Ada setan di rumah Tante Nana..

Hah?! judul apa pula ini?

Gini, ya, mau nyombong dikit… di lingkungan tempat tinggalku, aku ini termasuk tante gir*ng  favorit anak-anak. Setiap kali mereka lewat rumahku dan melihatku, pasti mereka heboh memanggil-manggilku dengan suara khas kanak-kanak mereka, “Tante Nana….”. –dengan nada do..do..la..fa…—  Tiru-tiru Om NH dengan sol mi sol-nya🙂

*hayaaaahh nggak usah dipraktekkin gitu dong… hihihi..

Ada juga sih anak-anak yang awalnya takut padaku, tapi karena setiap kali aku rajin menyapa atau bercanda dengan mereka, akhirnya mereka nggak takut lagi padaku, malah jadi semrinthil padaku. Halah istilah apa pula ini?

Nah, jeleknya, mereka jadi suka sekali masuk ke rumahku. Apa saja bisa mereka pegang dan mereka tanyakan, “Ini apa? Itu apa?”.  Sebatas itu aku masih OK.. tapi ada seorang anak yang tampaknya terlalu dimanja orangtuanya sehingga dengan mudahnya dia ngelunjak. Mulai berani minta kue dan minum. Caranya tak sopan lagi… bahkan berani rewel dan ngambek di rumahku. Ow..ow… ini yang harus mereka tahu… aku tidak suka area privasiku diobok-obok.. terlebih yang nggak sopan begitu.

Terhadap anak-anak yang begitu, aku cukup bicara pelan dan serius memperingatkan mereka, dan mereka akan tahu bahwa Tante Nana mereka ini nggak bisa diajak sembarangan. Kutegaskan pada anak itu, bahwa dia tidak boleh nakal dan seenaknya sendiri di rumah Tante Nana.

Aku perhatikan, mereka akan lebih cepat menurut, daripada saat mereka-dibentak-bentak atau dilarang ibu mereka sendiri.

Ada seorang anak yang hobi sekali ke rumahku. Kalau aku tak mengusirnya, dia akan berseru-seru memanggil teman-temannya untuk ikut masuk ke rumahku! Dooohh….

Biasanya sebelum anak ini sempat masuk lebih jauh ke dalam rumahku, aku sudah “mengusirnya”. Kalau aku membiarkan satu anak masuk, teman-temannya yang lain akan menyusul masuk semua..  Males aja sih kalau mereka berantem dan nangis di rumahku.

“Ayo, kalian main di luar ya? Tante Nana mau menyapu”. Dan biasanya sih anak-anak itu menurut hihihi…

****

Nah, ada beberapa ibu yang tahu bahwa anak-anak mereka suka nyelonong masuk  ke rumahku. Kalau mereka melihat anak-anak mereka ancang-ancang masuk ke rumahku, mereka pun berteriak.

“Jangan masuk ke situ Nak! Ada tikus! Awas ada tikus besar di rumah Tante Nana situ! Digigit kau nanti!”

Atau begini,

“Hey! Jangan masuk ke rumah Tante Nana! Weh, ada setan di rumah Tante Nana! Sini Nak, jangan masuk, nanti hilang kau di dalam!”.

Memang anak-anak itu tak jadi masuk kerumahku. Tapi, ada yang memprihatinkan kan di sini?

Can you see it through my glasses?

Si*lan. Batinku.  Rumahku dikatakan ada setan. Diteriakkan di depanku lagi. hhhffffttt…

Jujur, aku sempat tersinggung lho… Tapi aku maklum, tingkat pendidikan mereka, dan cara pengasuhan mereka jelas berbeda dengan yang kuterima selama ini. Ibu-ibu ini melarang anak-anak dengan berteriak, mengancam dan menakut-nakuti… kuperhatikan sih, kebanyakan anak-anak malah nggak respek ya sama teriakan ibu-ibu mereka..

****

Tadi pagi, seorang anak tiba-tiba masuk ke rumahku tanpa ijin. Maksrunthul tiba-tiba dia masuk dari pintu belakang dan sudah di beranda sambil memanggil-manggil kawannya di luar untuk ikut masuk ke rumahku. Kugandeng tangannya tanpa bicara, kuajak ke pintu belakang tempat sandalnya ditinggal. Sampai di luar kubilang, “Nah, Ayu pulang ya, nanti kau dicari mamakmu….”. Anak ini menurut dan pergi dari rumahku hihihi…

Anak-anak ini rupanya terbiasa keluar masuk rumah orang tanpa permisi, karena ada teman sebaya mereka di rumah para tetanggaku. Mereka mungkin menganggap hal begitu pun sah-sah saja bludhusan di rumahku. Hmmm… tidak bagiku.

Sedari kecil, aku tinggal di rumah dengan tembok di sekeliling rumah. Sangat jelas batasan privacy yang kami bangun. Lalu aku tinggal di asrama, di mana masing-masing penghuni punya area pribadi yang harus dijaga dan dihormati. Di kedua tempat tinggal sebelum kami pindah ke sini pun, teritori kami sangat jelas. Tak ada yang berani menerobos wilayah kami tanpa permisi. Awalnya, aku sempat terkaget-kaget dengan perilaku masyarakat sini yang “tak menghargai” wilayah privacy kami. Ah, kapan-kapan akan kuposting terpisah deh…

Aku mulai terbiasa dengan perilaku orang-orang sini, meski terhadap anak-anak, aku tetap tak mengijinkan mereka terlalu lama berada di dalam rumahku.

****

Beberapa saat yang lalu, beberapa anak bermain-main melontarkan wadah bekas air minum dalam kemasan gelas. Gelas plastik itu diikat dengan tali, diisi dengan tanah dan air sebagai beban, lalu diputar-putarnya sekuat tenaga untuk dilepas mendadak dan lemparan terjauhlah yang menang.

Bletaakkk!! Sesuatu jatuh di beranda rumahku. Ketika aku keluar, lantai beranda sudah sangat kotor, basah dan berantakan. Gelas plastik bertali teronggok di situ. Sementara sempat kulihat anak-anak itu lari sembunyi sambil menahan tawa. Kupanggil salah satunya, dan kutanya, siapa yang berbuat. Anak ini menyebutkan sebuah nama.

“Ok*n, Tante…”.

Dan kuminta ia untuk memanggil anak yang melemparkan gelas lumpur itu. Awalnya si pelaku menolak. Tapi tegas kukatakan, aku akan menjemputnya ke rumahnya meski dia sembunyi. Kalau perlu, aku akan bicara pada ibunya bahwa anaknya harus membereskan kekacauan yang ditinggalkannya. Akhirnya anak berumur 7 tahunan itu tahu aku serius, dan mau keluar menemuiku.

Kugandeng tangannya, kuajak masuk ke berandaku.

Kutanya di baik-baik. “Nah, siapa namamu?”.

“Ok*n, Tante…”.

“OK, Ok*n, lihat perbuatanmu. Rumah Tante jadi kotor. Ok*n harus bilang apa?”. Dia diam saja. Kuajari dia. “Katakan, maaf, Tante..”.

“Maaf, Tante”, katanya sambil tertunduk.

“OK, Tante maafkan, lain kali jangan diulangi lagi. Nah, sekarang, karena Ok*n sudah mengotori rumah Tante, Ok*n sendirilah yang harus membersihkan. Kuberikan padanya sebuah sapu dan stok pel. Ok*n menurut. Disapunya lantai tanpa bicara, lalu dipelnya lantai beranda. Lucu sekali caranya. Kaku. Pasti tak pernah dilakukannya menyapu dan mengepel begitu di rumahnya.  Aku sebenarnya ingin tertawa, tapi kutahan, karena saat itu Ok*n dan teman-temannya yang menonton harus tahu bahwa aku tidak main-main.

“OK, sudah cukup Ok*n, terima kasih ya… Tante nggak marah, tapi Ok*n harus janji untuk nggak bikin kotor rumah Tante lagi”. Ok*n mengangguk.

Ok*n pun pulang. Aku lega. Aku tidak perlu melukai hatinya dengan amarah dan kata-kata keras. Setidaknya aku sudah menunjukkan padanya, bahwa orang dewasa yang marah tidak harus berteriak dan mengancam.

Dan yang terpenting, Ok*n dan teman-temannya akan berpikir dua kali sebelum berniat merecoki area privasiku lagi.  Mungkin saat ini dia tidak mengerti, tapi aku berharap aku  telah memberinya sesuatu yang mungkin akan terus diingatnya nanti: amarah tak harus berupa teriakan dan mata melotot…

Hayo, masih mau masuk rumah Tante Nana?🙂

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

27 Responses to Ada setan di rumah Tante Nana..

  1. nh18 says:

    Kutegaskan pada anak itu, bahwa dia tidak boleh nakal dan seenaknya sendiri di rumah Tante Nana …

    Ini kuncinya …

    Kadang kita suka melarang ini itu dengan kata-kata keras …
    padahal sebetulnya dengan diberi peringatan dengan tegas tapi penuh kelembutan … saya rasa mereka akan mengerti

    Salam saya Nana …

    Tante Naaa Na …
    dalam benak saya nadanya adalah … “Mi Mi Sol Fi Sol …”
    (inget itu Fi … bukan Fa …)(dan di nada sol fi solnya itu ada garis lengkung ligatura-nya …)(halah dibahas)

    • nanaharmanto says:

      hahahahaha…. ngakak pol saya baca komen Om yang terakhir… dibahas pulak nadanya… hihihihi…

      mi mi sol fi sol…. *hayaahhh…saya praktekin lagi Om… hihihi… 🙂
      ini nada khas di Jawa, Om…

      nada panggilan di Sulsel sini lain dengan di Jawa, Om… saya sih mengira-ngira nadanya ya do do la fa.. atau lebih tepat mi mi la fa ya? *hayah… pakar musik didebat… kalah saya Om… *menjura*

      atau lain kali saya rekam trus Om nyari nadanya? *ini murni usul tetangga sebelah yang pagi-pagi udah ngakak baca komen Om NH*

      Salam sol mi sol, Om…🙂

  2. Imelda says:

    Ah judul tulisan kamu tuh Na, kupikir beneran ada yang lihat setan di rumah kamu. Kan anak-anak biasanya bisa lihat yang begituan…..hiiiiii…..

    BTW, mau laporan suara dengkur yang ada di kamar tidurku sudah menghilang😀 Kebetulan muridku yang bisa “berhubungan” itu bercakap-cakap dan mendoakan dgn cara dia (pakai garam dan sake). hihihihi

    EM

    • nanaharmanto says:

      Hahahaha…. judulnya menipu ya Mbak? hihihi… abis judul ini yang kurasa paling pas… dan paling bikin penasaran hehehe…

      Syukur deh Mbak… “the invisible man” udah pindah tidurnya… smoga rumah Mbak Imel jadi lebih nyaman setelah ini ya Mbak, nggak ada yang perlu takut lagi… 🙂

  3. arman says:

    emangnya pintu rumahnya gak dikunci ya na?

    kalo gak, di pager digantungin plang aja ‘awas anjing galak’. hihihihi biasa kan orang suka gitu tuh biar gak ada yang berani masuk walaupun gak ada anjing di rumahnya…😀

    tapi ya sebenernya kalo anak2nya baik2 sih gpp ya main ke rumah. yah kayak yang lu lakukan udah bener banget lah menurut gua, anak2 itu dikasih pengertian ya…🙂

    • nanaharmanto says:

      Kebetulan rumahku berpagar di bagian depan dan selalu terkunci.. tapi bagian belakang memang nggak berpagar. Pintu belakang memang hampir selalu terbuka kalau siang hari, karena aku nggak tahan di ruangan tertutup siang bolong gitu…

      Ya jeleknya anak-anak jadi gampang masuk.. kadang orang minta sumbangan juga… mau nambah pintu jeruji/kasa, kok yg punya rumah rada itungan, jadi males deh… hihihi..

      Hahaha… ttg tulisan “anjing galak” itu nggak akan dipercaya, karena semua orang di sini gak ada yang piara anjing, soalnya di sini kan mayoritas beragama tertentu yang nggak suka anjing.. lagian anak-anak belum bisa baca.. lha kalau di rumah cuma ada aku… ntar anjingnya siapa? hihihihi… 🙂

  4. riris e says:

    tengok kiri kanan…hm..aman..nylonong masuk aaah…😀
    Kelembutan itu sesungguhnya sangat kuat ya Na?!

    • nanaharmanto says:

      hehehe… Mbak Ris lucu…

      iya Mbak bener… aku perhatikan anak-anak yang tumbuh dengan penuh teriakan dan amarah akan menjadi anak-anak pemarah dan tukang teriak juga…

  5. Clara Croft says:

    Lucunyaa.. dulu juga ada anak tetangga suka masuk rumah.. maen bahkan sama si Enjoy, anjing kami, padahal anak ini Muslim, tapi tetap dia ga kena air liur Enjoy, kami jaga supaya begitu.. ada nilai2 yang jauh berbeda, tapi karena sering bersama kami, kami merasa kalo cara berpikir anak itu pun jadi sedikit berubah daripada dia yang sebelumnya.. kami pikir itu sih sesuatu yang baik Mba..🙂 dan baik juga bagi saya, karena jadi tau bagaimana rasanya hidup di keluarga yang tingkat ekonominya di bawah saya

    • nanaharmanto says:

      Enak ya bergaul dalam perbedaan tanpa permusuhan… aku bermimpi Indonesia Raya ini perlu belajar dari Indonesia-indonesia sederhana seperti ini…

      Indahnya berbagi pengetahuan baru ya… tanpa memandang perbedaan agama dan status ekonomi..

  6. edratna says:

    Hehehe…memang susah ya Nana…bergaul dengan lingkungan sekitar yang berbeda dengan ajaran kita di rumah. Dulu…pagar rumahku dan tetangga hanya merupakan pagar tanaman, tapi sopan santun tetap ada…

    Sekalinya tinggal di Jakarta, saya juga mengalami anak-anak yang suka bludusan seenaknya begitu…tapi dia teman2 anakku, akhirnya pelan-pelan saya giring mereka bermain di garasi atau teras, saya beri buku-buku bacaan, dikasih tikar…mereka bisa tiduran di sana, dan si mbak membuatkan makanan agar mereka kenyang. Alhamdulillah, cara ini membuat anak-anak tetap datang ke rumah, tapi sopan…..

    • nanaharmanto says:

      Baru di tempat tinggal yang sekarang ini anak-anak tetangga saya bludhusan begini, Bu.. Waktu saya tinggal di Jakarta nggak ada yang bisa main ke rumah karena siang hari rumah kosong karena saya dan suami sama-sama kerja. Waktu tinggal di Balikpapan, kami tinggal di komplek yang meskipun tak berpagar, tapi tampaknya semua paham batas privacy masing-masing, jadi antar tetangga nggak saling ngrecokin.

      Dan hal ini juga ditanamkan ke anak-anak mereka, jadi anak-anak kalau ingin bermain ke rumah tetngga selalu bermain di teras/carport, kalau tuan rumah mengundang masuk, baru deh anak-anak itu masuk… sopan santun memang seharusnya ditanamkan sejak dini ya Bu..

  7. @zizydmk says:

    Dulu waktu saya KKN di sebuah desa di tengah kota Medan, penduduk sekitarnya jg begitu, sesukanya saja masuk rumah tetangga. Mgkn krn mereka jg suka duduk2 ngobrol di depan rumah rame2 jadinya ya bablas jd kebiasaan masuk2 rumah.
    Waktu aku dulu di Biak, ada jg rumah tetangga yg sering jd tempat hilir mudik n kumpul2 tak resmi.

    • nanaharmanto says:

      Wah… di sini juga ada yang begitu, ada satu rumah yang sering dijadikan tempat ngumpul-ngumpul gitu. ibu-ibu ngumpul lalu ngerumpi, anak-anak dibawa dan hasilnya ya itu, anak-anak jadi terbiasa bludhusan keluar masuk rumah orang..

      Aku merasa kurang nyaman kalau rumahku dijadikan tempat ngerumpi begitu karena beberapa alasan.
      1. sering mereka ngobrol dalam bahasa lokal, dan bengonglah aku sendirian tanpa mengerti apa yang dibicarakan.

      2. kadang mereka nggak ingat waktu, sementara aku punya jadwal sendiri. misal jam 10 sudah harus selesai urusan pagi (sarapan, beresin kamar, setrika), jam 11 sdh mulai masak karena suami pulang makan siang. jam 2 waktu untuk istirahat.
      abis istirahat mulai kegiatan sore: nyapu, ngepel dsb..
      kalau ngikutin “pola” nggak disiplin kayak mereka hmm… aku nggak bisa begitu tiap hari…

      3. aku lebih menikmati FBan dan blogging atau simply main games di rumah… 🙂

  8. krismariana says:

    Anak-anak memang suka bludusan. Mungkin karena mereka perlu area bermain yg lebih luas. Lagi pula, masuk2 rumah orang mungkin terasa mengasyikkan buat mereka. Eh, tapi aku jadi ingat, dulu waktu di asrama kamu paling nggak suka kalau ada yg duduk di tempat tidurmu. Hihihi.

    • nanaharmanto says:

      Bener Nik… rumah orang lain selalu mengundang keingintahuan anak-anak…ah, orang dewasa pun kadang demikian🙂

      Dulu waktu aku masih kecil, aku juga paling suka masuk ke rumah temanku. Tapi aku selalu ingat nasehat orang tua dan nenekku, untuk nggak ngotorin rumah mereka atau ikut makan di rumah mereka..
      Teman-temanku juga main ke rumah, tapi areanya terbatas di beranda, kalau mereka sampai masuk ke rumah, nenekku lah yang selalu siaga menyuruh mereka keluar hihihi…

      hahahaha… masih ingat ya, dulu aku nggak suka bed-ku didudukin orang, apalagi yang ber-jeans… kan kita nggak tau mereka habis duduk di mana aja tuh…🙂

  9. vizon says:

    oalah… judulnya bikin aku begidik duluan. soalnya, dulu Nana juga pernah bahas soal yang begitun kan? kirain itu masih berlanjut, hehehe…🙂

    aku pernah baca sebuah quote yang kira-kira begini:
    “berbicara dengan nada rendah dan perlahan disertai tekanan yang jelas, akan lebih efektif memberi dampak perubahan daripada bicara keras, nada tinggi, dan tidak fokus”.

  10. septarius says:

    ..
    Mbak Nana ini berhati lembut tapi tegas ya..🙂
    ..
    kalo aku malah kayak gak ada wilayah privasi, lagi tidur di kamar pun suka digedorin ponakan2..
    jadi mending gak usah di kunci sekalian.. hehe..
    ..

    • nanaharmanto says:

      Emang Ata tau bener aku berhati lembut? hehehehe…

      aku menilai diriku sendir cukup tegas tapi dalam beberapa hal juga flexibel..

      Eh, tapi digangguin keponakan lain deh denga digangguin anak tetangga hehehe 🙂

  11. Aan Subhan says:

    setidaknya si anak sudah mendapat pelajaran berharga dalam hidupnya. Bagaimana harus menghargai orang lain dan meminta maaf jika melakukan kesalahan terhadap org lain.

  12. tunsa says:

    tante nana…..tante nana…
    salam kenal yah dari saya…😀

  13. Sugeng says:

    Banyak orang tua yang terlalu proaktif dalam mengajarkan anak-anaknya. Padahal pengajaran yang begitu malah membuat anak tambah menjadi2 kenakalan nya.

    Salam hangat serta jabat erat selalu dari Tabanan

    • nanaharmanto says:

      Smart parenting sepertinya memang lebih efektif untuk mendidik anak-anak ya Pak… semoga kelak saat saya dipercaya menjadi ibu, saya juga bisa menerapkan smart parenting ini tehadap anak-anak saya…

      salam hangat selalu Pak Sugeng.. 🙂

  14. Bang Uddin says:

    anda yang melakukan, anda yang akan tanggung suka duka atas perbuatan anda

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s