Jari Tengah

Suatu sore, aku tengah duduk santai di rumah saat mendadak hingar bingar suara motor menderu-deru. Rupanya sekelompok remaja cowok datang ke rumah sebelah selepas berlatih futzal.

Gaya bercanda mereka begitu hebohnya. Setelah menurunkan Iwan, sebut saja begitu, remaja-remaja itu segera berlalu dengan suara motor yang keras sambil bergurau, saling berteriak bercanda. Sambil terbahak-bahak, seorang remaja ngebut berlalu sambil mengacungkan jari tengah ke arah Iwan yang juga terkekeh-kekeh.

Aku terhenyak….

Duh, betapa memprihatinkan polah mereka. Aku hampir yakin, mereka tidak tahu apa artinya mengacungkan jari tengah begitu. Aku yakin mereka hanya latah meniru-niru entah dari mana.

Mereka pikir itu adalah gaya yang cool.. gaya yang keren, gaya yang Ngamrik banget… Seandainya mereka benar-benar tahu maknanya, mungkin mereka tidak akan seenteng itu berlaku demikian.

 ****

Pikiranku meloncat ke belasan tahun silam, saat aku masih kuliah. Dosenku kala itu, seorang native speaker dari Amerika. Dia mengajar kelas Speaking. Aku masih ingat betul topik hari itu. Anger. Kemarahan.

Topik yang menurutku agak aneh saat itu. Untuk apa belajar tentang kemarahan?

Dengan masgyul aku masuk kelas siang itu. Dosenku mulai membagikan hand-out. Tak ada yang terlalu menarik selain gambar orang sedang marah-marah.

Tiba-tiba dosen cantik itu bertanya.

“When you are angry, what do you do?”.

Seluruh kelas bereaksi macam-macam. Ada yang memilih diam ketika marah, ada yang langsung mendamprat orang yang membuatnya marah. Ada yang mengumpat.

“What do you say, then?”,

Dosenku mulai menulis di papan tulis.

Damn!

Go to hell!

….

Ketika seorang kawan berkata, “Sh*t!”, dia berhenti menulis, menolak menuliskan kata itu. Dia memandang seluruh isi kelas. Lalu berkata dengan serius.

“Kamu tahu apa arti kata itu?”. Tak ada yang berani menjawab. Semua tahu artinya.. tapi tak ada yang menjawab. Aneh dan tak nyaman rasanya membicarakan satu kata ini.

“Well, you have a stomachache, then you go to the toilet. You have it there”.

Ah, betapa cerdas dan diplomatis jawabannya tanpa sedikitpun menggunakan kata “kotor”.

Dosenku terus melanjutkan. “Kalian tahu persis, dari mana dia keluar. Jadi ingatlah, jangan pernah mengatakan itu dari mulutmu, karena itu akan sama artinya dengan menyamakan mulutmu dengan tempat darimana barang itu dikeluarkan. Jika kalian mengatakan itu pada orang lain, menandakan bahwa kalian pun bersedia dikatain begitu”.

Kami terdiam.

Next!!

Dia berseru. “What else do you say, when you go mad?”.

Beragam jawaban keluar. Lalu ragu-ragu seseorang menjawab, “F*ck you”.

Dosenku berhenti sesaat, lalu bertanya sekali lagi. Serius. Sangat serius.

“Kalian tahu, apa artinya?”. Seisi kelas terdiam lagi. Kami tahu artinya buruk, sampai kami kehilangan kata untuk mendeskripsikannya.

“It’s a tabboo word. You should never use it”.

Kata tabu, sodara-sodara!

 

“That word means, you are willing to have sex without love and respect, or even worse, in animal ways…. “.

….

“You are well-educated, you should never say it, or write it, or use its symbol, -pointing your middle finger to others-, because you disrespect yourself  in this way. It means you ask him/her to have sex with you in a very disgusting way you could never imagine before…”.

****

Selanjutnya, kami diajari bahkan berlatih mengekspresikan kemarahan dengan kata-kata yang lebih terdidik, elegan, terkontrol, dan tetap menjaga agar orang lain tetap “respect” pada kita meskipun mereka tahu persis kita sedang marah besar. Lalu kami harus mengumpat mempraktekkan ungkapan-ungkapan itu dengan partner kami (namanya juga kelas speaking! 🙂 )

Topik mata kuliah yang semula kuremehkan itu justru membekas sangat mendalam hingga kini. Mengatakan kata-kata tabu itu, sama artinya dengan melecehkan diri sendiri, dan orang lain pun tidak akan menghargai kita. Semarah apapun aku pada orang lain, semoga aku tidak akan pernah menggunakan kata-kata tabu itu.

****

Betapa memprihatinkan melihat remaja atau bahkan orang dewasa yang meneriakkan kata itu, apalagi mengacungkan jari tengah kepada orang lain tanpa tahu artinya.

–Ooo… Tuhan…. ampunilah mereka karena mereka tidak tahu apa yang mereka lakukan..–

Kalau terpikir bahwa gaya ini benar-benar cool, lupakan. Gaya ini benar-benar menjijikkan. Bahkan, para gangster di jalanan Amerika sana akan marah besar dan tersinggung ketika diteriakin kata tabu itu, terlebih diacungin jari tengah. Oh, bisa terjadi pertumpahan darah!

Kita tentunya nggak akan bangga memamerkan diri (baca:  melecehkan diri sendiri) di depan umum, merendahkan diri dengan “bersedia having sex tanpa cinta dan rasa hormat, dengan cara rendah yang lebih menjijikkan dari perilaku hewan, bukan?

Di dalam film-film bermutu, kata-kata tabu ini akan disamarkan dengan suara “beep-beep”. Bentuk mulut saat mengucapkannya dan acungan jari tengah akan disamarkan dengan area blur, kan?

Aku tak pandai mengutip ayat-ayat Kitab Suci. Satu yang kuyakini penuh, Tuhan menciptakan kita baik adanya… jadi mari kita gunakan anugerah Tuhan ini dengan cara yang pantas dengan menghargai diri sendiri. Orang lain pasti juga akan memandangmu dengan rasa hormat, bukan?

Ah, apalagi kita sudah dianugerahi kesempatan mengenyam pendidikan tinggi, masak sih kita mau disamakan dengan orang-orang kasar yang hidup di jalanan dan yang tak pernah mendapatkan pendidikan layak?

Menurutmu?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Jari Tengah

  1. krismariana says:

    Nice posting, Na!🙂

    Dulu aku pernah ditegur kakakku karena mengeluarkan umpatan. Maklum, masih remaja dan nggak bisa mengendalikan diri, hehe. Alasan, yo? Kakakku cuma bilang, “Itu tidak sopan, merendahkan dirimu sendiri.” Sejak saat itu, aku tidak pernah lagi mengumpat dengan kata-kata yang kotor. Karena bagaimanapun, apa yang kita ucapkan, itu mencerminkan siapa kita. Kalau tidak salah ada kata-kata yang menarik yang mengatakan: Kalau kamu marah, jangan sampai berbuat dosa.

    • nanaharmanto says:

      Makasih ya Nik…
      Kadang memang sulit untuk nggak mengumpat di saat kita marah… manusiawi.. tapi memang kita (aku terutama) harus belajar untuk mengendalikan diri… apalagi kita wes cukup dewasa untuk tau mana yang baik mana yang enggak, wagu kalau masih nyap-nyap kayak remaja ya? 🙂

      Aku setuju banget nih: […] Kalau kamu marah, jangan sampai berbuat dosa… top!!

  2. vizon says:

    Anak-anak hanya menirukan kata-kata umpatan itu tanpa mengerti lebih dalam makna dan akibatnya untuk dirinya. Aku juga lumayan kewalahan menghadapi hal seperti ini. Setiap hari, ada saja kata umpatan yang mereka peroleh dari pergaulannya. Dan setiap saat pula kami harus memahamkan mereka akan dampak dari pengucapan kata-kata itu. Perlu kesabaran ekstra untuk menghadapi ini.

    Aku berikan jari jempol deh buat tulisanmu ini Na… *ya iyalah, masak jari tengah*😀

    • nanaharmanto says:

      Iya bener Uda…. anak-anak itu imitator/peniru ulung… apapun bisa saja ditirunya dari lingkungannya. Sepertinya menjadi orangtua harus siap siaga setiap waktu ya Uda, supaya mereka nggak semakin terjerumus..

      Aku pernah “terpaksa ” nonton sinetron di TV dan ada adegan seorang tokoh remaja berseragam sekolah mengumpat dengan kata-kata tabu begitu…. aduh… aku sampai geleng-geleng kepala… kok nggak disensor ya? hadduuuhhhh…..

  3. zee says:

    Ah. Native speakernya cool banget. Pengen punya yang begitu. Yang bisa menjelaskan sebijak mungkin.
    Memang benar, orang2 sering salah mengatakan hal yg dikira “cool”. Teman saya di kantor suka bgt dikit2 : shit. Ganggu banget di telinga. Tp dia tetap aja suka begitu, krn mgkn dikiranya itu keren.

    • nanaharmanto says:

      Iya sayang banget masih banyak orang yang latah meniru-niru istilah, bahasa dan gaya yang dianggap cool… padahal nggak tau persis artinya..

      Hmmm…. denger kata begitu dari temen, apalagi berulang kali emang nyebelin.. kalau aku jadi Zee, mungkin udah kutegur orang itu… hehe…:)

  4. arman says:

    bener banget…
    marah itu manusiawi. tapi marah bukan jadi alasan pembenaran untuk mengeluarkan kata2 yang buruk.

    • nanaharmanto says:

      Yup…. emang prakteknya nggak gampang ya… tapi bisa dilatih kali ya…

      Musti ati-ati nih, apalagi kalau ada anak kecil yang mendengar…mungkin bisa langsung ditirunya… ada anak tetanggaku sini yang kasar banget tuturnya… setelah kupelajari *halah! well, yah, ternyata orangtuanya suka bicara kasar di depan anak-anaknya, jadi di luar rumahnya anak itu mengekspresikan kemarahannya dengan kata-kata yang buruk juga… dalam hal ini bener kata orang: anak adalah cermin dari orangtua..

  5. nh18 says:

    mengekspresikan kemarahan dengan kata-kata yang lebih terdidik, elegan, terkontrol, dan tetap menjaga agar orang lain tetap “respect” pada kita meskipun mereka tahu persis kita sedang marah besar. …

    Ini kalimat yang striking … !!!

    Mengenai perilaku itu …
    Waw … Itu kan Gawhul Tanteee …

    (sometimes, kelakuan mereka itu lebih Metropolitan dari pada pemuda metropolitan itu sendiri … Lebih amrik dari amriknya itu sendiri … )

    So … kalau mau mencegah anak-anak metropolitan untuk berbuat yang tidak-tidak …
    gampang saja …
    Katakan …

    “Aaaahhhh … kayak anak-anak koboy tanggung yang ada di XXXX…. luh … ”
    Saya jamin anak-anak kota besar akan tidak melakukannya … (hahahaha)
    Soalnya udah ditiru anak-anak “kota yang lain”

    Salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Saya dan suami sering tersenyum-senyum dan geleng-geleng kepala melihat polah remaja-remaja di sini yang “ajaib” bin norse –norak sekali–

      Mungkin mereka pikir, gaya dan dandanan mereka udah cool abis, gaul dan paling mutakhir… tapi ya tetep aja aneh hihihi…. hadeehh… gimana ya Om… I can’t figure it out jeh….. 🙂

      Sayangnya, anak-anak dan remaja gampang banget meniru polah dan tutur teman-teman sebaya mereka…😦

      Salam hangat juga Om… 🙂

  6. edratna says:

    Masa remaja adalah masa anak yang satu tak mau kalah gaul dengan anak lainnya….jadi kadang etika agak dilanggar, merasa kelompoknya paling hebat.

    Dan itu hanya bisa dilunakkan dengan pendidikan dan kasih sayang dari keluarga.
    Berasal dari Jawa Timur, saya terbiasa mendengar orang misuh, dan hal ini akan berbeda dari lingkungan yang lain. Namun kata kasar tsb hanya diucapkan pada teman terdekat, yang telah sama-sama tahu, sehingga tak tersinggung.

    • nanaharmanto says:

      Keluarga (terutama ayah ibu) dan lingkungan pergaulan memang berperan penting dalam pembentukan karakter seseorang ya Bu.. Apakah seseorang terbentuk bertemperamental buruk atau sebaliknya jelas dipengaruhi keduanya..

      Ah ya, saya jadi ingat dulu waktu SMA punya teman dr Jatim yang bisa misuh2 khas Jawa Timuran kalau sdg marah.. Tapi kalau sdh melampiaskan begitu ya sudah, nggak akan berlanjut lagi..

  7. negeribocah says:

    sinetron remaja kita banyak yg sok ngamrik seperti ini
    entah siapa yg harus disalahkan saat adegan itu lolos sensor tayang di tv dan jadi konsumsi umum
    alasan klise: gaul … modern …
    bah! menyedihkan banget

    • nanaharmanto says:

      Iya betul Pak.. Sinetron di TV-TV swasta itu tidak mendidik… Kadang malah menjerumuskan ke sikap yang kurang baik..

      Saya sampai prihatin sekali, ada sinetron yg ditayangkan selama 3jam.. Ya ampun.. 3jam itu saya duga ya isinya nggak jauh2 dr nangis, histeris, balas dendam dan marah2 nggak jelas..
      Memprihatinkan ya?
      Salam hangat, Pak..

  8. monda says:

    anak remaja sekarang pakai kata2 tak enak itu seolah2 ngobrol biasa,
    panas juga telingaku mendengar kata an**ng keluar begitu saja dari remaja manis,
    bego, oneng (=bego), oon, dll
    jadi nama teman diganti dengan kata2 itu

    • nanaharmanto says:

      Dulu waktu saya masih ngajar, saya sering mendapati beberapa murid mengumpat pada temannya dgn kata2 yang tidak pantas.. Biasanya sih kami para guru akan memanggil anak tsb dan menasehatinya..

      Tapi tidak mungkin juga ratusan anak dalam pengawasan kami setiap saat.. Di depan kami mereka menahan diri utk berkata-kata buruk.. Tapi begitu nggak ada guru, ya kembali lagi berkata buruk/jorok dan tidak pantas.
      Usia remaja memang paling mudah terpengaruh teman sebaya..

  9. Imelda says:

    wah ibuku paling marah tuh kalau sampai kedapatan kami bicara kotor. Wong kata “gue” “elu” aja dimarahin😀

    Yang susah namaku kan miyashita, mengandung kata yang di*** jika menuliskannya di shoutbox hehehe

    EM

  10. bunga says:

    ini ilmu dari kebudayaan barat, yang banyak di dapat kan dari Film2 barat, maka nya kita mendampingin putra putri di saat menonton dan menberikan penjelasan mana yang baik dan buruk

    • nanaharmanto says:

      Setuju… pendampingan orang tua sangat diperlukan saat anak-anak menonton TV, jadi orang tua bisa memberi masukan yang berarti..

      Salam kenal ya Mbak.. terima kasih sudah mampir ya..

  11. DV says:

    Di sini orang pake jari tengah untuk saat2 terdesak seperti misalnya seorang ibu menyeberang di zebra cross, tiba2 sebuah mobil nekat menyerobot, si ibu langsung nunjuk jari tengah dengan mimik cemberut dan terlihat dari mulutnya dia berujar “F*kc”

    Sedangkan untuk ucapan “F-word” sendiri lebih sering terdengar meski “sh*t” atau “holy moly” atau “d*mn” lebih sering sih..

    Aku lebih sering pake kata “Ffffffff…” dan semua orang tau aku lagi bete🙂

  12. septarius says:

    ..
    kalo marah banget, aku gak pernah make’ umpatan bahasa inggris, paling misuh gaya suroboyoan..
    luwih manteb..hehe..
    ..
    soal ABG itu no komen lah, dulu aku juga gitu kok..🙂
    nanti juga bakalan sadar..🙂
    ..

    • nanaharmanto says:

      Nah, ini namanya “nguri-uri kabudayan”… lhhhooo??
      hehehehe… paling mantep dan plong memang mengungkapkan sesuatu dalam bahasa sendiri.

      Semoga nanti semakin dewasa para ABG itu bakal sadar… nah, yang memprihatinkan nih, kalau ada orang dewasa yang malah ngajari begitu… weleh..

  13. Clara Croft says:

    Wah, jadi artinya itu ya Mba.. Saya jadi ingat film Mr. Bean yang tentang lukisan Mary itu, dia pake simbol mengacung2kan jari itu sama preman, premannya marah2, malah mungkin murka..

    Kadang anak2 muda sekarang meniru sesuatu yang tidak mereka ketahui artinya, jadi sembarangan ya Mba..

    • nanaharmanto says:

      Iya Cla… artinya memang sangat nggak indah… rasanya, dalam bahasa kita sendiri pun, nggak ada orang waras yang mau ‘merelakan diri diperk*sa” kan?

      Semoga anak-anak muda yang latah meniru-niru suatu perbuatan tanpa tau maknanya itu segera sadar bai atau buruk tindakannya…

  14. riris e says:

    heheh..jujur aku baru tahu arti “jari tengah” itu yang sebenarnya.

    terima kasih sudah menuliskannya di sini. Mudah2an kita bisa lebih bijak dalam mengekspresikan kemarahan ya Na?

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih juga Mbak Ris… semoga semakin banyak orang yang tau, semakin sedikit orang yang merendahkan diri dan orang lain dengan perilaku ini.. 🙂

  15. anis says:

    Mbak nanaaa,
    izin share di note fb ya…anis sertakan linknya juga nanti🙂

    *baru tahu juga artinya separah itu mb, ckckck…
    memang Tuhan tidak akan menghukum suatu ketidaktahuan, tapi karena itulah kita–ummat-Nya–diwajibkan pula untuk belajar;
    dan tulisan ini adalah salah satu pelajaran berharga yang anis dapatkan
    Mkc ya mbak🙂

    • nanaharmanto says:

      Monggo, silakan Jeng… dengan senang hati…
      Aku memang berharap tulisan ini bisa berguna untuk orang lain… yang nggak tau jadi tau, dan nggak akan bertindak tidak bijaksana untuk ke depannya..

      Banyak pilihan untuk berbuat apapun, termasuk pilihan untuk mengetahui pengetahuan dan pemahaman baru..

      Terima kasih udah mau ikut menyebarluaskan tulisan ini ya…
      *Btw, boleh kita temenan di FB?
      makasih ya Jeng… 🙂

      • anis says:

        Sama-sama mbak na🙂

        Hehe, langsung anis search dan send friend request ke mbak na;
        yang foto profilnya bunga lili ya mb..itu pake nama lengkap anis🙂

  16. guest says:

    wah..
    makasih ya infonya..
    berguna banget..
    ijin coppas bagian artinya ya..

  17. bundakeren.blogspot.com says:

    izin share yah mba🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s