Tak beralas kaki…

Suatu sore, kira-kira dua tahun yang lalu…aku dan suamiku memutuskan untuk berjalan-jalan menikmati suasana sore di kota kecil ini, kota yang kutinggali sampai tulisan ini kubuat..

Sesampainya di pusat kota, aku melihat seorang pemuda yang tingginya mungkin hanya selisih beberapa senti dari pinggangku. Lalu kusadari, ternyata salah satu kakinya tidak sempurna. Kaki kanannya begitu kecilnya. Kaki kiri pemuda itu harus ditekuk untuk mengimbangi supaya kaki kanannya bisa ikut menapak tanah…

Saat  berjalan, kaki kirinya yang normal dan sehat berfungsi untuk bergerak, sedangkan kaki kanannya setengah diseret. Sekilas kita akan melihatnya seperti berjalan sambil berlutut (jengkeng, Bahasa Jawa).

****

Awal melihatnya aku benar-benar iba. Lalu teringat olehku, nasehat mendiang nenekku dulu. Ketika kita melihat orang yang cacat, jangan melihat pada bagian fisiknya yang tak sempurna, karena itu akan melukai perasaannya..

Jadi cepat kualihkan perhatianku dari ketidaksempurnaannya, dan mengamati apa yang dilakukannya. Dengan rompi orange menyala, dan peluit di tergantung di lehernya, sadarlah aku, pemuda itu sedang bekerja sebagai tukang parkir. Dalam keterbatasannya, dia tetap bersemangat bekerja. Lalu hup! Dia bergerak lincah meloncat-loncat dengan kaki kirinya yang sehat. Ingkling istilah Jawanya. Ada yang tahu istilah dalam Bahasa Indonesianya ?

hmm, well, begitulah caranya untuk berjalan cepat.

Saat ia berdiri dengan kaki kirinya, ternyata ia sama tingginya dengan pemuda kebanyakan.

Aku sungguh salut pada pemuda itu. Dia tetap bekerja, dan tidak menggunakan ketidaksempurnaannya untuk mengemis dan mengiba perhatian orang.. seorang yang berjiwa besar kurasa…

****

Lalu kulihat dia di gereja. Kupikir, pemuda itu bertugas sebagai tukang parkir di gereja. Ternyata, kulihat dia di dalam gereja mengikuti misa bersama umat yang lain.

Kulihat lagi ia minggu-minggu berikutnya. Dia selalu duduk di bangku paling belakang. Ketika aku keluar gereja, dia tengah membantu petugas parkir memungut iuran parkir sukarela dari umat.

Jujur, aku semakin salut padanya. Dia meluangkan waktu untuk berdoa dan menghadiri misa, mungkin dengan kesulitan-kesulitan tersendiri untuk mencapai gereja dari rumahnya.

Aku merasa malu…

Aku malu karena aku orang normal yang membiarkan diri tertindih setan malas. Beberapa kali,dengan berbagai alasan sepele, aku membolos ke gereja.

Aku didukung kemudahan adanya kendaraan, hingga tak perlu berjalan jauh untuk mencapai gereja. Jasa taksi pun tersedia 24 jam dan siap melayani sewaktu-waktu hanya dengan menghubungi pool taksi.

Sepatutnya aku merasa sangat malu. Aku sering lupa bersyukur. Aku diberi-Nya dua kaki sempurna untuk berjalan ke manapun aku mau, untuk berlari bebas sesukaku. Dan aku bisa memakai berbagai sepatu dan sandal yang kumau. Sedangkan pemuda itu, dia tak beralas kaki….

Beberapa kali sempat terselip keinginanku untuk membantu pemuda itu tanpa bermaksud mengasihaninya secara berlebihan. Bagaimana caranya? Mungkin nggak ya, mendaftarkannya sebagai penerima kaki palsu -yang diprakarsai sebuah talk show di salah satu TV swasta itu? Bagaimana pula caranya?

Anyone?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Tak beralas kaki…

  1. krismariana says:

    Na, siapa tahu… siapa tahu saja lo ini, dia tidak butuh bantuan apa-apa. Mungkin dia cukup senang kalau kita mau berteman dengannya. Mungkin lo ini. Sok tau memang aku hehe.

    Tapi salut dengan pemuda itu. Ah, aku jadi nggak boleh malas juga nih. *Siap2 matiin modem, lalu balik ke PC melototi kerjaan…*

    • nanaharmanto says:

      Aku beberapa ngajak dia tersenyum dan dia mau membalas senyum… tapi lebih seringnya dia asyik dengan HP-nya..

      Minggu kemarin aku ketemu lagi di gereja, kami sempet saling senyum, tp pulangnya dia lagi sibuk bantu ngumpulin uang parkir…

  2. nh18 says:

    Mungkin di web site acara itu ada Na …
    Googling aja …

    Dan benar kata Kris … dengan kita berteman dengannya … menyapanya … saya rasa sudah sangat membuatnya berbahagia …

    Salam saya …

    (mengenai istilah itu … kalau ditempat saya namanya … Dingkring)

  3. edratna says:

    Nana,
    Mungkin dimulai dengan senyum setiap kali ketemu di gereja…dia pasti senang ada orang yang menyapanya.
    Nanti..setelah akrab, dia mungkin bisa menceriitakan apa keinginannya, jangan-jangan apa yang diinginkan berbeda dengan pemikiran kita.

    Salut dengan orang itu….

    • nanaharmanto says:

      Bu Enny, selama ini saya hanya bisa bertukar senyum saja, tampaknya dia agak pemalu… saya belum berhasil menyapanya… dan mungkin memang yang dia inginkan berbeda jauh dari pemikiran kita ya Bu…

  4. Arman says:

    salut ya na ngeliat orang2 yang fisiknya gak sempurna tapi gak mengurangi semangat hidupnya.
    pas hari minggu kemaren juga baru gua ngeliat ada orang pake kursi roda ke gereja. sendirian. dan pas pulangnya gua ngeliat dia nyetir sendiri. jadi dia angkat badannya dari kursi roda ke kursi mobilnya sendiri. baru dia angkat kakinya satu satu. jadi keliatannya dua kakinya gak berfungsi sama sekali. gua gak tau juga apa mobilnya ada gas nya khusus gak pake kaki ya. mungkin pake tangan. tapi mobilnya mobil kuno gitu. gak ngerti juga gimana dia nge gas nya.

    tapi salut banget ama semangatnya. walaupun ribet banget, tapi dia tetep bela2in ke gereja.

    • nanaharmanto says:

      Wah, jadi terharu baca ceritamu ini.. salut banget sama orang itu, bertekad mandiri di atas kekurangannya.. saluuutt… thumbs up!

      Aku jadi ikutan mikir, gimana ya cara nge-gas dan ngerem-nya? mungkin mobilnya udah didesign khusus ya?

  5. @zizydmk says:

    Seperti kata Om NH, bertegur sapa dengan mereka yg disable adalah obat pelipur juga bagi mereka. Salut dgn orang2 yg tetap semangat bekerja dan beribadah walau dgn keterbatasan.

  6. Banyak inspirasi kehidupan yang kita dapatkan dari orang yang kita anggap berkekurangan. Ketika kita melihatnya sebagai sebuah kekurangan, justru mereka melihatnya sebagai sebuah kehidupan normal yang sebenarnya sudah ditakdirkan demikian. Dan ini juga sering aku alami, mbak. Selalu iba pada orang yang semangat untuk bekerja keras. Mereka yang berkekurangan, justru memberikan kelebihan yang luar biasa kepada kita, untuk semakin menghargai hidup dan memiliki harapan yang lebih.

    • nanaharmanto says:

      halo Anwar….thanks udah ninggalin komen ya…

      […] Mereka yang berkekurangan, justru memberikan kelebihan yang luar biasa kepada kita, untuk semakin menghargai hidup dan memiliki harapan yang lebih. –aku suka komentar bagian ini… 🙂

  7. vizon says:

    Ada juga kemungkinan dia memang membutuhkan kaki palsu tersebut. Namun, tawarkanlah persahabatan terlebih dahulu kepadanya. Karena, seperti yang dibilang nenek Nana, bahwa orang cacat tidak suka diperhatikan kecacatannya. Maka, bersabahat lebih dahulu adalah salah satu cara untuk membuatnya tetap merasa sebagai manusia kebanyakan. Setelah itu, silahkanlah dilanjutkan dengan rencana pemberian kaki palsu tersebut..🙂

    Mantap Na..
    Salutku untuknya🙂

    • nanaharmanto says:

      Iya, setuju Uda, saat ini setidaknya berteman aja dulu ya… takutnya kalau tiba-tiba makbedunduk ngasih ide itu, pemuda itu bisa jadi tersinggung.. pemikiranku bahwa dia butuh kaki palsu, mungkin nggak pernah terbayangkan sebelumnya olehnya.

      Siapa tau, dia berpikir bahwa dia merasa cukup dan tidak memerlukan kaki palsu…

  8. riris e says:

    Salut dengan pemuda itu, Na. Di lingkunganku setiap hari Sabtu dan Minggu seringkali diturunkan peminta2 , yang sehat walafiat dengan menggendong anak kecil, mengenakan busana yg jauh dari kesan kumal.

    Salut juga dengan kesetiaannya beribadah. Pertanda dia mensyukuri setiap nikmat yang Tuhan berikan sekalipun kakinya tidak sempurna.🙂

    Dunia sudah terbolak balik.

    • nanaharmanto says:

      Aku nggak pernah memberi uang pada pengemis yang masih muda dan terlihat sehat.. apalagi mereka yang memanfaatkan anak-anak kecil untuk membuat iba orang-orang… kasihan anak-anaknya sebenarnya ya Mbak..

  9. Ikkyu_san says:

    Bisa jadi dia tak butuh kaki palsu, karena mungkin dengan kaki palsu dia harus bersaing dengan orang-orang normal🙂 Kadang kita sebagai orang normal ingin membantu dengan materi kepada orang-orang penyandang cacat atau miskin/yatim piatu. Tapi bagaimana kita tahu isi hatinya, apa yang dia lebh perlukan kalau tidak bercakap-cakap dengannya? Sikap tidak memandang rendah dan mau berkawan, merupakan langkah awal yang tepat menurutku. Soal kaki palsu, seiring dengan persahabatan akan kita ketahui apakah dia perlu/mau atau tidak.

    Kta memang harus banyak belajar dari universitas kehidupan ini ya.

    EM

  10. akh, jadi malu sendiri, aku yg alhamdulillah diberikan kesempurnaan kok msh saja suka keteteran kalau beribadah😳
    sementara si mas ini yg disable, begitu rajin kerumah ibadah menyapa Tuhannya🙂
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s