Parcel Lebaran

Parcel Pertama

Suatu kali, Bu Anu bercerita. Bangganya. Bahwa setiap kali Lebaran dan Natalan, keluarganya selalu kebanjiran kiriman parcel.

“Tahun lalu sampai 20-an parcel lho, Bu Nana…”

“Sampai bingung deh, tuh parcel mau diapain..”

“Wah, keranjang parcel udah nggak keitung lagi di gudang….itu lho, Pak Nano, keranjang parcel yang dari logam itu, yang tingginya segini, sekepala anak-anak…. kan sayang kalau mau dibuang, lain soal kalau cuma keranjang rotan…”.

Nggak cuma makanan aja lho Bu Nana, seringkali juga parcel yang isinya alat-alat rumah tangga gitu, cangkir, tea set, gelas kristal…”.

Begitulah ceritanya dengan nada bangga dan senyum puas tentang parcel-parcel yang dikirim ke rumahnya yang berada di kawasan elit. Tak lupa membanggakan jabatan suaminya, manager sebuah perusahaan besar di Jakarta.

Parcel tinggal cerita. Tak pernah anggota parcel kebanggaan itu mampir ke tempat kerja meski Bu Anu mengatakan bingung parcel sebanyak itu mau diapain..

Pamer menjemukan itu membuat siapa saja yang mendengarnya menjadi tak nyaman. Aku bertekad, kalau kelak suatu hari suamiku menjadi atasan, manager, direktur atau bahkan presiden sekalipun, aku tak ingin menjadi sepongah itu. Semoga langit tetap menjaga tekadku itu. Semoga selalu!

Suatu hari, Bu Anu datang membawa makanan ringan, dan menawarkannya pada semua orang. Namanya gratisan, beberapa dari kami antusias menyambut tawaran itu. Terima kasih mengudara.

Aku lupa rasa makanan itu.

Setelah beberapa saat, makanan itu terlihat seolah tak tersentuh lagi. Bu Anu menawarkan lagi. Terima kasih lagi.

Tapi makanan itu tetap tak terjamah lagi. Seorang rekan tersenyum-senyum. Yang lain mengangkat bahu.

Seorang lagi berbisik,”Lihat kemasannya, Bu Nana…lihat tanggalnya”.

Exp. Date xx.xx.xxxx.

Kurang dari dua bulan sebelum tanggal kadaluarsa. Terjawab sudah mengapa makanan itu tak disentuh lagi.

Beberapa kali juga kopi mahal berikut creamer-nya dengan merek bergengsi dalam kemasan besar di bawa ke tempat kerja, disediakan di pantry untuk keperluan minum semua. Tercetak tahun kadaluarsa, tahun itu juga, meski tanggal dan bulan masih beberapa saat lagi.

Pernah juga makanan ringan yang rasanya sudah agak aneh dibawa ke pantry. Beberapa rekan kasak-kusuk. Mengelus dada. Hah! apakah kami-kami ini  dianggapnya sasaran tepat untuk “membuang” isi parcel kebanggaan itu setelah tersimpan lama di rumahnya? Barangkali, parcel tahun lalu, atau tahun sebelumnya lagi. Meski sempat tersinggung, kami diam saja. Untuk selanjutnya, kalau ada makanan di pantry, dan kami tahu siapa pembawanya, check dulu tanggal kadaluarsanya. Hati-hati jika mendekati tanggal kadaluarsa.

Oh, mungkin dia lupa, kami kan sangat cerdas….🙂

Nasib makanan close-to-expired-date itu akan teronggok begitu saja. Every body was alert. Nggak mau dong makan keong racun? Setelah beberapa hari, mungkin sudah mlempem atau dikerubutin semut, seseorang dari kami akan menyuruh OB untuk membuang makanan itu.

Lucunya, setiap kali seorang rekan membawa jajan pasar, makanan itu langsung ludes. Entah itu klepon, ketan, kue lupis, lemper, apapun, selalu habis tak bersisa. Kadang kuduga, barangkali rekan-rekanku itu sengaja bereaksi agak berlebihan pada jajan pasar (yang jelas masih baru, karena kadang masih hangat), daripada makanan modern dalam kemasan yang dibawa Bu Anu  itu.

Pernah dengan bangganya, Bu Anu membawa jajanan, oleh-oleh temannya dari luar negri.

Ditawarkannya sekotak kemasan asam yang katanya manis, dan bukan asam yang kecut. Katanya lagi, belum ada di Indonesia.

“Coba deh, enak lho, rasanya tuh manis gitu, kalau asam di sini kan kecut, ya kan?”.

Yuhuuu….please deh, di supermarket mah banyak kalee Buuu….bejibun! entuh namanye T.A.M.A.R.*.N!!  Uh, di Pasar Tanah Abang dijual grosir tuh Bu…

Lalu pernah dibawanya pula kue dari kacang hijau. Dari pengamatanku sih kacang hijau yang dihaluskan, diberi pemanis dan aroma vanila, dicetak balok sebesar kotak korek api dan dikemas dengan kertas bungkus eksklusif. Cantik menarik. Produk luar negri yang belum diproduksi di sini, katanya dengan seringai bangga.

Oallahhh…. Buuu…Buu… *ngelus dada* Di Jogja, sedari puluhan tahun lalu makanan ini sudah diproduksi secara masal, namanya KUMBU! untuk isi bakpia! Beda kemasan doang! See??

Mencengangkan, beli kumbu harus di luar negri? Horotoyoh….. please deh ah…

Begitulah, tak kuungkapkan sanggahanku. Tak ada gunanya. Seperti mendebat anak kecil.

Menggelikan memang. Si nona kumbu luar negri nan aduhai ini memelas betul nasibnya. Waktu dicicipin, ternyata sudah berbau tengik dan berjamur.

Siapa mau makan coba?

Salah seorang rekan kerjaku, sengaja membuka kemasan nona kumbu bule itu. Dicubitnya sebuah sudut hingga hancur dan ditinggalkannya terbuka begitu saja.

“Biar…biar dia lihat barang seperti apa yang dibawanya. Ssssttt! Jangan, nggak usah bilang kalau sudah basi. Biar tahu sendiri…”.

Benar saja. Bu Anu masuk dan melihat kumbu luar negri itu tak berkurang.

“Ayo, Bu, Pak… dimakan, ini enak lho…”.

Bu Anu menawarkan makanan itu lagi, kami hanya mengucapkan ya dan terima kasih.

Satu kue tersia-sia, teraniaya telanjang begitu rupa di tengah meja.“Lho kok? Siapa ini yang makan begini? Ini kok makanan disia-siakan begini sih?” ujarnya agak tersinggung.

“Silakan ambil lagi, Pak, Bu…”, katanya sambil mengambil sebuah kumbu. Dibukanya bungkusnya dan dimakannya.

Semua orang tengah sibuk. Atau pura-pura sibuk, tak ada yang menaruh perhatian, atau mungkin pura-pura juga. Bu Anu mungkin merasakan, si nona itu telah apek, tak semanis promosinya. Indra perasa tak pernah bohong kan? Tak ada yang melihat ekspresi wajah Bu Anu. Yang jelas, Bu Anu terdiam. Speechless. Klakep. Kep.

****

Parcel Kedua

Di tempat dan kesempatan lain, sebuah keluarga muda yang tak mau disebut namanya. Tak pernah mengharapkan mendapatkan kiriman parcel. Mereka bertekad ingin memberikan sedikit bingkisan Lebaran untuk para OB dan sekuriti kantor. Begitulah, beberapa kali Lebaran mereka berbagi. Bukan parcel mewah dan wah yang diberikan. Sekedar kue kaleng, minyak goreng, gula teh dan sirup untuk keluarga mereka. Semuanya dipilih sendiri, benar-benar dalam kondisi baru dan layak konsumsi, jauh dari tanggal kadaluarsa🙂

Keluarga muda itu beranggapan, para OB dan sekuriti itu juga telah bekerja keras membantu kelancaran pekerjaan di kantor. Jasa mereka sangat besar untuk menyokong kenyamanan dalam bekerja. Bayangkan suatu kantor tanpa OB dan sekuriti….

Layaklah mereka mendapatkan rejeki lebih yang mungkin hanya setahun sekali mereka dapatkan. Mereka lebih pantas mendapat bingkisan lebaran, daripada para bos dan pejabat  yang juauh lebih mampu membeli beratus-ratus parcel mahal.

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

28 Responses to Parcel Lebaran

  1. nh18 says:

    Na …
    Sepertinya tahun-tahun terakhir ini …
    euphoria Parcelisasi sudah mulai berkurang nih …
    sejalan dengan himbauan pemerintah …
    yang begitu mengawasi gratifikasi atau yang sejenisnya di kalangan pegawai pemerintahan …

    dan orang swasta pun akhirnya jadi ikutan juga

    Yang jelas Nana pasti tau …
    di “rumah” kita …
    dilarang mengirim dan menerima parcel

    hahahaha

    salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Iya Om… itulah yang membuatku heran bin takjub… kok ya bisa-bisanya Bu Anu itu membanggakan parcel2 itu… hare gene banggain parcel? Dia nggak mudeng, atau terlalu bangga/sombong ya?

      Hmmm… ada larangan di “pintu rumah” kita ya Om… pantesan aku nggak pernah dapet parcel hehehe… 🙂

  2. nh18 says:

    Wuih …
    Pertamax weiceh …

  3. vizon says:

    setiap kali melihat aneka parcel yang dibungkus cantik di supermarket dengan harga selangit, aku tersenyum kecut… apalah artinya bungkusan cantik itu? cukuplah isinya saja, masukkan ke kantong kresek, dan berikan kepada saudara-saudara kita yang kurang beruntung, pastilah akan “mahal” maknanya bagi mereka…

    argh… nurani kita sering tertutupi oleh kepentingan sesaat. parcel adalah perwujudan dari itu semua.. semoga kita terhindar dari hal-hal sedemikian ya Na…

    oya, aku sangat mengamini doamu itu lho…🙂

    • nanaharmanto says:

      Halo Uda… hehe senyum-senyum dulu… aku dulu juga suka iseng ngeliatin isi parcel di supermarket. kalau diitung-itung, mahal di bungkus dan pitanya doang hehe… lebih baik beli isinya yang agak banyak, berikan pada yang kurang beruntung…

      parcel bagi sebagian orang memang dijadikan alat untuk mencari muka/menjilat, dan sayangnya, banyak juga ynag mau dijilat dengan parcel-parcel yang bisa dihitung dengan rupiah itu… lho, kok ada yang bangga dengan mendapat kiriman parcel itu? yeah, begitulah orang semacam Bu Anu… kalau aku sih nggak perlu membangga-banggakan parcel yang kudapat, soalnya emang nggak pernah dapat kiriman parcel sih… hehehehe…🙂

  4. arman says:

    si bu Anu itu norak banget ya… orang kaya tapi kampungan. hehehe.

  5. waduh … udah lama banget gak denger kata parcel …
    boleh aja sih kasih parcel dg niat yg ikhlas tanpa ada embel2 terselubung (kayak pejabat) …

    salam BURUNG HANTU …

    • nanaharmanto says:

      Sebaiknya sih emang ngasih sesuatu tanpa pamrih ya… kalau aku pribadi sih, kalau mau ngasih parcel mending isinya aja deh. bungkus cantik dan segala pita hiasan mah nggak usah, itu kan simbol “pemanis” aja.. 🙂

  6. DV says:

    Soal parcel lebaran, aku slalu ingat waktu papaku masih jadi ‘pejabat’. Mereka tahu bahwa meski Papaku muslim tapi istri dan anak-anaknya adalah penganut Katholik.

    Jadi tak hanya Lebaran, setiap Natal pun kami dapat..
    Lumayan, setahun dapat parcel dua kali hahahaha!

  7. Ikkyu_san says:

    dan kalau aku boleh cerita
    tahun ini ada temanku yang terpaksa menderita di malam takbiran, sampai ke dokter segala…gara-gara keracunan makanan. Buah salak kaleng yang dia makan ternyata sudah kadaluwarsa. Beuh…

    Pengusaha parcel juga tidak memperhatikan tanggal kadaluwarsanya, tidak memikirkan konsumen. Dan kalau itu terjadi di Jepang, bisa dituntut tuh.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Ya ampun, keracunan? waduh….
      tapi sekarang dia udah sehat kan Mbak?

      Emang iya sih, banyak parcel-parcel yang dibuat dari makanan/minuman kemasan yang deket kadaluarsa, dibungkus dan dihias cantik supaya cepat laku..

      Semoga nggak ada kejadian keracunan lagi deh, bagi siapapun juga…

  8. Clara Croft says:

    Woohhh.. si Ibu Anu lagi ya?? Ihhh.. gemes deh sama dia..

    Semoga cepat kena batunya deh Mba Na, si Ibu ituu..

  9. zee says:

    Mbak Nana, orang model si Ibu itu memang banyak ya, sombong dan pongah dgn parcel basinya yang bejibun. Selalu ada org yg bangga dgn kemenangan semu.🙂
    Kasihan jg, sekantor gak suka dengan dia.

    Saya pernah dulu bgt wkt baru mulai kerja, dikasih parcel ama dealer, lalu krn dapatnya 3, saya ambil 1 aja. Lebihnya bagi2 k OB. Banyak2 jg utk apa, isinya toh itu2 juga. Bisa beli sendiri. Tp skrg pegawai dilarang terima apapun dari rekanan🙂.

    • nanaharmanto says:

      Ya, kasian sebenarnya dia, nggak disukai di tempat kerja. Buat apa juga ya bangga-banggain parcel yang diterimanya.. kayaknya semua orang udah paham deh, parcel dan bingkisan itu bisa jadi ada maksud terselubung.. bisa juga ada maksud menjilat atasan..

      Ada bagusnya juga tuh larangan mengirim dan menerima parcel/bingkisan..

  10. kalau zaman dulu, mungkin masih masuk akal dan ok ok saja bangga2in kiriman parcel ya Mbak Nana.
    kalau hari gini , sih kayaknya gak bangga deh nerimanya , biassssa aja kaleee…………

    kok bisa ya, bu anu itu membawa dan membagikan makanan yg kadaluarsa pd teman2 nya?
    kok tega ya ?

    dan, ternyata memang orang seperti bu anu ini, masih banyak sekali jumlahnya 😦
    salam

    • nanaharmanto says:

      Iya bener Bunda… nggak usah terlalu bangga dengan parcel. Bahkan sudah ada larangan mengirim dan menerima parcel ya…

      Tentang Bu Anu, hhmm… saya no comment aja deh, Bunda, hehe… 🙂

  11. edratna says:

    Sekarang..
    kalau menerima parsel malah takut..takut dilaporkan dan terkena sanksi pelanggaran, karena perusahaan melarang menerima atau mengirim parsel dalam bentuk apapun.

    Ehh tapi Lebaran ini saya menerima parsel..
    Dibawa oleh suami…
    Dari keponakan, yang juga anak asuhku..
    Dia udah lulus S1 dan udah menikah, sekarang sedang berwirausaha sambil menunggu kelahiran bayinya…membuat berbagai pernak pernik, dan makanan seperti: sambel pecel, serbat, kering tempe dll…
    Jadi kemarin dia mengirim parsel agar saya mencicipi hasil produksi usahanya.
    Tentu saja saya tak bisa menolak…segera saya sms, mengucapkan terimakasih dan berdoa semoga usahanya berhasil…

    • nanaharmanto says:

      Sepertinya banyak perusahaan yang sudah menerapkan aturan mengirim dan menerima parcel/ bingkisan dalam bentuk apapun ya Bu…

      Tentang parcel dari keponakan itu, pasti itu wujud silaturahmi, perhatian dan kasih pada Ibu dan Bapak… saya ikut mendoakan semoga usaha keponakan Bu Enny nya lancar dan sukses ya Bu..

  12. anna says:

    mbak..
    sebenernya parcelisasi ini kadang jadi kebalik.

    ketika mengirim kepada mereka yang punya jabatan, harta berlebih.. parcel justru lebay… padahal yang dikirimin kemungkinan besar punya barang2 itu..

    tapi kalo ngirim untuk mereka yaang membutuhkan, malah ala kadarnya..

    saya pernah mendengar suatu kisah jaman Nabi dulu.. ketika memberi pada kaum papa, dibagus-baguskan oleh Beliau.. sedangkan ketika memberikan untuk para pejabat.. adalah sesuatu yang sederhana sebagai bentuk perhatian Beliau kepada rekan sejawat..

    terakhir mohon maap lahir batin mbak🙂

  13. monda says:

    temannya mbak nana apa nggak ngerti liat masa kadaluarsa ya….? sekolah nggak sih…..? ha..ha..ha..

  14. Rian says:

    Bener tu kata Mba anna. Lebih baik memberi yg membutuhkan dan nda perlu bagus2

  15. tutinonka says:

    Memang ada orang yang sangat menikmati melihat miliknya betumpuk-tumpuk, dan sayang membagikannya kepada orang lain. Tahu-tahu sudah hampir, atau malah sudah kedaluwarsa …😦

    Moga-moga kita tidak menjadi orang yang demikian …

    Ohya, keluarga muda yang membagi-bagi parsel kepada OB dan security itu, kayaknya aku kenal deh …🙂

  16. Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.TahitianNoniAsia.net, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx

  17. iu says:

    telat baca neh,.hehe.,
    seru juga baca ceritanya,.
    bu Anu emg ngeselin,.hehe.,
    tp ada sedikit masukan,.
    estetika seni “parcel” dan kepatutan dalam memberi jgn disalahkan sepenuhnya dong,. ^^
    coba aja hantaran lamaran tu dikresekin gitu aja,.
    aneh juga toh,.hehe,.
    so,.mnurut saya tidak selamanya parcel itu buruk,. ^^
    semua ada baik buruknya,.
    tinggal bgaimana qt menyikapinya,.
    smoga kita semua termasuk org2 yg waspada,.amien,. ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s