Natal

Natal telah tiba!!


Natal yang dirindukan, Natal yang dinanti-nantikan telah datang.
Begitulah kegembiraanku menyambut Natal sama seperti saat aku masih kecil. Natal dalam kenangan masa kecilku selalu membuatku bersemangat. Gereja dihias semarak, dengan misa malam Natal yang megah agung dan diiringi koor istimewa yang telah berlatih serius beberapa bulan sebelumnya.

Dan yang lebih asyik lagi, di hari istimewa itu kami berempat mendapat baju baru.

Dua – tiga minggu sebelum Natal Mama membeli bahan kain yang bagus, lalu kami akan diantar ke penjahit langganan kami. Di sana kami diukur. Mama yang menggambar sketsa model baju kami, dan mama yang berdiskusi dengan sang penjahit. Biasanya, model untuk bajuku dan kakakku sama persis. Hanya saja ukuran kakakku lebih besar. Untuk adikku nomer tiga dan empat, modelnya berbeda meski dengan bahan baju yang sama.
Meskipun tidak selalu, beberapa kali kami juga mendapat sepatu baru, sepatu khusus untuk ke Gereja. Kadang-kadang sepatu kami masih bagus, tapi sayang tak muat lagi, sehingga sepatu itu terpaksa dilungsurkan pada adik kami. Aha… anak-anak memang bertumbuh!
Untuk urusan sepatu, papa-lah yang mengantar kami membeli sepatu. Papa memboncengkan kami ke kota, lalu kami pun diantar papa ke toko sepatu. Dengan sabar papa menemani kami, mencoba sepatu, memilihkan beberapa model sepatu, berpindah dari toko satu ke toko yang lain, bahkan kembali lagi ke toko sebelumnya, dan memberikan keputusan terakhir pada kami untuk memilih yang mana yang kami sukai. Selesai memilih sepatu, saatnya memilih kaos kaki baru. Kaus kaki berenda menjadi pilihan untuk dipadukan dengan sepatu yang kami pakai ke gereja.
Rasanya berbunga-bunga sekeluarnya dari toko dengan menenteng tas plastik berisi sepatu baru kami, plus bonus kalender baru.. hmmm… sepatuku baru!!

Lalu mendekati hari Natal, kami mulai menghias pohon Natal. Senang sekali rasanya bersama keluarga menghias pohon Natal. Menurutku, mamalah yang paling jago menghias pohon Natal. Apapun yang dipasangnya selalu apik terlihat dan serasi. Mama pulalah yang jeli melihat bagian-bagian yang kosong lalu menambahnya dengan ornamen-ornamen Natal.
Selain pohon Natal, kami juga seringkali membuat kandang atau gua
Natal. Kami menggunakan koran dan kertas bekas sak semen sebagai gua. Kertas itu diremas-remas hingga berbentuk gumpalan, lalu diurai lagi menjadi lembaran yang kusut. Lembaran kusut itulah yang dibentuk menjadi gua, bahkan dengan stalaktit yang menggantung. Setelah terbentuk gua, lalu dinding gua itu dicat. Kami alasi dengan jerami atau kertas owol-owolan. (apa ya namanya, itu lho kertas yang dipotong-potong memanjang seperti bakmi, biasanya digunakan untuk menyumpal barang supaya nggak terguncang dan melindungi dari benturan).

Ah, aku ingat papa pernah membuat gua dari kuali bekas yang sudah pecah. Kuali itu ditelengkupkan dan dihiasi sedemikian rupa, menjadi gua yang unik. Setiap tamu yang datang berkomentar, betapa gua itu unik, lain daripada yang lain.
Setelah gua atau kandang itu jadi, Kemudian patung Maria dan Joseph ditempatkan di situ. Berikut gembala dan kambing, sapi dan keledai. Sampai malam Natal, patung bayi Yesus belum ditempatkan di palungannya.

****

Berapa jerami-mu?

Suatu saat, nenekku yang nyentrik itu memberi sebuah ide. Disuruhnya aku mencari jerami di kandang kerbau milik tetanggaku. Dipotongnya jerami itu menjadi potongan pendek (3cm) dan panjang (5cm). Selama masa Advent, 4 minggu menjelang Natal, kami diminta untuk mengambil satu jerami panjang untuk setiap kenakalan kami. Lalu jerami pendek untuk setiap perbuatan baik dan nilai bagus di kelas. Jerami-jerami itu akan dihitung dan semuanya akan dimasukkan di palungan tempat tidur patung bayi Yesus. Kata nenekku, jerami yang terlalu panjang akan “nylekit” dan menusuk-nusuk, membuat bayi Yesus tak nyaman dalam tidurnya.

Oh oh… aku tak suka ide itu! Sebab waktu aku kecil aku bandel sekali. Aku malu, karena jerami panjangku pasti akan lebih banyak! Dan menghitungnya di depan gua di malam Natal?? addduuuuhhh….
Nakalnya aku. Karena aku lebih sering “lupa” mengambil jerami panjang. Aku lebih suka mengambil jerami pendek hihi..🙂

Kini setelah dewasa, aku sadar, ide jerami itu sebenarnya ide yang brillian untuk mendorong kami anak-anak kecil agar lebih banyak berbuat baik, dan dengan jujur..

****

Malam Natal
Malam Natal tiba. Seharian kami was-was bila hujan tak kunjung berhenti. Tapi anehnya, meski sedari pagi hingga siang hujan, sorenya langit biasanya cerah. Berita bagus untuk kami yang ingin berangkat ke gereja untuk misa malam Natal. Dengan hati-hati kami berjalan bersama di jalanan yang buruk dan becek karena hujan. Tak jarang kami harus meloncat menghindari genangan air kotor, supaya selamatlah sepatu kami. Kadang kami harus mengangkat rok kami tingi-tinggi supaya tak kotor terkena air dan lumpur. Kami buru-buru menghindari bila terdengar suara motor mendekat, karena takut terciprat.
Kami harus membawa senter sebagai penerangan kami, karena jalanan sangat gelap. Mengandalkan ingatan pada saat hari siang, di mana saja kubangan-kubangan berada, kami harus berkonsentrasi di jalanan tanah becek itu. Sedikit berlega ketika sampai di jalan beraspal. Tapi itupun tak mengurangi kewaspadaan kami, karena di jalanan aspal masih ada juga “ranjau darat” dari kerbau-kerbau yang rutin melintas di situ untuk digiring ke lapangan dekat gereja. Jangan sampai kami menginjaknya, bisa rusak malam kami!
Seru juga mengenang saat itu, ketika salah seorang dari kami mendapati ranjau darat itu lalu berteriak memperingatkan yang lain, “Awas, tlethong!” lalu si pembawa senter akan menyorot ranjau itu agar semua orang melihatnya lalu menghindarinya. Hihihi…

Sepulang dari misa malam Natal, kami akan duduk-duduk di sekitar pohon Natal yang berkelap kelip, memandangi kado-kado yang bertebaran di sekitar pohon Natal, sibuk mengira-ngira akan dapat kado apa Natal tahun ini?.
Mama akan menyiapkan susu coklat hangat dan kue-kue untuk kami.

Setelah itu kami berdoa bersama. Papa yang memimpin doa bersama kami. Sampai sekarang ini, memang papalah yang paling jago memimpin doa. Dilanjutkan dengan menyanyi bersama. Inilah saat-saat yang kukangeni. Nyanyi bareng! Saudari-saudariku jago menyanyikan nada pertama dan kedua. Spontan saja berbagai nada keluar. Kadang serasi, harmonis, lebih sering kacau dan membuat kami terbahak-bahak. Kami juga menyanyi berdasarkan pembagian suara yang pernah kami ikuti dalam koor di lingkungan kami. Dengan papa sebagai Bass, aku dan adikku Sopran, mama dan kakak di Alto, tanpa partitur, tapi toh kami nekat juga menyanyi. Baris satu biasanya lancar. Masuk baris kedua dan ketiga, kekacauan terjadi, masing-masing menyanyi menurut ingatan sendiri-sendiri. Dengan berbagai suara, baris lagu kedua dan ketiga tercampur, lalu kami spontan terbahak karena betapa ngawurnya paduan keluarga de Hars itu. Mungkin tetangga kami berpikir, betapa tak sopannya kami terbahak-bahak di tengah malam begitu. Ah, kangen semua itu!

****

 

Itulah salah satu kebiasaan Natal kami yang diwariskan nenekku. Dialah yang paling getol menjadikan Natal begitu istimewa dengan berkumpulnya seluruh keluarga dan menghadiahi kami dengan banyak kado-kado. Kado silang dengan undian pun hasil idenya. Sampai sekarang, meski nenekku sudah meninggal, kebiasaan malam Natal itu tetap terus berlangsung. Sayang Natal kali ini aku tak pulang, aku melewatkan malam Natal indah tahun ini, tapi semoga saja, Natal tahun depan aku bisa pulang dan merayakannya dengan keluargaku tercinta.
Aku ingin melakukannya pula di tengah keluargaku sendiri untuk seterusnya nanti, sesuatu yang baik tak ada salahnya dipertahankan, bukan?

Christmas wreath/ krans Natal

 

 

“SELAMAT NATAL 2010 dan TAHUN BARU 2011”

Damai sejahtera besertamu senantiasa! Tuhan berkati..

****

note: gambar kupinjam dari sini.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Hati, Golden Moments and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Natal

  1. nh18 says:

    Semoga Nana Sekeluarga selalu diliputi suka cita dan kebahagiaan

    salam saya Nana

  2. arman says:

    selamat natal ya na!!
    natal emang sangat istimewa ya terutama kalo kita habiskan bersama keluarga…🙂

    btw gua juga nulis yang mirip2 begini nih tentang tradisi natal. kok bisa pas-pas-an ide tulisannya sama ya. hahaha.

  3. Ikkyu_san says:

    Selamat Natal ya Na…
    senang sekali baca kebiasaan jaman dulu….
    meskipun tidak banyak kejadian yang bisa diceritakan,
    Natal memang waktu khusus untuk keluarga

    EM

  4. edratna says:

    Senangnya membaca cerita Nana, saat merayakan Natal bersama keluarga
    Selamat Hari Natal, Nana
    Semoga keluarga Nana dalam keadaan sehat, sejahtera dan berbahagia.
    Semoga kita bisa menerima perbedaan sebagai bagian kehidupan kita yang indah, serta bersatu untuk satu tujuan yang mulia….

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih, Bu Enny..
      Rasanya adem membaca komentar Ibu ini… semoga semakin banyak orang yang bersedia menerima perbedaaan (apa pun itu) dan menjadikannya sebagai kekayaan…
      Matur nuwun, sanget, Bu Enny..

      salam hangat selalu..

  5. Meskipun datang ke sini pada tanggal 26 Desember, tak ada salahnya jika Denuzz tetap mengucapkan:

    “Selamat Hari Natal dan Tahun Baru 2011”😀

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

  6. monda says:

    Selamat hari natal, mbak Nana, mudah2an tahun depan bisa Natalan di Muntilan dan nyanyi bareng sekeluarga lagi. Seru banget ya..

  7. met natal ya sis🙂
    salam kenal juga🙂

  8. The Maniac says:

    Selamat pagi, Kawan. Semoga kita selalu mendapat berkah keselamatan.
    Salam kenal dari saya, dan ijinkan saya membaca dan menyerap ilmu yang Kawan berikan di sini.

    Salam hangat😀

  9. landaknjegrak says:

    hahahahaha…
    sumpeee,,ngakak guling2 aq baca yg bagian “tlethong”..
    hahahaha…
    lucu skaligus mengharukan juga ya masa kecil kita…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s