Daun Kelor

Kata orang, dunia tak selebar daun kelor…

..dunia tak selebar daun kelor..

Note: Foto koleksi pribadi

Hujan daun

Hampir tiga puluh tahun yang lalu…. bocah-bocah cilik itu asyik bermain pasar-pasaran, atau membuat kue dari tanah.  Tanah diaduk dengan air membentuk adonan, lalu dengan sendok bekas, dituangkan di atas tanah kering untuk “dicetak”. Sebelum adonan itu mengering, kue tanah itu dihiasi berbagai bunga-bunga kering mungil, manggar,-bunga kelapa-, bunga kelor, dan bunga rerumputan lainnya. Hasilnya? Kue-kue yang cantik!

Aku ingat betul betapa senangnya aku berkreasi dengan kue-kue tanah dan hiasannya. Tak lupa aku memamerkanya pada nenek nyentrikku.. dan dia pun akan ikut memuji kue-kue tanah buatanku, dan ikut pula membeli daganganku itu hihihi…. what a sweet moment..! 

Asyik ya nenekku itu, dia tak pernah meneriaki kami bahwa bermain tanah itu kotor! Nenekku tinggal mengingatkan kami untuk cuci tangan sebelum menyentuh makanan atau gelas minum…

Aku masih ingat betul, tempat favorit kami untuk mencetak kue adalah di depan rumah, di bawah pohon rambutan. Teduh di sekali situ. Di dekat pohon rambutan, tumbuh pohon kelor yang menjulang tinggi langsing. Menurutku sih, pohon kelor ini tidak cantik, aneh, dengan batang kurus-kurus panjang yang gundul, sedangkan daun-daun kecilnya tumbuh merimbun di ujung-ujung tertingginya.

Aku ingat, aku tak suka pada daun kelor itu karena baunya yang nggak enak, langu, dan baunya sepertinya awet di tanganku. Aku pun menghindarinya sebagai mainan pasaran karena aromanya itu.😦

Kata nenekku sih, dia menanam daun kelor itu karena cepat tumbuhnya, dan bukan tanaman rewel yang minta perhatian khusus.

Ternyata banyak tetangga yang kerap memintanya sebagai obat. Entah obat apa…

Pernah, papa sengaja menebang batang-batangnya yang tinggi itu karena daunnya jadi tak terjangkau dengan galah sekalipun. Papa memotong-motong batangnya dan menyandarkannya untuk dijemur supaya kering. Batangnya ternyata berat lho… Lucunya, batang yang sudah terpotong-potong dan dijemur itu, malah tumbuh daun-daunnya… hehehe…

Ah, ingatan yang satu ini pun ikut menyeruak ingin ikut diabadikan… ketika daun-daun kelor menguning dan merapuh, mereka akan berguguran saat angin berhembus. Kadang kami bersorak di tengah hujan ratusan daun-daun kuning yang melayang luruh ke tanah.. wah indahnya….

Setiap kali angin berhembus, kami siap-siap dihujani daun-daun kelor dan berusaha menangkap mereka, hihihi.. susah!

Tapi, hujan daun itu juga merepotkan karena membuat halaman kami jadi kotor. Bergantian kami harus menyapu daun-daun kecil itu.

****

Suatu sore yang tenang… belasan tahun yang lalu..

Aku tengah duduk membaca saat seorang tetanggaku mendatangi rumah kami.

“Mbak, badhe nyuwun ron kelor…”.

(Mbak, mau minta daun kelor)

“Oh, sumonggo, Mbak… damel menopo, Mbak?”, tanyaku berbasa basi.

(Silakan Mbak, untuk apa?)

Si Mbak menjawab, “Damel nyabet tiyang sakit, Mbak..”, katanya sambil tersenyum.

(Untuk nyabet orang sakit).

Melihatku terbengong, si Mbak meneruskan.

“Itu, simbah buyut saya sedang sekarat, susah meninggalnya, jadi harus digepyok dengan daun kelor..”.

Glek…

“Ooooo….”, hanya itu reaksiku.. aku baru tahu, daun kelor gunanya untuk “membebaskan” orang yang tak kunjung mati meski sakratul mautnya telah memanggil-manggil sekian waktu… hiiii….

seikat daun kelor (Moringa oleivera)

Note: Foto koleksi pribadi

****

Borneo, 4 tahun silam…

Aku sempat ikut kegiatan sosial bersama-sama ibu-ibu di komplek. Kami mendampingi kegiatan pendidikan alternatif untuk anak-anak marginal di sebuah kampung tempat para perantau dari pulau Buton, Sulawesi Tenggara bermukim. Di salah satu rumah penduduk, ada sebuah warung kecil, tempat berbagai sayur dijual. Di situ aku melihat seikat daun kelor. Otomatis pikiranku teringat, ini daun untuk orang mati… sengaja dijual untuk ….??  masak ada orang yang sengaja menyiapkannya untuk tujuan itu? Iseng aku bertanya.

“Ini untuk apa, Bu?”.

Jawaban enteng si ibu pemilik warung membuatku terperanjat.

“Ya untuk disayur… enak itu…”.

GLEK….

”Iya, biasa itu untuk melancarkan ASI…”.

–Setauku daun katuk yang berfungsi melancarkan ASI deh… —

Aku masih ingat bau langunya, uhh… hmm… aku nggak berniat sedikit pun untuk mencobanya.. di Jawa kan kelor untuk nyabet orang mati?…  *tepok jidat*

****

Celebes, setahun kemudian..

Aku sering melihat tukang sayur membawa ikatan daun kelor di antara sayur mayur dagangan mereka. Kulihat juga di pasar.

Beberapa kali kulihat banyak pula tetanggaku yang memetik daun kelor ini. Baru kuperhatikan, betapa banyaknya pohon kelor di halaman rumah penduduk.

Dasar aku orangnya selalu ingin tahu, aku pun bertanya pada tetanggaku. “Untuk apa itu Bu?”

“Untuk disayur, enak sekali ini, Mbak Nana…”.

Waduh…

Dimasak apa? Tanyaku lagi. tetanggaku ini menjawab, kelor ini enak untuk campuran barobo’ – semacam bubur Manado- dan sebagai sayur bening dicampur dengan kacang hijau…

Melihat reaksiku yang terbengong begitu, dia bertanya.

“Kalau di Jawa, kelor dibuat apa?”.

Hati-hati aku menjawab. Sepanjang pengetahuanku, di Jawa, -setidaknya di desaku dan sekitarnya, daun kelor memang tidak pernah dimakan, karena kelor masyur dengan kegunaannya untuk nyabet, sebagai salah satu syarat untuk membebaskan orang sekarat dari ilmu jahat, guna-guna dan jimat yang masih memberatinya hingga tak kunjung meninggal…

“Ooo…. pantas, Bu Lina yang dari Jawa itu tidak pernah mau makan kelor…rupanya begitu ya…”.

Masih menurut tetanggaku, ada beberapa orang lokal yang percaya bahwa pohon kelor ini memang berguna untuk mengamankan barang-barang yang dicurigai sebagai kiriman yang bermaksud jahat seperti peniti, jarum dan paku. Barang-barang ini harus ditanam di bawah pohon kelor supaya pengaruh jahatnya terpatahkan dan gagal berfungsi untuk menyakiti orang.

****

Nah, pertanyaannya sekarang. Pernahkah Nana makan daun kelor?

Jawabannya: Pernah! Sering!😀

Karena penasaran, aku bertanya cara memasak kelor ini pada tetanggaku.

Barobo’

Sama prosesnya dengan membuat bubur Manado, beras direbus hingga menjadi bubur, lalu masukkan potongan singkong, jagung dan terakhir kelor. Tambahkan garam. Simpel kan? Barobo’ dimakan hangat dengan sambal dan ikan asin… hhmmm yummyyy….

barobo' semacam bubur Manado


Note: Foto koleksi pribadi


Sayur bening.

Kacang hijau secukupnya direbus hingga lunak, lalu masukkan irisan bawang merah, sedikit gula merah dan garam. Bisa juga ditambahkan kacang panjang. Masukan daun kelor hingga layu. Begitu masak, siap disantap deh.. enak dimakan dengan nasi hangat pulen, tempe goreng dan sambal.

Jujur, aku jadi suka makan daun kelor hihihi….

Konon, daun kelor ini mengandung zat besi yang lebih tinggi dari bayam. (Ada yang mau menambahkan info? Monggo… )

Nah karena sayur kelor kacang hijau ini bergizi tinggi, sayur ini banyak manfaatnya untuk ibu-ibu yang sedang hamil dan menyusui…

sayur bening kelor dengan kacang hijau, enak ternyata...

Note: Foto koleksi pribadi.

Berani makan kelor di Jawa, Na?

Berani kali ya… asal jangan ketauan orang-orang lain hihihi…. kok malah jadi ingat sebuah ayat yang kira-kira begini bunyinya: … hendaklah kamu menghindari segala sesuatu yang menimbulkan perdebatan dan persengketaan di antara kamu… *haiyahhh…*

Well.. daripada diributin orang…😀

Dan yang jelas sih, nggak bakal aku teriak-teriak: heeeyy tetanggeee…. gue makan kelor lho! Hebat kan?

Dan yang lebih jelas lagi, nggak bakal juga aku mau makan kelor yang abis dipakai untuk nyabet, nggepyokin orang mati… wweeeewww….!!

****

Bagaimana dengan Anda?

Pernah makan daun kelor? Berani mencoba?

Di daerah Anda, daun kelor digunakan untuk apa? Mau berbagi?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

35 Responses to Daun Kelor

  1. riris e says:

    Haduuh..poto2 itu memuatku lapaaar. Tentu saja aku belum pernah makan daun kelor, Na. Nanti akan aku coba memasaknya😀

  2. DV says:

    Aku inget cerita orang-orang lama dulu, daun kelor banyak dipake para penjagal PKI untuk memecut badan mereka sebelum disembelih.. kejam ya..😦

  3. nh18 says:

    Belum …
    Seingat saya … Saya belum pernah makan daun kelor …

    Apakah mau memakannya … ? … mmm … mmm … ada makanan yang lain tak ?🙂

    Saya juga pernah dengar “khasiat kelor” ini … tapi yang aku dengar itu bukan daunnya tetapi … ranting / batangnya … Untuk di “sabet” juga.

    Salam saya

  4. Emak Bawel says:

    Wowwwww…baru tahu… Hebat deh Tante Nana, dari daun kelor saja bisa bercerita tentang sisi2 menarik budaya tanah air kita! I’m so proud of you! (2 jempol! Ala Bu Sum, hehehe..)
    Nggak cuma ceritanya, tetapi ketrampilan dan seni memasak juga berkembang, ya… (tambah jempolya-sekarang jempol kaki ikutan..). Kapan2 ikutan dimasakin, ya..(Maunya..bukannya belajar masak sendiri, hehehe…)

    • nanaharmanto says:

      holaaa…. makasih ya apresiasinya….. kepala jadi makin gede deh… hihihi…
      waktu mudik bulan Maret lalu, sayangnya nggak sempet masak kelor, ternyata kelor yang di depan rumah itu udah ilang. Kata papa udah lama banget kelor itu mati… sayang ya…

      Padahal tetangga kita juga banyak yang butuh untuk obat…
      yuuk kapan-kapan kalau kita mudik kita coba masak kelor yaaa… 🙂

  5. emimyst says:

    belum pernah makan daun kelor. tapi kelihatannya kalau sudah jadi seperti daun katuk ya?
    Ngga tau juga manfaat utk sabet menyabet hehehe. Bahasa Latinnya Moringa oleifera dan waktu cari di wikipedia memang banyak manfaatnya tuh.
    http://en.wikipedia.org/wiki/Moringa_oleifera

    EM

    • nanaharmanto says:

      Rasanya khas Mbak.. Lain rasanya dengan katuk..
      Terima kasih ya Mbak Imel.. Komen Mbak memperkaya tulisan ini..🙂

    • nanaharmanto says:

      Kalau rasanya lain dengan daun katuk Mbak.. Daun kelor jg lebih kecil.. Thank you ya Mbak Imel untuk link-nya.. Thank you utk memperkaya isi posting ini.. 🙂

  6. arman says:

    belum pernah makan daun kelor na.
    malah gua baru kali ini tau daun kelor itu kayak apa. huahahaha.
    selama ini cuma denger pepatah aja kalo dunia itu tak selebar daun kelor. gua kirain (selama ini) kalo daun kelor itu daunnya gede. ternayta kecil2 gitu toh..😛

  7. @zizydmk says:

    Melihat daun kelor aja belum pernah, baru tahu bentuknya dari postinganmu ini Na. Cuma tahu pepatah saja seperti Arman.
    Ternyata banyak sekali manfaatnya ya, mulai dari disayur sampai bisa membebaskan si sakit agar segera lapang berpulangnya.

    • nanaharmanto says:

      Iya ternyata banyak manfaatnya si daun kelor ini… aku pernah denge ada yang bilang bisa juga untuk obat penurun panas. tapi gak tau caranya gimana, makanya nggak masuk dalam postingan🙂 . Jadi seneng kalau postinganku bisa bikin orang lain jadi mengetahui sesuatu yg baru… 🙂

  8. krismariana says:

    dulu di rumahku di madiun, ada pohon kelor. tapi waktu aku sudah mulai besar, pohon itu ditebang. namun aku masih ingat, beberapa orang rumah pernah mengatakan bahwa daun kelor itu bisa dimasak. terus terang aku lupa2 ingat. lalu aku tanya ke kakakku, dan dia membenarkan hal itu. waktu dia masih kecil, pengasuh kami pernah memasak daun kelor tersebut. katanya sih dimasak sayur bening.

    • nanaharmanto says:

      Selama aku di Jawa, aku belum pernah dengar lho bahwa kelor bisa dimasak dan dimakan… mungkin karena reputasinya itu ya…
      Setelah merantau di luar Jawa, baru tau deh… dan ternyata aku sukaaa… hihihi…

  9. septarius says:

    ..
    si sayur asem juga enak tuh Mbak..😉
    coba deh di campur kacang panjang sama pusuk daun melinjo.. mantab..🙂
    ..
    ..

    • nanaharmanto says:

      waaahh… jujur baru tahu kalao kelor juga enak di sayur asem… asyikkkk tambah variasi resep lagi… thanks ya Ata… besok coba masak sayur asem daun kelor ah…. yuuummyyy…

  10. Alris says:

    Ahaa… saya juga baru tahu nih daun itu juga buat membantu roh meninggalkan raga. Konon, dari sas-sus yang saya dengar daun kelor itu memang juga untuk membebaskan orang yang akan sakratul yang punya ilmu kanuragan tertentu, wallahu’alam.

    • nanaharmanto says:

      Wah, ternyata kepercayaan bahwa daun kelor bisa berkhasiat untuk membantu melancarkan jalan yang akan meninggal nggak hanya di Jawa saja ya Uda.. saya pikir hanya di Jawa saja lho… Terima kasih sudah meninggalkan komen ya, saya jadi makin tau deh… 🙂

  11. tutinonka says:

    Di rumah ibu saya dulu ada pohon kelor yang tumbuh tinggi. tapi sepertinya kurang bermanfaat (nggak ada juga orang yang minta untuk ‘nyabet’, meskipun saya tahu soal sabet-menyabet itu … ). Daunnya yang gampang rontok malah merepotkan, sehingga akhirnya pohon itu ditebang tanpa pernah dimanfaatkan😦

    Tapi bahwa daun kelor enak dimakan, saya baru tahu sekarang …🙂

    • nanaharmanto says:

      Saya dulu juga merasa pohon kelor di rumah saya itu nggak ada manfaatnya untuk kami.. batangnya terlalu tinggi pula, sehingga kalau ada tetangga minta kelor, terpaksa batangnya dipatahkan (dgn sadis) hanya untuk diambil sedikit daunnya, lalu sempalannya ditinggal begitu aja… 😦

      Saya juga tau bahwa kelor enak dimakan juga setelah hidup di luar Jawa Bu… 🙂

  12. edratna says:

    Nana..
    Jadi lapar nih…kayaknya sedap banget deh masakanmu.
    Saya tak pernah dengar tentang menyabet pakai daun kelor ini, tapi di kampungku juga tak pernah ada masakan daun ini.
    Kalau bisa memperlancar ASI, perlu dicatat Nana…..

    Artikelmu ini tak kirim ke menantu dan si bungsu ya. Thanks.

    • nanaharmanto says:

      Memang rasanya (bagi saya pribadi) enak, saya suka sekali malah… hehehe…
      Tapi memang ada orang yang menolak makan daun kelor ini, Bu…

      Monggo Bu Enny, silakan membagikan tulisan saya ini… maturnuwun, Bu Enny…

  13. anna says:

    ah.. mbak Nana.. daku suka banget caramu bercerita tentang daun kelor ini…
    terus terang aja.. baru tau juga lho kalo ternyata daun ini bisa dipake nyabet orang.. hihihi ngeri juga ya…

    dan kalopun untuk makan, belum pernah juga…

    ngliat foto2 makannya bikin ngiler.. kayaknya seger banget🙂

  14. clara croft says:

    g pernah makan daun kelor, karena musuhan ama segala jenis sayur-sayuran😀

  15. dukung kelor sebagai keajaiban dunia :) says:

    kelor bisa jadi jawaban untuk daerah kelaparan dan kurang gizi

    http://www.treesforlife.org/our-work/our-initiatives/moringa

  16. Fredyson says:

    aku tahu manfaat daun kelor, setelah membaca majalah trubus. Manfaatnya bisa untuk menghancurkan batu ginjal, (kencing batu) atau batu karang.
    Disayur juga okeee. Tapi aku belum tahu seperti apa pohon kelor itu. mohon sharingnya.

  17. Naomi Budi says:

    Daun Kelor bagi saya itu sesuatu yg baru. Beberapa waktu yg lalu kami mendapat pengetahuan manfaat kelor. Sayangnya ditempat kami susah yah karena kepercayaan kelor yg berhubungan dengan hal2 yg mistik. Berbekal rasa penasaran saya cari wujudnya daun kelor dan nekat minta sama yg empunya pohon. Lumayan sih dapet segemgam doang. Lucunya yg punya pohon langsung bilang buat sarat ya mbak??? Mau ketawa jg sih,tapi saya tahan. Saya cuma senyum aja, trus saya bilang itu bisa dipakai untuk obat pak. Bagusnya yg punya pohon penasaran x jadi dia justru ingin tahu bisa untuk obat apa? Lumayan jg… walau sekilas bisa berbagi informasi beberapa kegunaan Daun Kelor yg saya tau dari internet dgn si bapaki yg punya daun.
    Dari segemgam Daun Kelor muda yg saya dapet iseng2 saya cobain untuk dimasak, awalnya bingung juga mau dimasak apa dengan bhn yg cuma sedikit bgt dan bau daun yg langu. Saya pilih ditumis aja, dan ternyata ditumis juga enak loh, Kemarin saya iseng mencoba memadukan dengan brokoli. Wuihh mantapp juga rasanya. Cobain deh mbak Nana pasti mak nyussss.

  18. santi says:

    Rahasia di balik mistik. Mistik ini brgkl senada dng larangan makan ‘brutu’. Baru thn ini saya tahu manfaatnya utk pangan. Skrg baru mau coba tanam (sdh dpt biji)

  19. liqtar says:

    kalau setahuku bukan hanya untuk nyabet orang yang mau ninggal….. yang sudah meninggal duniapun di jawa *(daerah tertentu ) air untuk memandikan di taburi daun kelor….

  20. nyomanselem says:

    hi jeng.. di jawa & bali memang ada kepercayaan bahwa daun kelor pamali dimakan karena bisa hilang ‘ilmu’nya. lha saya ilmunya dapet di sekolahan formal, jadi kalo makan daun kelor ga akan hilang ilmunya😀 pernah cicip kelornya (buahnya, bukan daunnya)? itu juga uenak.. kalo dibuat sup mirip sup asparagus karena jadi kental… dibilang proteinnya banyak.. trus ada produk kecantikan pakai si kelor ini untuk bahan body cream nya (tentu saja ditulis nama latinnya.. moringa oleifera bukan ‘kelor’… hehehe…).. salam kenal ya…

  21. joan says:

    Daun kelor klo disulawasi tengah… Itu makanan favorit…. Apa lagi dimasak sama santan trus dikasih pisang muda ditaruh ebi atw lamale istilah orang palu…. Beh… Dijamin lupa sama hutang klo udah makan….. Hahahahahaha….. Ssssiiiiiiipppppp…… Gw paling doyan makan nich kelor….

  22. Bagussir says:

    Daun kelor klo di Paluta yaitu Pemekaran dari Tapanuli Selatan, daun kelor itu sayur pavorit, apalagi dimasak pakai santan + terong mudan + kacang panjang + daun singkong atau yang sayuran yang lainnya klo ada ikan sale, waduhhh pasti tambu-tambu makannya, baru nggak bisa bangkit lg dari tempat duduknya, sangkin kenyangnya makan gara-gara sayur daun kelor.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s