Bu Lurah

Posisi lurah berhasil kumenangkan mutlak, dengan suap sana sini dan membungkam banyak mulut. Lalu kugunakan jabatanku untuk meraih keuntungan sebanyak-banyaknya. Modal ratusan juta dari istri dan pamanku harus kembali, bukan?

Oh..oh… jangan lupa… jasa dua dukun itu…

Dengan jabatanku, dan janji akan segera menceraikan Nurendah istri pertamaku, mudah saja memperistri Sarita. Diam-diam tentunya. Kuberikan padanya sebuah rumah mungil di pinggir kota. Setiap siang, kukunjungi ia. Wajahnya ceria setiap aku datang, lalu merajuk manja saat aku tergopoh merapikan bajuku untuk kembali ke kantor. Senyum manisnya pasti kembali dengan sedikit rayuan.

Beberapa kali aku absen dari kantor. Kukatakan pada sekretarisku,

“Saya harus keluar kantor, lawatan ke daerah. Kalau tak terlalu penting, jangan telepon!”.


Atau,

“Undangan yang ini, kau yang atur, saya sedang ada urusan, sebentar akan kembali”.

Dan ini,

“Pak Wakil, Anda harus mewakili saya di RAKER siang ini”.

Nurendah tak lagi menarik. Gelambir tubuhnya mulai memuakkan. Pertengkaran terjadi setiap waktu.

Terbayang Sarita. SARITA…..dan gelora asmara bersamanya…

Sarita mengandung. Ngidamnya sungguh aneh, ingin betul ia menjadi Bu Lurah. Sedangkan di setiap acara, Bu Lurah Nurendah lah yang  mendampingiku.

“Ceraikan dia!”, Sarita meradang.

Sarita nekat datang ke acara peresmian program kecamatan yang dihadiri para lurah lainnya. Terlihat jelas betapa ia cemburu melihat Nurendah yang tengah tertawa renyah bersama istri-istri  lurah lainnya. Matanya berkaca-kaca dan  bibirnya bergetar.

“Pulang kau sekarang, Sari, jangan bertindak bodoh di sini”, kataku pelan.

“Kau janji akan ceraikan dia!”, desisnya parau.

“PULANG!”, bentakku pelan.

Sarita bergegas pergi. Aku telah menyakiti hatinya. Ah, itu urusan nanti! Kuhela nafas dan berbalik badan. Bu Sekretaris Camat melihatku tajam. Aku tergeragap.

Adakah Bu Sekcam yang terkenal bawel itu mengetahui sesuatu? Aku gelisah. Dan semakin gelisah…

Berhari-hari Sarita mengurung diri di rumah dan menolak bertemu setelah kuusir dari aula kecamatan. Jelas pintanya: Ceraikan Nur, dan menikahinya secara sah.

Kuceraikan Nur dengan diam-diam.

****

Teguran dan surat peringatan kudapatkan dari kecamatan. Pasti Bu Sekcam itu yang telah melaporkan seringnya ketidakhadiranku di kantor maupun di acara-acara yang diadakan di kecamatan.

Kupulihkan citraku sebagai lurah yang baik dan bertanggungjawab. Tak lagi aku mangkir dari kantor dan kuhadiri semua undangan resmi. Untuk menutupi perceraianku dengan Nurendah, dengan lihai kuberikan banyak alasan atas ketidakhadiran istriku.

Dan terbongkarlah semua kebusukanku. Nur mengetahui perselingkuhanku dengan Sarita, lalu melaporkanku.

Ketika kubawa Sarita menghadiri resepsi pernikahan anak Pak Camat, semua terpaksa berbasa-basi menyalami istri mudaku itu. Para istri lurah lainnya terlihat enggan menyapa Sarita. Binar wajah dan ceria senyumnya membayangkan dirinya kini sebagai istri lurah, pudar seiring dengan diabaikannya kehadirannya di tengah para istri lurah lainnya. Bincang dan celoteh hangat mereka mendadak terhenti saat Sarita mencoba bergabung. Posisi indah yang diidamkannya sebagai istri lurah ternyata jauh dari kebanggaaan. Tak jarang ia menangisi hal itu. Bahkan, tetangga kami tak ada yang sudi menyapanya sebagai “Bu Lurah”.

Aku dipecat!

Aku terbukti berbuat curang dengan uang suap. Perceraianku dengan Nur dan pernikahan dengan istri keduaku dianggap sebagai pelanggaran berat. Kealpaanku selama menjabat lurah ternyata tercatat rapi dalam arsip laporan Bu Sekcam.

Ketololanku mengencani Kuntari, penyanyi organ tunggal yang bahenol itu pun tak luput dari pengamatan Bu Sekcam.

Semua orang mencibir.  Jabatanku diturunkan ke tingkat yang jauh lebih rendah. Hilang semua penghormatan itu.

Belum cukup semua itu, Paman Bur menagih uang yang kupinjam dulu. Belum lagi harta gono-gini yang harus kuberikan pada Nur.

Pening menyiksa. Darimana kudapatkan uang sejumlah itu?

Masalahku makin bertambah ketika Sarita mengetahui  perselingkuhanku dengan Kuntari,  hanya seminggu setelah kelahiran Prita, anak kedua kami. Betapa sering kami bertengkar. Sarita yang dulu manis gemulai kini sering meradang. Pertengkaran-pertengkaran kami usai setelah kutinggalkan memar di pipinya.

****

Mendadak aku jatuh cinta tergila-gila pada Nurendah, istri yang kuceraikan empat tahun yang lalu. Usahanya maju pesat. Tokonya bertambah semarak dengan banyak pelanggan. Dan lihatlah, perempuan cantik memikat yang tengah ramah melayani pembeli. Nurendah! Betapa empat tahun telah mengubah semua. Nur kembali cantik dan langsing.

Aha!! Akan kunikahi dia kembali… akan kupeluk lagi anak-anakku yang telah remaja itu…terbayang segala kemewahan yang akan bisa kunikmati kembali…

Aku nyaris bersorak saat ia bersedia menikah kembali denganku.

Kukabulkan semua permintaannya. Dua motor untuk anak-anakku. Tak lupa dimintanya sebuah laptop terbaru. Dimintanya seperangkat perhiasan sebagai mas kawin. Lalu disodorkannya paket pesta pernikahan berbiaya puluhan juta rupiah yang harus dibayar di muka.

Kubujuk Sarita agar mau tinggal bersama ibunya lagi dengan dalih supaya cucu-cucunya bisa dekat dengan nenek mereka. Sarita marah besar saat mencium niatku menjual rumah. Naluri perempuannya paham bahwa aku hendak menikah lagi. Akan lebih hancur hatinya kalau ia tahu siapa yang akan kunikahi. Ia memaksa kembali ke rumah itu lagi. Aku kalah. Sarita berhasil mempertahankan rumah itu, walau pertengkaran hebat meninggalkan memar lebam di tubuhnya.

Seminggu sebelum rencana pernikahan keduaku dengan Nurendah, kuterima sebuah undangan mewah. Tertulis nama Nurendah di situ, bersanding dengan sebuah nama lelaki: Rukman Aksara.

Tunggu!! Bagaimana mungkin bisa salah cetak? Namaku bukan Rukman!

Terselip selembar kertas.

Kak, terima kasih atas motor untuk anak-anak, laptop, perhiasan emas dan biaya pesta pernikahan kami. Maafkan, aku memilih Rukman sebagai suamiku. Dari 195 juta yang kauberikan, 194 juta kupakai, tepat sejumlah itulah dulu kau meminjamnya untuk pemilihan lurah waktu itu. Ini selebihnya kukembalikan untuk membeli susu bayimu.

Salam,

Nur…

Aku lemas dalam amarah tak terkira. Merutuk diri yang telah menjadi pecundang hina dina. Nurendah tak tergapai lagi. Ia akan menikahi lelaki yang dipilihnya. Sebuah balasan yang terlalu menyakitkan, menikam! Dengan cerdik ia telah membuatku mengembalikan semua uangnya yang kupakai dulu.

Kalutnya aku membayangkan Paman Bur yang murka karena tak sanggup kukembalikan uangnya. Belum lagi uang yang kupinjam dari Kuntari untuk membeli kedua motor itu….

Aku bingung… aku kalut… musnah anganku memeluk Nurendah dan menikmati kemewahannya. Sekarang aku harus pulang menjumpai dua anak balita yang terus menerus rewel dengan tangis dan pesing popoknya..huuuhh…

Terngiang suara dukun di ujung pulau, duluu… lima tahun yang lalu.

“Hati-hati kau dengan perempuan…”. Dengus pongahku menghentikan ucapannya.

Senada dengan dukun di pinggir hutan Selatan.

“Kalau kau tak waspada, seorang perempuan akan menghancurkanmu…”. Aku mengabaikannya pula.

Lalu, siapakah perempuan yang berhasil menghancurkanku sedemikian lantak begini…??

Pening ini semakin menggigit…

****

Hikmah:

1.        Jangan pernah gunakan jabatan untuk kepentingan pribadi apalagi yang melanggar hukum.

2.        Menyuap dan membeli suara pemilih adalah tindakan memalukan yang pasti akan terbongkar.

3.        Setialah pada pasanganmu.

4.        Untuk para perempuan: jangan pernah tergiur oleh uang dan jabatan pria yang melamarmu!

5.        Jika terjadi kekerasan dalan rumah tangga, laporkan pada yang berwajib.

6.        Hare gene, maen dukuunnn??  Eaaaa…..!!

Artikel ini diikutsertakan dalam Kontes Unggulan Cermin Berhikmah di BlogCamp.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Cerpen and tagged , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Bu Lurah

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam K.U.C.B
    Artikel anda akan segera di catat
    Salam hangat dari Markas New BlogCamp di Surabaya

  2. Clara Croft says:

    Wahhh.. kukira Mba Nana pengen jadi bu Lurah.. tapii.. ceritanya bagus loohh.. ga bisa ga baca sampe habis🙂

  3. edratna says:

    Wahh Nana…
    Saya kagum dengan Nurendah….benar…..

    Ayo tulis fiksi lagi Na….

  4. nh18 says:

    HHHmmm …
    Ini klasik …
    tetapi ditangan Nana menjadi sangat menarik …

    Semoga sukses di perhelatannya pak De

    Salam saya Nana

  5. Mami odi says:

    Aku suka sekali dgn tulisan2 mu dan baru kali ini tinggalin jejak.Tulisanmu mantap ditunggu cerita2 berikutnya.

  6. Ikkyu_san says:

    HEBAT!!!!
    ternyata piawai juga Nana menuliskan fiksi yang begitu mengalir ini
    semoga menang ya

    EM

  7. Dwi Wahyudi says:

    Selamat ya buat terpilihnya tulisan Anda dalam Kontes Unggulan Cerita Berhikmah 2011, tetap semangat berkarya…

  8. Pakde Cholik says:

    Selamat pagi sahabatku
    Saya datang untuk mengokoh-kuatkan tali silaturahmi sambil menyerap ilmu yang bermanfaat. Teriring doa semoga kesehatan,kesejahteraan,kesuksesan dan kebahagiaan senantiasa tercurahkan kepada anda .
    Semoga pula hari ini lebih baik dari kemarin.Amin

    Saya juga menyampaikan kabar gembira bahwa sahabat mendapatkan tali asih berupa uang tabungan dan sebuah buku dari manajamen BlogCamp Group atas prestasi anda sebagai salah satu Juara K.U.C.B.

    Silahkan cek daftar para Juara di Newblogcamp.com.

    Selanjutnya harap anda mengirimkan nama , alamat dan nomor rekening tabungan anda untuk pengiriman tali asih tersebut.

    Terima kasih atas partisipasi sahabat. Stay tune di BlogCamp Grup.
    Salam hangat dari Markas BlogCamp di Surabaya

  9. ahlilele says:

    cara wanita memandang kesewenang-wenangan pria, ditulis dengan sudut pandang seorang pria.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s