Yang Unik Khas Toraja

Di tulisan kali ini, aku mencoba berbagi beberapa hal yang menurutku unik dari Tana Toraja.

Catatan: posting ini memuat foto-foto berukuran besar, pastikan koneksi internet Anda mendukung.

1. lada katokkon

Dalam bahasa Toraja, lada berarti cabe.

Cabe khas Toraja ini bentuknya  seperti paprika, hanya dalam ukuran mini. Lada katokkon ini mempunyai  aroma wangi yang khas dan menggugah selera.

Berwarna hijau saat mentah dan menjadi merah segar saat matangnya, cabe ini menjadi primadona untuk  masakan Toraja. Rasanya?? Hoooosshhhh…. pedeeees luar biasa!

Mungkin satu lada katokkon sebanding dengan belasan cabe rawit. Huuuff…. pedesnya terasa hingga ke kuping! Suamiku menyebutnya lombok “biadab” hehehehe…😀

Sebagai sambal mentah, cabe ini cukup diulek bersama bawang putih dan garam. Sederhana, tapi sungguh sedap, apalagi bagi mereka, penyuka makanan pedas…

lada katokkon, mirip paprika seukuran tomat kecil, pedessss luar biasa...

2. Daun Miana

Konon hanya jamak dijumpai di Toraja, digunakan sebagai bumbu masakan Toraja. Daun ini beramoma dan bercitarasa khas. Dapat juga digunakan sebagai obat. Menurut orang setempat, orang-orang Toraja jarang sekali mengidap asma dan maag karena rajin mengkonsumsi daun ini.

daun miana

3. Pa’piong

Salah satu masakan khas Toraja adalah pa’piong. Bahannya yang utama adalah daging babi atau kerbau. Daging dipotong kecil-kecil, lalu dicampur bersama bumbu khusus dan daun miana. Daging dibungkus dengan daun pisang lalu dimasukkan dalam batang bambu muda kemudian bambu dibakar hingga gosong dan daging didalamnya matang. Rasanya? Hhmmm…. enak banget!

Catatan: babi pa’piong tidak untuk dikonsumsi saudara-saudara yang Muslim ya…

pa'piong, dalam batang bambu yang dibakar hingga gosong.. bambu dibelah untuk mengeluarkan isinya.

4. Sarung Hitam Khas Toraja

Sarung ini terbuat dari kain tenun dan berwarna hitam. Ada yang benar-benar polos, ada pula yang ditambah sedikit corak etnis. Sarung hitam ini dipakai oleh kaum lelaki pada upacara-upacara adat dan acara-acara resmi.

Pertama kali melihatnya, aku langsung kepengen sekali untuk memilikinya. Ternyata agak susah untuk menemukannya di toko-toko souvenir, karena konon harus pesan dulu baru barang tersedia. Harganya juga agak mahal, sekitar 250 ribu. Tapi namanya benar-benar kepengen, aku beli juga sarung hitam ini… 😀

sarung hitam, dipakai untuk upacara adat dan acara resmi

5. Tedong bonga

Tedong dalam bahasa Toraja berarti kerbau. Bonga berarti belang…

Konon, saat melihat tedong bonga, kita bisa make a wish dan akan terkabul lah keinginan kita. Boleh percaya boleh tidak…

Lucunya, kulit kerbau ini belang-belang hitam dan pink…

Kerbau  dalam masyarakat Toraja memiliki peranan penting. Kerbau adalah hewan utama dalam upacara Rambu Solo’ (upacara adat pemakaman), dan dipercayai sebagai kendaraan bagi almarhum yang dipestakan menuju puya (nirwana, surga).

Jadi kerbau cantik ini akan dikurbankan dalam upacara rambu solok. Dikuatirkan, tedong bonga yang populasinya hanya ditemukan di Toraja ini akan terancam kelestariannya kalau jumlahnya yang tidak banyak itu terus berkurang, -karena semakin banyak tedong bonga yang dikurbankan, semakin tinggi prestise yang didapatkan keluarga almarhum.

Wah, sayang ya…

Kerbau unik ini harganya sangat mahal, hingga ratusan juta rupiah. Kerbau “raja” ini sangat dimanjakan oleh pemiliknya. Ia akan dipiara dengan cermat, diberi makanan terbaik dan sekali pun tak boleh menarik bajak di sawah.. benar-benar seperti raja ya…

tedong bonga, si kerbau bak raja... corak dan warna belangnya menentukan tingginya harga tedong ini...

6. Padi

Kebetulan perjalanan kali ini bertepatan dengan musim kemarau panjang. Kami mendapati hampir semua lahan sawah terlihat kering. Kuning kecoklatan di mana-mana. Rupanya masa panen raya baru saja lewat.

Apa istimewanya ya? kan padi mudah didapat di mana-mana…

Kami banyak melihat padi yang dijemur di pinggir jalan dalam puluhan ikatan. Jujur saja, hal seperti ini jarang kudapati di Jawa. Di desaku dan kebanyakan daerah lainnya, begitu panen, padi langsung dirontokkan dari jeraminya  dengan mesin khusus menjadi gabah  lalu dijemur.

Nah, di sinilah uniknya cara menjemur dan penyimpanan padi di Toraja. Padi diikat dalam berkas-berkas, dan diangkut menggunakan bilah kayu. Padi yang telah dijemur dan kering disimpan dalam lumbung.

Sepertinya orang Toraja  mengambil seperlunya dari lumbung untuk ditumbuk atau digiling menjadi beras.

Atau ada info lainnya?

berkas padi....

mengangkut padi ke lumbung

lumbung padi beratap bambu begini mahal pembuatannya. Sekarang, demi kepraktisan, atap bambu diganti dengan seng... *rather eye-sore, though...*

****

Dibuang sayang…

Kulihat-lihat lagi file foto tentang trip ke Toraja dan merasa sayang kalau hanya teronggok tak terkisahkan…

Berikut adalah foto-foto di Toraja yang rasanya sayang kalau hanya dibuang…. enjoy them!..

babi sumbangan.. sumbangan begini berarti "hutang" yang harus dibayar keluarga yang berpesta pada saat si penyumbang kelak mengadakan pesta rambu solo'

diperlukan setidaknya empat lelaki untuk mengikat seekor babi

adu kerbau lawan babi... penonton benar-benar tergelak-gelak menonton polah babi murka ini yang nekat menantang kerbau yang lebih besar..

mapasilaga tedong ... adu kerbau. Siapa melarikan diri duluan, dia kalah...

namanya kerbau ya, nggak tahu batasan arena aduan.. saling dorong sampai naik ke jalan dan terus bertarung

yah, namanya kebo ya… nggak tahu batasan arena aduan.. saling dorong hingga naik ke jalan dan melanjutkan pertarungan di jalan..

yah.... dasar kebo... disuruh tanding malah berkubang girang... penonton udah nggak sabar nih...

babi ini belum puas melampiaskan amarahnya, dia naik ke jalan dengan beringas, penonton panik dan bergegas berlindung di balik sebuah mobil tim sukses pilkada. Si babi pun menyeruduk mobil itu 😀 bener-bener pas deh istilah membabi buta..

mungkin karena panik atau takut mobil rusak diseruduk babi, pengemudi mobil pun kabur.... si babi mengejar pula... tarraaaa!!! orang-orang yang sembunyi di balik mobil mobil pun lari semburat kocar kacir. Si baju biru terjun ke sawah hingga berlepotan lumpur... hihihihi..

Ohoo…  tapi aku kualat menertawakan orang-orang ini…  waktu kami berjalan pulang, juga tepat di jalan ini, kami dikejar kerbau yang lari dari sawah  arena aduan… aku dan suamiku ikut lari panik kocar kacir…. walau setelah itu benar-benar ngakak, antara lega dan geli dan sedikit mangkel… huahahaha…

Hmm… Toraja…. We will miss you, then…. Sayonara!

NOTE: Foto-foto koleksi pribadi.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

33 Responses to Yang Unik Khas Toraja

  1. Imelda says:

    lada katokkon itu mirip cabe rawitnya manado kali ya? Puedesnya minta ampun deh. Keliatannya juga mirip, cuma lebih buntek hehehe

    pengen coba babi pa’piongnya😀

    • nanaharmanto says:

      Aku malah belum pernah liat cabe rawit Manado Mbak,… tapi bisa ngerti sih, kenapa masakan Manado itu super pedasss…! hihihi…

      Babi pa’piongnya emang enaaak banget, Mbak…🙂

  2. yustha tt says:

    Cabenya imuuutttt…tapi pedesnya amiiiiittt-amiiiiittt….. hihi….
    Papiongnya pasti enak banget tu kak.. Hmm..ngebayangin jadi laper..😛
    O iya, tentang padi, dulu Bapak punya dua cara menjemur padi. Untuk padi yg berbatang pendek memang langsung dirontokkan di sawah dan dijemur dalam bentuk butir gabah. Tapi untuk padi batang panjang (dulu Bapak nyebutnya ‘pari dawa’ dan ‘pari cendek’) dijemur dengan cara diberkas2 begitu kak. Kalau pas jemurnya dibalik, bentuknya bagus. Sayang jaman dulu belum punya kamera, kalau udah pasti jadi foto yg unik. Hehe… Jadi di lumbung ada dua jenis gabah yg disimpan. Yang satu gabah butiran di dalam karung dan yg satu gabah berkasan begitu.
    Tapi sekarang sudah jarang orang yg menanam padi batang panjang karna masa panennya lebih lama dari padi batang pendek.
    Begitu kira-kira kak.🙂

    • nanaharmanto says:

      Wah… Ti…. terimakasih banyak sudah memperkaya posting ini ya….
      jujur aku baru tau lho, perbedaan cara menjemur pari dawa dan pari cendhek ini… soalnya di kampungku, yang kuingat orang-orang cuma menjemur gabah yang udah dirontokkan gitu.. (tanpa tau padi mereka itu batang panjang atau pendek)..

      menjemur padi/gabah berkas pun ada caranya ya ternyata? kayaknya aku sempat melihat padi yang dijemur terbalik di Toraja… sayang nggak sempat kufoto…

      I do love your comment, Ti… 🙂
      thanks a lot… 🙂

  3. nh18 says:

    Ini tulisan khas nana …
    Dan saya selalu suka itu …

    Toraja…. We will miss you, then…. Sayonara ! …

    Lho memang mau kemana Na ???
    (eng ing eng )

    Ditunggu liputan sejenis lainnya yaaaa … *clink* (mengedipkan sebelah mata )

    Salam saya

  4. monda says:

    daun Miana itu aku tau deh, rasanya di Sumatra dan Kalimantan juga ada

    maaf ya Na, aku terkikik membayangkan kalian berdua dikejar kerbau he..he..

    • nanaharmanto says:

      Baru saya tau Kak, kalau di Sumatra dan Kalimantan juga ada…

      hahhahahaha….. emang menggelikan kok saat itu Kak… kami juga ngakak terus tuh….

      hihihi… saya kualat kali ya ngetawain orang yang dikejar babi itu…. 🙂

  5. arman says:

    aduh serem banget tuh nonton adu babi ama kerbau nya. gak ada pager gitu. kalo diseruduk gimana tuh…😛

  6. nanaharmanto says:

    Arena aduannya memang sawah terbuka yang kosong gitu, Man… jadi setiap kerbau yang diadu itu ada tali di hidungnya untuk pawangnya mengendalikan si kerbau kalau sampai lari dan membahayakan penonton.

    Kebetulan aku nontonnya dari atas panggung tamu jadi aman. Jadi adu kerbau ini diadakan dalam rangka upacara kematian rambu solok. Ada satu hari dikhususkan untuk adu kerbau ini, sekalian juga untuk menghibur para tamu dan masyarakat…

    Rada ngeri juga sih waktu denger tanduk mereka beradu… bletakk…!

    Yang diadu seharusnya kerbau jantan… tapi waktu itu ada babi ngamuk yang lepas dan nantangin si kebo… nekat bener babi ini….
    bener-bener pas tuh istilah membabi buta….
    dan yang kabur justru kebonya lho… hihihihi…

    dia masih penasaran sampai nyeruduk mobil yang dikiranya lawannya hihihi…

  7. DV says:

    Ngeliat babi aku selalu berpikir kasian.. tapi lezat… lezat .. tapi kasian🙂

  8. Ria says:

    wahhhhh…seru mbak nana…
    aku malah orang sulsesl yg gak pernah ngerasain ke toraja.
    kata orang rumah sih pernah di bawa kesana waktu bayi tapi semenjak pindah ke jakarta smp kelas2 udah gak pernah lagi.

    anyway aku inget banget itu pedesnya cabe toraja…gila!!! kalo aku numbuk cabe *kalo dimakassar kan bukan pake cobek tapi pake tumbukan* kena kulit aja ampun panas banget rasanya.

  9. Dokter Anak says:

    haiii…slam kenal yaa…

  10. Clara Croft says:

    Mba Nana liat kerbo belangnya ga? Buat wish apa? Xixixixi…

    Itu babi murka pernah menang lawan kkerbo ga Mba? Gile bener ya, sekarang saya ngerti kenapa di buku Hannibal ada cerita babi makan manusia, rupanya babi bisa kaya gitu, beringas dan membabi buta… (loh, kog muter-muter ngomongnya)😀

    • nanaharmanto says:

      Iya, Cla… aku beberapa kali ngeliat tedong bonga ini.. wah, sayang ya, fotoku bareng tedong bonga itu ada di kamera suamiku..

      Jelas make a wish dong…. eh, a lot of wishes ding… hihihi… *kemaruk

  11. vizon says:

    Daun Miana itu kayak kemangi ya Na…?
    Di Sumbar juga ada daun yang mirip kemangi itu, dan digunakan untuk bumbu masak ikan, namanya ruku-ruku..

    Melihat kerbau belang itu, kok aku keingatan sama kebo bule di solo ya?

    Ada kemiripan adat Toraja dengan Minang, yakni menjadikan kerbau sebagai simbol adat, yang itu diimplementasikan dalam bentuk rumah adat mereka. Dan satu lagi yang mirip adalah lumbung padi. Di Minang juga ada lumbung padi tersebut, terletak di depan rumah Gadang, namanya rangkiang…🙂

  12. edratna says:

    Wahh tak terbayang betapa pedas rasa sambalnya.

    Sarung hitamnya bagus ya….saya sempat ke Toraja sekali dan mampir ke pasar, tapi karena cuma sebentar, kurang mengenal budayanya. Senang membaca tulisan Nana di sini. Rasanya pengin ke sana lagi.

  13. putra toraja says:

    Pa’piong ma sudah bosan aku makan di tondok aku (kampungku) ap lg RW anjing yg d i tumis pedis wewewewe enak ya mari kumande (mari makan)

  14. dini says:

    kalau saya mau beli banyak cabe nya itu,bisa minta contact personnya ga ya untuk suply cabe itu.

  15. nate says:

    kangen pa’piong…😀

  16. rangga says:

    makasih udah mengomentari hal2 yang unik d kampung halaman kami…mga2 lwat blog sperti ini kampung halaman kami semua menjadi pusat pariwisata yang kereen n unik tidak hanya acara adatnya saja tetapi wisata kuliner jg menjadi pusat penarik baik itu wisatawan domestik maupun internasional

  17. Bambang SK. says:

    Mbak Nana, apa boleh minta contoh Lada Katokkon untuk ditanam di Kediri-Jawa Timur?
    Terima Kasih

  18. hamdi says:

    lam kenal mbak….. pengen nyoba lada katokkon ni… boleh dunk kirim seednya… please…ehehe. thank b4

  19. lada katokkon itu untuk menjaga suhu badan agar tetap hangat di Toraja

  20. iwan says:

    Sayur daun mayana dan lada kato’kon hanya ada di toraja rasanya memang enak dan pedas….saya perna coba membawah bibitnya ke jawa dan tumbuh..rasanya tidak sama dengan yang di Toraja..kayaknya lebih cocok di tempat yang dingin seperti Toraja…..
    ..

  21. Eva says:

    Love this !
    Aku jd semakin bangga sbg turunan toraja ^_^
    kpn ya bs kembali kesana 8->

  22. Salam kenal mbak Nana…. trimakasih untuk foto-foto mengenai kampung saya TORAJA. Melihat fotonya pengen pulang tapi nggak punya duit mbak..hehehe. Mohon izin copas fotonya ya mbak…please…..GBU

    • nanaharmanto says:

      Dear Pak Yohannis Tammu, monggo, silakan copas foto-foto tersebut, mohon dicantumkan sumbernya ya…
      Semoga segera terkabul keinginan untuk mudik… saya baru 1 tahun pindah dari Sulawesi Selatan, sudah setidaknya 3kali kangen Toraja dan kepengen ke sana lagi…

      Salam hangat, Pak Yohannis…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s