Batu Tarik, Megalith dari Toraja

Salah satu situs purbakala yang menjadi obyek wisata di Toraja adalah Simbuang Batuatau Simbuan Datu dalam bahasa setempat- yang berarti batu tarik (batu yang ditarik).

Batu-batu megalith ini berbentuk menhir dengan besar dan tinggi bervariasi. Sebenarnya ada banyak tempat di Toraja yang memiliki sekumpulan batu menhir ini, yang dipercaya telah mulai didirikan sejak ratusan tahun silam.

Berasal dari kata mega (besar) dan lithos (batu) , megalith secara harafiah berarti batu besar. Umumnya, batu-batu megalitik ini berkaitan erat dengan pemujaan dan penghormatan pada leluhur.

Nah, salah satu situs megalith yang kami kunjungi adalah Bori  Kalimbuang. Lokasinya berada di sebelah Utara kota Rantepao, Tana Toraja.

Konon ada 102 batu menhir di lokasi ini, terdiri dari 54 menhir kecil, 24 sedang dan 24 batu berukuran besar.

Setiap batu megalith yang didirikan, ditujukan untuk menghormati pemuka adat atau keluarga bangsawan yang meninggal. Menhir ini hanya boleh didirikan pada upacara tingkat Rapasan Sapurandanan yang berarti kerbau yang dikurbankan setidaknya 24 ekor.

Kalimbuang Bori, tampak depan

****

Darimana ya batu-batu sebesar ini?

Batu ini diambil dari gunung, ataupun dari batu-batu besar yang banyak bertebaran di Toraja. Besar kecilnya batu ini dipahat sesuai keinginan keluarga yang mengadakan upacara. Sebenarnya ukuran tidak terlalu penting karena sama saja  nilai prestisenya. Tetapi banyak orang yang menganggap semakin tinggi dan besar menhir yang didirikan, maka  semakin tinggi derajat kebangsawanannya.

Diawali dengan pemotongan seekor kerbau, dimulailah proses penggalian dan pemahatan batu. Pemahatan bisa berlangsung hingga berhari-hari hingga 2 bulan. Beberapa babi pun dipotong untuk keperluan ini.

Setelah batu menhir ini selesai dipahat, batu ini kemudian ditarik oleh beratus-ratus orang dengan cara tradisional. Batu ditarik (digulirkan) menggunakan batang-batang pohon dan tali-temali dari bambu. Proses penarikan ini melibatkan penduduk dan siapapun yang berkenan menyumbangkan tenaganya. Proses penarikan batu dari tempat asalnya dipahat hingga ke lokasi pendirian menhir memakan waktu behati-hari bahkan berminggu-minggu.

Di sinilah babi-babi dikorbankan, yaitu untuk memberi makan para penarik batu.

menhir tertinggi, ujungnya patah saat didirikan. Seharusnya masih ada ujung setinggi satu meter..

****

dedauanan dan ranting penanda pemilik menhir ini masih bergelar bangsawan, dedaunan diganti yang baru pada saat diadakan upacara

menhir-menhir berukuran kecil merupakan menhir tertua berusia ratusantahun. Mungkin orang-orang dulu lebih simple ya?

Di tengah-tengah lokasi, terdapat sebuah panggung tertinggi di antara yang lainnya. Tempat ini disebut Lakkian, tempat jenasah disemayamkan selama upacara berlangsung.

lakkian, di bagian atas tempat peti jenasah disemayamkan, bagian bawah tempat duduk keluarga yang berduka

Ada pula rumah panggung tinggi (balakkayan) yang digunakan sebagai tempat untuk membagi-bagikan daging hewan yang disembelih. Di sinilah para pembagi daging (To Mantawa) meneriakkan nama-nama perima daging yang dipanggil sesuai tingkat dan kedudukan sosialnya.

balakkayan, panggung tempat pembagian daging kurban

Mantunnu adalah hari khusus untuk pemotongan hewan kurban dalam tata upacara pemakaman adat di Toraja. Sedangkan pembagian daging disebut dengan Saroan.

****

Di Bori ini, bisa kita lihat beberapa tongkonan yang berfungsi sebagai tempat duduk para tamu undangan.

salah satu panggung untuk tamu undangan, tengkorak kerbau dipajang di sini


 

Di sini kita jumpai beberapa Langi’, yaitu usungan jenasah yang berbentuk tongkonan. Langi dihiasi dengan berbagai macam pernik-pernik khas Toraja hingga terlihat mewah dan megah.

langi, hiasan penutup peti, hanya bisa dipakai sekali saja.

****

Nah, bagaimana cara mendirikan batu sebesar ini ya?

Ada 2 versi yang kudapat. Yang petama memang didirikan dengan cara manual dan tradisional, dengan tenaga beratus-ratus orang lelaki.

Versi kedua mengatakan, untuk jaman modern seperti sekarang, pendirian batu menhir dilakukan dengan bantuan traktor. Nah, mana yang benar, terserah kepada para wisatawan mau percaya yang mana.

Kurang lebih sepertiga tinggi batu ini ditanam di dalam tanah, menyisakan dua pertiganya menjulang di atas tanah.

Di lokasi Bori Parinding ini, tak hanya situs megalith yang bisa dilihat, di sekitarnya banyak terdapat makam-makan yang terbuat dari batu yang dipahat, disebut dengan liang (pernah kutuliskan di sini).

Kalau kita berjalan kaki mengikuti anak tangga ke area di belakangnya, ternyata kita akan memasuki perkampungan penduduk.

menaiki anak tangga ini, untuk memasuki perkampungan penduduk.

Kita bisa melihat sebuah pohon tarra, yang digunakan untuk menyimpan mayat bayi atau kanak-kanak yang belum tumbuh gigi dewasa. Kutuliskan di posting ini.

Situs megalith seperti ini, dan juga situs-situs lainnya, memang hanya akan membisu. Mereka tak bisa banyak bercerita. Sebagai pengunjung, wajar jika kita menjadi bertanya-tanya dan penasaran akan sejarah atau cerita di balik setiap situs. Nah, bagaimana situs “sunyi” ini akan bercerita?

Bertanyalah!

Bertanyalah pada penduduk sekitar. Orang-orang Toraja benar-benar sangat ramah dan baik. Mereka menerima setiap tamu dengan hangat dan bersahabat. Mereka pasti akan dengan senang hati menjelaskan dan bercerita pada Anda.

Sstt… sebenarnya beberapa kali aku juga mencuri dengar cerita dari para guide yang menemani turis-turis asing. Kadang nekat bertanya (tanpa bayar) Hihihi…   tapi mereka benar-benar ramah kok…

****

Situs megalitik lain yang kami kunjungi adalah Rante Karassik. Di sini, lokasinya lebih hijau dan situs pemakaman tak terlalu terlihat dari lokasi ini.

Sayangnya, di sini tak kami jumpai banyak penduduk yang bisa kami tanyai. Seseorang yang kami temui hanya bisa menuturkan, sejak neneknya masih kecil, batu-batu ini telah berdiri di tempatnya seperti itu.

Rante Karassik

Karassik, berumput hijau... awas hati-hati banyak "ranjau darat"🙂

Yuk? Ke sana?

Note: beberapa informasi kusarikan dari sini dan sini.

foto-foto: koleksi pribadi

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Batu Tarik, Megalith dari Toraja

  1. monda says:

    berarti orang kaya banget yang bisa menirikan menhir ini ya
    syukurlah peninggalan ini masih sangat apik

  2. Arman says:

    lucu dan unik ya batu2nya bisa menjulang begitu…

  3. Rumah says:

    pada bagus fotonya …
    rumahnya juga pada unik🙂

    itulah negeri kita Indonesia ..
    Setiap daerah punya budaya dan ciri khas masing2 ..

  4. edratna says:

    Seperti biasa, senang membaca tulisanmu yang disertai foto-foto. Terlihat peninggalan nenek moyang kita masih terawat, senangnya….

    Di Toraja, semakin tinggi pangkat dan kebangsawanannya, maka upacara pemakamannya perlu biaya mahal.

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih apresiasinya ya Bu Enny…
      Ada orang Toraja yang bilang begini: orang Toraja itu hidup untuk mati… maksudnya waktu muda kerja keras supaya nanti terkumpul biaya saat dia meninggal…

  5. DV says:

    Di Inggris konon juga ada batu gitu tapi tersusun-susun.. aku lupa namanya.. dan sampai sekarang orang masih bertanya-tanya kenapa dan bagaimana mungkin batu2 bisa bertumpuk begitu…

  6. septarius says:

    ..
    kesannya kok mistis ya..
    hebat pokoknya, djaman dulu udah bisa bikin karya yang keren gitu.. ^^
    ..
    cerita jalan-jalannya asik Mbak Na, aku suka bacanya..🙂
    ..

  7. belitung says:

    keren mbak ceritanya.o iya aku juga punya blog yang menveritakan perjalanan hidupku di belitung.silahkan mampir ya mbak.Btw nanti link mbak akan ku tambah di daftar link blog ku mbak.Sekali lagi thanks artikel nya.

  8. irfan handi says:

    Budaya masih sangat kuat disana ya mba? hampir sama ditempatku.
    Salam kenal dari Lombok.

  9. Imelda says:

    wah terawat sekali ya…itu rumput-rumputnya hijau, juga tangga yang menuju desa penduduk. Rapih sekali

    • nanaharmanto says:

      Iya ya Mbak… aku malah baru perhatikan rumputnya masih benar-benar subur menghijau hihhihihi….

      Kalau anak tangganya dibuat dari semen, dan kalau dilihat langsung, tangganya ini penuh daun-daun bambu kering… 🙂

  10. Ria says:

    asyik banget…aku beneran envy deh!
    kapan2 aku mo pulkam kesana ah…masak iya blom pernah kesana padahal bilangnya orang makassar😀

  11. Heru says:

    senang baca tulisannya mbak ….salam kenal ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s