Kalender

Semua orang pasti mengenal kalender. Banyak istilah untuk menyebutnya. Tanggalan, penanggalan, calendar, dan almanak. Kalender adalah sebuah cara atau sistem yang digunakan untuk menandai waktu dari yang terkecil: hari, minggu, bulan dan tahun.

Dalam seminggu ada 7 hari, dalam 1 bulan ada 30 hari, dalam 1 tahun ada 12 bulan atau 365 hari.

Aku sendiri belajar membaca kalender saat aku masih TK. Seingatku mamalah yang mengajariku membaca angka-angka berderet itu. Aku belum bisa membaca huruf waktu itu, tapi aku sudah mengenal angka. Jadi mama menunjukkan, kata di deret paling atas adalah nama hari. Lihat saja nama hari yang berwarna merah, itu artinya hari Minggu, hari-hari berikutnya adalah Senin, Selasa, Rabu dan seterusnya.

Mama menunjuk satu angka di bawah nama berwarna merah.

“Ini kemarin, hari Minggu, karena kemarin kita ke gereja. Kemarin tanggal 3. berarti sekarang hari Senin, tanggal 4. Jadi besok hari Selasa, tanggal 5…”. Mama menunjuk kalender itu dengan telunjuknya.

“Setiap hari berganti, tanggal ini maju, tidak bisa mundur lagi…”. Aku manggut-manggut.

Setelah itu, mama juga menjelaskan tanggal merah bukan di hari Minggu artinya libur, mama dan papa tidak perlu bekerja hari itu. Setelah itu aku rajin mengamati kalender. Selayaknya anak kecil, aku menguji pada mama atau nenekku apakah aku benar menentukan tanggal dan hari tertentu. Adakalanya aku salah..  hehehe…

****

Lalu umurku bertambah. Aku mulai tahu bahwa ulang tahunku hanya dirayakan setahun sekali. Aku tahu, ulang tahunku jatuh di bulan 5. Aku diberitahu, ulang tahunku jatuh di hari terakhir bulan itu. Aku tersenyum-senyum saat kuingat betapa aku sibuk setiap hari menghitung berapa lama lagi aku akan berulang tahun! Lamanyaaaa!!!

Ada kalanya hitunganku berhenti di angka terahkir yang bisa kusebut. Begitu mandeg, aku berlari mendapatkan nenekku atau mama, menanyakan angka-angka berikut yang harus kusebut.🙂

Nenekku pernah bilang, padaku, sebenarnya tak perlu menghitung ulang tahunku, karena tanggal dan hari itu pasti akan datang, tak mungkin hilang dari penanggalan. Huuuu….nenekku nggak tau ya, menghitung  hari ulang tahun itu mengasyikkan!

Aku juga senang setiap kali aku boleh membalik lembar kalender saat bulan berakhir dan memulai lagi dengan bulan baru, artinya gambar baru!

Setiap akhir tahun dan kami mendapat kalender baru, aku selalu antusias melihat gambar-gambar cantiknya.

Lalu yang wajib: menghitung tanggal merah/libur selama setahun ke depan hehehehe…

Tahun 2011 ini, ada 9 hari kerja bertanggal merah, 2 hari Sabtu bertanggal merah, dan 3 tanggal merah yang jatuh di hari Minggu. Total 14 hari bertanggal merah. Silakan cek, mungkin saja aku keliru. 🙂

****

Suatu ketika, di rumah emakku, aku mendapati kalender yang aneh. Kalender itu tebal sekali, bergantung pada lempeng logam berwarna merah menyala. Tanggal berwarna hijau tertulis besar-besar. Aku bertanya pada papa, dan papa menjawab, bahwa kalender itu harus dirobek setiap hari. Haaa?? Setiap hari? Bagaimana kalau lupa?

Hihihi… kupikir saat itu, kalau kalender itu terlupa dirobek, maka waktu akan berhenti di rumah emakku. Aku belum paham bahwa bukan kalender lah yang menentukan hari-hari berganti dan bulan-bulan berlalu…

Saat aku menginap di rumah emakku, kulihat Oomku hendak merobek selembar kalender tebal itu. Diijinkannya aku merobek kalender itu. Bret! Dan bret!

“Lho, satu aja, Na..”, begitu tegur Oom-ku. “Yang ini baru besok boleh dirobek”, sambungnya. Lalu ditempelnya kalender yang robek itu dengan karet hihihi…

Sedari dulu kala, kalender umumnya bergambar pemandangan indah: pegunungan, danau, pantai, sunset, dan pepohonan. Ada pula yang bergambar bunga dan buah: mawar, anggrek, tulip, bunga matahari, semangka, anggur dan apel. Lalu gambar binatang: anjing, kuda dan kucing. Satu lagi: gambar artis!

Sedari dulu, aku tak suka pada gambar artis, menurutku, mata artis itu seolah mengawasi setiap gerak gerik yang kubuat. Aku bergeser ke kanan dan ke kiri, matanya tetap mengikuti. Aku maju mundur, dia tetap melotot. Aku sembunyi lalu muncul pelan-pelan, matanya tetap tertuju padaku. Huh!!

Kadang malah imaginasiku yang membuatku ketakutan di waktu aku sendirian. Artis itu jadi terlihat bengis meski dia tersenyum! Aku pernah mengeluhkan hal itu. Dan rupanya, nenekku pun tak suka pada gambar artis. Biasanya, digantinya gambar artis itu dengan gambar yang lain dari kalender tahun lalu.

Aku ingat, nenekku selalu menutup gambar artis itu dengan gambar buah-buahan, atau gambar bunga atau binatang.

Nenekku itu tak pernah suka pada artis, juga alergi pada dangdut. Saat mendapati kalender bergambar artis dangdut, ditutupinya gambar artis itu dengan gambar pemandangan.🙂

Tapi toh tetap dipasangnya juga sebuah kalender bekas, -dipotong tanggalnya, menyisakan gambar artis dangdut era 70an- di kamar pembantuku, supaya tetap ada “hiasan” di kamar itu. Berbilang belasan tahun gambar itu tertempel di sana. Hingga beberapa kali ganti pembantu, gambar itu masih tertempel di sana.

Suatu hari, pacarku berkunjung ke rumahku, dan kebetulan masuk ke kamar itu yang sekarang beralih fungsi menjadi kamar untuk menyimpan peralatan dapur dan kulkas.

Terkekeh-kekeh ia melihat gambar seorang laki-laki berambut agak gondrong, dengan kemeja ketat berwarna pink, celana cutbray dan sepatu putih. Trendy di jamannya pasti. Posenya pun, astaga, dangdut sangat!

“Walah, ini kok ada gambar A Raf** di situ?”.

“Ha? Siapa dia?”, tanyaku bengong.

“Lho, itu kan penyanyi dangdut terkenal… bla..bla..bla..”.

Wedeww… maap… selama ada nenekku, tak ada tempat untuk dangdut di rumah…  setuwir itu baru aku tahu, pernah ada artis dangdut terkenal bernama A Raf**..  Mau tak mau aku tersenyum-senyum saat melihat artis senior itu menjadi berita di TV hihi beberapa waktu lalu, ingat pose jaman mudanya *halah….

Ternyata, saat kalender bergambar  artis tersebut masih berlaku, nenekku menutupinya dengan gambar lain.

Bahkan pernah pula nenekku menutup foto artis dengan gambar kucing imut yang lucu…  Hehehe…

****

Di rumah para tetanggaku, kalender dipakai sebagai salah satu hiasan dinding, semakin mencolok kalender itu, semakin banyak, semakin top!

Di salah satu rumah makan soto yang terkenal di Yogyakarta, seluruh dindingnya ditempeli kalender dengan aneka rupa gambar. Pernah aku iseng menghitungnya, ada lebih 50  kalender tergantung. Ada yang bulannya telah berlalu, ada yang masih tetap bulan Januari dan Februari meski saat itu sudah Juni. Aku berpikir, buat apa kalender sebanyak itu dipasang?

Lalu sadarlah aku, kalender-kalender itu “membawa” nama bermacam-macam toko. Mulai dari toko emas, toko arloji, toko besi, hingga rumah makan dan masih banyak lagi.. hmm…. toko-toko itu “menumpang promosi secara gratis” di warung makan yang terkenal banyak pelanggannya..

****

Sedari dulu, di rumahku selalu berlimpah kalender. Aneka rupa, dari yang hanya 1 bulan dalam satu lembar, hingga 4 bulan dalam satu lembar dengan gambar cantik. Mulai dari kalender eksklusif, hingga kalender dengan kertas biasa. Bahkan saat bulan masih November, cadangan kalender tahun depan sudah ada. Kantor papa dan sekolah tempat mama mengajar pasti membuat kalender, jadi minimal 2 kalender di rumah. Belum lagi bonus dari berbagai macam toko, dari gereja dan pemberian kerabat. Banyak!

Setelah menikah, aku kelimpungan, karena aku tak pernah punya kalender di awal tahun. Dulu di rumah aku tak perlu pusing memikirkan kalender, setelah menikah, dan tinggal di rumah sendiri hohoho… jarang sekali aku mendapat kalender. Bulan Februari atau Maret, barulah kudapat kalender baru …

Tahun baru ini, untuk kelima kalinya, aku belum punya kalender baru. 4 hari lalu, aku mendapat sebuah kalender, bonus dari sebuah toko. Akhirnya! Setelah kubuka, gubrak! Foto artis!!

Yaelahh….

Okelah, daripada nggak ada sama sekali….

Untuk mengakalinya, kututup gambar artis itu dengan pigura foto prewedding-ku hihi…

****

Nah, punya kisah unik dengan kalender?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

39 Responses to Kalender

  1. Ikkyu_san says:

    manis sekali cerita kamu ttg kalender. Meskipun topiknya sama, setiap orang bisa menuliskan dengan rasa yang lain.
    Aku juga pernah 2 kali menulis ttg kalender di :
    http://imelda.coutrier.com/2008/12/03/kalender-dan-istri/

    dan di
    http://imelda.coutrier.com/2009/12/31/dan-dia-teronggok-di-tempat-sampah/

    aku masih ada PR menjelaskan penanggalan Jepang yang hanya 5 hari seminggu, seperti hari pasar nya Jawa…..

    EM

    • nanaharmanto says:

      *meluncur…
      trimakasih Mbak..
      Aku baru tau di Jepang penanggalan hanya 5 hari.. trus dalam satu tahun ada berapa hari Mbak?
      kayaknya asyik tuh untuk ditulis di TE, Mbak… hehehe..

    • edratna says:

      Baca artikel Imel sesuai catatan di atas, jadi baca lagi komentarku….bagaimana jika EM buat kalender dengan catatan hari perayaan di Jepang, seperti hari kalender dan hari-hari lain….kayaknya setiap hari ada makna nya di Jepang.

  2. arman says:

    bokap gua tuh yang suka masang kalender. dimana2 ada kalender. mau di tembok mau di meja. mau yang bulanan atau yang harian yang harus disobek itu. hehehe.

    kalo gua, gak suka ngeliatin kalender nempel2 di tembok. entah kenapa, gak suka aja ngeliat tembok ditempel2in kalender.😛

    jadi setelah punya rumah sendiri, gak ada dah kalender nempel di tembok. cuma ada kalender meja aja.😀

    btw ada restoran di medan (gua lupa namanya tapi) juga gitu tuh, temboknya penuhhh kalender!😀

    • nanaharmanto says:

      Kalau kuingat-ingat, aku juga jarang nempel/gantungin kalender di dinding.
      Biasanya kugantung di balik pintu (maklum rumah kontrakan gak berani sembarangan pasang paku) atau pake kalender meja.. emang kadang kalender gantung gitu nggak pas dengan design interior rumah kita.. rumah kita simpel dan minimalis, kalendernya ngejreng tralala…. ya nggak cocok hehehe…

      Mungkin emang restoran laris jadi ajang promosi gratis kali ya… hahaha… 🙂

  3. anis says:

    Anis dulu paling suka menginspeksi semua gambar kalender yang baru terpasang mb, seru aja rasanya tahu duluan😀
    Sekarang sih gak gitu lagi, malahan suka lupa mbalikin kalender ketika bulannya habis, he33

    Yang parah sewaktu Anis praktek ngajar dan hanya berbekal kalender HP (maklum anak kosan ‘miskin’ kalender mb, hahaha). Suatu ketika waktu menyerahkan rencana pembelajaran Anis ditegur guru pamong karena Anis bikin rencana pembelajaran untuk hari yang bertanggal merah alias libur! Setelah malu-malu sedikit Anis ngeles juga, habis di HP tanggalnya item semua pak😀

    Unforgettable itu mb na🙂

    • nanaharmanto says:

      hahahaha….ngebayangin wajah Anis waktu malu-malu gitu hihihi…. pasti nggak terlupakan tuh 🙂

      Eh, sama ya, dulu waktu kecil suka membalik-balik lembaran kalender yang gambarnya bagus-bagus hehe… kadang suka bengong ngeliat pemandangn indah di luar negri: sakura berbunga di Jepang, padang tulip di Belanda dsb… kereeennn…. sambil ngimpi suatu saat bakal bisa ke sana hehehe…

  4. nh18 says:

    Kalender ?
    Hmmm …
    Saya tidak menemukan cerita khusus tentang kalender …

    namun yang jelas …
    Ketika saya SMA/Kuliah …
    Saya betah nongkrong lama-lama di penjual kalender Kaki lima …

    Bukan … bukan untuk membeli …

    Hanya untuk melihat-lihat gambar kalender saja …

    (*ya … termasuk pakaian yang “two pieces” ituh ….)

    (Pake bikini kok di foto studio …)

    hahahahaha

    Salam saya

    • edratna says:

      Membayangkan om NH nongkrong di depan penjual kalender..pasti lihat yang b***l ya?

    • nanaharmanto says:

      hahahahahaha…. ngakak abiss…
      ngebayangin Om Nh msh muda dan melihat-lihat kalender gambar bikini hihihi…
      Pasti penjualnya sewot… huh, anak mude inih…. beli kagaakkk, ngeliatin demen banget… tiap ari lagi.. 🙂

      hahahaha…

      salam, Om…

  5. edratna says:

    Nana,
    Ide cerita yang sederhana, tapi di tangan Nana menjadi cerita mengalir yang indah, membuat kita mengenang ke masa yang lalu.
    Saya tak terlalu hafal tentang cerita kalender masa kecil, karena ayah ibu Guru, liburnya barengan dengan anak sekolah, dan tak tergantung tanggal merah.

    Saya baru memperhatikan tanggal merah di kalender saat bekerja, karena cutinya hanya 12 hari kerja selama setahun…jadi merencanakan cuti jauh hari. Dan seneng sekali mendapat kalender pertama dari kantor, dibawa pulang dan dipasang di rumah. Saya melihat wajah ayah ibu ber seri-seri..apalagi setelah adikku juga diterima kerja…jadi kalender di rumah berasal dari kalender kantor anak-anak ayah ibu.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih apresiasinya ya Bu Enny..
      ah ya, bener Bu, kalender yang bercetak kantor atau perusahaan tempat anak/mantu bekerja memang membuat orang tua bangga juga, apalgi kalau dilihat tamu yang datang…🙂

      Saya termasuk orang yang “tergantung” pada kalender… terutama sejak menikah.. hehehe…
      Waktu kera juga gitu, di meja kerja harus ada kalender meja, di situ saya corat coret sesuka saya. yang nyebelin emang kalender saya itu suka dipinjam tanpa ijin, tau-tau udah nongkrong di meja lain… 🙂

  6. krismariana says:

    aku sempat membeli kalender tahun ini karena khawatir tidak mendapatkan kalender pas di hari pertama Januari. aku membayangkan, aneh deh kalau tidak bisa melihat kalender. aku membelinya di akhir bulan november. e, lha kok setelah itu aku malah dapat bbrp kalender. hehe

    • nanaharmanto says:

      Iya ya sebenernya rada aneh rasanya pas tanggal 1 Januari tapi nggak liat kalender baru… 🙂
      Aku biasanya mengandalkan kalender gratisan..hihihi… kadang yang bagus dapetnya baru di bulan Februari or Maret.. 🙂

  7. magda says:

    dari kecil sampe sekarang, tiap awal tahun aku cek tanggal merahnya dalam setahun.. dari jadi murid sampai jadi guru, suka libur.. cerita kalendar yang masih kuingat, waktu di pasar ngantar ibu belanja, ada penjual kalendar yg menjajakan dagangannya ‘bu, kalendar murah bu.. cuma 3000 bisa buat 1 tahun..’ iya juga ya.. ga mungkin basi sebelu 1 tahun.. dasar mas2 penjualnya kreatif juga..

  8. septarius says:

    ..
    sama kayak om Nh, dulu saat ABG saya suka ngelihatin kalender victoria’s secret.. hi..hi..
    ..
    tentang kalender berkesan, pas waktu kecil selalu dapat kalender dari majalah berbahasa jawa langganan Dady..
    disitu gak ada gambar, cuman angka..
    tapi kelebihannya ada ramalannya, petunjuk hari baik atau hari pantangan..
    meski gak percaya ramalan tapi asik aja bacanya.. ^^
    ..

    • nanaharmanto says:

      Haayyaaaahhh….. kayaknya Ata cocok nih sama Om NH…🙂

      kalender berbahasa jawa? hmm… kayaknya aku belum pernah liat deh… ada ramalan, hari baik dan hari pantangan? wah… kok kayak primbon ya.. hihihi…🙂

  9. Kalender gambar artis… Hehe…
    Inget jaman dulu…
    Waktu jamannya pemilu, di rumah bejibun kalender gambar calon pejabat…😀

    Salam sayang dari BURUNG HANTU… Cuit… Cuit… Cuit…

    • nanaharmanto says:

      hehehe…. gambar artis di rumahku nggak laku, apalagi gambar calon pejabat… kalau kuingat-ingat kayaknya belum pernah dapet deh kalender bergambar foto pejabat. kalau ada pun pasti ditutupin gambar laen hehehe…

  10. awal mula says:

    kalender oh kalender..
    habis manis sepah dibuang.. keknya pantes tuh untuk kalender🙂

  11. MeyBengkulen says:

    hihihi jd lucu sdiri. bner bgt kadang nemuin rumah yg majangin kalender tahun bahela alesannya yg penting gambar idolanya terpajang trs. hehe

    salam kenal mb nana

    mhon do’a jg atas kabar duka di http://kakmila.wordpress.com/2011/01/04/semangat-sembuh-untuk-sausan/

    • nanaharmanto says:

      Sekarang masih ada aja yg masang kalender dari jaman eyang buyut masih ngunyah sirih… hihi.. katanya sih karena nge-fans sama artis tertentu.
      Tapi untuk rumah-rumah modern dan minimalis kayaknya jarang bgt yang pasang kalender dengan gambar norak deh.. 🙂

      SAlam kenal juga ya Mbak Mey… *meluncur…

  12. monda says:

    yah… aku baru ingat belum punya kalender 2011, paraaah…

  13. zee says:

    Mbak,

    Kalau keluargaku syukurlah gak doyan kalender dengan gambar penyanyi, kita lebih prefer pemandangan. Tapi kayaknya jaman dulu itu banyak sekali memang model kalender ya hahaha.. entah karena dulu jamannya begitu atau memang model kalender selalu diminati?

    AKu suka dengan cara mama mu mengajarkan tanggal. Mau aku terapkan juga ah untuk Vay🙂

    • nanaharmanto says:

      Jaman kita kecil dulu emang banyak model kalender ya.. dari yang berbusana lengkap, kebaya hingga yang keliatan perut, dan…. bikini.. hehe…

      Dulu paling sering dapat gambar pemandangan luar negri.. indah-indah semua… dengan keterangan negara/tempat tersebut dicetak kecil2 banget di bawah gambar🙂

  14. tutinonka says:

    Di rumah saya, kalender selalu berlimpah, sampai-sampai tidak ada tempat lagi untuk memasangnya. Kalender itu datang dari mana-mana, khususnya relasi bisnis suami saya. Kalender yang bagus-bagus biasanya dari bank. Dulu ada Bank Bumi Daya yang kalendernya selalu saya simpan, karena biasanya berisi lukisan yang bagus-bagus, repro dari pelukis-pelukis ternama. Kadang lukisan itu saya potong, terus saya beri pigura. Lumayaan …

    Untuk kalender yang setiap hari harus selalu dirobek, sampai sekarang saya belum paham apa kelebihannya. Kalau kita lupa merobek, dan ingin tahu hari ini tanggal berapa, bagaimana caranya?

    Ohya, di rumah saya kalender sering kali sampai lewat berbulan-bulan belum dibalik. Sudah bulan Agustus, kalendernya masih bulan April saja … hihi …

    • nanaharmanto says:

      wawww… kalender melimpah? di rumah saya skrg kurang-kurang hehe 🙂
      Iya bener, Bu Tuti, kalender dari bank-bank ternama biasanya bagus2 dan eksklusif.. gambar-gambarnya cantik2, sayang untuk dibuang hehehe…

      Untuk kalender yang tiap hari dirobek itu, kalau terlupa merobeknya hehe… ngintip kalender lain dulu hihihi… *usul yang aneh…*

  15. DV says:

    Kisah kalendar yang paling unik bagiku adalah, waktu SMP, pas lagi nakal-nakalnya, aku beli kalendar porno di depot koran terminal.

    Dari sana, aku langsung masuk kamar dan motongin gambar foto-foto telanjangnya lalu mengklip kalender yang sudah tanpa gambar itu jadi satu.

    Sorenya, Mama tanya “Don, kok ada tanggalan guntingan, kamu yang beli?”
    Aku bilang “Ngga beli, aku ambil di sekolah trus karena fotonya jelek kupotongin dan jadiin satu… barangkali Mama mau pake?”

    Dan aku berbohong lagi dan lagi…🙂

    Menarik ra critaku? hehehehe

  16. vizon says:

    Selama beberapa tahun belakangan ini, kalender justru membantu perekonomian keluargaku. Apa pasal? Karena aku punya bisnis sampingan cetak mencetak kalender, hehehe…🙂

  17. Clara Croft says:

    Tahun lalu, di meja kerjaku ada 3 kalender Mba Naaa.. hahaha.. jadi kalo mau hitung bulan berikut dan bulan sebelum ga repot bolak balik gitu, xixi.. kebanyakan dapet hadiah kalender.. tahun ini malah sepi.. baru dapet 1 dari kantor😦

    Aku juga suka membalik kalender waktu kecil.. tapi udah lupa kapan belajar bacanya.. kayanya dong nya pas udah besar, jadi kesannya ga terlalu lengket Mba Na :p

  18. Sahabat tercinta,
    Dengan hormat saya mengundang anda untuk mengikuti Kontes Unggulan Cermin Berhikmah (K.U.C.B).
    Sahabat hanya diajak untuk membuat sebuah cerita fiksi mini dan menuliskan hikmah atau pelajaran yang dapat dipetik dari cerita yang telah anda tulis. Setelah itu daftarkan artikel tersebut diblog saya – New BlogCamp –

    Hadiahnya sih tidak seberapa tetapi begitu selesai mendaftarkan artikel, anda akan merasakan suatu sensasi yang membahagiakan karena telah mampu menulis suatu artikel yang lain dari biasanya.
    Jika berminat silahkan klik :
    http://newblogcamp.com/kontes/kontes-unggulan-cermin-berhikmah

    Terima kasih
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  19. anna says:

    hehehe…
    akhirnya harus ketemu kalender artis lagi ya mbak?

    tapi kok hampir sama ya..
    di rumah ortu juga gitu.. kalender banyakkkkk banget.
    sedangkan di rumah saya sndiri.. sampe detik ini mbak.. belum dapet kalender 2011. tuh masih nempel kalender 2011.. masih bulan november pula… hehe..

    suami ku juga gak seneng liat kalender nempel di dinding.. risih katanya..

    nice story mbak..🙂

    • nanaharmanto says:

      Hahaha… kalender artis itu kututupin pigura kok hihihi…

      emang sih beberapa orang juga risih ngeliat kalender tetempel di dinding. Aku pribadi juga lebih suka kalender meja, yang ada kolom2nya seperti agenda, jadi bisa ditenteng ke mana-mana dan bisa bikin catetan di situ.. hehehe… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s