Bubur Pincuk Mbah Darmo

Kembali ke kenangan saat aku masih kecil dulu…

Seorang  tetanggaku, Mbah Darmo, berjualan bubur salam setiap pagi. Bubur salam adalah bubur biasa terbuat dari beras dan santan dimasak di dalam kuali tanah liat dan dibumbui dengan garam dan daun salam. Aromanya khas. Rasanya gurih  dan hangat.

Setiap kali kami sakit, mama membelikan kami bubur untuk sarapan. Satu bungkus lagi untuk makan siang. Terpaksa bubur dingin yang kami santap, karena mama harus bekerja. Kadang mama membuat  bubur sendiri. Tapi rasanya memang beda dari buatan Mbah Darmo… 🙂

Kadang-kadang, saat mama tak sempat menyiapkan sarapan kami, mama memberi kami uang dan kami membeli bubur di rumah Mbah Darmo.

Mbah Darmo menggelar dagangannya di teras rumahnya, tanpa warung, hanya ada sebidang meja besar. Di situlah Mbah Darmo meletakkan bakul nasi, baki berisi berbagai gorengan, sebuah panci berisi tahu dan tempe besengek. (Semacam opor, hanya saja bukan ayam isinya, melainkan tahu dan tempe). Panci berikutnya berisi sayur kentang dan kacang panjang bersantan yang pedesnya minta ampun. Masih ada satu lagi, yaitu bihun/mie goreng kampung dan sambal.

****

Jam 6 pagi, Mbah Darmo telah siap meladeni pelanggannya.

Pembeli bebas menentukan mau beli nasi atau bubur. Biasanya  ibu-ibu mengantri sambil menggendong bayi atau anak balitanya, sambil ramah menyapa pembeli lainnya. Hmm… celoteh pagi yang hangat…

Ibu-ibu itu membeli bubur untuk menyuapi anak balita mereka. Sepertinya bubur Mbah Darmo memang paling cocok untuk balita mereka. Mereka membawa piring sendiri, tapi ada juga yang minta agar bubur dibungkus daun pisang, atau dengan pincuk.

Sepagi itu Mbah Darmo sudah sigap melayani pembeli. Mulai mengelap daun, menyendok nasi atau bubur, melengkapinya dengan sayur kentang pedes atau tahu besengek berikut kuah santannya yang gurih. Aku suka sekali memperhatikan aksinya yang cekatan membungkus dengan daun pisang (tum) dan membuat pincuk..

Sambil menyapa pembelinya satu persatu, Mbah Darmo melayani permintaan pelanggannya.

“Bubur po sega, Mbak? Dipincuk? Pedes opo gurih?”

“Karo gorengan ora?”

“Selawe opo seket?”

Waktu itu, beli bubur seharga selawe masih bisa lho… apalagi seket... (selawe= duapuluh lima rupiah, seket= limapuluh rupiah)

Pincuk digemari pembeli karena praktis. Dari warung Mbak Darmo, ibu-ibu itu berjalan-jalan sambil menyuapi balita mereka. Setelah bubur habis, pincuk bisa dibuang. Tidak perlu lagi mencuci piring.

Aku sendiri sebenarnya lebih suka bubur dengan pincuk atau dibungkus daun pisang. Ada aroma tersendiri saat menyantap bubur gurih itu. Daun pisang yang diguyur panasnya bubur salam, mengeluarkan wangi yang khas. Itulah yang membuatku ketagihan. Lalu, pincuk itu dirobek di bagian pinggirnya, dilipat dua, untuk dibuat sebagai sendok yang disebut suru.

Sering kulihat teman-teman sepermainanku asyik menyantap nasi atau bubur pincuknya dengan suru, sambil berjalan ke sekolah.. hihihi.. kayaknya seru aja sih bisa begitu. Tapi  biasanya mama menyuruh kami membawa piring sendiri. Selain karena pasti lebih bersih, juga karena piring lebih kuat dan kokoh sehingga tak mudah tumpah.

Emang  bener sih, aku pernah hampir menumpahkan buburku karena pincukku terlampau panas untuk tanganku. Mbah Darmo rupanya antisipatif dengan hal satu ini. Sigap diambilnya sebuah pincuk baru, untuk dirangkapkan dengan pincuk buburku.🙂

Seringkali, kami sebagai anak sekolah mendapat “prioritas”.

“Kene sing cah sekolah sik, ben ra telat”

(Sini, yang anak sekolah duluan, supaya nggak terlambat.. )

Selain Mbah Darmo, ada juga Mbok Ros di belakang rumah yang berjualan bubur salam. Keduanya laris manis dikerubuti ibu-ibu yang mencari bubur untuk menyuapi anaknya. Bisa dibayangkan betapa repotnya kalau Mbah Darmo dan Mbok Ros tak berjualan pagi itu.

Saat sedang tak enak badan begini, tenggorokan sakit karena flu, entah kenapa yang ingin kumakan hanya bubur salam Mbah Darmo, di dalam pincuk yang beraroma harum itu.

Ah, sekarang Mbah Darmo terlampau tua untuk berjualan bubur lagi….

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

26 Responses to Bubur Pincuk Mbah Darmo

  1. DV says:

    Hal begini yang mbikin aku selalu kangen tak hanya pada Indonesia tapi lebih tepatnya pada Indonesia masa silam.

    Masa saat kita terbutakan dan terlena oleh Orde Baru.. tapi memang menyenangkan ya hehehee (kalo disuruh milih aku mending balik ke jaman Pak Harto deh hehehe).

    Aku juga punya langganan dulu, cara dia bertanya hampir sama tapi dia slalu tanya gini “Sego cilik pho gede” instead of “Sego sithik opo akeh”…

    Sayang, yang jualan sekarang sudah wafat…

    • nanaharmanto says:

      Hehe… Mbah Darmo juga kadang nanya gitu ke pembeli anak-anak, cilik po gedhe? Cilik artinya 25 rupiah dan gede artinya 50 rupiah.

      Eh, tapi iya lho… aku juga kadang tergelitik ingin kembali ke masa-masa ketika aku masih SD dan SMP…ketika semua masih terlihat begitu sederhana… 

  2. rayung says:

    taun piro kuwi mba? sik usum tho panganan rego selawe po seket? ckckck…

    • nanaharmanto says:

      Tahun 80an sd 90an Jeng..
      kalau dipikir-pikir… nggak percaya ya? pernah ada makanan dengan harga segitu..
      Kalau nggak salah, sekarang di desaku harga porsi kecil 500 perak deh.. 🙂

  3. riris e says:

    Tak kira, istilah bubur salam itu cuma ada di daerahku, Na. Ternyata juga dipakai di daerahmu ya? Bubur beras bersantan dan diberi daun salam. hm..wangi..

    Aku juga punya langganan di Jawa Timur sana..namanya aku lupa (hebat kamu Na..merekam peristiwa hingga detail gini) Setelah beliau wafat, diteruskan oleh anaknya. Soal rasa, tidak berbeda jauh..mungkin resepnya diwariskan.

    halah..ini komentar atau curhat..heheh .. maaf.. jadi kepingin mudik nich.

    • nanaharmanto says:

      Hehehe… kebetulan aku lagi nggak enak badan dan radang tenggorokan, pengennya makan bubur aja, jadi inget bubur salamnya mbah Darmo. Aku masih ingat karena rumahnya deket bgt dengan rumahku, enceng-encengan dengan rumahku. Mbah Darmo sendiri masih hidup sampai sekarang dan masih sehat…
      Kalau aku bikin sendiri pasti rasanya nggak seenak bubur mbah Darmo deh… 🙂

  4. krismariana says:

    tulisanmu ini kok malah mengingatkanku pada ibu2 penjual gudeg di dekat Paingan, ya? halaaah …. nggak nyambung dot com deh :))

    kalau di tempatku sepertinya lebih banyak yg jual bubur sumsum. biasanya ada beberapa ibu2 yang jualan bubur sumsum di depan RSUD dekat rumahku. entah sekarang masih ada apa tidak. tapi aku jarang sekali beli bubur tsb.

    • nanaharmanto says:

      aha… aku jadi inget.. waktu aku liburan ke Mojokerto di rumah budeku, aku kepengen sarapan bubur. jadi kutanya sepupuku, di mana warung yg jual bubur?
      sepupuku menunjuk warung persis di sepan rumahnya. jadilah aku membawa mangkok ke situ, membeli bubur.
      betapa kecewanya aku saat kuterima mangkokku dan isinya bubur sumsum…😦

      ternyata oh ternyata, istlah bubur di daerah Jatim ya untuk bubur sumsum.. bukan bubur beras bersantan…. hehehe 🙂

  5. vizon says:

    Di Kweni masih ada yang jual beginian, Na…
    Anak-anakku cukup suka makan bubur ini. Tapi entah kenapa, lidahku sampai sekarang belum bisa “bersahabat” dengan bubur tersebut. Perlu waktu tambahan lagi kali ya untuk bisa semakin akrab, hehehe…🙂

  6. arman says:

    iya makanan dulu murah2 ya.
    gua juga inget pas masih SD, di sby, beli soto madura yang di abang2 pake gerobak itu cuma 25 perak udah dapet semangkok soto plus nasi! enak pula! hehehe.

  7. edratna says:

    Di daerah Jawa Tengah, Jawa Timur masih ada penjual seperti ini…..jika pulang kampung, saya masih bisa menikmati sego pecel dari pincuk daun pisang dan daun jati.

    Kalau bubur pincuk seperti ini belum pernah..buburnya dikasih santan nggak? Dimakannya bubur saja, atau dengan lauk lagi?

    Saya ingat ada gempol, yang berbentuk bulatan sebesar bakso, tapi dari nasi kepel. Makanya pake santan, pas ke Yogya tahun 2004 sempat menemukan penjual gempol pincuk ini didepan pasar Beringharjo, entah sekarang masih ada apa tidak.

    Dan waktu serasa berhenti, sambil antri ibu-ibu mengobrol…kalau sekarang, sekitar jam 1-2 siang ada penjual sayur lewat depan rumah…yang mengerubuti si mbak dan mereka saling berceloteh, membayangkan dulu yang berceloteh para ibu ya…..Walau ada di rumah, entah kenapa para ibu di sekeliling rumah jarang keluar, atau asyik di depan TV?

    • nanaharmanto says:

      Bubur salam ini dimasak dengan santan, jadi terasa gurih. Kakau kita bilang pedes, buburnya ditambah dengan sayur kentang kacang panjang yang pedes, sedangkan kalau kita minta gurih, bubur kita akan diberi tahu dengan sedikit kuah santannya (sayur tahu yang disebut besengek). T

      Sayur pedes atau tahu itulah lauknya. kuah santannya yang gurih juga turut memberi rasa pada buburnya. tapi bisa juga beli buburnya saja.

      Saya juga suka tuh jenang gempol… rasanya manuisa dan gurih… kalau mudik kayaknya mesti beli deh.. hehehe..🙂

      Tentang tukang sayur/pedagang lainnya ternyata punya jasa tersendiri selain memudahkan para ibu belanja, juga menjadikan para ibu-ibu bisa saling menyapa.. 🙂

  8. Clara Croft says:

    ahhh.. makanan masa kecil.. aku ingat sekali dulu suka makan bubur kacang ijo yang ada ketannya.. trus makan wajik, getuk, ato untuk.. hmm.. nyam nyam.. kalo ketemu makanan2 itu biasanya kangen masa kecil, tapi ga ingat dengan penjualnya lagi sih Mba Na, soalnya waktu kecil yang beliin Mama🙂

    • nanaharmanto says:

      Percaya nggak Cla? sampai sekarang ini aku kebih suka jajanan pasar dan kue2 tradisional daripada kue yang modern dan mahal2 hehehe…

      hehehe…setuju banget, sekarang kalau ketemu makanan yang dulu waktu kecil sering dijumpai, jadi inge masa kecil lagi hihihihi… 🙂

  9. septarius says:

    ..
    ada enaknya lho Mbak tinggal di perantauan, jd bisa kangen makanan khas kampung halaman..
    lha kalo aku tinggal di kampung, tiap hari ketemu jajanan pasar..
    jd gak berasa kangen2nya.. ^^
    ..
    kayaknya aku tau deh bubur yang Mbak maksud..
    bikin sendiri dong…
    ,,
    semoga cepet sembuh sakit flu-nya..
    ..

    • nanaharmanto says:

      hehehe… ada benernya ya tinggal di perantauan jadi bisa ngerasain kangen makanan daerah..
      *btwm jadi kangen keripik tempe… Ata kan hobi makan keripik tempe… di sini nggak ada yang enak…🙂

      Bikin bubur salam sendiri? wah… rasanya pasti lain dengan bikinan Mbah Darmo.. selain dimasak dengan kompor gas, wadahnya juga panci logam. Versi Mbah Darmo kan di masak di kuali tanah liat di atas tungku kayu… enak mantap deh pokoknya.. hehehe..

  10. monda says:

    jajanan pasar masih sering kubeli mbak,
    kalau nyampe kantor masih pagi, langsung deh ke pasar yang cuma beberapa meter aja jaraknya, yang paling aku suka tuh ongol2

    kalau pas aku kecil dulu masih bsa lho beli bakso 10 perak,…jadul banget lah…

  11. zee says:

    Boleh dikatakan aku sedikit setuju dengan Donny mbak.
    Walaupun mungkin jaman pak harto dibilang diktator terselubung, tapi situasi saat itu benar2 aman tenteram. Dan kenangan2 masa kecil dulu memang sulit dilupakan karena jelas lebih terasa momennya dibandingkan sekarang.

    • nanaharmanto says:

      Hmm.. aman tentram karena kita masih belum “melek” kali ya…

      yang jelas sih, aku memang ingin terus menggali ingatan-ingatan lama di masa-masa kecil dan remajaku untuk kutulis agar nggak terlupakan sama sekali.. lucu juga kali ya kalau anak cucu kita kelak membacanya… 🙂

  12. nh18 says:

    Saya tertarik dengan kata-kata ini …
    “Kene sing cah sekolah sik, ben ra telat”

    Betapa baiknya Mbak Darmo …

    Tanpa bermaksud lebay …
    Kalau boleh saya berpendapat …
    ini adalah cara simple Mbak Darmo untuk ikut berpartisipasi dalam memajukan pendidikan … cara yang kecil saja …
    tapi sangat membekas bagi saya….

    salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Iya ya Om…
      dulu saya juga merasa “diistimewakan” sama Mbah Darmo.. nggak cuma beliau aja, ibu-ibu lain juga rela mengalah supaya kami anak-anak sekolah bisa dilayani lebih dulu..

      ah… orang-orang yang baik….

  13. Ikkyu_san says:

    pinternya kamu menggambarkan mbah Darmo, sampai rasanya aku bisa bayangkan aku ada di sana.

    Aku tidak pernah beli bubur di pincuk, soalnya di jkt mana ada. Kadang aja beli gado-gado ibu-ibu di pasar, tapi biasanya ngga dibolehin papa. Mama yang suka jajan begitu, shg kalau jajan biasanya dgn mama.

    jadi pengem bubur ayam nih baca cerita kamu😀

    EM

    • nanaharmanto says:

      Hehehe… soalnya rumah Mbah Darmo deket banget dari rumahku, jalan 20an meter sampai deh.. sampai sekarang beliau masih hidup walau nggak jualan bubur lagi…

      Kami lumayan dekat dengan Mbah Darmo, kami selalu menyempatkan diri berkunjung ke rumahnya saat lebaran…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s