Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 1)

Ini cerita tentang sebuah kota dengan sepuluh taksi. Kota kecil ini, berkembang karena inilah penghubung ibukota propinsi Sulawesi Selatan, dengan kota-kota lainnya. Kota transit istilah kerennya ya..

Mengapa sepuluh taksi?

Memang baru ada satu perusahaan taksi di kota ini, mungkin baru beroperasi kurang lebih satu tahun, dengan armada sepuluh taksi saja. Itupun, -menurut dua orang sopirnya, para sopir taksi ini masih lebih banyak nganggur-nya, karena tak ada atau jarang ada panggilan dari calon penumpang.

Mungkin memang mobilitas orang-orang di kota ini termasuk rendah. Lha, coba, mau ke mana lagi ber-taksi? Tak ada bioskop di sini, tak ada mall…

Tiga-empat kali aku menggunakan jasa taksi ini. Dan selalu jendela dalam keadaan terbuka.

“Ibu mau pakai AC atau tidak?” tanya sopir taksi.

“Iya Pak, pakai AC, terimakasih”.

“Kalau begitu, tolong Ibu tutup kacanya”. Rupanya mobil ini masih harus membuka dan menutup jendela kacanya secara manual.

“Saya tanya begitu Bu… karena beberapa penumpang orang sini marah-marah kalau pakai AC, karena jendela tertutup. Jadi jendela harus dibuka karena mereka takut mabok…”.

Aku mengangguk maklum.

 ****

Ini kisah tentang sebuah kota dengan sepuluh taksi.

Di mana penduduknya sangat bangga dengan kota ini. Dibandingkan daerah-daerah penyokong di sekitar kota ini, bisa dibilang kota dengan sepuluh taksi ini memang lebih maju dan modern.

Kota dengan sepuluh taksi ini baru saja  meriah setelah memperoleh kembali penghargaan Adipura ke 7 kalinya dengan penuh kebanggaan.

Seandainya para pemberi penghargaan itu juga menilai daerah di luar pusat kota, aku yakin, maaf saja, penghargaan itu takkan diberikan. Penduduk di sekitarku masih gemar membuang sampah sembarangan. Rumah kontrakan kami pernah 2 kali kebanjiran parah gara-gara got yang tersumbat. Penyebabnya? Sampah yang menghambat saluran got!

Ini memang sungguh terjadi di kota dengan sepuluh taksi. Di mana kita akan mudah jumpai para bapak di warung kopi lengkap dengan seragam PNS-nya, pada jam kerja! Duduk santai, klepas-klepus dengan asap rokok mereka, sambil ngobrol ngalor ngidul.

Beberapa ibu PNS bisa pulang ke rumah, memasak dan mencuci baju, sempat pula tidur siang. Lalu jam 2 siang, kembali lagi ke kantor sampai dengan jam kantor usai.

****

Kota dengan sepuluh taksi ini terhitung “paling metropolis” dibandingkan daerah-daerah lain. Di mana para remajanya berdandan gaul abis seperti yang dipamerkan remaja ibukota, hanya saja, tetap saja, maaf, menggelikan, karena pilihan warna yang sangat ngejreng dan mencolok: kaus pink dipadukan dengan hijau terang, atau orange dengan merah. Beberapa kali aku dan suami terpaksa terkekeh melihat gaya dan selera mereka… hehehehe…

Di kota dengan sepuluh taksi ini, penampilan di atas segalanya. Hemat dan cenderung pelit sangaaaat irit untuk urusan makanan sehari-hari, tapi harus mewah dan wah untuk penampilan.

Yang dilihat di sini adalah emas kuning sebagai “ukuran”, -berapa biji cincin yang dikenakan, kalung besar dan mencolok, gelang di kiri kanan… anting atau giwang yang tak kalah mencoloknya.

Sedangkan emas putih… tak ada tempat baginya… Wah, padahal di pasaran emas putih lebih mahal ya?.

Banyak rumah yang dibangun sangat besar, bertingkat dan berpagar tinggi. Tentu orang dengan mudah akan menduga pemiliknya pasti kaya raya. Biasanya dinding rumah mereka aduhai ngejrengnya. Warna favorit tampaknya di kota ini, pink dipadu dengan cat hijau atau biru.

Well, kesan mewahnya jadi….. *isi sendiri ya*…

Beberapa kali kulihat, beberapa ibu memiliki 2- 3 buah HP yang dibawa kemanapun mereka pergi. HP ini dibawa dalam tas kecil serupa dompet. Kadang mereka membuka dompet HP ini dengan gaya yang sangat ekspresif..

Kudengar dari seorang kawan, rupanya mereka bangga sekali kalau sudah memakai HP besar dengan simbol buah hitam itu. Satu ibu memilikinya, di kemudian hari ibu-ibu lain dalam kelompok yang sama berlomba-lomba mengikuti.  Sayang disayang, dengan gadget mahal begitu tp hanya bisa mereka pakai untuk SMS, telfon dan group chatting antar sesama pemilik gadget yang sama. Internet dan segala aplikasi media sosial lainnya bisa jadi tidak digunakan, yang penting bisa group chatting… *eeaaaa…!!

****

Di kota dengan sepuluh taksi ini, usaha kuliner rupanya kurang bisa berkembang. Beberapa kali kulihat, warung-warung makan terpaksa berhenti beroperasi karena pasar lesu.

Ikan adalah makanan pokok pendamping nasi di sini. Tak ada sayur tak masalah, yang penting ada ikan. Maka usaha kuliner yang paling laku dan bisa bertahan lama adalah kuliner dengan menu utama: ikan laut.

Rumah makan waralaba yang biasanya ramai pengunjung di kota-kota di Jawa, di sini sepi pembeli, karena harga yang dirasa terlalu tinggi atau simply karena memang selera masyarakat sini yang berbeda.

Awal aku tinggal di sini, aku tercengang-cengang dengan menu ikan bakar di sini. Di kota-kota lain yang pernah kutinggali, ikan bakar adalah ikan yang sebenarnya sudah matang (dibumbui dan digoreng), kemudian disempurnakan dengan cara dibakar. Tujuan utama pembakaran ini adalah untuk memunculkan aroma bakar. Jadi lebih tepatnya, bumbu atau kecapnya yang dibakar untuk menggugah selera.

Nah, di sini, menu ikan bakar adalah ikan mentah yang dibakar di atas arang bara. Tanpa bumbu. Kalaupun ada, bumbu hanya sekedar dioleskan saat akan dihidangkan. Jadi bumbu tidak ikut meresap masuk dalam daging ikan.

Dulu, aku tak berselera makan ikan bakar model begini. Ikan terkesan masih mentah, dengan aroma ikan masih kuat dan dagingnya tak berasa. Asin tidak, apalagi bumbu spicy lainnya. Penolong rasa di lidah adalah sambal! Beraneka sambal ada di sini, sambal bumbu kacang, sambal mangga, sambal jambu (jambu khusus) dan sambal tomat. Sekarang pun masih relatif jarang aku makan ikan bakar begini.

Bagi kami pendatang dari luar daerah, urusan selera memang menjadi masalah tersendiri. Dari beberapa pilihan kuliner yang ada, sedikit sekali yang benar-benar sesuai dengan lidah kami yang terbiasa makan makanan kaya rasa yang berempah.

Jadi kalau ingin makan makanan yang sesuai selera kami ya harus masak sendiri di rumah. Sulit sekali mendapatkan brokoli hijau di sini, tak ada juga di pasar. Rupanya brokoli hijau tidak laku di sini.

Para tukang sayur keliling ini, hanya membawa sayur yang banyak diminati masyarakat. Jadi setiap hari itu-itu saja yang dibawa. Pernah juga kebingunagan mau masak apa karena dari hari ke hari, itu lagi-itu lagi yang dibawa tukang sayur 😀

Yah, sisi baiknya, aku jadi bisa mencoba-coba masakan baru. Bahan apa yang ada itu yang kugunakan… beruntungnya aku, suamiku nggak pernah rewel soal makanan. Apa yang yang kumasak dan kuhidangkan, suamiku makan tanpa protes hehehe….

(bersambung)

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

24 Responses to Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 1)

  1. Ikkyu_san says:

    Wah segitunya ya??? parah dong

    Tapi soal ikan bakar, mungkin itu pikiran orang dari tanah Jawa? Bahwa ikan digoreng dulu baru dibakar?

    Well, aku yang punya separuh darah dari daerah maritim itu sih lain. Memang namanya Ikan Bakar ya harus ikan mentah yang hanya dibumbui garam/jeruk nipis, lalu dibakar, paling enak di atas arang. Bumbunya ya di berbagai jenis sambal itu. Ikannya sih hanya rasa “daging ikan” hehehe.

    Di Jepang juga sama, ikan bakar ya ikan mentah yang dibakar. Lalu dimakan dengan shoyu (kecap asin Jepang) dan parutan lobak dan atau jahe.

    Ditunggu curhatnya yang lain lagi. Dengan demikian interaksi budaya akan terjadi😉

    EM

    • nanaharmanto says:

      Iya bener Mbak.. aku terbiasa makan ikan bakar ala Jawa… hehehe… jadi waktu awal makan ikan bakar di sini ya agak gimanaaa gitu… tapi sekarang udah nemu tempat makan ikan bakar yang lumayan enak, di salah satu resto. Kalau di warung-warung makan ikan bakar gitu enggak deh hehehe…

      Di sini ikan bakar gak dikasih garam atau jeruk nipis sama sekali.. jadi aroma ikannya bener2 masih kuat.. 😀
      tapi aku jadi doyan makanan pedes lho sejak di sini… suka aja sama variasi sambelnya… 😀

  2. Emak Bawel says:

    Waaaaahhh, seru ceritanya… berada di ‘negeri’ orang lain dengan keunikannya.
    Tiba2 ngeces denger ikan bakar, kalau ikan segar murah meriah di situ, bisa bikin pepes ikan, goreng ikan… Aku pengen bikin pepes yang bumbunya bisa merasuk, banyak bumbu, dibungkus daun pisang dan dibakar di atas bara api.. Biasanya bikin pepes praktis, ikan yang dibumbuin dan dibungkus alumunium-folie, dan dimasukan ke oven (berhubung daun pisang langka dan mahal).
    Sebenarnya yang muncul di kepalaku langsung: bisnis apa yang paling cocok di tempatmu..hm, kayaknya jualan barang bermerk bakalan laku, deh… hehehe..

    • nanaharmanto says:

      Ikan lumayan murah di sini, keculai kalau laut lagi pasang, ikan jadi agak mahal… tiap hari banyak penjual ikan yang keliling nawarin dagangannya. Aku liat tetanggaku tiap hari beli ikan… lha wong makanan pokok mereka hehe… 😀

      Kapan-kapan pengen jg bikin pepes ikan lagi, aroma daun pisangnya itu yang bikin sedaaaappp…

      Tentang bisnis di sini? hmmm,, mending enggak deh… 😀

  3. nh18 says:

    Ada Tiga Hal Na …

    1. Words
    ” … gadget mahal begitu tp hanya bisa mereka pakai untuk SMS, telfon dan group chatting antar sesama pemilik gadget yang sama…”
    Kalau ini saya rasa tidak hanya berlaku di Kota Sepuluh Taksi … tapi juga mungkin berlaku di Kota metropolitan lainnya … (bahkan The MegaPolitan) hahaha

    2. Ngejreng ?
    Setiap Negara … Setiap Wilayah … Setiap Daerah … setiap Kota … Setiap Sudut jalan … punya “sistim nilai” sendiri-sendiri … yang bisa jadi satu sama lain berbeda …
    Yaaaa … anggap saja kombinasi pakaian warna-warni yang “nabrak” ini … Harajuku van Celebes … (tinggal masukin ke majalan mode jakarta … jadi deh trend mode Nasional …)(hahahaha)

    3. “Toko Sebelah” …
    Waaahhh … kalau Toko Sebelah itu … untuk masalah Makanan … hanya ada dua kriteria … Yaitu … Enak … dan Enak Sekaliiii …
    (Betul tidak ?)

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      tiga hal juga Om…
      1. Wah, jujur saya susah membayangkan orang-orang yang tinggal di kota-kota besar tapi zonder internet dan e-mail Om… sulit membayangkan orang modern tinggal di kota modern paka talipong bimbit besar nan hitam itu tapi nggak memanfaatkan aplikasi media sosialnya… ada ya yang begitu? :d

      2. Ngejreng tralala itu memang bagi saya pribadi cukup menggelikan (dan agak memprihatinkan) Om… saya nggak PD kalau harus memakai baju mencolok begitu.. hehehe…
      3. Toko “Sebelah” itu…hehehehe…. saya nggak akan menyanggahnya, Om… hihihi…

      Salam hangat selalu Om…

  4. arman says:

    hihihi lucu kayaknya…
    na, kalo boleh saran, ditambahin foto2 ilustrasinya dong.. gimana ABG2nya yang bajunya pada norak, ibu2 yang emas2nya dimana2, dan rumah2nya yang pink ijo biru itu… hehehe

    • nanaharmanto says:

      Kemarin mau upload foto-foto tapi yang dandanan ABG, emas dan rumah pink ijo itu gak ada… ada sih beberapa foto, tapi kayaknya lebih cocok utk dipasang di posting sambungannya deh.. hehehe… 🙂

  5. DV says:

    Bahasamu tumben agak berbeda di postingan ini…
    Aku mengharapkan akan ada eksplorasi dari kisah soal kotamu ini yang berbeda namun tetap mendalam seperti tulisanmu sebelum2nya..

    Aku menyimak ceritamu beradaptasi mengingatkanku pada adaptasiku di Sydney, 3 tahun silam.

    Semua serba ‘baru’ dan agak ‘keluar’ dari kebiasaan2 lama.. sama sepertimu dan soal olesan bumbu di tubuh ikan bakar itu…

    Sisi baiknya, kita membuktikan bahwa diri kita ini adalah manusia, sosok yang tak pernah lekang untuk beradaptasi…

    • nanaharmanto says:

      Kalau mau mengeksplorasi kisah soal kota ini, gak ada yang terlalu istimewa sih… yang bikin gatel tangan untuk nulis ya lebih ke perilaku masyarakatnya (yang sehari-hari bisa keliatan.dan dirasakan).

      Aku suka komenmu ini Don, ..kita membuktikan diri kita ini adalah manusia, sosok yang tak pernah lekang untuk beradaptasi..

      Yup! aku berani beradaptasi! aku nggak takut pada perbedaan! *menyemangati diri sendiri*

      Suwun, Don… 🙂

  6. edratna says:

    Kalau kita pergi ke daerah, banyak kejutan yang menanti. Media elektronik (TV dan teman-teman nya) membuat mereka tak mau kalah dengan apa yang ditontonnya di layar kaca…

    Dan ukuran keberhasilanpun harus ditunjukkan berupa kebendaan….

    • nanaharmanto says:

      Ya benar Bu Enny, setiap daerah pasti punya keunikan tersendiri…
      Saya memahami benar kata pepatah lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya- setelah tinggal di luar Jawa…

  7. septarius says:

    ..
    hihihi.. tulisannya kok negatif semua tho Mbak..
    mosok gak ada bagus-bagusnya kota itu.. ^^
    soal PNS, di banyak tempat emang banyak yg gitu sih..
    saya geli membayangkan para ABG itu, tapi kalo anaknya cakep dan pantes gakpapa tho.. ^^
    ..
    selamat menyesuaikan diri ya Mbak…hihihi…
    ..

    • nanaharmanto says:

      Hehehe…. apa yang bagus ya tentang kota ini?
      jujur aja nih, aku agak kesulitan menemukan hal yang bagus banget tentang kota ini… kotanya biasa saja, Nggak ada yang terlalu istimewa..

      Iya nih, masa penyesuaian diri berlangsung terus menerus di manapun kita berada…

  8. krismariana says:

    setiap kota kurasa punya karakteristik sendiri-sendiri. bahkan mungkin walaupun sama2 satu pulau, dan masyarakatnya cenderung homogen, tetap punya keunikan. kalau kupikir, ya begitulah salah satu keunikan indonesia. hal spt ini yg jarang dikupas dan diangkat oleh media kita. bagus kalau kamu menuliskannya na. tapi, seperti yg ditanyakan oleh septarius, memang nggak ada yg bagus ya?😉

  9. vitta says:

    Kayak denger cerita dari negeri dongeng, padahal masih Indonesia kan ya hehehe….
    Semoga nemu hal menyenangkan di sana ya….

  10. riris e says:

    Meskipun banyak sekali kekurangan, namun aku berharap kau bahagia di sana, ya Na?

    Dimana-mana tempat selalu ada plus minusnya. Dan aku salut sama Nana bisa menikmati perubahan demi perubahan dengan tenang🙂

  11. Sketsaku says:

    waduh,,,kota transit yang metropolis saja gambaranya seperti itu, berarti yang pelosok bukan kota akayak gimana yak….*tuing-tuing auooooo…panggil tarzan dulu aza dech*

  12. Pingback: Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 2) « sejutakatanana

  13. clara croft says:

    waktu ke sana, orang sana bilang kalo ikan air tawar ga laku di sana ya Mba? Padahal saya suka banget tuh pecel lele, tapi apa boleh buat, mereka sukanya ikan laut😀

  14. Taksinya harus di foto bu hehe

  15. Pingback: Ta’jil « sejutakatanana

  16. Pingback: Kota kecil, apa peranmu? | sejutakatanana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s