Dalam Pelukan Pohon Tarra

Bertahun-tahun yang lalu, saat aku masih di SD, di halaman belakang rumahku tumbuh sebatang pohon mangga. Nenekku yang menanam dan merawatnya. Tak ada yang tahu  dengan baik, apa jenis mangga itu. Hingga suatu kali kami bersenang hati saat mangga itu berbunga. Sedikiiiit. Tak apa, untuk permulaan sedikit pun tak apa. Mangga itu memang akhirnya berbuah, hanya sayang, pohon yang ditunggu-tunggu hasilnya selama puluhan tahun itu, berbuah hanya sedikit, dan kecil- keciiiilll… rasanya pun tak terlalu manis. Pendeknya, mengecewakan. Nenekku menyebutnya mangga kerikil …🙂

Mungkin hanya aku yang tak begitu peduli. Aku sering memetik buah mudanya dan memakannya mentah sebagai rujak atau hanya dicocol garam dan gula pasir. Hmmm.. kecutnya bikin linu…. tapi terus saja kulakukan 🙂

Singkatnya, nenekku tak lagi mengharapkan buahnya. Lalu didapatnya sebuah wangsit ide.

Disuruhnya tukang kebun kami, Pak Mitro,  untuk melubangi batang pohon mangga itu, dicat dengan ter supaya luka menganga itu tak membusuk. Lalu di dalam ceruk hitam itu, nenekku meletakkan sebuah patung mungil. Patung Bunda Maria. Arca fosfor mungil itu berdiri anggun dalam “gua” barunya. Nenekku menghiasi gua itu dengan dedauan dan mawar-mawar kecil dari plastik. Hmmm… Gua yang antik tapi cantik.

Ketika awal-awal, kami masih mengagumi gua baru itu.

Lalu lama kelamaan gua itu mulai sedikit terabaikan.

Lama setelah itu, rasa-rasanya, patung itu mulai kesempitan. Apakah guanya menciut?

Dan, memang benar, suatu pagi, nenekku menemukan bahwa patung kecil itu berdiri doyong ke depan, dan terhimpit di dalam guanya. Ketika patung itu hendak dikeluarkan, ternyata, patung itu terkunci oleh batang pohon. Ter hitam ternyata tak mampu menahan daya sang kambium yang ternyata masih aktif menutup lubang pada batangnya.  Pelahan tapi pasti, batang itu pun menelan patung itu. Tak bisa tidak, patung Bunda Maria terjebak di dalam batang pohon, dan hanya tinggal bekas ter menghitam di kulit pohon.

Aduh…. perasaanku tak karuan saat itu. Ada sedih, ngeri, merasa sayang, campur aduk… jeri

****

Belasan tahun kemudian, beribu kilometer jauhnya dari rumahku. Aku mendapati hal yang hampir sama. Ini masih ada hubungannya dengan jalan-jalan ke Tator.

Aih, belum bosan kan?

Nah, salah satu tempat menarik yang dijadikan objek wisata di Tator adalah Baby Graves. Ya selain kuburan orang dewasa, (kutulis di sini), ternyata kuburan bayi pun menarik minat para wisatawan, hingga baby graves ini dijadikan objek wisata. Uniknya, tak seperti kuburan orang dewasa yang diletakkan dalam gua dan batu, kuburan bayi ini yang dalam bahasa Toraja disebut Passilirian atau Liang Pia, berada di dalam pohon. Pohon langka bernama tarra.

Baby graves yang terkenal ada di Kambira, Kecamatan Sangalla.


 

Baby Graves di Kambira

 

 

jamur yang tumbuh di batangnya

 

Menurut penduduk setempat,  pohon tarra ini adalah pohon khusus sejenis sukun, -yang bergetah-, yang dijadikan tempat untuk menyimpan jasad bayi yang belum tumbuh gigi. (Catatan: anak-anak usia 0 hingga hampir 7 tahun masih dianggap bayi, karena masih bergigi susu/belum tumbuh gigi dewasa).

Pohon ini dilubangi, kemudian dalam upacara /ritual khusus, jasad bayi dimasukkan ke dalamnya, lalu lubang tersebut ditutup dengan ijuk yang dipakukan dengan pasak kayu.

Para bayi yang meninggal ini ditempatkan dalam pohon tarra sesuai arah rumah orangtuanya. Jika rumah orang tua si bayi berada di sisi utara pohon tarra ini, maka lubang kuburnya pun akan berada di sisi utara.

Cara ini telah dilakukan masyarakat Toraja sejak beratus-ratus tahun yang lalu. Maksudnya, agar jasad bayi yang masih bertulang lunak itu tak diganggu binatang buas.

Dengan menyimpan jasad bayi di dalam pohon tarra, dipercaya, para bayi itu “dikembalikan” pada garba sang ibu, dan getah tarra-lah air susunya…

Setelah bertahun-tahun, lubang itu akan menutup “luka” di batangnya. Dari luar hanya akan tampak tutup saput ijuknya. Di baliknya, mungkin saja lubang itu telah menutup rapat, memeluk sisa jasad bayi di dalamnya, menjaganya dengan perkasa.

 

lubang yang telah menutup

 


Menurut penduduk setempat, sebenarnya, dahulu setiap dusun punya baby graves dalam pohon tarra ini, namun sayangnya, banyak pohon tarra yang telah tumbang saking tuanya. Menurut adat, jasad yang telah dikembalikan kepada alam tak boleh lagi diutak-atik tanpa pesta adat (yang makan biaya hingga ratusan juta). Jadi ketika sebatang pohon tarra roboh, pohon itu akan dibiarkan begitu saja tanpa ada upaya untuk memindahkan jasad bayi yang mungkin masih ada.

Di waktu sekarang ini, sudah jarang bayi dikuburkan di dalam pohon tarra. Selain karena faktor fasilitas kesehatan yang semakin baik sehingga semakin sedikit jumlah bayi yang meninggal saat lahir maupun karena sakit, juga karena memang pohon ini termasuk pohon yang sangat langka.

Konon, hanya pemeluk  Alu’ To’ Dolo, -agama lokal mula-mula sebelum agama Kristen, Katolik dan Islam masuk, semacam Animisme,- yang masih melakukan ritual ini.

Bagi orang awam, sepertinya agak mengerikan ya, membayangkan jasad bayi tak berdosa dikuburkan dalam batang pohon, lalu pohon itu akan menghimpitnya pelahan-lahan… aduhhh….

Tapi bagi masyarakat yang masih melakukan kebiasaan ini, well, yeah, inilah tempat yang paling layak dan terbaik bagi para bayi itu untuk beristirahat dengan tenang, roh kembali pada penciptanya, dan jasad kembali bersatu mesra kepada alam. Dengan demikian, pohon tarra  dianggap suci, sesuci jiwa bayi-bayi itu.

 

Baby Graves di Tampangallo

 

 

tanaman menjalar pun tumbuh di atas kuburan bayi ini

 

 

Baby Graves di Bori...

 

Jujur saja, awalnya, aku merasa jeri ketika hendak mengunjungi baby graves ini. Aku takut merasakan kesedihan mendalam, entahlah, rasanya aku bakal sentimentil di sana, membayangkan bayi-bayi malang yang tak sempat lama menikmati indahnya dunia, -dan bahkan terlintas kepedihan orangtuanya saat sang bayi dimasukkan dalam pohon besar itu. Tapi ketakutanku tak terbukti. Kalau orang tuanya telah mempercayakan bayi-bayi belia itu untuk dipeluk pohon tarra, well, berarti mereka percaya penuh, itulah tempat terbaik untuk mereka yang terkasih.

Meskipun ini kuburan bayi, namun beberapa di antaranya konon telah meninggal puluhan hingga ratusan tahun yang lalu. Jadi kalau berkesempatan hidup, bayi-bayi itu pastilah telah beranak pinak, bercucu, cicit, canggah, udheg-udheg, gantung siwur… *walah…

Kesunyian dan keteduhan alam sekitar pohon tarra itu seolah ikut menjaga para bayi purba itu tidur tenang dalam istirahat panjangnya.

Do sleep well, ancient babies…

notes: foto-foto koleksi pribadi

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

51 Responses to Dalam Pelukan Pohon Tarra

  1. Ikkyu_san says:

    ah Nana, cantik sekali kamu menghubungkan cerita patung Maria di pohon mangga kamu dengan pohon tarra itu. Hebat!

    Aku bisa menangkap filosofi yang indah…. kembali ke alam.
    Aku pribadi, akan lebih memilih “menguburkan” bayi-bayi itu dalam pohon Tarra daripada dalam peti / tanah yang disemen nantinya. Benar katamu, seakan berada dalam pelukan hangat seorang ibu🙂. Toh, cepat atau lambat jenazah memang akan kembali ke alam, menjadi abu, selayaknya awal kita.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya Mbak…
      awalnya, waktu pertama kali mengunjungi baby graves ini, aku merasa agak takut.. aku seperti “mengenali” rasa takut itu persis seperti waktu aku kanak-kanak dulu dengan patung yang tertelan pohon itu… jadi topik ini sengaja kubedakan dengan situs pemakaman orang dewasa, sekaligus mengenang patung tertelan itu 

      Aliran kepercayaan animisme memang sarat permenungan hidup ya Mbak.… meski kadang dianggap tak ber-Tuhan oleh mereka yang merasa paling benar.. di Jawa sendiri orang menyebutnya Kejawen. Beberapa tetanggaku masih menganut Kejawen ini, dan pandangan hidup mereka mengagumkan: selalu menghargai alam semesta..

  2. edratna says:

    Nana,
    Sayang sekali pas ke Toraja saya tak sempat melihat baby graves ini.
    Berapakah kira-kira ukuran lingkar batangnya…kok lihat di fotonya kecil ya…membayangkan bagaimana memasukkan jasad bayinya…berdiri, tengkurap, kaki atau kepala dulu ya?
    Memang, kepercayaan bisa bermacam-macam..tapi mungkin juga di dalam pohon terasa hangat, dan yang penting aman tadi. Saya ingat, di pemakaman juga ada payung-payung cantik….mungkin apakah (tempat dimana saya juga sempat foto2) itu makam keluarga raja ya…terus bagaimana jika bayi itu keluarga kerajaan…apakah pohon nya berbeda?

    Sayang ya, pohon Tarra makin langka…..mungkin bisa dibudidayakan nggak ya?

    Catt: Tadinya kupikir ada hubungannya tanah kelahiran Scarlett O’Hara……(Film Gone with the wind)

    • nanaharmanto says:

      Dear Bu Enny,
      saya baru sadar… tidak ada pohon/orang sebagai pembandingnya dalam foto-foto itu ya…saya ubek-ubek koleksi foto saya dan memang saya jepret tanpa objek lain sebagai pembanding😦
      Pohon tarra ini sangat tinggi, seperti pohon sukun dewasa, dan lingkar pohonnya mungkin kira-kira 2 orang dewasa memeluk pohon ini dan bisa saling menautkan tangan. Untuk catatan semoga bisa memberi gambaran: foto pertama (Baby Graves di Kambira), berlatar belakang batang-batang bambu dewasa… kira-kira bisa digunakan sebagai pembanding nggak ya?🙂
      Sepertinya batang dilubangi dari satu sisi hingga agak dalam, tapi tak terlalu lebar, dan jasad bayi dimasukkan ke dalamnya dalam posisi tidur.

      Saya tidak tahu bagaimana dengan bayi-bayi kerajaan/bangsawan, apakah ada pohon khusus atau tidak…yang jelas sih, semakin tinggi posisi Liang Pia-nya, semakin tinggi status sosialnya.

      Ya sayang sekali pohon ini sangat langka, semoga ada upaya di Tator untuk melestarikan/ membudidayakannya supaya tidak punah.
      Terima kasih atas pertanyaan2 Ibu ya…. Pertanyaan Ibu Enny memperkaya posting saya ini. Maturnuwun, Bu..

  3. anis says:

    anis pernah baca juga tentang itu mb nana, tetapi membaca tulisan mb yang merupakan trip report jelas rasanya laiiinn sekali;
    agak merinding tapi tetap takjub,
    zaman dahulu selalu ada filosofi dari setiap tindakan ya mb,
    dan kearifan alam senantiasa dijunjung tinggi…

    perjalanan yang menyenangkan pastinya, dan kisahnyapun mengayakan lebih banyak orang;
    mkc mb nana🙂

    • nanaharmanto says:

      Thanks ya Anis…
      Dulu aku pernah baca-baca beberapa tulisan tentang Baby graves ini, dan merasa terbakar penasaran karena banyak hal yang masih ingin kutahu tentang objek menarik ini. Dan saking penasarannya, aku jadi cerewet tanya ini itu pada orang sana. *macam reporter gadungan..

      Aku benar-benar takjub waktu mendengar begitulah kepercayaan dan filosofi purba yang masih terus dijaga lestari sampai sekarang: kedekatan manusia dengan alam, dan kelak meninggal pun akan kembali pada alam…
      Jujur nih, aku hampir mewek waktu mendengar penuturan orang Toraja tentang keyakinan bahwa bayi-bayi itu “dikembalikan” ke dalam rahim ibunya, dan terus dipeluk dan disusui sampai akhirnya tiba masa pohon tarra itu roboh atau mati…
      Sangat mengharukan bagiku…

      • anis says:

        sama2 mb nana🙂

        anis pernah baca juga, kalau gak salah di daerah nusa tenggara apa ya, di sana orang yang meninggal dikubur dalam batu..yang mereka persipakan sendiri sedari masih hidup;
        yang luar biasa lagi, posisi pemakaman mereka adalah ‘posisi janin’ mb na..persis seperti posisi janin ketika berada dalam rahim,
        yang menurut mereka adalah posisi ternyaman untuk ‘kembali’…

        kaya betul sebenarnya bangsa kita ya mb
        *jadi pengen backpacking ke indonesia timur :D*

  4. nh18 says:

    Nana …
    Jujur ini pengetahuan yang baru bagi saya …
    Yang biasa saya dengar memang makam yang diatas tebing itu …

    tetapi cara memakamkan bayi di pohon ?
    baru kali ini saya baca …

    terima kasih Nana

    salam saya

  5. Clara Croft says:

    Tetap seram.. pertama baca tentang pohon ini rasanya di postingan bu Tuti.. udah serem.. sekarang membaca laporan yang lain dari Mba Nana.. tetep serem juga.. saya ngerinya membayangkan bayi kecil yang meninggal itu.. belum sempat melihat dunia..

    Apa jauh dari situs pemakaman orang dewasanya Mba Na? Jadi bisa kira2 waktu tempuhnya kalo ke sana🙂

    • nanaharmanto says:

      Awalnya aku juga merasa agak takut.. sekaligus penasaran…
      Kalau yang di Kambira itu lokasi tersendiri…jadi mesti naik mobil ke sana.

      Yang di Sangalla dan Bori ada di satu lokasi, tinggal jalan kaki aja..

      Meski serem… masih tetep pengen ke sana kan?🙂

  6. Emak Bawel says:

    Keren abissss!!

  7. anna says:

    Mbak Nana.. ini pengetahuan baru buat saya..
    sebuah ritual unik..

    memang kalo ngebayanginnya rada-rada ngeri ya..
    tapi itulah kekayaan adat budaya di Indonesia.. ritual ini dilakukan tentunya ada nilai-nilai yang dikandung.. seperti yang mbak Nana tulis di atas.. kembali pada alam.. kepada pelukan alam..

    • nanaharmanto says:

      Ya… untuk kita memang agak ngeri ya…
      tapi memang itulah kepercayaan beberapa masyarakatToraja. Dan filosofinya sebenarnya dalem banget…
      Aku hampir nangis waktu denger alasan memasukkan jasad bayi dalam pohon tarra ini…

  8. arman says:

    serem ah tentang baby graves nya… hehe

    jadi mau komen soal pohon mangga aja.😛 di rumah oma gua di surabaya juga ada pohon mangga. buahnya banyaaak banget lho. dulu tiap taun pasti kita dikirimin 1 kardus mangga. hehehe.

  9. tutinonka says:

    Jasad bayi yang dimasukkan ke dalam lobang pohon tara itu, semula kupikir akan terurai oleh getah yang dikeluarkan batang pohon tara, jadi bukan ‘tertelan’ atau terhimpit. Hm, untuk mengetahui apa yang terjadi sesungguhnya, mungkin harus membuka lubang itu, tapi secara adat ini kan nggak mungkin dilakukan ya?

    • nanaharmanto says:

      Aduh…. saya malah jadi ngeri ngebayangin para bayi yang udah tenang itu dibuka liang pia-nya… hii… untunglah adat melarangnya…

      Saya pikir tulang bayi-bayi itu akan terhimpit, melihat bekas lubang yang menutup itu. Tapi mungkin juga nggak semengerikan yang saya bayangkan: sebelum batangnya menutup, belulang bayi yang masih lunak itu mungkin sudah tinggal sisa-sisa saja…
      yah, bagaimanapun, mereka pasti sudah beristirahat damai..

  10. julicavero says:

    pohon tarra ini adalah pohon khusus sejenis sukun, -yang bergetah-, yang dijadikan tempat untuk menyimpan jasad bayi yang belum tumbuh gigi.????
    wah ngeri juga itu…beneran itu??

    • nanaharmanto says:

      Ini benar-benar terjadi, meski hampir tak ada lagi bayi yang dikuburkan di pohon tarra ini dalam kurun waktu 5 tahun terakhir ini…
      cara ini dilakukan sejak beratus-ratus tahun yang lalu, Mas…

  11. DV says:

    Ah, cerita yang menyentuh, Na…
    Kupikir ini termasuk yang paling orisinal ya, ‘mengubur’ bayi ke dalam pohon…

  12. betapa menakjubkan tulisan ini, ada rasa ngeri sekaligus kagum pd nenek moyang kita,
    betapa tiap tindakan yg mereka lakukan selalu dilandasi sebuah filosofi ya Mbak Nana.

    Baru tau ttg baby graves melalui tulisan ini, kalau kuburan yg ditebing itu sering dengar, walau detailnya tetap saja kudapatkan disini🙂
    salam

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih atas apresiasinya ya Bunda…
      saya juga salut dan kagum pada orang-orang Toraja yang begitu akrab dengan alam dalam segala pikiran dan tindakan.
      Seharusnya semua orang yang hobi merusak alam itu mencontoh sikap orang-orang Toraja yang memikirkan masa depan anak cucu dengan tetap menjaga kelestarian alamnya.

      Salam hangat, Bunda…

  13. ngeri tapi unik juga ya …😀😦
    tapi kan sekarang tuh pohon udah langka … ehm, pokoknya ngeri deh ngebayanginnya, mungkin kalo Denuzz sempat ke sana, Denuzz gak akan berlama-lama …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

  14. luarrr biasaa.. adat di toraja semakin memikat saya untuk segera pergi kesana.. terimakasih untuk infonya mbak, sangat bermanfaat..😉

  15. septarius says:

    ..
    Aku belum pernah liburan ke tempat2 serem gini, tapi mungkin sekali2 musti di coba..
    ..
    Dulu pernah diajak ke trunyan di Bali, tapi takutnya terbayang-bayang terus..
    Habis mayatnya cuman diletakkan dibawah pohon..😦
    Tapi anehnya gak bau lho, katanya diserap pohon trunyan..
    Trus apa pohon tarra itu apa juga menyerap bau ya..?
    ..

    • nanaharmanto says:

      Aku belum pernah ke Bali… yang di Trunyan itu, mayatnya dibungkus kain nggak? atau ya udah gitu aja ditaruh di bawah pohon?

      Aku nggak tau apakah pohon tarra itu menyerap bau atau nggak, Ata…

      *Tapi aku malah jadi pengen ke Bali.. hehe..

  16. Mba tulisannya sangat menarik dan mengangkat kultur daerah setempat dengan nuansa spiritual yang anda munculkan juga sangat bagus. Lebih memberikan informasi untuk para pembaca, seolah-olah kita berada dan sedang berada disana.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; Maka Kita Dapat Menyelesaikan Permasalahan Yang Besar.

    Sukses selalu

    Salam ~~~ “Ejawantah’h Blog”

  17. Mba, bukankah itu pohon mangganya Landorundu ????

    Kapan dan siapa yang boleh dikuburkan di dalam pohon tarra’ itu ?

    makasih,
    frs

    • nanaharmanto says:

      Pohon mangganya Landorundu? apa tuh? bisa dijelaskan?

      Yang bisa dikuburkan di dalam pohon itu adalah bayi atau kanak-kanak yang belum tumbuh gigi dewasa. Untuk kapan/waktunya, setelah diadakan ritual adat menyiapkan tempat beristirahat terakhir itu.

  18. zee says:

    Ah liputan yang menarik mbak nana.
    Saya jadi pnasaran juga ingin lihat. Walaupun sebenarnya ya ngeri juga, sekaligus sedih, membayangkan ada jasad bayi di dalamnya.
    Tapi jenis pohon itu tentunya kuat dan subur sekali sehingga masih sanggup menutupnya. Kalau di kota2 besar, mungkin pohon2 yang luka bisa jadi malah jadi mati.

  19. nanaharmanto says:

    Thanks again Zee..
    iya sih, awalnya emang agak serem.. tapi nggak gitu juga kok setelah melihatnya langsung. Mungkin mereka memang sudah damai tenang dalam pelukan Ibu Tarra seperti dipercayakan oleh orangtua mereka..

  20. vizon says:

    Sama seperti yang lainnya, aku juga baru kali ini mengetahui soal baby graves ini… Ternyata tana toraja memiliki keunikan yang luar biasa ya… Patut dikunjungi nih suatu saat🙂

    Oya, adakah ritual tertentu yang dilakukan secara berkala di seputar pohon itu, ya.. semacam memberi sesajen atau apa gitu?

  21. Pingback: Keindahan Tana Toraja « the broneo

  22. santi says:

    nice post…
    kunjungi ini ya..
    klik ini
    thanks

  23. Pingback: NINE FROM THE LADIES (#1) | The Ordinary Trainer writes …

  24. dari blognya Om NH meluncur kesini..

    salam kenal buat empunya blog…

    saya terbius membaca tulisannya…😀

  25. chocoVanilla says:

    Wah, luar biasa. Berarti pohon-pohon itu sudah berumur ratusan tahun ya? Kira-kira masih ada berapa jumlah baby graves ini ya?

    Untunglah bayi-bayi ini sudah tak merasakan apa-apa ketika terimpit pohon ya? Ngeri membayangkannya.

    Postingan yang bagus, Nana😀

    • nanaharmanto says:

      Ya, umurnya kayaknya sudah ratusan tahun..
      yang pernah saya kunjungi hanya tiga, karena itu yang relatif mudah terjangkau. Masih ada beberapa pastinya, tapi karena tidak tercantum di peta, agak susah mencari lokasinya.
      Baby graves di Kambira itu yang paling terkenal.. biasanya orang Toraja tau dan bisa menunjukkan arah ke sana..

      nice to welcome you, here Mbak Choco…

  26. Putri says:

    Dulu pernah lihat tentang kuburan orang Toraja yang di dalam gua…
    dan
    sekarang membaca tentang yang Baby Graves yang di Pohon Tara ini…

    Jujur, bu…sampai menuliskan komen ini pun…Putri masih merasa sedih….
    barangkali karena mengalami hal yang sama seperti yang ibu alami….

    Jika ada kesempatan ke Toraja….
    hm….
    gak tahu, deh..berani apa enggak ke sana..he..he..😀

    • nanaharmanto says:

      Halo Putri… salam kenal ya…
      waktu pertama kali ke sana memang ada perasaan agak ngeri gitu.. deg-degan rasanya…

      Tapi setelah sampai sana, ternyata nggak semengerikan yang kita bayangkan semula… mungkin karena memang mereka sudah didoakan (dipestakan adat) dan sudah bahagia tenang dan damai.

      Kalau ada kesempatan, datanglah ke Toraja, melihat langsung keunikan budaya Nusantara… tidak akan menyesal kok… 🙂

  27. Mbak, saya bacanya berasa serem….(lebay ya)

    Baru tau mbak kalo ada tradisi seperti ini.

    Yak, keanekaragaman tradisi nenek moyang, akan saya informasikan ke anak-anak saya.

    Trimakasih ya mbak…

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya Bu Devi..

      iya awalnya waktu mau ke sana penasaraaaan banget.. tapi juga merasa serem dan agak takut.. tapi ternyata setelah sampai sana nggak menyeramkan kok.. selain karena siang hari, juga karena (mungkin) para bayi itu sudah damai tenteram dalam istirahat abadinya, dan sudah melewati proses adat (dipestakan) yang sarat dengan doa-doa..

      Saya bersyukur banget bisa punya pengalaman menjejakkan kaki di bumi Nusantara yang berbeda-beda kebudayaan dan bahasanya, hingga merasa sayang kalau pengalaman itu saya simpan sendiri…

      Salam hangat selalu, Bu Devi..

  28. Pingback: Batu Tarik, Baru Megalith dari Toraja « sejutakatanana

  29. ady says:

    Mbak, bisa di fotokan buahnya dan daunnya Pohon Tarra yg mbak tulis seperti sukun? Sy ingin mengidentifikasi nama ilmiahnya pohon tsb.
    Email ke sy yaitu tks4ady at gmail dot com

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s