Lor – Kidul Sih Kinasih

Dua minggu blog ini terabaikan. Rasanya energi terkuras untuk memantau berita seputar erupsi Merapi.
Seorang kawan yang tinggal jauh dari luar kota Jogja mengirimiku berita, tanpa say hello, tanpa basa-basi, seperti kebiasaannya dahulu hingga sekarang.
Na, Jogja udah aman

Begitu saja, tanpa titik atau tanda tanya, hingga tak jelas apa maunya. Hendak memberi warta afirmasi bahwa Jogja sudah aman atau bertanya sudah amankah Jogja?

Oh, well, aku baru tersadar, kawanku ini, dan mungkin banyak lagi yang lainnya yang tidak tahu persis bagaimana kondisi Jogja dan wilayah lain di sekitaran ring Merapi pasca letusan Merapi dalam 2 minggu terakhir ini.
Baiklah…baiklah….


Untuk informasi, Jogja memang daerah aman, jauh dari jangkauan letusan Merapi. Dan karena itu juga, makanya daerah kota Jogja dijadikan puluhan posko pengungsi.. jadi kawan, sedari semula Jogja memang aman, meski memang tetap kebagian hujan abu dan pasir.

Memang membuat miris pemandangan di desa-desa sekitar Merapi yang hancur luluh lantak diterjang wedhus gembel. Rumah-rumah hancur berantakan, pepohonan dan rerumputan hangus, tumbang dan meranggas. Nyaris tak ada kehidupan bertahan diamuk awan maha panas ini.
Simpati yang mendalam untuk para korban jiwa, terlebih untuk para korban selamat yang akan mengenang tragedi pedih ini untuk beberapa waktu mendatang… mugi Gusti tansah paring berkah lan pitulungan….

****

Beberapa hari terahir ini, aku jadi lebih sensitif.
Beberapa kali aku mrebes mili, melihat di TV betapa banyak relawan/relawati bersama TNI dan team SAR bahu membahu mengevakuasi warga lereng Merapi, tanpa pamrih. Ratusan  mahasiswa terjun langsung ke lapangan menjadi sukarelawan di posko pengungsian.
Warga yang lain pun tak tinggal diam, mereka bergerak sigap berpartisipasi dalam gerakan nasi bungkus untuk pengungsi. 5 nasbung tiap keluarga untuk pengungsi yang tiba-tiba bertambah berlipat ganda pasca ditetapkannya radius zona rawan bahaya Merapi menjadi 20km. Ibu-ibu PKK dan dari berbagai organisasi meluangkan waktu dan tenaga mendirikan dapur umum.
Jogja bergerak spontan. Jogja peduli.
Sangat mengharukan…
Mari melihat lebih dalam. Merapi, yang cantik sekaligus garang itu, telah memberi begitu banyak pelajaran bagi para manusia yang hidup di kakinya.
Manusia belajar berkorban..
Belajar untuk peduli pada sesamanya..
Belajar untuk saling membantu..
Belajar untuk bekerjasama..
Belajar untuk ingat (kembali) kepada Sang Pemilik Hidup..
Belajar untuk saling mendukung..
Belajar untuk pasrah..
Belajar bahwa kekuatan rakyat yang terpadu dan sepenuh hati, jelas membawa perubahan, sebuah gerakan dahsyat!
Belajar… dan belajar… semua pelajaran berharga yang akan dikenang dan diceritakan kelak kepada anak cucu…

****

Keluargaku sendiri tinggal di Muntilan, kota kecil yang sempat berubah bagai kota mati. Pasokan listrik terhenti karena tiang listrik roboh, kabel-kabel tertimpa pohon dan sebagainya. Seluruh kota tertutup abu dan pasir. Pohon bertumbangan. Roda perekonomian sempat lumpuh beberapa hari.

Keluargaku akhirnya mengungsi ke Kalasan lebih karena alasan sekunder: tidak ada listrik dan tidak ada persediaan air bersih. Hari ini, ketika kutuliskan ini, mereka telah kembali ke rumah dan langsung sibuk membersihkan abu vulkanik tebal yang mengotori seisi rumah kami..

Dengan sesekali masih diiringi suara gemuruh dari Merapi, keluargaku dan juga ribuan warga lereng Merapi terus bersemangat melanjutkan hidup, sambil terus tetap waspada akan segala sesuatu. Semoga abu itu membawa berkah melimpah!

****

Kemarin, lagi-lagi aku terharu biru mendapat SMS dari papa. Keluarga kami dari Pundong, Bantul, datang mengunjungi ke Kalasan. Mereka datang berdua berboncengan motor, membawa 2 karung beras -kira-kira 50 kg beratnya-, mie instan, gula dan teh. Bayangkan betapa repot mereka membawa semua itu.

Begitulah, rasa tepa selira, senasib sepenanggungan, solidaritas dan rasa persaudaraan masih sangat tinggi. Kerabat kami di Bantul ini begitu mengkuatirkan keluarga kami, mengingat pengalaman mereka sendiri dahulu saat harus bertahan dalam masa-masa sulit paska gempa bumi hebat yang melantakkan Bantul dan sekitarnya Mei 2006.

Membaca SMS papa membuatku sesak. Mereka datang jauh-jauh dari Bantul, menembus udara berdebu, untuk “ngaruhke” keluarga kami (meluangkan waktu untuk menyapa dan menanyakan kondisi).

Kalau saja tak berkabar bahwa keluarga kami mengamankan diri ke Kalasan, tidak mustahil mereka pun nekat memasuki Muntilan yang masih saja pekat berdebu tebal dengan jalanan licin, hanya untuk mendapati rumah kami kosong.
Dahulu, sesaat setelah gempa, keluarga kami dan ribuan penduduk dari Lor, Utara, datang mengunjungi mereka dengan membawa bantuan sekedarnya. Tanpa mengharap balasan. Kini, ketika Lor berduka karena Merapi menggelegak, mereka dari Kidul, Selatan, datang menyapa, membawa senyum dan kepedulian..

Ah, lihatlah sisi indahnya, sang Argo menyentuh mereka semua, Lor lan Kidul, Sih Kinasih Tanpo Pamrih…(Utara dan Selatan saling mengasihi dan menguatkan tanpa pamrih)

…Hanya sebuah catatan kecil sebagai ungkapan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu para korban bencana Merapi, tanpa mengecilkan arti bantuan Anda yang tinggal di Barat dan Timur….

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Lor – Kidul Sih Kinasih

  1. Ikkyu_san says:

    Na, aku tidak menonton TV. Aku lebih banyak membaca status atau catatan orang ttg keadaan Merapi, dan aku juga ikut merasakan terharu yang amat sangat akan kebersamaan mereka. Baca posting inipun membuat aku yakin Tuhan tidak akan meninggalkan umatNya.

    Di salah satu akun FB teman, ada yang memasang foto bunga mawar merah berselimutkan debu vulkanik. Meskipun berselimutkan debu, warna merah yang menyembul masih merah dan segar, cantik. Semoga manusia tetap “cantik” dalam menghadapi musibah di Merapi, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

    EM

    • nanaharmanto says:

      Aku nonton TV untuk update berita, Mbak.. tapi tetep lebih afdol baca berita di Internet dan tanya langsung ke keluarga hehe..

      Mengamini kalimat ini…
      […] Semoga manusia tetap “cantik” dalam menghadapi musibah di Merapi, dan daerah-daerah lain di Indonesia.

      semoga mereka semua dijauhkan dari tangan-tangan jahil dan nggak bertanggung jawab…

  2. arman says:

    yah untungnya masih banyak yang saling peduli ya… jadi bisa saling membantu.

    glad to hear keluarga lu gak kenapa2 na…

    semoga merapi gak meletus lagi ya dan semoga kondisi di sekitar nya bisa segera pulih kembali..

    • nanaharmanto says:

      thanks ya Arman…
      Keluargaku aman selamat… dan tetap masih harus waspada sampai sekarang🙂

      Iya, aku juga sangat berharap, kondisi ini segera membaik.. dan saudara-saudara kita itu bisa terus melanjutkan hidup..
      Well, untuk Merapi, sepertinya mustahil mengharapkan dia nggak meletus lagi..secara dia gunung berapi teraktif di dunia… harapanku, kalau suatu saat kelak dia berproses lagi, masyarakat udah lebih sigap mengamankan diri supaya nggak ada korban jiwa..

  3. DV says:

    Sing tabah..
    aku ngeliat Muntilan memang sepertinya tempat terburuk yang kena dampak ini ya?

    Ayo bangun lagi!

    • nanaharmanto says:

      Daerahku memang jadi seperti padang pasir Don… tapi masih ada yang jauh lebih mengenaskan kondisinya… desa-desa diatas desaku lebih parah lagi… kasian…

      Thanks ya Donny…

  4. riris e says:

    Sing sabar dan tetap semangat ya?!

  5. alo salam kenal mbak🙂
    tulisannya bagus. kita harus bersabar dan terus semangat walaupun bencana terus menghantam🙂
    btw tukeran link yuk😀
    ditunggu kabar baiknya ya🙂

  6. nh18 says:

    Yes Indeed …
    Utara selatan … Timur Barat …
    seyogyanya saling kasih mengasihi …
    tanpa pamrih …

    Semoga semua baik-baik saja
    Semoga semua bisa kembali normal …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Amin…amin…
      Terima kasih ya Om…
      Semoga semua bencana alam di Indonesia dan di manapun bisa dijadikan pelajaran berharga oleh orang-orang lain, saling membantu dan menguatkan tanpa pamrih..

      salam hangat selalu, Om..

  7. Nickolaus Lambe says:

    (speechless)…Selalu yakin dan percaya bahwa ada sebuah hikmat yang baik dari setiap musibah yang kita alami membuat kekuatan kita akan berlipat dalam menjalani kehidupan ini. My pray for your family, sis…

  8. edratna says:

    Nana, seminggu yang lalu saya lewat kotamu. Kota Muntilan yang tenang dan indah berubah jadi kota mati, gelap gulita, licin saat dilalui kendaraan. Tapi saya terlanjur udah confirm untuk acara di UNS hari Selasa tanggal 9 Nop 10.. sekaligus mampir Semarang mengunjungi teman karib yang terkena kanker stadium lanjut……teman2 yang lain sms kenapa mesti ke Yogya. Putra temanku, juga atasanku kuliah di UGM.. tak mau pulang walau UGM libur, bersama teman-temannya menjadi relawan.

    Tapi Na, masyarakat Indonesia sungguh baik…masyarakat bahu membahu, tanpa menunggu uluran atau instruksi dari pemerintah. Bandara Soetta penuh sesak, semua orang membawa kopor besar, dos-dos yang isinya bantuan. Teman saya langsung pesan selimut dan handuk ke pabriknya..benar, saat saya ke Yogya, di Carefour selimut dan handuk ludes.

    Kampung si mbak, yang juga di Muntilan, berantakan, banyak rumah tetangganya yang riubuh tak kuat menyangga hujan pasir dan debu. Rumah si mbak selamat tapi keluarganya tak bisa apa-apa…saya dan teman-teman iuran beli makanan, kemudian dikirim melalui kakak Tiah…saya juga menginformasikan ke Yoga, dan anak sulungku..yang mempunyai teman kelompok yang sering baksos…syukurlah akhirnya kepala kampung di Muntilan mendapat bantuan…ini kelompok yang tak mengungsi (masuk area diatas 15 km tapi masih di bawah 20 km dari Merapi)..tapi tak bisa beraktivitas.
    Sekarang pasar di Muntilan mulai buka, debu masih ada, Tiah saya telepon pagi ini (dia masih di Muntilan)..keluarga selamat, bantuan sudah datang, melalui dapur umum….dan bisa beraktivitas lagi.

    Bagaimanapun, masyarakat kita saling bahu membahu…..penjual makanan menyisihkan dagangannya, untuk dikirim ke pengungsi di posko Gelanggang Mahasiswa di UGM…ada juga posko di Gelanggang UNJ, UII dan masih-masing PT membuat posko untuk pengungsi. Semoga Merapi menjadi tenang kembali, agar masyarakat bisa beraktivitas……semoga keluarga Nana sehat semua.

    • nanaharmanto says:

      Bu Enny, membaca komentar Ibu ini membuat saya semakin ingin pulang…
      saya belum bisa melihat sendiri, hanya dari TV, foto-foto dan berita dari keluarga yang menjadi “wakil” mata saya, untuk bisa membayangkan daerah kelahiran saya itu…

      Banyak cerita pilu dan pedih yang terjadi di sekitar sana, tapi saya berharap semoga saja Muntilan dan wilayah ring Merapi segera bangkit kembali…

      Saya mendengar, justru penduduk yang tidak mengungsi mengalami kelaparan karena ketiadaan bahan pangan, waktu minta di posko, malah dikira orang yang mau aji mumpung, padahal mereka benar-benar butuh… kasian…
      ikut lega keluarga si Mbak aman selamat ya Bu…

      salam hangat…

      • edratna says:

        Jika ada waktu sempatkan pulang, Nana…
        Masyarakat kita baik sekali kok…jadi yang terisolir di kampung, yang rumahnya jadi penampungan akhirnya tertangani, atas bantuan teman-teman blogger, juga komunitas anakku.

        Sekarang Muntilan sudah bebenah Nana…..berita dari Tiah yang masih di Muntilan, dan akan kembali ke jakarta hari Kamis sore ini.

  9. yustha tt says:

    ya mb…aku yg di sini pun merasakan haru yg sangat ketika semua keluarga di lingkungan kost mengumpulkan nasi bungkus ke pak RW untuk disumbangkan ke pengungsi…

    Lor-Kidul Sih Kinasih
    dan saling terkait

    Merapi-Bantul

    Ah…semua kita semoga tinggi kepekaan sosialnya ya mb…

    • nanaharmanto says:

      Aku juga terharu melihat betapa masyarakat kita cepat tanggap, spontan dan tanpa pamrih.. jauh lebih cepat tanggap daripada pemerintah kurasa…

      Semoga bencana alam ini, dan seluruh respons positif dari masyarakat menjadi cermin bagi pemerintah kita yang kadang terlalu sering rapat tapi tindakan nyata malah “terlambat”..

  10. ikut bahagia mendengar kabar keluarga Mbak Nana , baik2 saja🙂

    kita masih saja bersyukur ya Mbak, masih banyak yg peduli pd penderitaan saudara2 kita di sana .
    salam

  11. exty says:

    benar mba, aku juga sebenarnya mau pulang tapi tidak bisa. dan benar juga merapi memang lagi menegur kita yang mulai angkuh dengan begini akhirnya banyak orang sadar dan mau tolong menolong, berbagi dan saling mengasihi

    • nanaharmanto says:

      Bapak Ibu sehat-sehat kan?
      Semoga semua lekas pulih kembali ya, supaya mereka semua bisa kembali melanjutkan hidup…

      • exty says:

        Puji Tuhan sehat, keluarga mba juga sehat kan? iya mba semoga kembali normal, sudah satu bulan lebih bapak ibuku dan tetangga pada bolak balik pengungsian dan rumah pastinya capek badan, pikiran dan hati.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s