri-seri bahagia saat nenekku memuji masakannya yang enak. 🙂

Yu Tentrem juga telaten memanfaatkan sisa nasi. Dari kerak nasi liwetan di dasar ketel, hingga nasi sisa dijemurnya hingga kering, dibumbui garam, lalu digoreng menjadi intip/ kerak goreng.

Barangkali, semua makanan tradisional dan  segala kenangan tentangnya itu yang membuatku lebih menyukai panganan ndeso ini ketimbang snack dan kue-kue modern. Hehe…

****

Beberapa kali, mama memberikan baju lamanya pada Yu Tentrem. Ada satu baju bekas mama yang kuingat jelas. Sebuah baju atasan hitam bertotol-totol dan bergambar payung-payung merah. Aku masih mengingatnya sebab, sering sekali dia memakainya ke gereja. Tampak jelas bahwa baju itu dianggapnya sebagai baju terbaik yang pernah dimilikinya.

Sering kulihat di gereja, Yu Tentrem “methekut” serius mencermati Madah Bakti, buku kumpulan lagu-lagu dan doa. Dengan kemampuan membaca yang ala kadarnya, dia sungguh-sungguh mengikuti nyanyian dan berdoa sambil komat-kamit dengan tekun.

Ah, Yu Veronika Tentrem… mungkin benar, hatimu tentrem saat menekuni doamu itu…

Aku pernah bertemu dengan Yu Tentrem di tengah jalan saat aku sudah kuliah. Masih agak jauh, ekspresi wajahnya terlihat tersenyum-senyum. Langkahnya masih gegap gempita, ciri khasnya sedari dulu🙂 .

Dia menggenggam erat tanganku, dan mengguncang-guncang bahuku dengan girang.

“Ya ampun….kowe wes gede koyo ngene….haduh…haduh…dadi tambah ayu…ya ampun…”, begitu kurang lebihnya kehebohannya bertemu denganku.

Sekarang, kudengar, Yu Tentrem kembali ke desanya, untuk merawat dan menemani ibunya yang  telah tua. Kapan-kapan, aku ingin sekali menengoknya, memberinya sekedar oleh-oleh, dan mengucapkan terima kasih atas kerja kerasnya mengurus rumah kami… terima kasih yang hampir tak sempat  kuucapkan dulu…

****

// Yu Tentrem…. muga-muga tansah tentrem atimu yo Yu…kapan-kapan tak tilik…//

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration, Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

46 Responses to Yu Tentrem

  1. Emak Bawel says:

    Yiaduuuuuhhhhh..terharu-biru…
    Ayo, kapan kita niliki Yu Tentrem? Kalau ada kesempatan, segera dilakukan! Aku menyusul kalau sudah di sana. (Pengennya Natal udah bs nengokin).
    Hiks…hiks…

  2. riris e says:

    Nana : tulisanmu seperti biasa “HIDUP”
    aku seperti melihat deretan yang dilakonkan di atas pentas drama.

    Salamku untuk Yu Tentrem ya?

  3. Clara Croft says:

    Wahh.. orang yang pekerja keras kayanya ya Mba.. saya juga sekarang baru terpikir betapa beratnya tugas Ibu saya merawat kami yang nakal2, hehe..

    Masakan nasi yang dijemur, itu juga saya tau..

    Kalo saya baca cerita ini jadi teringat Ibu susu saya, waktu di camp kantor Ayah saya dulu, yang jaga saya kalo Mama kebetulan harus ke kota sebentar.. tapi beliau orang Madura, dan orang Madura di Sampit pada saat kerusuhan Sampit sungguh ga bisa diperkirakan nasibnya, sampai sekarang beliau belum terlacak, tapi kalo sempat ketemu, saya juga mau ucap terima kasih banyak.. semoga beliau baik-baik saja..🙂

    • nanaharmanto says:

      Iya… bener… yu Tentrem kami itu pekerja keras. Jasanya benar-benar luar biasa deh…
      sayangnya aku dulu suka nakal dan jahat sama dia… hiks…😦

      Semoga kapan-kapan bisa ketemu sang ibu susu ya, wah…benar-benar mulia hatinya ya..

  4. nelemima says:

    hiks hiks… terharu… dan aku tidak ingat moment digendong krn sakit itu…

    inget jg kl sering bantuin Yu Tentrem nyuci baju.. aku sengaja tidak memerasnya dengan sungguh2 krn senang melihat air yg menetes-netes dr baju itu dan Yu Tentrem dengan ‘omelannya’ memeras kembali baju-baju itu…

    ingat juga makanan yg paling kusukai “tahu susur” (hingga saat ini), dan ketika suatu sore aku ingin makanan itu, dengan rela Yu Tentrem membuatkannya… dan uenakkkk buanggetttt….. hehehehe…

    kl ada lomba “the most wanted maid”, I believe that she’s gonna win that…
    ketika belum ada mbah Siti atau mbak Yanti… do you know who is the first nominee??? YU TENTREM…

    Coba kl dia msh semuda dan sekuat dulu… dia orang pertama yang kupilih untuk ‘ngemong’ Ellen…

    Yu Tentrem… doa kami selalu untukmu… maafkan kami bila kami sering kali nakal…

    Tunggu kami berkunjung ke rumahmu ya……🙂

    • nanaharmanto says:

      Kamu masih terlalu kecil kali ya, TK kecil kl gak salah… jadi gak ingat pernah digendong gitu..

      Pernah Mami Oyo juga cerita pengen pakai jasa Yu Tentrem, tapi susah dicari dan dia udah punya tanggungjawab ngurus simboknya sekarang..

      Wah, iya tahu susur….hehe… enak yo…

      aku juga punya hutang maaf padanya karena aku suka mengganggunya dan menjahatinya… hiks..

  5. Ceritaeka says:

    Hiks…
    Terharu mbak…
    Btw berapa lama ya Yu Tentrem bantuin di rumah mbak?

    • nanaharmanto says:

      Lumayan lama Ka… paling lama bertahan di antara para ART lain yang pernah membantu kami.
      Dulu sih, dia tidur di rumah kami.. trus dia sempat keluar dan kami beberapa kali ganti ART.
      Trus, kami pakai jasanya lagi, hanya kali kedua itu, dia pulang hari, tidur di rumah adiknya..
      Setelah kami gede, kakakku masuk SMP, kalo gak salah, kami dianggap bisa diserahin tanggung jawab membantu mengurus rumah tangga, dan nyuci baju sendiri, akhirnya Yu Tentrem dibebas tugaskan deh, lalu dia balik ke dusunnya..

  6. arman says:

    wah pembantu yang baik kayak begitu sekarang langka banget ya…

  7. Emak Bawel says:

    Seharian jadi kepikiran Yu Tentrem lagi ..karena tulisan ini kubaca berulang2. Mungkin tidak sekedar untuk mengembalikan Yu Tentrem dalam kenangan, tapi juga pada kenakalan2 masa kecil(ku!) kita.
    Karena dilakukan dalam wawasan anak2, maka hal2 itu bisa disebut kenakalan. Tapi dalam cara pandang saat ini, predikat2 dan kelakuanku saat itu adalah sebuah kejahatan. Seram memikirkannya! Terutama karena menurutku, itu bagian dari cara pandang masyarakat yang ‘ndesani’ terhadap orang2 yang lemah, orang2 yang seharusnya dihargai dan diterima sebagaimana apa adanya, dan bukannya dihina dan direndahkan!
    Dari Bu Sum dan wejangannya, serta pengalaman bersama orang2 yang (di)lemah(kan)-diolok-olok karena kelemahan dan kekurangannya- aku banyak belajar tentang ke(manusia)an. Konkret, langsung, dan orang2 ini berada di tengah2 kita, di dalam keluarga kita! (Sebelum aku baca tentang humanity, dll..dll).
    Bukankah olok2 anak2 juga dipelajari dari orang dewasa? Darimana mereka dapatkan kata2 kasar itu? Darimana mereka belajar tentang cara pandang terhadap orang yang diolok2? This is a face of our society…

    • nanaharmanto says:

      I like this comment!! *jempol ngacung*

      he-eh….setelah besar baru kita sadar, kenakalan yang kita lakukan dulu pada Yu Tentrem itu kejam. (Yu…sing gede pangapuramu yo…..)

      Wong yang ndesani memang susah “nguwongke” sesamanya… untunglah kita sempat dididik Bu Sum, jadi dalam memandang orang yang dianggap lebih lemah, kita bisa lebih “ramah”…
      Trenyuh ya, melihat orang-orang, bahkan anak-anak yang udah mulai bicara kasar dan suka mengolok-olok dengan kelewatan begitu.. duuuhh….

  8. monda says:

    wah, orang spt Yu Tentrem susah dicari,
    aku malah pernah dapat ART yang centilawati, telpon di rumah nggak berenti berdering nyariin dia terus, dari cowok semua

    • nanaharmanto says:

      Hahaha…istilah Kak Monda ini lho.. “centilawati” hihi…

      tapi emang bener, ngeselin kalau punya ART kecentilan begitu.. Tetangga saya dulu juga suka ngeluh, ART-nya sering cekikikan sendiri sambil SMS melulu. kerjanya jadi nggak terlalu beres tuh…

  9. zee says:

    Beruntung ya Mbak, bisa dapat asisten yang seperti itu. Itu sih bikin kita tambah sayang sama dia ya.
    Saya belum pernah sih dapat yang model begitu. Selalu dapat yang pemalas yang bikin saya emosi mulu. Hehhee…

    • nanaharmanto says:

      Kalau di daerah masih lumayan mudah dapat ART yang “nggak aneh-aneh”.

      Tapi kayaknya setiap rumah punya standar gimana suatu pekerjaan mesti diselesaikan, dan para ART ini kadang nggak memenuhi standar nyonya rumah yang kadang bikin nyonya rumah gemes…🙂

  10. dulupun sewaktu aku masih tinggal dengan ibu, kami punya ART yang sungguh luar biasa, mirip dgn Yu Tentrem.
    Namun, ketika aku menikah dan meninggalkan rumah ibu krn ikut suami, si mbok Har, harus pulang kampung juga ke Gombong, dan tk lama kemudian, kami dikabari, si Mbok Har meninggal dunia krn diare…………….

    kami sekeluarga menangis merelakan keperginnya, dan krn gk bisa mendadak utk melayat ke Gombong (jawa tengah), kami mengadakan tahlilan di rumah kami dgn mengundang tetangga2 .

    Jadi, ikut sedih, dan teringat pd Mbok Har setelah baca tulisan ini.
    Cepatlah Mbak Nan, tengok si Yu Tentrem, mumpung masih sempat .
    Salam

    • nanaharmanto says:

      Tampaknya Mbok Har meninggalkan kesan yang mendalam di dalam keluarga Bunda ya…

      Turut prihatin dengan apa yang terjadi pada Mbok Har ya Bunda… semoga Mbok Har tenang di surga…
      Nanti begitu ada kesempatan, saya kepengen ketemu Yu Tentrem…

  11. Very interesting article, thanks. Keep up the good work.

  12. septarius says:

    ..
    Haduh..waktu kecil Mbak Nana bandel banget ya..😀
    ..
    Kenangan tentang Yu Tentrem melekat banget ya Mbak, ampek inget sampek mendetail..
    ..
    Meski kurang terpelajar wong ndeso lan nggunung iku jujur..
    Ikut bangga nih jadi wong ndeso
    He..he..

  13. nh18 says:

    Kutatap adikku yang nyenyak, lalu kupandng Yu Tentrem yang bersenandung entah apa. Aku trenyuh tersentuh.

    Aduh, Yu…kowe kok apikan banget to….

    Wah, menuliskannya ternyata membuatku berkaca-kaca…

    Pula Saya …
    Kamu dengan indah menggambarkan betawa istimewanya Yu Tentrem … betapa berkesannya Yu Tentrem di Hati Nana …

    Mengamini kata Nana … :
    Yu Tentrem…. muga-muga tansah tentrem atimu yo Yu …

    Salam saya Na …

  14. edratna says:

    Nana,
    Kembali saya termenung, kemampuan menulismu sungguh bagus sekali
    Cerita sederhana, tapi Nana menuliskannya dengan hati dan membuat terharu….

    Nana..mesti buat buku Nana….tapi nggak usah buru2, dari tulisan sederhana seperti ini, nanti bisa dibuat serial kenangan. Saya jadi ingat bukunya NH Dini, tentang “Padang ilalang di dekat rumahku” serta serial kenangan lainnya…bahasa sederhana tapi kita ikut larut saat membacanya.

    Kalau Nana sempat ketemu lagi, pasti yu Tentrem akan senang sekali….lha yang momong iotu pasti merasakan anak momongannya kayak anaknya sendiri….

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih Bu Enny…
      saya tersanjung dengan pujian Bu Enny ini… dan masukan Ibu untuk membuat buku… semoga kelak saya bisa membuat buku kumpulan cerita kenagan ya Bu…

      Tentang Yu Tentrem… saya sendiri yakin dia pasti akan heboh kalau ketemu, sedari dulu memang orangnya gegap gempita🙂

  15. Djack says:

    Cerita yang Hidup !!! Very nice !!!

    Aku blom pernah punya cerita seperti itu, namun terasa di kelopak mata saat membacanya..

  16. krismariana says:

    membaca tulisan ini mengingatkanku pada pengasuhku dulu. Mak’e. dia jagoan memasak. kadang kalau aku sakit, aku sering tidur di kamarnya. dia sudah meninggal sekarang. kadang kangen juga…

    • nanaharmanto says:

      Mak’e ini cukup sering kamu tulis di blogmu ya… kayaknya kamu deket banget sama Mak’e itu. Aku ingat salah satu tulisanmu tentang mie bikinan Mak’e yang membuatmu sangat suka mie…🙂 🙂

      Semoga Mak’e bahagia di surga ya…

  17. anna says:

    terharu saya ..

    ngebayangin Yu Tentrem masak sambil ngendong.

    pasti dia merasa sayang banget dengan keluarga Mb Nana..
    melakukan apapun demi kebahagiaan keluarga Mb Nana🙂

    semoga Yu Tentrem sehat selalu yaa..

    • nanaharmanto says:

      Waktu aku nulis juga sempet berkaca-kaca mengingat saat itu… lah… yang digendong ternyata sama sekali nggak ingat kejadian itu… 🙂

      Yap… semoga Yu Tentrem selalu sehat, harapan kami semua…

  18. ninok eyiz says:

    Waah mba na..saya jd ingat yu jum yg momong saya waktu kecil..
    Jadi ingat hangatnya pelukannya waktu menggendongku..
    Yu Tentrem , yu Jum semoga tentrem atimu..
    Nice post mba na😉

  19. landaknjegrak says:

    dan sadar ga sih mbakkk?? sampai sekarang kita masih menyebut kamar yg dulu dipakai Yu Tentrem itu dengan “kamare Yu Tentrem”…meskipun dia udah ga tinggal di sana lagi..
    memori kita atas kehadirannya ga pernah mati….tanda betapa berharganya dia untuk keluarga kita…
    *melu mrebes meles…

    • nanaharmanto says:

      Iya ya… kita masih menyebutnya kamar belakang dapur itu “kamare Yu Tentrem”. Padahal sudah beberapa kali kamar itu ganti penghuni ya… kok tetep yang disebut “kamare Yu Tentrem” hehe…🙂🙂

  20. Djack says:

    Lam kenal jg Mbak..
    Kapan2 boleh mnta tips2 menulis kah?? Siapkan kertas n pulpen misalnya….🙂

    • nanaharmanto says:

      Wah…tips menulis? apa yaa??…
      aku nggak punya tips khusus je… kalau lg pengen nulis, ya nulis aja… yang jelas sih banyak membaca aja, dari membaca kadang sering ide2 muncul begitu aja. Aku beberapa kali baca buku/blog dan lantas ingat punya pengalaman serupa, trus pengen menuliskannya tentu aja dengan versiku sendiri…🙂

  21. Djack says:

    Okre deh.. Ntar tak cobane..nice tips pokoke.

    Btw dah sembuhkah..?!! Tak tggu cerita selandjutnya ya..

  22. nelemima says:

    hehehe…

    betul… kamare Yu Tentrem…

    dan masih ingat gambar penyanyi (lupa namanya… tp inget wajahnya) yg jadi satu-satunya hiasan di kamarnya…
    hihihihi…..

  23. Pakde Cholik says:

    Selamat sore sahabat tercinta
    Saya datang untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .
    Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Jangan ketinggalan, ikuti acara “Gelar Puisi Aku Cinta Indonesia” hanya di BlogCamp.
    Klik :http://abdulcholik.com/2010/08/01/gelar-puisi-aku-cinta-indonesia/

    Terima kasih.
    Salam hangat dari Surabaya

  24. yessymuchtar says:

    Mbak Nana.

    Keluargaku juga punya yu tentrem. Namanya Atun, dia sudah ikut keluarga Yessy dari yessy kelas 1 SMP. Seakrang, umur yessy hendak 30 tahun oktober nanti, dia masih ada di rumah.

    Dulu dia mengasuh adik Yessy. Sekarang dia mengasuh anak Yessy.

    memang benar, beruntung rasanya punya orang-orang seperti yu Tentrem dan Atun. Tidak bertingkah, dan orientasi mereka beneran bekerja. Tidak seperti ART ART jaman seakrang yang kecentilan.

    Atun sudah menghabisikan banyak fase di rumah kami. Keluarga kami pun sudah beberapa kali berkunjung kekampungnya, hanya untuk bersilaturahmi dan sekalian mengantarkan Atun untuk liburan.

    Kelak, jika Atun sudah tidak di rumah, mungkin kerinduan yang akan Yessy alami sama halnya dengan kerinduan yang mbak Nana hadapi sekarang🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s