Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 2)

Tulisan kali ini masih berhubungan dengan tulisan sebelumnya di sini.

Ini tentang perilaku berkendara di sebuah kota dengan sepuluh taksi.

Seringkali kami lihat, mobil-mobil mewah dan mentereng dengan semua jendela terbuka. Akan terlihat jelas siapa si pengemudi dan para penumpangnya lengkap dengan segala aksesorisnya. Sayang banget mobilnya ya. Berfasilitas AC begitu, bisa cepet rusak kalau semua jendela dibuka😀

Sudah begitu, mereka memarkir mobilnya kadang membuat orang lain mengelus dada. Bayangkan di jalan sempit, bisa-bisanya satu orang memarkir di sisi kiri, lalu orang lain lagi memarkir mobil tepat di sisi sebelah kanan. Catet ya, itu jalan sempit dua arah, bisa diduga kan sempitnya dan macetnya jalan karena cara parkir yang tidak bijaksana begitu?

Di sini dengan mudahnya orang langsung berbelok kanan, baru menyalakan lampu sign.. eaaa…!! ya bakal mencak-mencak lah orang yang tepat di belakang mobil itu. Nggak abis mikir deehh….

Seringkali kami jumpai pengendara motor tanpa lampu di malam hari. Sudah tanpa lampu, nyelonong lagi!  Kelemahan kami adalah kami ini berkacamata, dengan pandangan terbatas terutama di malam hari, dengan kaca kendaraan gelap pula. Jadi kadang kami baru sadar sudah terlalu dekat dengan motor tanpa lampu, sehingga kami terpaksa mengerem mendadak.

 

Seringkali pengendara motor nyelonong sedemikian mepet. Atau mereka tiba-tiba memotong jalan jalan tanpa sign. Kok nggak terpikir ya, dengan kecepatan sama, motor itu bakal terseruduk mobil yang dipotong jalurnya dong… kalau sudah begitu dengan gemas kami mengklakson pengendara motor yang ngawur itu. Sebenarnya, kami benci harus mengklakson orang lain, sebagaimana kami pun tak suka diklakson.

Tiba-tiba saja aku teringat dan kangen Balikpapan, di mana kedisplinan pengendara mobil sangat tinggi. Nyaris tak pernah kami mendengar bunyi klakson mobil sewaktu tinggal di sana.

kiri-kanan jalan untuk parkir....truk besar lagi...

diliat dari pergerakan ketiga motor dan sebuah mobil itu, jelas dari ketiga arah bergerak bersamaan. Seharusnya 3 sisi berhenti. kami termasuk tertib berhenti pas lampu merah. Si kaos putih melaju dari arah kami (seharusnya berhenti)

mobil paling belakang parkir dengan benar... mobil depannya... wedew...

****

Ini masih tentang sebuah kota dengan sepuluh taksi. Di mana untuk menonton TV, harus berlangganan TV kabel. Cukup 20 ribu perbulan.   Programnya? Well, program TV nasional dan beberapa TV yang tak kumengerti bahasanya. TV berbahasa Arab, India, China dan entah apa lagi. Tak ada yang menarik. Karena aku tak suka sinetron-sinetron maha lebay itu, otomatis si TV pun lebih banyak kumatikan. Masih kutonton 2 channel yang berlomba-lomba kritis dengan siaran dan program-program beritanya. Tapi lama-lama keduanya pun lebih banyak menyumbangkan kejengkelan daripada hiburan dan info.

Ada channel TV lokal, produksi sendiri dari kota dengan sepuluh taksi ini. Isinya lagu-lagu daerah, electone, dan pemutaran video clip karaoke, dengan teks yang berubah warnanya saat tiba waktunya suku kata yang berubah warna itu dinyanyikan. Dan, video rekaman resepsi sepasang pengantin. Nama pengantin ditulis besar-besar, berikut hari, tanggal dan tempat resepsi. Can you imagine your video wedding broadcasted in local TV?  Eeaaa…. 

Akhirnya kami berlangganan TV berbayar, yang tak ada perwakilannya di kota ini, jadi kami harus menempuh jarak 155km untuk mendaftar sebagai pelanggan.

Selamat tinggal TV lokal…

Aku berharap pemuka kota dengan sepuluh taksi ini suatu saat membaca tulisan ini, dan memikirkan sebuah program yang jauh lebih mendidik dan mencerdaskan masyarakatnya, misalnya, bagaimana memilah sampah organik dan organik, bagaimana memulai kebiasaan membuang sampah pada tempatnya. Dan ini harapan terbesarku: Mbok ya, bikin tayangan tentang cara berkendara yang sopan dan aman, tidak membahayakan pengguna jalan lain. Lengkapi pula dengan simulasi akibat dari nyelonong memotong jalur, dan cara parkir mobil yang tepat. Sepertinya bahayanya berkendara tanpa lampu di malam hari juga PENTING  deh untuk masyarakat kota ini.

Hellooww?? Pemerintah daerah?!?

sreeeettt!! potong jalan tanpa sedikitpun memberi tanda... see? parkirnya di dua sisi dua arah... *tepok jidat*

****

****

Masih tentang kota kecil dengan sepuluh taksi ini. Di sini, ada sebuah universitas swasta dan beberapa akademi. Sayangnya, dengan jumlah mahasiswa yang lumayan, tak ada toko buku yang mendukung.. jangan tanya bagaimana para mahasisiwa ini melengkapi referensi bahan kuliah mereka, karena aku tak punya jawabnya.

Aku tak pandai membahasakannya, tapi ada yang janggal pada kota dengan sepuluh taksi ini. Terasa ada yang “hilang”,  nggak cocok. Terasa suasana waktu aku masih anak-anak dan remaja sepuluh – lima belas tahun lalu di kampung halaman}.

Didukung dengan selera musik dan lagu masyarakat sini yang sukaaa sekali dengan lagu-lagu lawas di tahun 80an dan awal 90an.. lalu kemana lagu-lagu band anak muda sekarang? Sepertinya tak sempat bertahan lama. Padahal TV dan Radio ada lho… kedua media massa ini kan membawa apapun trend dari ibukota khususnya. Atau barangkali, sepuluh tahun mendatang, lagu-lagu Nidj*, Lett*, Sevent**n dll itu bakal terkenal di sini..  *terlalu berlebihan ya….*

Well, sulit membahasakan kondisi ini, kau harus datang, hidup dan tinggal di sini untuk bisa merasakan suasana yang aku maksudkan.

Ah, aku terlalu berbelit-belit ya? KESENJANGAN. Mungkin inilah kata yang paling mendekati tepat untuk kota dengan sepuluh taksi ini, dengan kota-kota di pulau Jawa sana. Apa yang menyebabkan kesenjangan ini? Ke mana waktu sepuluh hingga limabelas tahun itu bersembunyi? Di mana ia terserak? Ke mana ia pergi? Atau berhenti? Aku tak pernah habis mengerti.

Masih banyak hal yang ingin kutuliskan tentang kota dengan sepuluh taksi ini. Aku tak bisa menemukan untaian kalimat yang tepat untuk menuliskannya.

Sebagai penutup, kawanku pernah bercerita. Di tempatnya bekerja ada 2 orang yang berasal dari kota dengan sepuluh taksi ini. Salah satunya telah lulus S2, sedangkan yang lain masih kuliah S2. Keduanya mengaku tak ingin kembali ke kota dengan sepuluh taksi ini, dan lebih memilih untuk tetap bekerja dan berkeluarga di Jawa. Ketika ditanya alasannya, mereka menjawab bahwa mustahil memajukan dan merubah pola pikir masyarakatnya. Ilmu yang diraihnya dengan susah payah tak akan ada hasilnya di kota dengan sepuluh taksi ini. Terkesan pesimis ya? Tapi ya begitulah jawaban mereka.

Mungkin terdengar sinis, tapi begitulah pengakuan orang-orang yang pernah merantau keluar dari kota dengan sepuluh taksi ini: bahwa mereka.-para perantau di kota-kota besar itu,  akan lebih terbuka pikirannya dan (maaf) bisa menertawakan masyarakatnya.

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

20 Responses to Sebuah kota dengan sepuluh taksi (Part 2)

  1. Ikkyu_san says:

    hmmm kupikir soal pemikiran “kolot” kota ini hampit sama dengan beberapa kota lain yang kudengar, terutama daerah yang terakhir lepas dari NKRI. Di sana juga begitu sehingga orang asing (yang kuajar bahasa Indonesia) yang berada di sana benar-benar putus asa.

    Mungkin perlu pemimpin yang diktator untuk kota 10 taksi ini ya?😀

    EM

    • nanaharmanto says:

      Hai Mbak Imel…
      jujur aja aku juga agak pesimis… kental budaya kolusi, korupsi dan nepotismenya… belum lagi yang ABS, Asal Bapak Senang..

      Melihat anak-anak tetangga juga miris…. mereka nggak dibeliin buku bacaan/majalah anak-anak..

  2. DV says:

    Tipikal! Aku pernah datang ke sebuah kota yang indah tapi sayang perilaku berlalu lintas nya masih masih begitu-begitu…

    Masa dulu di lampu merah, tepat di tengah perempatan sebuah motor berhenti. Pengemudinya menyapa rekannya yang jadi supir mikrolet yang datang dari arah sebaliknya.

    Aku ndomblong ngeliat seperti itu… takjub…

    • nanaharmanto says:

      Hai Don…
      ternyata masih banyak daerah di Indonesia yang perilaku masyarakatnya masih memprihatinkan ya… soal kedisiplinan dan kesadaran sopan aman berlalu lintas memang masih parah nih… kapan ya lalu lintas di Indonesia bisa semaju di Amerika dan Eropa? yg lebih penting sih, kesadaran masyarakatnya yang perlu dibangun..

  3. edratna says:

    Baca tulisanmu ini ikutan capek…
    Merubah budaya perlu waktu bertahun-tahun, dengan kepemimpinan yang kuat…..
    Balikpapan? Wahh memang tertib, lalu lintas nya bagus, daerah nya bersih…kalah deh ibu kota propinsinya (Samarinda). Mungkin karena awalnya kota yang dibangun oleh perusahaan minyak, rata-rata dari milik asing..yang disiplin sehingga membawa pengaruh yang baik.

    Indonesia negara yang indah…tapi memang kedisiplinan yang perlu ditingkatkan, dan ini perlu waktu.

    • nanaharmanto says:

      Iya bener Bu Enny… dulu saya kerasan sekali di Balikpapan… sedih banget waktu harus indah… dan… shock banget waktu melihat kota kecil ini… beda juauuhh banget dgn Balikpapan.. rasanya memang kedisiplinan para ekspatriat itu menular deh di kota itu… jadi kangen Balikpapan deh…

      Kesadaran masyarakat Indonesia akan kedisiplinan kayaknya memang perlu waktu yang sangaaaat lama Bu…

  4. arman says:

    hah.. beneran tuh na.. video kawinan masuk tv lokal??
    itu pengantinnya bayar emang minta dimasukin atau gimana? hihihi lucu amat ya… gua gak kebayang di tv ngeliat resepsi kawinan orang…😛

  5. Nggak kebayang deh semrawutnya lalu lintas di sana…kayaknya polisi lalu lintas perlu ditambah satu bataliyon lagi dari Jakarta….

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal ya Pak/ Mas…
      menurut saya, sepertinya kebiasaan masyarakatnya deh yang perlu dirubah.. polisi hanya “membantu” menjaga ketertiban… pelakunya sendiri, (pengguna lalu lintas) yang harus tertib dan disiplin…

  6. craft4kidz says:

    nice post….pelajaran bagi kita semua, begini nih enaknya kalo semua pada seenaknya sendiri di jalan raya…
    Kalo Bogor katanya kota seribu angkot yak..?

  7. nh18 says:

    Saya yakin …
    Suatu saat nanti …
    entah cepat atau lambat …
    Kota ini bisa dirubah …

    Diperlukan pemimpin yang punya leadership dan break through yang brillyant

    Saya ambil contoh …
    Dulu … katanya kota padang tidak seperti sekarang …
    di tepian pantai banyak sekali … (maaf) orang yang buang hajat sembarangan …

    Namun dengan upaya yang jitu kebiasaan itu sekarang sudah sama sekali hilang. Bahkan mereka malu jika kotanya kotor …

    Demikian Na …

    Saya percaya … Manusia itu bisa dirubah kearah yang lebih baik

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      halo Omn NH…
      ya harapan saya, masyarakat sini bisa berubah ke arah yang lebih baik… entah besok, minggu depan, tahun depan, atau sepuluh tahun mendatang.. semoga! 🙂

      Waaahh… baru denger Padang was like that, Om… hadeewww…

  8. septarius says:

    ..
    soal pelanggaran lalulintas yang banyak terjadi berarti pak P*L*SI nya yg gak bener..
    kalau penegak hukumnya tegas, sudah pasti semua orang bakal takut melanggar..
    ..

    • nanaharmanto says:

      .Kalau menurutku kok masyarakatnya ya yang seharusnya sadar diri untuk tertib dan disiplin… pak polisi tugasnya hanya membantu kelancaran…

      Makanya kalau masyarakat sini sudah difasilitasi TV lokal, mbok ya pesan layanan masyarakat itu ditayangkan… dengan simulasi dan skenario yang menarik gitu… kalau perlu dengan bahasa lokal pula, karena lumayan banyak juga orang sini yang belum bisa berbahasa Indonesia…

  9. krismariana says:

    Wah, ya bisa dimaklumi kalau orang asli situ yg sudah berpendidikan jadi tidak mau balik ke kampung halamannya. Susah memang ya. Mungkin ini hanya salah satu kota di Indonesia yang perlu banyak diubah dan perlu pemimpin yang tegas. Kurasa, perlu dibangun sistem yang keras, yang membuat orang tidak seenaknya saja berperilaku di masyarakat.

    Btw, jadi ingat berita yg kubaca di internet tempo hari, bahwa Pak Habibie bahkan mengatakan bahwa ilmuwan dari Indonesia yg sekolah dan bekerja di luar negeri sebaiknya tidak pulang ke Indonesia karena tidak ada lapangan pekerjaan yang pas di negeri ini. Jangan2 kota sepuluh taksi ini hanya cerminan sekilas Indonesia? Hmmm… entahlah. Semoga suatu saat kota ini bisa berubah menjadi lebih baik. Entah kapan….

    • nanaharmanto says:

      Mungkin masih banyak daerah-daerah lain yang mirip kondisinya dengan kota dengan sepuluh taksi ini, Nik… di sini KKN masih kental, jadi kalau mau benar-benar berubah dengan pemimpin yang tegas dan kompeten, kayaknya perlu waktu panjang deh…🙂

  10. Pingback: Kota kecil, apa peranmu? | sejutakatanana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s