Gunung Merapi

Merapi Meletus

Selasa sore, 26 Oktober 2010. Seharian aku enggan melihat tayangan TV. Berita itu-itu saja diulang-ulang di berbagai channel. Anggota DPR studi banding ke luar negri (atau wisata??), presiden yang bertolak ke luar negri, Jakarta banjir dan macet parah, dan gempa dan tsunami di kepulauan Mentawai Sumatra Barat….

Kumatikan TV. Kucoba untuk menulis. Macet ide. Ada apa? Mengapa keenggananku merembet sampai ke semangat menulis yang meloyo dan menyebalkan begini?

Kuhela nafas. Mengecek status Facebook. Seketika mataku membola. Jantungku seakan dipelintir. Kubaca status adik bungsuku di wall-nya.

“Tuhan.. Aku takut..

Di Muntilan ga hanya ujan abu.. tapi ujan kerikil…

Teman2…tolong doakan kami…”

Dug!! Jantungku seakan berhenti.


Kunyalakan TV. Hiruk pikuk kegiatan dalam reportase. Merapi telah meletus.

Aku ingat tanganku gemetar dan lututku seakan goyah. Aku tak bisa menghubungi keluargaku di rumah. Aku panik. Mencoba menenangkan diri sendiri, kucoba mengirim berita pada suamiku yang sedang ke luar kota.

Kucoba menelfon papa. Tak berhasil. Mama tak bisa kukontak. Adikku juga. Berkali-kali SMS gagal terkirim. Satu-satunya yang terpikir adalah membalas komentar di Facebook, menanyakan keadaan keluarga.

Aduh Tuhan…. ada apa ini? Sedangkan aku  begini jauh… aku kuatir.. tak biasanya hujan kerikil sampai ke desa kami. Letusan-letusan Merapi terdahulu “hanya” mengirim dan menabur abu vulkaniknya.

Kutatap TV. Hitam pekat di langit tempat reportase sedang berlangsung. Lampu kamera jelas memperlihatkan abu deras mengguyur. Para relawan berlalu lalang dengan masker dan badan penuh abu.

Dhuh Gusti…

Gamang rasaku. Kocoba menghubungi papa sekali lagi. Tak berhasil. Panggilan pada mama tak berjawab. Adikku pun tak bisa kukontak.. Resah…

Kusebut Tuhanku.

****

 

Di TV, RSUD Muntilan sebagai tempat utama merawat para korban yang kena semburan abu vulkanik disorot terus menerus bergantian dengan reportase dari Sleman. Korban terus berdatangan dengan paramedis yang sigap bertindak. FYI, RSUD ini kira-kira 1 kilometer jaraknya dari rumahku…

Terlihat dalam tayangan, seorang ibu yang histeris dan shock mendapati bayinya yang baru berumur 3 bulan meninggal karena menghirup abu merapi. Si Mbak reporter (kok ya tega!) mewawancarai ibu yang berduka itu. Ibu yang masih sesenggukan dan berkali-kali menghapus air mata yang membanjir di wajahnya itu masih sanggup menjawab pertanyaan pertama. Mbak reporter Metr*TV itu (teganya!) bertanya lagi. Si ibu menolak menjawab, dan memalingkan wajah.

Aku mendidih. Teganya mbak itu. Oke memburu berita, tapi etika reportase ada nggak sih???? Setidaknya tanggalkan sejenak tugasnya, luangkan sedikiiiiit saja waktu untuk mengungkapkan dia masih manusia yang punya perasaan. Mbok ya kalau orang sedang shock dan berdukacita itu jangan diwawancarai! Hargai dong perasaannya… *Berempatilah, Mbak!

Dan seingatku, ungkapan belasungkawa hanya diucapkan dengan datar dan sekilas saja. (atau bahkan tidak sama sekali??) Aku tak ingat persis, dan tak ingin mengingatnya lagi. Atas nama profesionalisme si Mbak meneruskan reportasenya. Edun. Aku enggan mengingat nama si Mbak reporter itu. Muak.

Seandainya aku di sana langsung, akan kupeluk ibu itu… aku mengerti rasanya kehilangan anak yang dikasihi….

Jengah juga kurasakan ketika reporter yang lain menyampaikan kalimat seperti ini …”korban terpanggang hidup-hidup…” ya ampuuuuuun…please!  tidak adakah kata yang lebih manusiawi? Kasihan keluarga yang mendengar kalimat ini…

Aku juga sedih pilu melihat tayangan para korban bencana yang meninggal, -utuh maupun tidak-, yang tidak di-blur… di–blur pun, ah, rasanya tetap nggak pantas disebarluaskan begitu rupa. Bagaimanapun mereka tetap manusia meski tak lagi berjiwa.

HAI MEDIA!! IF YOU SMART ENOUGH, PLEASE STOP IT!

PLEASE, HARGAILAH PERASAAN KELUARGA PARA KORBAN!!

****

 

 

Untuk kesekian kali aku menelepon mama. Berhasil. Suara mama tenang, tidak panik. Sayup kudengar sirine ambulans meraung-raung.

Lega hatiku mengetahui keluargaku aman dan selamat. Meski disana mati listrik, udara berbau belerang, mata pedih, gelap pekat diguyur abu dan kerikil kemrutuk di atas genteng rumah kami, setidaknya mereka aman di dalam rumah. Kuucap syukur pada Tuhan.

Mama sempat bercanda, mungkin untuk menenangkanku. Katanya, terdengar dari kejauhan bunyi kentongan tanda bahaya (titir) yang dipukul bertalu-talu. Mencekam kubayangkan.

“Nggak apa-apa kok disini, malah seperti sinetron horor endonesa…”. Mau tak mau aku sempat tersenyum juga.

Mendadak telepon terhenti. Kucoba telepon lagi. Tak berhasil. Aku mencoba SMS. Sepertinya SMS lumayan lancar. Oke, begitupun tak apa, asal bisa terus kontak dengan mereka.

Sebesar apa kerikilnya? Tanyaku pada papa.

“Mungkin sebesar biji gabah, tidak bisa terlihat sekarang, karena mati listrik dan pekat hujan abu..” balas papa dalam SMS-nya.

….

****

Dhuh Gusti… membayangkan para pengungsi di kaki Merapi itu, aku pedih.

Lariiii! Lari!!

Betapa mereka harus bergegas lari secepat mungkin, sejauh mungkin,- dalam kepanikan, jeritan, pilu karena terpisah dari anggota keluarga yang cerai berai selama evakuasi. Semua harus menyelamatkan diri dalam kegelapan, dan sesak nafas karena abu sulfarata yang berhamburan menyesakkan paru-paru, membuat mata pedih dan hidung terasa pengap. Kulihat para manula yang tak lagi gesit harus bergelut dengan waktu, digendong para relawan untuk mengungsi.

Dhuh… Dhuh Gusti… para pengungsi itu menjauh dari Merapi, menuju posko pengungsian yang jauh dari nyaman, berkumpul dengan ratusan pengungsi lainnya… terbayang ketidaknyamanan mereka, sementara aku tak bisa membantu…

….

….

….

 

Si cantik yang garang, sang penjaga harmoni

Dari desaku di Muntilan, Merapi kadang bisa terlihat sangat jelas, menjulang tinggi anggun. Cantik sekali di pagi hari dengan matahari menyembul dari balik punggungnya.

Si Cantik Merapi di pagi hari.. anggun ya?

Note: foto dokumen pribadi.

Tak jarang, Merapi diselimuti kabut dan awan sehingga tak terlihat keanggunan dan kecantikannya. Dia berdiri diam seolah menatap segala mahluk yang hidup di bawah kakinya.

Kadang-kadang asap mengepul dari kawahnya. Ah… si cantik itu sedang merokok…

gendong pagi, eh jalan-jalan pagi dengan keponakan

Note: Foto dokumen pribadi.

Gunung yang terkesan misterius itu memang unik. Perutnya terus menerus berproses, menunggu saatnya memuntahkan isi perutnya. Hanya Tuhan dan dia sendiri yang tahu kapan  perutnya penuh dan menuntut kebebasan. Merapi ini tercatat sering sekali menggeliat. Hampir setiap 2-4 tahun ia memuntahkan material vulkaniknya. Ketika ia murka, segala benda bernyawa atau tak bernyawa lantak diterjangnya dengan suhu yang tak terbayangkan panasnya, 500-600 derajat Celcius.  Hhfff……

Letusan Merapi ini sangat unik dan khas. Dia memuntahkan materialnya dengan cara “Ndledek” (mengalir, Jawa). Erupsi bahasa kerennya. Dulu waktu aku kecil, aku ingat,  kami pernah keluar rumah di malam hari dan menonton lava pijar yang meleleh, bergulir dari puncaknya.

Waktu itu, rasanya belum ada alat detektor aktifitas vulkanik secanggih sekarang dan disebarkan melalui TV dan radio secara intensif seperti sekarang.

Kadang kami hanya mendengar tetangga yang berkomentar.

“Gununge ndledek! Merapine ndledek!”.

Lalu kami keluar rumah dan melihat dari kejauhan lava pijar kemerahan bagai kembang api, yang indah sekali dalam penglihatan masa kecilku. Tak terbayangkan betapa mengerikan dampak sebenarnya di dekat sana.


terlihat indah dari kejauhan di malam hari... sebetulnya mengerikan dari dekat...

foto kupinjam dari sini

Lalu ciri khasnya yang lain, dia menyemburkan awan maha panas yang dikenal dengan wedhus gembel. Penduduk menyebutnya demikian karena bentuk awannya yang bergulung bergumpal-gumpal menyerupai bulu biri-biri yang gondrong dan hitam gembel.

wedhus gembel

gambar kupinjam dari sini

Kecepatan luncurnya sangat mengagumkan, hingga mencapai kecepatan 300km/jam. Bayangkan betapa cepatnya, melesat bagai mobil balap melaju. Tak heran,  beberapa korban ditemukan meninggal terjebak dalam terjangan awan panas ini karena mereka jelas jauh kalah tangkas dalam berlari menyelamatkan diri.

Tak ada yang bisa menangkal si wedhus gembel ini selain menghindar jauh hari, sejauh mungkin dari kawasan terjangannya.

Tak cukup hanya awan panas, lava dan material piroklastiknya,  lahar dinginnya pun sangat berbahaya. Abu vulkanik yang disemburkannya, bila terguyur hujan keras, berubah menjadi ribuan meter kubik lumpur yang disebut lahar dingin, yang berdaya kuat menyapu segala yang dilewatinya.

semburan abu piroklastik, menjulang tinggi lalu tersebar ke segala arah karena tiupan angin

gambar kupinjam dari sini

Kali ini, aktifitas Merapi terbilang melenceng. Kebiasaannya yang eruptif berubah menjadi eksplosif sesuai prakiraan para ahli. Apapun, kata orang-orang, Merapi tak pernah ingkar janji… apapun yang diisyaratkan gejalanya, itulah yang akan digeliatkannya.

Sedikit bukti letusannya yang eksplosif, kerikil yang berhamburan hingga ke rumahku, yang berjarak kurang dari 25 km dari Merapi.

...sebesar biji jagung ternyata... *latar konblok tertutup abu vulkanik

Note: foto dokumen pribadi, dikirim via MMS oleh adikku.

Meski dampak kemarahannya sangat mengerikan, Gunung Merapi ini juga dicintai oleh penduduk di lerengnya. Dia memberi begitu banyak kehidupan: tanah yang subur, tanaman menghijau, udara segar, sumber  air bersih berlimpah ruah, pasir dan batu sebagai bahan bangunan, juga batu besar sebagai bahan utama kerajinan patung batu pahat.

ikan batu mas koki, karya pengrajin patung di desaku di Muntilan.

Note: Foto dokumentasi pribadi.

stupa, kerajinan patung batu di desaku. Dikirim hingga ke luar negri

Note: Foto dokumentasi pribadi.

Penduduk lereng Merapi seakan terikat dengan desa tempat mereka lahir dan melanjutkan hidup. Meskipun dinyatakan gunung yang berbahaya, penduduk setempat enggan untuk meninggalkan desanya. Konon, di tahun 1980-an, pernah di-bedhol desa, dan toh penduduk kembali lagi ke desanya. Begitulah,  Sadumuk Bathuk Sanyari Bumi, Tohpati…. sebuah adagium yang mendarah daging dalam masyarakat Jawa. Artinya kurang lebih tanah dengan kekayaan agrarianya adalah sumber pokok kehidupan (tempat berpijak, sumber makanan, bahkan tempat kelak ia akan ditanam) dan bagaimanapun juga tanah itu harus dibela, dipertahankan sampai mati. Mungkin ada yang bisa menambahkan?

Untuk berbagai alasan yang tak dapat kutuliskan, -maafkan keterbatasanku-, bayangkanlah saja..Dapatkah kau jelaskan, bagaimana cintamu pada argo gagah ini? Bisakah kauingkari,  lebih dari seribu tahun lamanya Merapi memberi dan menjaga harmoni keselarasan kehidupan di bawah kakinya? Kala ia murka ia membinasakan semua, namun ia menyuburkannya kembali. Menumbuhkan benih-benih yang baru.

Harmoni. Selaras. Itulah salah satu janjinya. Harmoni bersahaja  mengagumkan yang bersenyawa dengan nafas yang dihirup penduduknya setiap saat.

Ah…. Merapi…. kau mengagumkan. Menggetarkan. Bagaimana mungkin aku bisa menganggapmu biasa saja?

 

****

 

Sang Nahkoda

Salah satu orang yang mempunyai ikatan emosional yang sangat kuat dengan Merapi adalah Mbah Maridjan. Dia dipercaya dan diangkat sebagai juru kunci Gunung Merapi oleh Sultan Hamengku Buwono IX. Diyakini, juru kunci inilah yang tahu persis apa maunya gunung dahsyat ini. Saat Merapi menggeliat aktif di tahun 2006, simbah satu ini membuat banyak orang terperangah karena kebandelannya menolak mengungsi. Kukuh teguh. Mbalelo.

Dalam letusan 26 Oktober 2010, Mbah Maridjan yang dikenal setia pada tugasnya menjaga Merapi ini ditemukan meninggal, bersujud di dalam kamarnya. Terlanda wedhus gembel dahsyat. Begitulah Mbah Maridjan memaknai kesetiaannya pada Gunung Merapi, meski banyak orang tak habis mengerti akan sikapnya.

Mengapa dia tak juga mau mengungsi? Sudah, jangan diperdebatkan lagi. Mbah Maridjan punya jawabnya sendiri, telah dibawanya pula pergi..

Yang aku mengerti dalam pemahamanku yang sempit, seorang nahkoda seharusnya menjadi orang terakhir yang meninggalkan kapal yang berada dalam bahaya, -karam dihantam badai atau terbakar-, setelah memastikan awak kapal dan penumpangnya tak ada yang tertinggal di kapal yang rusak. Bukankah aneh, seorang nahkoda selamat namun ratusan penumpangnya tumpas binasa?

Mbah Maridjan-lah sang nahkoda meskipun bahteranya gunung bergelora tak berlaut…

Sugeng tindak, Mbah… mugi tansah  tentrem anggenipun panjenengan sare…

(Seuntai rosario dan simpati mendalam untuk para korban bencana banjir di Wasior, gempa dan tsunami Mentawai dan letusan Gunung Merapi).

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

37 Responses to Gunung Merapi

  1. yessymuchtar says:

    Kita sedang berduka, mbak. Semoga Tuhan memberikan segala kekuatan bersamaan dengan ujian-Nya.

  2. yustha tt says:

    mb Nana, tt bisa rasakan kekhawatiran mb di jauh sana. Pj Tuhan keluarga mb baik2 sj meskipun dihujani abu vulkanik dan kerikil sebiji jagung (lumayan juga ya mb, gedhe)

    TTg simbah, benar sekali mb. Simbah benar2 nahkoda yg tidak mau meninggalkan awak & penumpang ‘kapal’-nya. Salut untuk simbah. Semoga damai di sisi-Nya. Amin.

  3. nanaharmanto says:

    Terima kasih simpatinya ya Ti…
    iya, semoga Mbah Maridjan damai beristirahat di surga, juga para korban lainnya…

  4. Clara Croft says:

    Aduh aku terharu baca yang terakhir Mba.. aku selama ini agak kesal juga dengan sikap Mbah Marijan itu, seakan2 dia meremehkan teknologi.. tapi kalo dipikir2, memang seorang nahkoda tidak boleh pergi sementara anak kapalnya masih terancam bahaya, aku kena sentil juga.. mungkin ada tanggung jawab besar dan beban yang sangat berat yang dia emban, yang taruhannya nyawa.. aku jadi sedih..

    Aku lebih susah hati lagi karena kejadian Mentawai Mba, karena keluargaku ada di sana.. Tulangku (Abang dari Mama) sekeluarga di Mentawai, dan sekarang sedang mengungsi ke gunung akibat peringatan tsunami dulu.. rumah dan seluruh mereka aman, tapi masih tinggal di pengungsian untuk berjaga2.. takut jadinya kalo mikirin mereka..

  5. exty says:

    kupenuhi omongku, aku komen he…….
    sama kawatirnya sama aku mba, apalgi aku tahu beritanya jam 8 malam setelah kakakku nelpon dan itupun sempet terpikir oleh kakakku aku ga peduli krn ga lgsg tanya kabar bapak dan ibuku, padahal krn aku blm tahu makanya kutelpon keluargaku.
    iya kita semua berduka dan cemas dengan kondisi daerah yang biasanya asri adem dan memberi banyak rejeki dan kelimpahan tapi saat ini lagi ditegur sama merapi.
    tapi mungkin ada maksud lain dari merapi, dia seolah tahu bahwa tanah disekitarnya mulai ga subur, batu dan pasir disungai mulai habis makanya dia muntahkan isi perutnya untuk memberi berkah dan juga teguran supaya tanah subur lagi, pasir dan batu banyak lagi dan juga teguran agar semua orang jangan rakus dan tidak mau menjaga alam yang indah ini, memang itulah merapi selalu punya caranya sendiri…..

  6. Ikkyu_san says:

    Nana,
    aku ikut menangis membaca tulisanmu. Aku bisa bayangkan kepanikan tidak berhasil menghubungi keluarga saat kita berada jauh. Dan aku bisa mengerti kecintaan penduduk sekitar pada gunung Merapi. Aku tidak heran sama sekali. Bahkan aku lebih heran pada orang yang tidak mencintai tanah airnya, bagaimanapun keadaannya.
    Aku bisa mengerti keputusan Mbah Marijan. amat bisa mengerti.

    Tapi aku tidak bisa mengerti kenapa sampai ada orang yang seakan “mendewakan” Mbah M. Sikapnya memang perlu ditinjau, bahkan kalau perlu ditiru (apalagi oleh seorang NAHKODA — baca pemimpin) .
    Atau aku tidak bisa mengerti kenapa ada yang mau membeli 40 juta sebuah mukenah yang menyelamatkan nyawa pengungsi (baca di http://bit.ly/ccxdFs). Apa tidak bisa ya 40 juta itu dipakai untuk membantu korban yang lain? Yah….pandangan orang memang berbeda.

    Atau aku juga tidak mengerti ucapan seperti: “siapa suruh tinggal di pulau? siapa suruh tinggal di lereng gunung? siapa suruh…bla bla bla. Benar-benar perkataan yang tidak patut diucapkan pada korban dan keluarganya, bahkan bangsanya. Apakah akhirnya akan ada perkataan, “siapa suruh tinggal di Indonesia?” …absurd. Meskipun aku tidak tinggal di Indonesia, aku tetap orang Indonesia.🙂

    Ikut berduka Na, maaf aku tulis terlalu panjang di sini.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Kalau kita tinggal jauh dari keluarga memang jadi lebih mudah panik dan sering kuatir memikirkan mereka, apalagi kalau nggak bisa menghubungi mereka.

      Ah, tentang terlalu mendewakan manusia biasa aku juga nggak setuju tuh, siapapun orangnya, termasuk si MT the GW itu yang pernah kita obroli di chatting…hehe aku nggak suka banget sama dia🙂

      Aku sudah baca ttg mukena yg ditawar 40jt itu. untuk apa? jimat? weleh…

      Banyak kalimat yang diucapkan pejabat, anggota DPR dan reporter yang bikin sebel karena nggak pantes, Mbak… miris deh.. kasian keluarga yang mendengarnya..

      Terima kasih atensinya ya Mbak…

  7. edratna says:

    Nana, tulisanmu membuatku ikut sedih. Saya saat itu di Jayapura, hari kedua mengajar sampai jam 17.30 wit dan langsung makan malam di pinggir Teluk Jayapura karena besok pagi-pagi sudah berangkat kembali ke Jakarta. Kembali ke hotel sudah jam 20.30 wit, begitu menyetel TV, langsung kaget. Merapi meletus…..saya ingat ada Sendik BRI Jogya yang terletak di Kaliurang…syukurlah tak apa-apa.

    Mengajar di Jayapura membuatku sedih, salah satu peserta berasal dari Wasior, dia selamat hanya dengan baju melekat di badan, rumah kostnya hancur. Untung saat itu sudah masuk kantor, dia terjepit pintu sehingga tak terbawa banjir lumpur.

    Tuhan Maha Besar…kadang banyak hal ajaib terjadi.
    Indonesia lagi berduka Nana…..
    Semoga kita semua tabah….dan para korban diberikan kekuatan oleh Tuhan…..

    • nanaharmanto says:

      Wah, meski miris tapi memang ajaib yang menimpa peserta dari Wasior itu, Bu… saya bayangkan, terjepit pintu, sakit tapi disyukuri karena justru karena itulah dia selamat… Bener Bu, Tuhan benar berkarya dalam keajaiban yang kadang tak terjelaskan oleh akal sehat…

      salam hangat saya, Bu..

  8. arman says:

    na… ikut senang ya denger keluarga lu baik2 aja…

    ikut berduka atas seluruh korban bencana2 alam yang belakangan ini melanda indonesia. moga2 gak akan ada bencana2 lagi ya…

    tentang reporter… yah emang begitu tuh. saking mengejar berita sampe etika dilupakan…😦
    reporter masih mending, lha itu bapak2 yang di atas yang malah seenaknya keluar negeri buat ‘studi banding’ (kayaknya sih lebih tepat studi shopping) apa gak lebih gak beretika lagi ya…

  9. monda says:

    mbak,

    aku dapat merasakan kepanikan mbak Nana sewaktu kesulitan menghubungi keluarga, bersyukur keluarga mbak Nana selamat semuanya

    dan kepada korban di Wasior, mentawai dan Merapi yang kehilangan keluarga dan harta benda simpati dan dukaku yang terdalam, hanya bisa mengirim doa semoga diberi ketabahan

    karena kita tinggal di negeri yang potensi bencana sangat tinggi semoga semua bencana alam ini mengingatkan kita untuk terus menerus meningkatkan kewaspadaan agar bisa lebih tanggap bencana

    aku juga liat reportase yg wawancara ibu yg sedang berduka itu mbak, keki banget
    para reporter itu diberi training empati kek , harusnya bisa milih2 org yg diwawancarai atau disorot
    dan udah gitu pertanyaannya dan narasinya nggak mutu

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih ya Kak… Puji Tuhan semua keluarga aman selamat..

      Tentang reportase itu, saya kadang masih jengkel kalau ingat itu Kak.. dan pertanyaan para reporteri itu sering berbelit-belit, muter-muter nggak jelas, nggak mutu banget. Dandannya aja yang kadang kelewat cantik tapi isi wawancara/reportasenya menyedihkan kualitasnya.
      kita sebagai penonton kan kepengen mendengar pendapat dan pemikiran para narasumber, eh malah dipotong sama reporternya. jadi kacau karena narasumber masih bicara, reporter itu ngomong. kacau deh, bikin risih di kuping, bikin males ngikutin acaranya…

  10. DV says:

    Na, satu hal yang ingin kuceritakan padamu…
    Ada sebegitu banyak teman buleku menyalami, bersyukur aku di sini..
    Istriku pun juga bilang ia tenang karena aku sudah ada di sini,
    tapi pada mereka aku berucap,” Melihat Merapi begitu, aku ingin pulang.. aku rindu padanya!”

  11. nelemima says:

    Sempet khawatir jg emang mbak Na, gak bisa hubungi keluarga Muntilan, hanya bisa via FB.. tapi aku lihat di TV, para pengungsi yg sakit dibawa ke RSUD Muntilan, dibuatkan pos pengungsian di Muntilan, jd dalam pikiranku: oh.. berarti Muntilan dianggap cukup aman dari jangkauan Merapi.

    Bagi orang Muntilan, yang telah mengalami “batuk”nya merapi, sepertinya tenang-tenang aja. Sekarang aku di Muntilan, bisa merasakan bagaimana deg-degan nya, ketika tahu Merapi erupsi lg dini hari td..dan abunya malah sampai Bantul, smtr Muntilan gak kena..
    Apapun keadaannya, tetep cinta dan senang tinggal di rumah sendiri…

    • nanaharmanto says:

      Iyo sempet kuatir banget waktu nggak bisa hubungi rumah.. seumur hidupku baru kali ini rumah kebagian hujan kerikil, dulu-dulu kan “hanya” ujan abu…

      Muntilan termasuk zona aman, tapi membayangkan hujan kerikil haduh….
      Muntilan dengan
      merapinya memang ngangeni banget… 🙂

  12. nh18 says:

    Mengenai Reporter ?
    Ya … memang begitu itu Na …
    Saya pernah membahasnya di sini

    http://theordinarytrainer.wordpress.com/2009/04/20/question/

    Memang memburu berita adalah wajib bagi mereka
    namun saya pikir ada cara lain yang lebih tepo seliro dari hanya sekedar mengejar berita secara membabi buta …

    Nana lihat deh …
    Biasanya setelah bertanya … mereka kadang ada yang sibuk melihat catatan, sibuk memencet handphonenya … sibuk mendengarkan instruksi yang ada di earphone kuping mereka … sibuk matanya jelalatan kian kemari … sama sekali tidak menghormati nara sumber yang setengah mati menahan duka karena terus ditanya-tanya …

    Salam saya

    • nanaharmanto says:

      Bener Om… kelakuan para reporter itu emang sering ngeselin… katanya profesional? profesional dari Hongkong?

      Aku sering sebel dan uring-uringan sendiri kalau reporter itu main potong kalimat si narasumber, padahal kita pengen dengar pendapat si narasumber..
      Kadang bahasanya mbulet nggak karuan, biar terkesan cerdas, tapi weleh… menyebalkan sangat..

  13. tutinonka says:

    Ikut gembira keluarga Nana selamat dan baik-baik saja ….

    Berita di televisi kadang-kadang memang agak dieksploitir. Kalau hanya melihat dari siaran teve, dan tidak tahu kondisi yang sebenarnya, mungkin orang mengira Yogya (dan kota-kota di sekitarnya) dalam situasi gawat darurat karena Merapi meletus. Padahal kondisi sebenarnya tidaklah demikian. Memang betul ribuan, bahkan belasan ribu, pengungsi ada di lereng Merapi, tetapi Yogya sendiri aman-aman saja. Memang sempat terkena hujan abu, tetapi tidak sampai mengganggu aktivitas masyarakat.

    Maksud saya begini, berita di televisi ada kalanya tidak proporsional. Rekaman gambar yang sama diulang-ulang, sehingga seolah situasi gawat itu berlangsung terus-menerus. Banyak wisatawan mengurungkan berkunjung ke Yogya, karena mengira Yogya tidak aman. Yang seperti ini kan merugikan. Lha wong kampus saya, UII, yang ada di Jl. Kaliurang Km 14,5 pun baik-baik saja. Malah hari Sabtu, pas ada hujan abu, kami melaksanakan wisuda.

    Tapi begitulah media. Semakin seru, semakin menyedot pemirsa. Jadi mereka berlomba-lomba mengejar berita yang sensasional, seperti mewawancarai ibu yang baru saja kematian anaknya itu …

    • nanaharmanto says:

      Iya benar Bu Tuti, media itu membuat berita seheboh mungkin supaya menyedot jumlah pemirsa. Sayangnya kadang informasi yang disampaikan tidak akurat sama sekali. Salah sebut padahal kata itu berulang kali dijadikan topik berita. Misalnya Pakem jadi Cakem, Hargobinangun jadi Harjobinangun… hmm…

      Saya masih sebel kalau ingat wawancara itu, Bu Tuti… pengen takbrakot Mbak itu…🙂

  14. Merapi cantik ketika tidur, namun tampak garang menakutkan ketika ia terbangun…

  15. almascatie says:

    yah.. syah bener2 benci sama TIVI indonesia,melihat pemberitaan mereka, duka orang dianggap seperti sinetron yang perlu didramatisir.. kimaklah!

  16. almascatie says:

    eh maaf.. salam kenal Mba..🙂

  17. HAI MEDIA!! IF YOU SMART ENOUGH, PLEASE STOP IT!

    PLEASE, HARGAILAH PERASAAN KELUARGA PARA KORBAN!!

    Denuzz suka kata-kata ini …
    media kadang juga gak bisa dipercaya … penuh hiperbola!

    Salam BURUNG HANTU

  18. Thanks for sharing us informative posts.
    You nicely summed up the issue. I would add that this doesn’t exactly concenplate often. xD Anyway, good post…

  19. radesya says:

    merapi memang indah sekaligus berbahaya… desya pernah naek ke merapi saat sma…

    semoga semua kembali normal dan tak ada korban jiwa lagi, dan semua yang kena musibah diberi ketabahan… amin….

    salam kenal…

  20. Aku terharu banyak membacanya mbak Nana dan fotonya apik tenan.
    Yach,, kita tidak akan pernah bisa menentang kekuatan alam dan Pencipta.

  21. sungguh luar biasa atas kehendak yang maha kuasa….

  22. vinza says:

    Aku turut prihatin atas derita saudara” yang ada di wilayah bncana,juga menyayangkan bagi mereka yang telah menjadi korban..

  23. Halra says:

    tahun 2010 merupakan puncaknya, letusannya dahsyat dan banyak menimbulkan kerusakan, namun alhamdulillah tidak banyak korban jiwa, semoga kita selalu siaga bencana agar bisa bertindak cepat

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s