Cermin Untuk Para Orangtua dan Calon Orangtua

Banyak hal atau peristiwa di sekitarku yang bisa kujadikan cermin dan pelajaran berharga sebagai bekal kelak kalau aku dipercaya menjadi orangtua. Nggak perlu jauh-jauh. Mulai dari anak tetangga sebelah yang manjanya benar-benar kelewatan menyebalkan dan jelas-jelas telah memanipulasi orangtuanya, atau dari orangtua yang gemar membentak-bentak anaknya bahkan memukul anak kandung sendiri…

Berita-berita di TV juga tak kalah mengerikan. Bayi-bayi tak berdosa yang dibuang karena kelahirannya tak diharapkan dan dianggap sebagai aib bagi orang tuanya. duuuh…kasihan…

Tahun lalu, beberapa berita menyebutkan tentang anak-anak yang jatuh dari lantai atas sebuah mall hingga meninggal, lalu disusul berita anak-anak yang terjepit eskalator di pusat perbelanjaan hingga menyebabkan cacat permanen. Spontan temanku berkomentar, “Gimana sih itu ibunya? Masak anak sendiri nggak dijaga?”.

Tiba-tiba saja aku meradang.

Nggak bisa gitu aja nyalahin ibu si anak itu dong…siapa tau ibunya sedang sakit di rumah, atau koma di rumah sakit, siapa tau ibu anak itu sedang jadi buruh imigran, siapa tau ibu anak itu sudah mati…siapa tau anak itu hanya dengan bapaknya ke mall itu”.

Dari itulah aku sadar. Menjadi ibu itu tidak mudah. Ibu akan menjadi orang pertama yang akan dituding nggak becus mengurus anak.

****

Peristiwa tadi pagi yang kualami, rasanya sayang kalau tak kubagikan di sini.

Kebetulan, aku dan suami sedang menginap di sebuah hotel di Makassar. Setelah sarapan, aku berniat pergi jalan-jalan supaya nggak bosan di hotel. Saat berjalan di lobi dalam, kulihat seorang anak kecil berumur 3 tahun.  Gadis cilik bergaun merah itu imut dan lucu. Dia asyik berjalan dan kadang melonjak sambil menyanyi entah apa. Dikibas-kibaskannya rok merahnya. Ia berjalan sendirian ke arah pintu kaca besar yang dijaga seorang doorman cewek (lohhhh,.. gimana sih, doorman kok cewek? 🙂 )

Aku melihat sekeliling, tak terlihat orang dewasa yang memperhatikan anak itu. Saat aku menyalip anak itu, kusapa ia, “Hey, dik, mana mamamu?”.  Anak itu mendongak dan tersenyum padaku.

Doorman membukakan pintu untukku, dan aku terheran-heran karena Mbak penjaga pintu itu membiarkan anak itu keluar. Di luar pintu kaca, kusapa anak itu, “Hati-hati ya, mana mama?”.

Anak itu berjalan terus, dan langsung hendak turun ke lobi luar. Saat itulah sebuah mobil melaju dari arah samping. Lobi luar ini agak tinggi, jadi mobil yang menuju ke area ini harus menginjak gas. Karena tak ada mobil lain yang berhenti, mobil itu dengan leluasa melaju.

Refleks kutangkap bahu anak itu, dan kucegah ia turun. Nyaris saja. Beberapa orang berseru kaget. Masih kupegangi anak itu saat  ayah anak itu keluar dari hotel dan langsung menggendong anaknya, lalu langsung ngeloyor pergi, masuk kembali ke dalam hotel. Tanpa terima kasih. Tanpa senyum.

Aku tercengang. Belum habis kagetku, masih harus disusul dengan kaget lagi karena seruan tertahan beberapa orang. Dan ini… astaga! Seulas senyum si ayah pun nggak ada!

*Mungkin saat itu wajahku lebih mirip penculik anak yang gagal beraksi karena ketangkap basah!🙂   *

Taksi yang kupesan datang. Aku harus segera naik. Baru kusadari, jantungku berdebur tak karuan, kurasakan aku masih gemetaran oleh insiden kecil tadi.

Langsung kusesali diri sendiri. Seharusnya aku bisa berbuat lebih berarti. Aku bisa langsung menegur si mbak doorman: jangan sembarangan membukakan pintu untuk anak kecil yang sendirian; atau menegur sekuriti yang bertugas saat itu agar lebih waspada pada mobil yang datang dan memastikan tidak ada orang-orang di lobi yang beresiko terserempet. Ingin juga mengingatkan si ayah agar lebih berhati-hati menjaga putrinya. Apa daya, jangankan menegur, melihatku pun ia tak sudi!

Inilah cermin untukku:

1. Ah, lihatlah, apa yang kuucapkan pada si anak kecil itu, “Mana mamamu?”

Seolah aku langsung “menyalahkan” ibu anak itu karena membiarkannya sendirian.

2. Doorman menjalankan kewajibannya membukakan pintu bagi para tamu hotel yang masuk dan keluar. Mungkin dia mengira gadis cilik itu anakku, karena aku menyapanya dan anak itu mendongak sebagai reaksinya atas sapaanku.

3. Kadang perbuatan baik tak mendapat tanggapan yang baik. Yah, mungkin saja si ayah nggak melihat seluruh kejadiannya mengingat hal itu berlangsung sangat cepat dan singkat. Who knows?

4. Seharusnya aku menegur saat itu juga, tanpa menunda-nunda lagi. It almost ruined my whole day.. *lebay…

Sepanjang hari ini aku terus memikirkan peristiwa tadi. Aku terganggu. Lalu kuputuskan, untuk menelepon duty manager hotel ini.

“…silakan cek CCTV-nya, mungkin juga saya yang berlebihan…saya hanya berharap  setidaknya agar pihak hotel lebih waspada dan mengantisipasi hal yang sama atau lebih buruk terulang kembali….”.

Untuk para orang tua yang mempunyai putra-putri kecil, kuharap agar lebih memperhatikan anak-anak mereka. Perilaku mereka sungguh tak terduga bukan?

****

HAPPY LUNAR NEW YEAR! GONG XI GONG XI!!

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

25 Responses to Cermin Untuk Para Orangtua dan Calon Orangtua

  1. krismariana says:

    perbuatan baik memang tak selalu mendapat tanggapan yang baik. jadi ingat kata-kata siapa gitu yang mengatakan, “berbuat baik itu seperti membuang emas ke dalam laut.” hmm … besar upahmu di surga, Na! good job.🙂

    • nanaharmanto says:

      He-eh Nik.. Bener bgt.. Kadang niat baik kita nggak selalu mendapatkan reaksi/tanggapan positif. Aku beberapa kali ngalamin hal ini, terutama di sini. Kadang pengen taktulis saking gemesnya, tapi setelah kupikir-pikir, kadang ra tekan juga.. Hehehe..
      Amin deh, smoga makin besar kaplingku di surga :p

  2. arman says:

    bener banget na….
    jadi orang tua harus selalu waspada. jangan take it for granted. walaupun keliatannya anak nya udah gede, udah bisa sendiri, tapi apa2 tetep harus diawasi karena perilaku anak emang gak bisa ditebak…

    lebih baik waspada, daripada menyesal belakangan.. ya gak…

    • nanaharmanto says:

      Mungkin ada maksudnya juga bahwa kami begitu lama dapet anak.. Mungkin kami disuruh banyak-banyak bercermin dulu pada orangtua2 dan anak2 di sekitar kami.. Kadang suka gemes sendiri ngeliat pasangan yg cuek pada anaknya krn begitu mudahnya mereka dapat anak.. Aku coba ambil sisi terangnya aja: kalau nanti aku punya anak, anak itu adalah anugerah yang harus dijaga dan diperhatikan benar2..

      Setuju banget, Man.. Lebih baik waspada daripada menyesal belakangan… *acung jempol*

  3. DV says:

    Itu sebabnya di US sampe ada istilah Samaritan Law? Hukum yang melindungi para pelaku perbuatan benar yang dikira penjahat🙂

    Sing sabar… Gong Xi Fat Choi ya!

    • nanaharmanto says:

      Suwun Donny… Iya, awalnya mangkel banget, lebih karena keteledoran ortu anak itu.. Bahwa ternyata si ayah cuek, ya sudahlah.. Aku ikhlas kok.. Aku pasti menyesali kalau sesuatu yg buruk terjadi karena aku terlambat bereaksi.. Mungkin aku yg terdekat dengan anak itu yg akan disalahkan.. Ya, begitulah.. Aku udh bisa bersyukur bahwa itulah yg terjadi, (dan mungkin aja, memang itulah yg harus terjadi).🙂

      Gong xi.. Gong xi..!!

  4. yustha tt says:

    wah…si bapak mungkin syok mb. Jadi begitu anaknya selamat, dia lupa semuanya..🙂

    semoga kejadian begitu tdk terulang lagi..

  5. edratna says:

    Dari sisi positive thinking….mungkin si bapak saking syoknya nggak bisa berkata-kata. Saya sendiri kalau kaget, kalau nggak langsung bertindak, malah membeku tak tahu apa yang akan dikerjakan. Dan mungkin, si bapak yang saat itu giliran tugas menjaga anak, bukankah ibu kebagian beberes, sehingga bangun lebih pagi, walau saat itu sedang bepergian dan nginep di hotel.

    Pelajaran lain, banyak juga yang tak acuh, dan memang orangtua akan selalu disalahkan.

    Saat si bungsu umur 2-3 tahun, saya ngajak jalan-jalan, dia senang berjalan sambil jinjit kayak mau menari. Tangannya selalu saya pegang. Namanya jalan-jalan, ada aja yang dibeli..jadi saat saya membuka tas untuk membayar di kasir, saya masih melirik si bungsu…”Jangan jauh-jauh ya nak”. Tak lama kemudian, terdengar tangisan, saya langsung loncat, si bungsu udah jatuh dengan tangan berdarah. Langsung deh saya pulang, barang belanjaanpun tak sempat kuambil, dan saya suruhan si mbak setelah tiba di rumah, meneruskan bayar di kasir dan ambil belanjaan yang hanya satu tas kecil.

    Pernah lagi sekali, tangan si kecil terlepas, jantung saya juga rasanya mau lepas…ehh anak ini dikira ibu ngajak bermain, dia sembunyi di balik rak-rak gantungan baju. Jadilah saya minta bantuan si mbak dan manager toko, untuk ikut si kecil yang lagi sembunyi, diam tak bergerak, karena sengaja agar tak ketahuan……sejak itu saya tak pernah mau sendirian mengajak si kecil ke Mal atau toko apapun….setelah dia TK, agak terkendali, bisa diajak ngomong, baru saya berani ajak sendirian.

    Namun, jika selalu mengajak si mbak, rasanya saya pernah cerita, dia jadi tergantung pada si mbak, dan si mbaknya juga jadi arogan..biasanya kalau saya nggak ke kantor, urusan anak-anak saya pegang sendiri. Memang repot Nana, tapi kita senang karena dekat dengan anak.

    (Waduhh kok jadi kayak postingan tersendiri ya)

    • nanaharmanto says:

      Ya Bu Enny… Bisa jadi si ayah nggak melihat kejadiannya, dan hanya melihat saya memegang anaknya. Barangkali saja dia tidak suka melihat anaknya dipegang orang lain. Atau seperti kata Ibu, dia sangat kaget smp nggak terpikir utk sekedar memberikan senyum..
      Tapi saya sdh nggak “nyap-nyap” lagi kok.. Saya mencoba berpikir positif aja, bahwa mgkn saja seperti itulah yg harus terjadi. Tidak boleh lebih buruk lagi.🙂

      Wah, ternyata Narp waktu kecil lincah dan aktif bgt ya.. Nggak bisa lepas dari pengawasan dong..
      Tentang anak yg lebih dekat ke ART-nya dan si mbak-nya jadi arogan, hmmm… Beberapa kali saya melihat hal itu, Bu.. Sangat disayangkan sebenarnya, tapi pilihan dan keadaan tiap2 rumahtangga memang pasti berbeda-beda sehingga anak harus dijaga si Mbak..

  6. septarius says:

    ..
    selalu ada pelajaran di setiap kejadian ya Mbak..
    sangat berguna buat orang tua dan para calon orang tua nih..😉
    ..

  7. Clara Croft says:

    Waktu kecil kami sering per berjalan2 dengan Ibu saya.. kami ber3 dan Ibu saya sendirian, Bapak kami tidak ikut. Kalo menyeberang jalan, saya yang paling sering kena marah! Karena saya kecil selalu sok jagoan dan ‘liar’.. Ibu saya kerepotan kalo saya berjauhan dengannya. Yang saya salut, seliar apapun kami ber3 tidak pernah lepas dari mata Mama! Selalu kena tegur, kena omel, selalu dipindahkan ke kiri Mama kalo kami jalan di kanan dekat jalan. Sangat perhatian Ibu saya itu..

    Karenanya saya ga habis pikir dengan anak kecil yang bisa terjatuh di sebuah pusat perbelanjaan. Menurut berita di TV.. anak itu pergi bersama “Ibu dan Bapaknya”..

    Dan kerap kali saya liat Ibu2 di mall seperti itu.. asik memilih2 baju dan tidak peduli anaknya sedang apa dan sedang dimana.. sering saya merasa beruntung karena Ibu saya dulu ga seperti itu.. kalo ya, mungkin saya yang jatuh di mall🙂

    • nanaharmanto says:

      Hehehe.. Clara kecil badung juga yaa… keliatan sampai gede tuh… *apacoba…* 🙂

      Dulu waktu kecil kita emg sering semau gue, sok jagoan, tanpa mikir akibat atau resikonya. Skrg udah gede begini baru sadar, kenapa saat kita bandel, org tua kita pasti sewot.. Ya karena mereka peduli dan care…

      Pasti kelak kalau kita udh punya anak, kita jadi semakin mengerti sikap orangtua kita dulu..

      Tentang anak yg terjatuh itu… Hmmm… Orangtua pasti punya pembelaannya sendiri.. Tp well, yeah.. Selalu orangtualah yang akan disalahkan..

  8. vizon says:

    Hmmm… si bapak seperti memang tidak terlatih untuk berterima kasih secara spontan. Karena, reaksi spontan kita, sesungguhnya menunjukkan siapa kita sebenarnya. Untuk menegur si bapak agar lebih bisa menghargai orang lain, tentulah bukan tugas kita.

    Namun, sikap si bapak bisa jadi pembelajaran berharga buat kita, bahwa sekedar senyumpun sudah sangat berarti bagi orang yang telah berbuat baik kepada kita…

    Na, biarlah si bapak tidak mau memberimu senyuman walau seutas. Biar kukirim sebanyak-banyaknya ya… Terimalah ini…🙂🙂🙂🙂🙂🙂🙂
    hehehe…

    • nanaharmanto says:

      Hahahahaha… Jadi ketawa sendiri terima senyum Uda…
      Bener Uda… Awalnya kupikir juga astaga, betapa si bapak itu nggak ada sopan-sopannya blas… Tp ya sudahlah, bener kata Uda, menghadapi orang kayak gitu malah jadi pelajaran bagi kita, bahwa senyum tulus meski sesaat akan membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai…
      Bales senyum Uda aahh… 🙂🙂🙂🙂. *ngelirik Uni dulu.. Hihihi…

  9. nh18 says:

    HHmmm …
    Saya kok jadi meradang ya …
    Menginap di hotel berbintang …
    tetapi kok mannersnya seperti itu …

    Apa susahnya sih … sekedar mengangguk … tersenyum …

    Hhhh

    Semoga ini menjadi pembelajaran bagi kita semua …

    Siapapun …
    Yang namanya manners itu harus senantiasa di kedepankan …

    Salam saya Nana
    Gong Xi Fat Cai

    • nanaharmanto says:

      Ah ya, Om.. Saya awalnya juga sebel.. Geregetan.. Kesel…tapi setelah sharing di Facebook.. Ternyata banyak yg menghibur dan menenangkan saya supaya tetap sabar.. Hmm.. Saya dikelilingi orang-orang yang baik.. I am grateful for it…

      Bener Om..berbagi senyum kepada orang lain itu lebih menyenangkan..membuat orang lain merasa nyaman dan dihargai.. Dan setuju banget sopan santun hrs dikedepankan terhadap siapapun juga..

      Gong xi.. Gong xi… Om.. 🙂

  10. anna says:

    hm,
    bener mbak… kita gak perlu menghakimi dulu.. menjadikan peristiwa it sebagai cermin adalah suatu hal yang bijaksana..

    hehe.. kalo saya sih bawaannya udah mo nyalain doorman nya..
    tapi bener juga kata mba Nana, mungkin dia ngira anak kecil itu anaknya mbak..

    oh ya, satu lagi setuju dengan komen uda Vizon, senyum itu ternyata sangat berharga🙂

    • nanaharmanto says:

      Herannya masih ada jua ya orang yang pelit senyum..padahal senyum kan nggak pake itungan untung rugi..

      Setelah kejadian itu, aku jadi mikir, jangan-jangan aku yg sok akrab dgn anak2 ya… hehehe…🙂

  11. zee says:

    Betul mbak Nana. Memang kewajiban orang tua u/ lebih memperhatikan anaknya, karena siapa yg bisa menduga apa yg terjadi kan? Saat sudah terlambat, barulah mulai mencari2 kambing hitam..

    • nanaharmanto says:

      Yup… semoga insiden kecil ini bisa menjadi pembelajaran untuk mereka yang punya anak kecil dan yang ingin punya anak tentunya… jangan sampai pelajaran dimabli setelah ada kejadian/ terlambat…

  12. Ikkyu_san says:

    susah deh kalau punya anak sendiri, makanya aku sering tidak mau bepergian berduaan, apalagi ke tempat yang jauh. Di sini semuanya harus angkutan umum kan. Lebih bahaya lagi.

    Ada satu kejadian di pesta hutnya Opanya Riku di sebuah resto di Jkt. Aku marah besar pada riku dan kai karena mereka berlarian di dalam restoran. Di Jepang, balita pun tidak ada yang seliweran di resto. semua duduk dgn rapi, meskipun mungkin ribut. Tapi…. di indonesia anak-anak berlarian di restoran seakan sudah wajar, dan orang tuanya tidak ada yang memarahi. Well, tidak untukku. Makanya teman Indonesiaku sering heran dengan antengnya anak-anakku kalau pergi bersama. Semua memang ortu yang memulai kok.

    soal si ayah yang melengos begitu saja, wah dia tidak bisa hidup di Jepang. Karena di jepang dalam situasi demikian, ortu HARUS minta maaf, BUKAN Terima kasih lagi…. MAAF krn teledor membuat semua repot🙂

    EM

    • nanaharmanto says:

      bagusnya gitu ya Mbak.. anak-anak dilatih untuk tertib dan sopan di tempat umum… aku kadang juga suka terganggu dengan anak-anak yang berlarian di restoran.. jadi was-was aja kalau anak itu kesandung meja/kursi kita.. padahal bukan salah kita, tapi tetep aja kita juga pasti akan ikut repot.. acara makan kita jadi terganggu deh…

      Aku salut dengan orang Jepang, hal begini menjadi perhatian serius… orang tua mau meminta maaf karena anaknya sudah merepotkan orang lain..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s