Pak B*s

Kami biasa memanggilnya Pak B*s. Seorang OB di unit sekolah tempatku mengajar. Usianya sudah tak muda lagi, mungkin sekitar 60-an. Jadi masih tepat disebut OB nggak ya? Sebenarnya sudah saatnya pensiun, tetapi karena kesetiannnya mengabdi selama berpuluh tahun, konon bahkan jauh hari sejak sekolah ini mulai dirintis-, Pak B*s tetap dipertahankan. Dewan direksi sekolah begitu mempercayai Pak B*s, begitu menyayanginya. Orangnya sangat sederhana, menurutku, nggak pernah neko-neko.

Kadangkala, di saat senggangku, aku menyempatkan diri mengobrol dengannya. Darinya kutahu kehidupannya yang tak bisa dibilang mulus. Dari kesederhanaannya, dari keluguannya bercerita tentang keluarganya dan istri yang sakit bertahun-tahun, aku belajar, betapa Pak B*s tak pernah mengeluh, nrimo, tabah dan terus tekun bekerja.

Suatu hari, saat aku sedang ngobrol dengan Pak B*s, Ibu Anu memanggilku. Sesampainya di ruang guru, Bu Anu menegurku, “Ngapain sih, Miss, pake ngobrol dengan Pak B*s? Jangan dibiasakan lho…nanti dia ngelunjak....”.

Aku bengong, terpana pada pemikirannya yang sempit itu, entah demit mana yang barusan menyenggolnya.

“Apa salahnya, Bu? Saya ngobrol dengan Pak B*s ya karena saya suka ngobrol dengannya, saya nyaman dengan Pak B*s”.

“Tapi bener lho Miss, orang kayak gitu kalau diberi hati lama-lama bisa nglunjak.”

Aku diam, enggan meladeninya.

Beberapa hari kemudian, dewan direksi sekolah memintaku menghadap jika jam pelajaranku kosong.

Aku sempat dag dig dug…. waduh… ada apa ya? Rasanya seperti waktu jadi murid dulu saat dipanggil menghadap guru BP…. 🙂

Di dalam kantor dewan direksi, sosok berwibawa itu menyambutku ramah. Dipersilakannya aku duduk, lalu mulailah kami mengobrol. Cairlah suasana kaku di antara kami. Pak T*** memang hangat, pandai mengobrol tanpa memandangku sebagai bawahannya.

Sejenak aku lupa pada rasa dag dig dug-ku, lalu…

“Miss Nana, kalau pagi-pagi sekali Anda ke sekolah dan bertemu dengan Pak B*s, menurut Anda siapa yang harus menyapa duluan?”.

Spontan aku menjawab, “Saya, Pak..”.

“Mengapa?”

“…” Mendadak aku jadi autis sesaat.

“Ya karena saya lebih muda Pak… ”.

“Miss Nana selalu menyapa duluan begitu?”.

“Oh, tidak Pak, kadang-kadang Pak B*s lebih cepat menyapa saya duluan”.

“Dengan orang lain?”

“Yah… saya biasa mengucapkan selamat pagi pada semua guru dan OB, Pak. Tidak ada yang istimewa”.

“Sering ngobrol dengan Pak B*s?”.

“Kadang-kadang Pak, kalau jam saya sedang kosong, dan saya lihat Pak B*s sedang tidak sibuk…”.

“Hmmmm…. mengobrol apa saja?”.

“Ya, macam-macam, Pak… tentang keluarganya, tentang anak-anaknya… wah, banyak Pak”.

Aku jadi gelisah. Kenapa tiba-tiba Pak T*** tiba-tiba menginterogasiku tentang Pak B*s? Apa salah lelaki sepuh itu? Seekor demit begitu saja berbisik di kupingku. Mungkin demit yang sama yang menyenggol Bu Anu tiga hari lalu.

Aku geram. Ya ampun, masalah sepele begini dilaporkan?

“Begini, Miss Nana… saya salut pada Anda. Saya sangat respek pada orang yang bisa menghargai orang lain… bla..bla..bla…”.

Aku diam mendengarkan.

“Menarik, Miss, kebetulan saya ngobrol dengan Bu Anu tempo hari. Saya tanya, menurutnya, siapa yang harus menyapa duluan, Bu Anu atau Pak B*s? Dia spontan menjawab, “Jelas Pak B*s dong, Pak”.

“Nah, menariknya begini, Miss, kebetulan saya sedang menulis artikel untuk gereja. Tentang menghargai orang lain. Nguwongke, kata pepatah Jawa. Saya lihat, orang-orang seperti Bu Anu ini terjerumus pada kesombongan, merasa lebih tinggi dari orang lain, menuntut dihormati, tidak mau menyapa duluan…”.

Aku masih diam mendengarkan.

“…   kebetulan saya dengar Anda cukup sering mengobrol dengan Pak B*s… yah, tidak ada larangan untuk mengobrol dengan setiap insan di sekolah ini, sejauh tidak mengganggu kerja dan relasi dengan orang lain. Jadi, tetaplah begitu, jangan segan menyapa siapapun… “.

Begitulah sepotong obrolanku dengan Pak T***, obrolan selebihnya terlalu panjang, yang kutahu kemudian hari, begitulah metode dewan direksi “menilai” para penghuni habitat sekolah ini.

****

Setelah hari itu, sikapku pada Pak B*s tetap tak berubah, meski kutahu ada yang betul-betul tak suka pada sikapku itu. Semakin berkerut kening Bu Anu, semakin demonstratif kupamerkan aku tak terganggu dengan laporannya. Aku tetap menyapa dan mengobrol dengan Pak B*s. Tak berubah.

Dan demit itu muncul lagi. Bu Anu kehilangan salah satu barang dan menuduh Pak B*s yang mengambilnya. Tuduhan yang kejam, meski tak langsung dibuka pada Pak B*s, hanya kasak kusuk di antara para guru, Bu Anu menyebut Pak B*s. Alasannya, karena Pak B*s pasti butuh uang karena istrinya sakit.

Aku meradang. Pak B*s orang yang jujur, terbukti puluhan tahun tetap dipercaya sekolah, tak mungkin mencuri.

Aku berharap semoga Pak B*s tak pernah sempat mendengar hal ini, kasihan dia…

Di lain pihak, lenyap seluruh respekku pada Bu Anu. Di kemudian hari, barang yang hilang itu ketemu, ketlingsut di rumah Bu Anu sendiri… sudah kuduga, tak akan pernah Bu Anu minta maaf telah menuduh sembarangan, atau pun mengakui keteledorannya menaruh barang.

Di hari lain, Bu Anu mengatakan, dia tak suka pada Pak B*s karena orang tua itu kasar. Bicaranya terlalu keras dan seperti membentak.

What???

Aduh, Bu Anu…cobalah melihat dari sisi yang lain… Pak B*s itu sudah tua, sudah sepuh… see?? Sewajarnya lansia, pendengarannya juga berkurang, akibatnya bicara otomatis jadi kenceng… please deh ah, Bu Anu nanti kan bakal tua juga, sadari dari sekarang deh, kelak akan mengalami fase itu juga… lha wong sekarang belum terlalu tua pun suara Ibu Anu udah sedemikian melengking… sadar nggak Bu? Pernah dengar ungkapan “Anda sopan, kami segan”, kan Bu?  Nah, kalau Ibu ngomongnya sopan, reaksi Pak B*s akan sopan juga pasti… Reaksi Pak B*s yang kenceng itu kayaknya mengimbangi stimulusnya deh Bu…. 🙂


****

Beberapa kali aku meminta tolong Pak B*s untuk memfoto-copy soal-soal ulangan, dan biasanya dia kuberi tip. Kadangkala kukatakan, kalau ada uang lebih, silakan disimpan untuk Pak B*s. Biasanya, dia menolak kuberi uang begitu saja.

Nggak, Bu Nana, Ibu kan nggak abis nyuruh saya, terima kasih…” begitu tolaknya halus.

Suatu ketika, Pak B*s bercerita, dia mendengar dirinya disebut-sebut Bu Anu atas barangnya yang hilang. Kawan, kalau kau di sana mendengar dan melihatnya sambil berkaca-kaca sungguh-sungguh bersumpah menyebut Tuhan-nya, akan luruh hatimu melihat ketulusan Pak B*s. Ealaaaah…kok ya tega betul orang yang menyampaikan hal ini… kasihan betul Pak B*s…

Mengalirlah segala uneg-unegnya tentang Bu Anu. Hanya kepadaku dia bercerita, maka akan tetap kusimpan sendiri untuknya. Sabar ya Pak….

****

Lalu tibalah hari itu… hari ketika aku berpamitan secara pribadi pada Pak B*s, karena aku harus pindah ke pulau seberang mengikuti suami yang pindah tugas.

Aku menyalaminya. Terharu. Ah, Pak B*s…

Pak B*s mendoakan dan mengharapkan yang terbaik bagi hidup dan kebahagiaanku di tempat baru. Doa dan harapan yang kurasakan setulus hati. Tangan kasar dan keriput itu menyalamiku hangat.

“Selamat jalan, Bu Nana….”.

Lalu aku terbirit ke toilet. Di sana kususut air mataku.

****

Beberapa waktu yang lalu, kudengar kabar, istri Pak B*s meninggal.

Pak B*s, ndherek belasungkawa, nggih Pak…..

Dan, semoga hari-harimu semakin ringan setelah pengunduran diri Bu Anu…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

40 Responses to Pak B*s

  1. Ikkyu_san says:

    Aku benci pada semua yang bersikap seperti Bu Anu. Snobbish….dan aku benci orang seperti itu.

    Semoga Tuhan selalu memberikan orang seperti Nana di dalam kehidupan pak B*s yang bisa menghargai orang bukan dari status atau penampilan.

    Turut berduka atas meninggalnya istri Pak B*s.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Aku heran Mbak… ternyata ada orang kayak gitu di bawah kolong langit ini… dulu aku segitu gemesnya sampai pengen nabok…🙂

      Semoga arwah istri Pak B*s bahagia di surga….

  2. arman says:

    ikut berduka cita atas meninggalnya pak B*s.

    btw si ibu Anu itu menyebalkan sekali ya.. paling sebel ngeliat orang yang sok kayak begitu ya na…

  3. nh18 says:

    HHmmm …
    Aturan dari mana itu yang menyebutkan bahwa yang Tua duluan yang menyapa atau yang muda duluan yang menyapa …
    bahwa kita tidak boleh berbicara akrab dengan orang lain …

    Tunjukkan kepada saya SOP nya …
    Tunjukkan kepada saya Standart Operating Prosedurnya
    Tunjukkan kepada saya Ayatnya … dari kitab suci manapun …

    Saya berani jamin … TIDAK ADA ATURAN seperti itu …
    Bahkan kepada para pendosa sekalipun … seingat saya tidak ada aturan tersebut …

    Yang jelas saya hanya bisa berharap … Ibu Anu bisa menyadarinya … dan juga …
    Semoga Arwah Almarhumah diberi kelapangan oleh NYA

    dan Semoga Pak B diberi ketabahan …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Berarti jawabanku kurang tepat ya Om…

      Pak T*** mengatakan, bahwa siapapun nggak pandang lebih tua/muda, lebih kaya/miskin, atasan/bawahan, sudah sepantasnya untuk menyapa sesamanya, benar-benar tulus dan dari hati…

      Ya, Om… semoga Bu Anu segera sadar akan sikapnya..

  4. Clara Croft says:

    Aku membayangkan pak B*s mendengar dirinya dituduh dan berkaca2, aduhh, jadi ikut sedih.. Semoga beliau dapat penghiburan sepeninggal istri..

    Si Ibu Anu kog begitu ya? Bagaimana kalo suatu hari dia yang harus mengalami hal seperti itu, dituduh melakukan hal yang tidak dilakukan?

  5. septarius says:

    ..
    Saya kok lebih kasihan sama Bu anu ya..
    Sakit mental kayaknya..
    Kalo Pak B*s orang yg beruntung karena punya sifat baik dan rendah hati..
    ..

    • nanaharmanto says:

      hehe…sebenarnya emang kasian Bu Anu itu…. dia dibenci dan dihindari banyak orang karena sikapnya itu…
      semoga dia sadar deh, cepat atau lambat…🙂

    • nh18 says:

      HHmmm …
      Ata Bener …
      seharusnya kita kasihan dengan bu Anu …
      mestinya dia bisa lebih baik
      atau paling tidak berusaha memperbaiki diri

      salam saya

    • tutinonka says:

      Wah, bener sekali pendapat Ata …
      Kalau bertemu dengan orang yang perilakunya negatif, saya sering memandangnya diam-diam, dan berpikir sama seperti Ata : kasihan ya dia, karena merendahkan dirinya sendiri dengan perilakunya yang buruk.

      Nana, kisah yang bagus sekali dan sangat menyentuh. Pembelajaran bagi kita semua untuk lebih menghargai orang lain, siapapun dan apapun kedudukannya …

      • nanaharmanto says:

        Meskipun sering bikin jengkel, kadang saya juga merasa kasian pada orang-orang seperti Bu Anu…. berapa orang dalam sehari orang membicarakannya? atau mungkin memendam rasa mangkel padanya? ah… benar Bu.. sungguh kasian…

  6. riris e says:

    Salut dengan dewan direksi yang memanggilmu itu. Karena semua orang itu kan sejajar di mata Tuhan? Dan hal2 yg kamu lakukan ini adalah penerapan nyata dari KASIH itu sendiri. Semoga Pak B*s selalu dalam lindungan-Nya dan dikuatkan saat melewati duka ini. Amin

    • nanaharmanto says:

      Ya… dewan direksi sekolah setidaknya setahun sekali ngajak ngobrol para staff… dari situ ternyata ada udang di balik rempeyek.. hihi…sebenarnya kita sedang “dinilai”… selain perform profesi tentunya…
      Dan ternyata aku baru tau ternyata ada mata-mata/penjilat juga yang suka lapor2 gitu… untung aja dewan direksinya udah sangat senior dan nggak gampang dijilat… *permen kalee…

      Amin… Mbak…amin…

  7. Krismariana says:

    Kehidupan orang kecil memang sering kali mengharukan, tapi dari mereka biasanya tersimpan banyak pelajaran hidup. Semoga keluarga Pak B*s dikuatkan.

    • nanaharmanto says:

      Amin…..
      jujur aja , aku juauahhh lebih milih ngobrol dengan Pak B*s daripada dengan Bu Anu itu… kupikir kadang dia sirik kenapa aku lebih akrab dengan Pak B*s daripada dengan dirinya 🙂
      ya iyalaaahh… secara, dengan Pak B*s aku belajar untuk terus rendah hati dan nggak sombong, tetep belajar untuk nrimo dsb… dengan Bu Anu aku lebih banyak kehilangan energi… 🙂

  8. semoga denuzz bisa seperti kakak …
    amin …
    keep share kak …

    salam akrab dari burung hantu …

  9. nelemima says:

    take a bow, take a bow….

    buat yg nulis dan Pak B*s…

    biasa… di dunia manapun ada orang2 spt Bu Anu.. bikin jengah…
    dan salut untuk Pak B*s dan jiwa “nrimo”nya (perlu belajar nih kyknya dr dia..hik hik..).
    Semoga arwah istrinya beristirahat dengan tenang…

    PS:
    maap.. waktu baca judulnya “Pak B*s” aq sempet salah kira…
    I thought you were writing about our “interesting”, “nyentrix” neighbor…kwkwkwk.. :p (tiwas ngguya ngguyu dw..:O)
    ternyata oh ternyata… cerita dan tokoh yg berbeda, sekali lg, maap….

  10. Ria says:

    wahhh mbak…aku sampe mikir kok ada ya orang kayak bu anu itu? ckckckck hari gini masih mentingin status sosial!

    aku selalu gak suka mbak dengan orang2 seperti itu, dikantorku untungnya kami semua akrab, dari mulai driver, satpam maupun OB kami selalu bergaul dengan baik tidak memicingkan sebelah mata karena merasa lebih tinggi…

    Tuhan itu maha Adil…semoga dia menunjukkan jalan yg lebih baik buat si Bu Anu…

    • nanaharmanto says:

      Wah, asyinya suasana kantormu itu Ria… semua membaur, nggak saling membeda-bedakan…

      Sebetulnya di sekolahku itu juga begitu, wealah… kok ya kemasukan orang seperti Bu Anu itu..
      jadi mencederai keakraban yang udah ada…

  11. Aku kira dunia ini adil.. Ada hitam biar ada yang dikategorikan putih.. Ada buruk karna ada yang baik..
    Dan yang lebih baik, adalah yang baik bisa menjaga dirinya tetap baik bak putih cerah.. Agar menyilaukan si hitam, dan menjadikannya putih.. Menurutku itulah “tugas” untuk orang yang baik.. Berusaha senantiasa baik, supaya dunia jd lebih baik.. Karna kita sebenarnya diciptakan olehNya dengan penuh kebaikan…
    (judule putih vs hitam, baik vs buruk) hehehe.. Ngomong apa yo aku…!!!??? Hik3

  12. edratna says:

    Nana,
    Saya tak pernah memikirkan siapa yang seharusnya menyapa duluan….seperti yang dikatakan om NH di atas.
    Jadi sebetulnya, bisa kita duluan, atau kalau dia duluan yang melihat kita, mungkin dia dulu yang menyapa…

    Kadang di masyarakat kita masih ada orang yang suka membedakan kasta (ehh udah nggak ada kasta ya….apa ya ini namanya)…kadang berdasar kekayaan, kecantikan, kesuksesan karir dsb nya.
    Padahal bagi orang kecil (atau lebih miskin) akan sangat menghargai jika orang yang diatasnya memberi perhatian…dan mereka juga akan membalas kebaikan itu. Bukankah kita akan dihormati jika kita juga menghormati orang lain?

    • nanaharmanto says:

      Saya sependapat dengan Bu Enny… saya agak glagepan juga waktu ditanyain DD sekolah.. karena sebelumnya saya juga nggak mikirin siapa yang harus menyapa siapa duluan, saya sudah terbiasa menyapa siapapun, guru, TU, OB, murid… semua saya sapa, walau sering juga mereka mendahului menyapa saya..

      Semoga golongan orang-orang yang suka membeda-bedakan itu semakin sedikit di dunia ini..
      Saling menghormati itu penting ya Bu…

  13. edratna says:

    Ada yang lupa…ikut berduka atas meninggalnya isteri pak B*s

  14. vizon says:

    Kata orang bijak: “Kesombongan seseorang menunjukkan kelemahan akalnya”. Jadi, Bu Anu itu sebenarnya sedang berusaha menutupi kelemahan akalnya dengan mengumbar jabatan, status sosial, dsb. Semoga kita terhindar dari sifat sedemikian ya Na…

    Pak B*s dan Bu Anu sesungguhnya adalah potret kebanyakan masyarakat kita; ada hitam, ada putih; ada siang, ada malam; ada yang tulus, ada yang bulus. Tinggal sekarang bagaimana kita bisa mengambil pelajaran dari apa yang kita lihat dan alami…

    Semoga pelajaran dari Pak B*s dapat kita amalkan dalam keseharian kita…🙂

    • nanaharmanto says:

      Halo Uda…. ketemu lagi di dunia maya…
      Aku suka kalimat ini “Kesombongan seseorang menunjukkan kelemahan akalnya”.
      Iya bener, Uda… semakin tinggi dia mengumbar cerita yang menurutnya mengesankan, justru semakin terlihat kosong, dan orang jemu mendengarnya.

      Aku lebih suka bergaul dengan orang-orang seperti Pak B*s…

  15. zee says:

    Ada orang yang begitu mbak, maaf bisa dibilang gila hormat. Karena merasa kedudukannya lebih tinggi jadi inginnya orang lain yang menegur duluan.
    Kalau saya, terus terang kadang saya jarang menegur, tapi bukan karena saya pilih2 orang, tapi karena saya memang pemalu :D…
    Tapi secara pribadi, saya sangat menghargai siapapun orang itu….tanpa melihat kedudukannya.

    • nanaharmanto says:

      Zee? pemalu? masak sih?
      wah, perlu dibuktikan nih…🙂

      Aku dulu juga nggak berani negur orang duluan… tapi setelah masuk SMA pelan-pelan berani juga negur orang, malah jadi kebiasaan negur orang duluan, (pernah dicuekin juga hehe..)

  16. DV says:

    Ceritamu nyaris sama denganku..
    Waktu aku pindah ke Australia dulu, aku juga sempat terharu karena seorang penjaga malam kantor menghadiahiku wayang buatannya sendiri…

    Sudah kutulis di blogku waktu itu tapi lupa judulnya🙂

  17. Kata orang pinter…. Hehehehe
    Orang bersikap sombong untuk menutupi kekuranganya…

    met lebaran juga

    salam kenal mbak…
    kunjungan pertama ini….

  18. bagaimana mungkin masih ada orang yg sesombong Bu Anu itu?
    Apakah dia pikir dgn jabatannya sebagai seorang guru, lantas dia bisa saja semena2 menuduh dan menjelek2kan orang dgn posisi seperti Pak B?

    kasihan juga ya Bu Anu ini, tidak terlihat sedikitpun punya etika serta itikad yg baik pd orang lain, apalagi sebagai seorang guru seharusnya dia jadi teladan bagi orang lain……

    Semoga Tuhan mau memberi petunjuk pd orang2 seperti Bu Anu ini.

    Semoga IStri Pak B damai di alam sana dlm kasih sayang NYA.
    salam

  19. Selamat malam, Sahabat BURUNG HANTU …
    Semoga limpahan rahmat Tuhan selalu tercurah dalam kehidupan Sahabat semua …

    Sehubungan dengan Blog Competition Beswan Djarum yg sedang Denuzz ikuti, Denuzz mohon kesedian Sahabat meluangkan sedikit waktu untuk bisa memberikan komentar di 3 artikel ini:

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/eksperimen-mematikan-bersama-djarum-beasiswa-plus/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/uh-untuk-apa-jadi-beswan-djarum/

    http://blog.beswandjarum.com/denus/2010/09/08/beswan-di-tengah-belantara-fana/

    Komentar menjadi poin penilaian yang cukup besar dalam kompetisi …

    Selain itu Denuzz harap Sahabat berkenan untuk memberikan vote di
    http://www.beswandjarum.com/blogcompetition/
    Tinggal klik “SUKA” pada blog atas nama DENUS HERUWANDA …

    Denuzz ucapkan terima kasih sebesar-besarnya atas kesedian Sahabat narablog …

    Be a happy blogger! …
    Salam BURUNG HANTU …

  20. Alris says:

    Lha, bu anu memang harus dienyahkan supaya sadar diri, barangkali begitu….

  21. anna says:

    menurut saya,
    orang yang sombong sbenernya adalah mereka yang ‘bodoh’. Tidak menyadari bahwa apa yang mereka punya adalah titipan belaka dari Tuhan. suatu saat bisa diambil lagi.

    sedangkan orang yang rendah hati, adalah orang yang ‘pandai’, tahu persis semua ini milikNya.. dia bertugas untuk menjaga..

    dan sepertinya kita harus selalu belajar supaya ‘pandai’ seperti Pak B.🙂

    @bu Anu.. semoga Tuhan membuka pintu hati untukmu..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s