Pulang Sekolah (part 1)

SAWAH

Pulang sekolah….berebutan kami berhamburan keluar kelas begitu sekolah usai.

Hmmm… rasanya semua pasti pernah merasa ingin selalu menang balapan ya?

Well, posting ini sebenarnya terinspirasi dari undangan Om NH di sini, tapi karena aku nggak yakin bisa menulis terbatas pada 600 karakter,  yah,  kutulis saja di rumah sendiri hehehe….  :)

Saat aku masih SD dan sudah bisa berangkat dan pulang sekolah sendiri, aku biasanya berjalan kaki. Hati-hati menyeberang jalan aspal, lalu menyusur di tepiannya yang berbatas tanah berumput. Kadang-kadang kami harus menghindar dari ranjau darat yang ditinggalkan para kerbau kemarin sore. Rute yang kami lewati ya itu-itu saja, dan begitu-begitu saja. Bosaaaaannn!

Suatu hari, seorang teman sekelas, yang juga teman seperjalanan pulang, mengajakku pulang lewat sawah?

Whaat?? Lewat sawah?? Hmmm…. rasanya asyik juga tuh!  :)

 

sawah... beberapa saat setelah masa tanam...

Jadilah Vekri temanku ini mengajakku pulang sekolah lewat sawah. Di belakang tempat pencucian mobil dan bus, di situlah awal rute pematangnya. Waahhh…ternyata asyik juga lewat sawah!

Perjalananku terasa lebih singkat, karena aku tak perlu berbelok mengikuti jalan aspal yang lebih jauh, aku tinggal lurus saja.

Nah, ujung perjalanan lewat sawah adalah tanggul kecil dari semen di belakang tugu. Dari situ, kami tinggal menyeberang jalam aspal, lalu melanjutkan perjalanan pulang melewati jalan kampung.

****

Banyak hal bisa kulihat saat pulang melewati sawah begitu. Pak tani  membajak sawah dengan bantuan kerbau,  ibu-ibu tani yang membawakan makan siang dan ceret minum untuk suami mereka, lalu kalau kebetulan aku pulang awal, aku masih bisa melihat ibu-ibu tani “tandur”, -menanam padi sambil membungkuk dan bergerak mundur. Sepertinya asyik sekali melihat mereka bekerja.

Gudel, anak kerbau yang masih imut pun menjadi pemandangan yang mengasyikkan. Kadang mereka berlarian di sawah, atau mengikuti terus kemanapun sang induk pergi…lucuuu…. tingkahnya benar-benar menggemaskan…

Setiap musim padi menguning dan merunduk-runduk sarat dengan bulir-bulir padi yang gendut,- saat itu sawah tak pernah lagi sepi. Bergantian para petani berjaga menjaga sawah mereka dari serbuan burung-burung mungil yang sering mencuri butiran padi mereka.

Mereka berseru-seru, sambil menggoyang-goyangkan bentangan tali yang digantungi berbagai macam plastik dan kain bekas untuk menakut-nakuti burung. Ada juga yang menggunakan kaleng bekas susu kental manis  yang diberi beberapa kerikil, lalu digantungkan di tengah bentangan tali. Jika digoyang, kaleng ini akan berbunyi berisik yang mengagetkan. Burung-burung lucu itu akan berhamburan terbang karena panik, lalu berusaha mencuri-curi kesempatan untuk bisa kembali berpesta padi ranum itu..

****

Oh..oh… jangan coba-coba pulang lewat sawah setelah hujan. Pasti becek! Sepatu pasti kotor dan susah sekali dibersihkan…

Kami juga tak pernah berangkat sekolah lewat sawah, karena rerumputan dan pematang pasti basah terkena embun… lagipula, aneh rasanya melewati rute itu dari arah sebaliknya!

Sebetulnya, aku tahu, orangtuaku pasti melarangku pulang lewat sawah. Memang sih, aman dari kendaraan bermotor. Tapi lewat sawah juga ternyata ada bahayanya. Ular!

Suatu siang, aku pulang lewat sawah bersama si Vekri. Tiba-tiba Vekri yang berjalan di depanku berhenti. Di depan kami, melintas seekor ular hidup, kurang dari 2 meter jaraknya dari kami. Aku berdebar-debar. Ada rasa menyesal kenapa aku mesti pulang lewat sawah begini? Gimana nih, kalau kami dipatuk ular itu? Gimana kalau ular itu berbisa? Wuuihh…

Untunglah ular itu segera pergi. Dan kami cepat-cepat  berlalu dari situ. Huuff…selamat!

Pernah aku berpapasan dengan seorang petani yang memanggul cangkulnya, karena pematang itu sempit, Pak Tani itu mengalah, dia turun dengan sebelah kaki ke sawah berlumpur, hanya untuk memberiku jalan. Pak tani itu baik ya, dia rela mengalah supaya sepatuku tak kotor… kuucapkan terima kasih pada pak tani yang baik itu.

Meskipun aku selalu berusaha untuk berhati-hati, tetap saja aku pernah terperosok ke sawah! Hihihi… malunya… sebelah sepatu dan kaos kakiku kotor berlumpur. Kulanjutkan perjalanan lewat pematang, begitu sampai di jalan, sepatu kulepas dan kucuci di kali kecil di belakang tugu, dan kutenteng pulang sambil cekeran kaki ayam… hahaha..

****

Yang juga masih berkesan, pernah seminggu lamanya aku tak melewati sawah itu. Suatu siang, aku pulang lewat sawah, dan begitu hampir mendekati tanggul semen, baru kulihat, ternyata… kali kecil itu jebol! Biasanya ada celah sempit di pematang sawah untuk mengaliri sawah yang mudah saja kulompati. Nah, tak kukira, celah di pematang itu jebol hampir 1,5 meter lebarnya. Aku tak bisa melompatinya, untuk kembali lagi, wah… sayang, jauhnya! Bisa saja aku melepas sepatu, tapi, aku tak pernah tahu sedalam apa lumpur kali kecil itu, sementara air mengalir lumayan deras.. Sementara aku kebingungan begitu, seorang bapak tani datang. Dilihatnya aku kebingungan begitu. Dan… tarra…!! digendongnya aku melewati pematang yang jebol itu… hihihi…. aduh… baiknya bapak tani itu…

Malu-malu kuucapkan terima kasih pada pak tani itu.

Tapi teuteup.… aku nggak kapok pulang lewat sawah hahaha…!!

****

Note: tercatat hampir 750 kata dalam posting ini, tuh kan… jangankan nulis 600 karakter, lha wong 600 kata aja udah berlebih nih!  Udah nggak lolos syarat utama … hehehe…  :)

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Pulang Sekolah (part 1)

  1. Ikkyu_san says:

    hahahaa
    orang-orang seperti kita tidak bisa dibatasi 600 kata
    karena? ya dari sononya sifatnya maunya lepas bebas mengalir
    (coba tanya bro deh bener ngga alasanku :D)

    seru ya melewati sawah begitu.
    Aku yang anak kota sebetulnya ingin sekali menikmati suasana pedesaan. Paling tidak untuk anak-anakku.
    Cuma nih aku mau pindah ke desa (pinggir kota saitama) aja mikirnya setengah mati. Akunya sih rasa bisa, tapi Gennya yg ngga bisa :D

    dan syaratnya cuma satu: ada internet hihihi
    (hiiii kebayang kalau malam di pedesaan bersawah gitu)

    EM

    • nanaharmanto says:

      Hahahaha…. bener Mbak…
      aku nggak bisa dibatasin dalam nulis… biasanya malah ide mampet, atau ceritanya jadi aneh karena terpaksa kuedit potong sana sini supaya “maksa” memenuhi kriteria tertentu hehehe…

      Bener mbak, seru banget ngelewatin sawah gitu… dan aku nggak kapok-kapok dulu hehehe… asyi banget deh pokoknya, sampai digendong pak tani segala hihihi,…

  2. arman says:

    seru banget na!!
    tapi yang bagian ketemu uler sih serem ah… hahaha

  3. DV says:

    Rumahku dulu juga ditengah sawah… Papa ngga mau beli rumah di perumahan, soalnya.

    Aku selalu takut lewat tegalan sawah.. ya takut ularnya, ya takut terpeleset masuk ke galengan air..

    Kisah yang menarik, Na!

  4. zee says:

    Manisnya pengalaman masa kecilmu mbak.
    Pak Tani yang baik ya, ikhlas saja membantu sesama. Aku sih jarang lihat sawah karena tinggalnya di pulau karang. Gersang dimana2.

    • hehehe…iya, Zee… masa-masa kecilku memang masa yang menyenangkan… mengasyikkan dan seru! :)

      Dan betapa menyenangkan masih punya kenangan manis tentang tempo saat kita hanya kenal kesenangan dan petualangan…mengingat yang dulu-dulu, rasanya memang indah…
      dan aku bersyukur masih sempat menuliskan semua kisah itu…

  5. elmoudy says:

    kalau liat pemandangan sawah yang hijau…rasanya gimana gitu..kayak ada damai dan semilir angin yg menenangkan…

    dulu waktu kecil..gw paling seneng kalau ke sawah kalau mau masa tanam..semua tampak hijau..mirip ama yg digambar

    • [.. kalau liat pemandangan sawah yang hijau…rasanya gimana gitu..kayak ada damai dan semilir angin yg menenangkan…] I like this comment! I mean it…

      sawah paling asyik dipandang kalau tanaman padinya masih “remaja” hijaaauuuu semuaa.. dan pas padi merunduk menguning semua… indah! :)

  6. Clara Croft says:

    Lewat sawah?? Saya juga mau.. pengen banget dari sejak kecil, tapi ga pernah kesampaian, selalu ga ada sawah di sekitar tempat saya tinggal. Yang ada kali, dan di sana kami biasa main, menangkap kecebong, xixixi.. seru deh.. ga bisa terbayang kalo masa kecil saya dulu dibatasi.. pasti ga enak

    • Hehehe…masa kecilmu dikelilingi kali dan sungai besar ya… berarti jadi jago berenang dong? hihihihi….

      Betapa beruntungnya kita semua yang punya pengalaman berkesan di masa kanak-kanak … :)

  7. vizon says:

    Sewaktu kuliah di Padang dulu, aku paling sering pulang lewat sawah. Kebetulan kosanku berada di belakang kampus. Jalan pintas menuju ke sana harus melewati sawah. Kalau mau lewat jalan besar, membuatku harus jalan memutar dan jauh. Oleh karenanya, pematang sawah adalah jalan utamaku selama beberapa tahun lalu itu. Asyik dan menyegarkan ternyata, hahaha… :)

  8. edratna says:

    Masa kecil yang indah Nana, mengingatkanku pada masa kecilku sendiri. Masih bisa berlarian di pematang, kejebur sawah, berlepotan lumpur, atau main ke kebon semangka, atau kebon tebu.

    Sayang anak-anakku lahir dan besar di Jakarta, dan tinggal di kompleks perumahan yang tak ada pohon yang bisa dipanjat, cuma saat itu rumah masih jarang, jadi mereka masih bisa berlarian sepulang sekolah.
    Sungguh menyenangkan mengingat masa kanak-kanak yang indah, yang menempa kita menjadi seperti sekarang ini.

  9. krismariana says:

    rumahku di jogja, dekat sawah. dari jalan aspal, kira2 20 meter ada sawah menuju rumahku. hawanya segar kalau pagi. :)

  10. anna says:

    menyenangkan mbak…

    dulu saya juga begitu.. tapi bukan pulang sekolah ya..
    tapi pas maen. karena di belakang komplek saya (kawasan ambarukmo) kala itu banyak banget sawah…

    cuman sekarang udah ngak ada sawahnya tuh…

  11. Pingback: Pulang Sekolah (part 2) « sejutakatanana

  12. rio kornel says:

    asik ada tebingnya, boleh tau di mana lokasinya? terima kasih & Salam Keterjalan!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s