Ceremai dan Mainan Masa Kecilku…

Akhir-akhir ini, seringkali kulihat anak-anak yang sibuk “uplek” bermain dengan komputer, kecanduan nonton TV , PS dan game-game elektronik lainnya. Tak jarang kubaca keluhan teman-teman di facebook tentang anak-anak mereka yang seakan terbius pada permainan dan game di tablet-tablet dan gadget mahal…

Bukan hanya dua-tiga kali kulihat di tempat makan, anak-anak yang tenggelam dalam mainan eletroniknya, mengabaikan makanan di depannya, dan tak peduli pada orang-orang di sekitarnya. Helow? Kasian sekali anak-anak itu…

Anganku melayang ke masa silam. Aku tak  ingat, apakah aku pernah punya mainan yang amat sangat kusayangi. Aku dan kakakku hanya selisih satu tahun, dan mainan yang kami punyai, kebanyakan adalah mainan milik bersama, jadi ya harus rela berbagi.

Mainan yang dibelikan oleh orangtuaku atau nenekku, kebanyakan adalah mainan yang membutuhkan kreatifitas seperti menyusun dan  menggabungkan balok-balok lego menjadi aneka bentuk, dan berkreasi dengan malam, (lilin lembek beraneka warna), lalu masih ada boneka-boneka.

Tapi, aku mudah sekali bosan. Mainan di rumah menjadi tak terlalu menarik lagi manakala kudengar teriakan dan tawa ceria teman-teman di luar pagar rumahku. Menggoda sungguh menggoda!

Well, di masa kecilku, aku lumayan badung. Segera, aku tahu bahwa ternyata  memang lebih asyik terjun ke sawah, berburu capung, nyemplung di kali atau memanjat pohon waru di halaman SD di desa kami.

Bersama teman-temanku, aku nyolong ceremai, buah kuning-hijau mungil yang rasanya benar-benar masam tapi tetap saja memikat untuk dirontokkan. Kami sengaja membawa kain jarik simbah, membentangkannya di bawah pohon ceremai, supaya buahnya tak jatuh ke tanah.

Kadang kami membawa sedikit gula pasir dalam plastik, mencocolkan ceremai dan mengulumnya sambil mengerenyit saking masamnya buah itu.. tak kuingat riwayat sakit perut karena terlalu banyak makan ceremai … yang ada hanya rasa gembira ria!

ceremai, si imut yang asam rasanya...

Gambar kupinjam dari situs web ini.

Hampir setiap siang, aku pergi bermain dengan teman-teman di kampung.

Asyik sekali bermain dengan mereka, semua bisa jadi bahan permainan. Mulai dari pohon tumbang, batu besar, timbunan pasir, perang ceremai, memanjat pohon, hingga membuat gasing dari bluluk (bakal kelapa) yang diikat dengan karet dan lidi menjadi gasing.

See? Semua memanfaatkan apa yang ada di alam. Sepeserpun tak perlu keluar uang..

Lupakan pula alas kaki! Hahah….

****

Ada juga permainan yang tak membutuhkan alat apapun. Misalnya gobak sodor. Tinggal membuat lapangan dengan menyeret kaki di tanah. Kalau garisnya bengkok, dihapus lagi dengan kaki, lalu dibuatlah garis baru.

Ada pula betengan, tinggal memilih dua batang pohon sebagai pool masing-masing kelompok. Atau ingkling, (congklang) meloncat dengan satu kaki di bidang permainan sambil melempar pecahan genting. Atau sekedar kejar-kejaran bak maling dan polisi.

Ada beberapa lagu dolanan kanak-kanak yang kalau kuingat-ingat liriknya membuatku tersenyum-senyum sekarang, karena liriknya yang aneh, nyleneh, dan agak nggak nyambung seperti cingciripit, dan jamuran (Jawa).

Sungguh, bermain di luar rumah bersama teman-teman sekampung tak pernah membosankan. Musim mainan selalu berganti, -sekarang musim layangan, bulan depan musim main kelereng, bulan depannya lagi sudah ada lagi berpuluh permainan baru.

Kelompok bermain pun terus berganti. Minggu lalu aku bermain dengan teman-teman di belakang rumah, lain hari dengan teman-teman di depan rumah, minggu depan bisa jadi bermain dengan mereka yang rumahnya agak jauh di ujung kampung. Rasanya temanku ada sejuta…

Menentukan anggota kelompok bermain pun bukan semata karena pilih kasih. Semua ditentukan dengan terbuka, dengan cara hompipah atau pingsut (suit), dan setelah terbagi, akan terlihat kelompok mana yang terlalu dominan dengan jago-jago permainan, lalu si jago akan ditukar dengan anggota dari kelompok lain, semata agar permainan berjalan imbang.

Tergelak riang bersama mereka sungguh demikian menyenangkan. Lapar tak lagi kurasa. Waktu berlalu tanpa kusadari. Tiba-tiba saja hari meredup, lantang kumandang adzan maghrib dari masjid kampung terdengar, disusul teriakan ibu-ibu memanggil anaknya pulang untuk mandi dan beristirahat di rumah, dan berakhirlah saat-saat menyenangkan sore itu. Kami terpaksa pulang, sambil saling berteriak.

“Sesok meneh yoooo….!!”

(Besok main lagi ya..)

Aku selalu berharap agar malam segera berakhir, lalu  besok selepas sekolah aku bisa bermain lagi dengan mereka.

****

Dahulu, aku tak mengerti apa kata yang tepat untuk situasi ini.

Begini.

Kadangkala, menjadi kebiasan kami untuk ampir-ampiran (ngampiri, menjemput teman di rumah). Dari satu orang, dua orang, tiga… terus bertambah dari rumah ke rumah sambil memanggil dengan nada khas.

“Na…naaa…”

“Daniikk”..

Berombongan  kami bermain bersama. Bagaimana bisa curang? Semua aturan disepakati bersama, semua menjadi pemain sekaligus wasit juru adil. Siapa mencoba curang, dia akan diprotes, atau diomelin. Dengan demikian, permainan tetap berjalan fair.

Siapalah yang berani urik atau curang, kalau resikonya adalah dikeluarkan dari permainan dan tidak akan diajak main lagi?

Kalaupun ada yang membandel dan tetap curang, aturannya jelas. Permainan bubar.

Ohhoo… jelas tak ada yang ingin begitu.

Nah, kan… dalam permainan kampung pun, satu hal bisa dipelajari: sportif.

Selama permainan, kalau ada teman yang menangis atau cedera cukup serius, dia akan diantarkan pulang beramai-ramai…. so sweet….

Setia kawan-kah kata yang dulu tak kumengerti itu?

Begitulah tak terkatakan, tapi sesama teman saling menyayangi.

Bertengkar dan adu pendapat hingga bermusuhan dalam permainan pun wajar-wajar saja terjadi, tapi selalu saja ada teman yang mendamaikan atau mengajak bermain bersama lagi. Lucu yaa…

****

Aku masih ingat, dolanan bisa berlanjut saat terang bulan…

permainan favorit adalah petak umpet. Seru! Disepakati, arena permainan dibatasi tak terlalu luas seperti saat siang hari.

Kami bebas bersembunyi di balik pohon-pohon, atau di balik tanaman pagar.

Jelas bermain di luar rumah saat malam begitu tidaklah menggembirakan bagi para orang tua… hehehe….

Mengecewakan memang, tengah asyiknya bermain petak umpet, terdengar suara para ayah atau ibu memanggil anaknya pulang. Terpaksa, setengah hati, permainan pun bubar.

Kini, setelah dewasa, teman-teman sepermainanku telah berpencar-pencar menjalani kehidupan masing-masing. Setiap kali bertemu kami tetap saling tersenyum dan menyapa.

Tapi wajah kanak-kanak mereka dulu, masih terbayang: si ini yang dulu sering berantem, itu yang cengeng, ingusan, yang tukang ngambek, yang paling nakal, dan yang paling sering curang, sampai si tukang mengadu.

Kini, anak-anak mereka lah yang tengah menikmati masa dolanan bareng dengan teman sepermainan.

Ah, terjebakkah mereka pada mainan modern yang mengurung kesadaran akan sekeliling mereka?

Masih adakah yang “bekerjasama” merontokkan ceremai?

Masih adakah yang memanfaatkan apapun yang tersedia di alam untuk permainan mereka?  –Haregeneeee……😀

Tentu akan subyektif sekali membandingkan jamanku dulu dengan anak-anak jaman sekarang.

Bagaimanapun kondisi mereka sekarang, semoga semua anak merdeka berbahagia!

“Artikel ini diikutsertakan pada Mainan Bocah Contest di Surau Inyiak”.

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Ceremai dan Mainan Masa Kecilku…

  1. Imelda says:

    waaah ceremai, aku ingat dulu juga suka makan ceremai, sepet-sepet gitu dan ada bijinya kan? Pengennya sih biotek buat ceremai yang tak berbiji. Eh sekarang masih bisa beli/mendapatkan ceremai ngga ya?
    Aku juga kangen sama buah Kecapi yang dibukanya musti digencet pintu hahaha. Itu juga kecut euy

    • nanaharmanto says:

      hahaha… ternyata hobi kita dulu sama ya Mbak…
      iya bener, asem, sepet-sepet tapi kok ya terus aja kumakan… hehehe…
      iya betul ada bijinya kecil.

      Aku nggak tau apakah ceremai dibudidayakan secara serius atau tidak. Mungkin kalau di desa-desa masih ada pohon ceremai Mbak..

      Kecapi itu buah kedondong kah Mbak?
      Aku dulu juga suka mecah kedondong dengan digencet pintu… jaman dulu mah nggak mikir aneh2, sekarang mah ogah buka kedondong pake pintu.. mana tau pernah ada cicak kegencet di situ hiiyy… 🙂

  2. monda says:

    Nana ke rumahku aja yuk, tetangga sebelah punya pohon ceremai pendek tapi buahnya lebat. Nggak ada anak2 yang minta, padahal banyak anak main di warnetnya.

    • nanaharmanto says:

      Waahh…. mau dong Kak Monda hihihi…
      aku suka ceremai, dan udah lamaaaa banget nggak makan ceremai karena jarang banget di tempat tinggal saya 15 tahun terakhir ini..

      Mungkin anak-anak sekarang banyak dimanjakan oleh jajanan dan snack serbaneka yg jauh lebih menarik kali ya Kak… jaman kita dulu jajanan kan sedikit macamnya, belum tentu punya uang untuk jajan pula.. jadi apa yang ada di pohon, itulah yang jadi makanan sembari bermain… 🙂

      • monda says:

        lama banget, 15 tahu nggak makan ceremai, pantaslah dikau rindu

        aku pernah rindu makan buah rambe / rambai, akhirnya ketemeu di Mekasrsari beberapa tahun lalu. Di Jakarta ternyata namanya Menteng.

        Sampai merinding deh, aseeeeem banget, kok dulu kuat banget ya sampai habis serenceng

  3. vizon says:

    Aku baca postingan ini sambil mencecap-cecap, seolah abis makan ceremei, hehehe…🙂

    Terima kasih sudah mengirimkan artikelnya, Na..
    Aku sudah catat sebagai peserta dalam MAINAN BOCAH CONTEST

    • vizon says:

      eh, mencecap-cecap itu benar gak sih? hahaha…😀

      • nanaharmanto says:

        hahahaha…. aku ketawa baca komen pertama Uda…
        iya bener kali ya istilah mencecap-cecap itu… aku tahu maksud Uda…

        berdecak kurang tepat ya, ntar dikira berdecak kagum lagi… hehehe..

        Terima kasih ya Uda sudah membaca tulisanku dan mencatatnya sebagai peserta dalam Mainan Bocah Contest…
        Semoga sukses kontesnya, Uda…

  4. hilsya says:

    haduuuh.. ceritanya menyenangkan sekali… serasa dibawa ke alam ceria masa anak-anak..

    btw, kangen ama ceremai🙂

  5. krismariana says:

    zaman dulu mainan seru2 ya na. aku biasanya main betengan atau gobak sodor di sekolah sih. di sekolah halamannya luas. jadi puas lari2an. aku nggak yakin anak2 sekarang masih main gobak sodor atau betengan, atau permainan sejenis. kayaknya mereka lebih suka main game di komputer dan berpusing2 dengan PR sekolahnya yg seabreg.

    • nanaharmanto says:

      Aku dulu kadang juga ikut bermain di halaman sekolah pas istirahat. Biasanya musim permainan di kampung dan desa sama. Tapi rasanya kurang puas karena waktunya sebentar. lebih puas dan mantap kalau main di kampung abis pulang sekolah hehehe…

      Eh iya lho… aku juga prihatin dengan anak-anak sekarang, udah capek belajar di sekolah, masih harus les ini itu sepulang sekolah. Kasian. Belum lagi PR yang harus dikerjakan.. lham kapan mereka bermain aktif yo? mesakke tenan…

  6. Clara Croft says:

    Eh, ada lomba lagi…

    Kog sama ya mainannya Mba? Padahal saya di Kalimantan. Saya juga maen gobag sodor, benteng, engklek, kadang maen bekel, tapak lele, maen tali so pasti, hehehe… dan nyebur ke sawah, hahaha, itu juga sih, nangkep kodok, ngasi makan kambing, seru deh pokokeeee… kalo anak sekarang mungkin maen gadget ya gamenya…🙂

    • nanaharmanto says:

      halo Cla….
      aku juga kadang heran lho, kok permainan jaman kita kanak-kanak bisa sama ya? padahal beda pulau dan tempat…siapa yang ngajarin ya? atau siapa yang menyebarkannya?

      Masa kecilmu seru banget ya…🙂

  7. nh18 says:

    Saya tau nada khas untuk memanggil itu ….

    Sol Mi Sollll …
    atau
    Sol Fi Sollll …

    Kalau di panggil dua kali menjadi …
    Sol Mi Sol … Sol Mi Do …
    (naaaa na … naaa na … !)

    Halah … nada panggilan dibahas …
    (namanya juga seniman … hyehehe)

    Salam Saya Na …

  8. Pingback: SURAU INYIAK » Blog Archive » sudah tutup

  9. exty says:

    mba nana baca tulisan ini aku jadi pengin main kayak jaman dulu, dan anak sekarang ga ada yg pada main seperti itu dan permainan itu sudah hilang, sayang ya padahal itu kan termasuk budaya kan?
    mau nambahin biasanya dikampungku ada mainan krincing ( lompat karet yg disambung ) mulai dari telapak kaki, lutut, M, udel, dada, leher, dagu, telinga, kepala, setengah merdeka,sampai merdeka ( tangan keatas )
    trus jirak ( karet diikat trus, trus dimasukan ke lobang yg sudah masuk lobang adalah hak kita dan ntar kita yg belum masuk kita lempar pake kethis ( kerikil /pecahan genteng) sesuai permintaan dari lawan kita, kalau pas kena sasaran kita yang menang.
    trus bekel,
    trus cari gansir / jangkrik ( memasukan air ke lubangnya sampai gangsir atau jangkriknya keluar)
    atau buat gula merah dari tanah lempung kita cetakin………..dan masih banyak lagi dan itu lebih…..
    makasih mba nana utk sedikit nostalgia ke masa kecil

    • nanaharmanto says:

      Dear Exty,
      makasih ya udah baca dan ninggalin komen… iya bener apa yang kamu bilang, rasanya kadang aku juga kepengen kembali ke jaman kanak-kanak… dan jujur, aku merasa jauh lebih kaya dibandingkan anak-anak jaman sekarang yang udah didukung banyak fasilitas modern (dan mahal)

      Krincing aku baru denger istilahnya sekarang (padahal rumah kita relatif dekat ya, sama-sama di lereng Merapi…hihiihi) kalau di tempatku namanya loncatan.

      Aku juga nggak memainkan jirak ini…

      Kalau terus menerus digali, memang rasanya buanyak banget jenis dolanan/ permainan yang kita mainkan dulu.. lain kali aku akan nulis juga tentang dolanan bocah yang lain…

      thanks banget ya, ikut memperkaya isi tulisan ini… 🙂

  10. hajarabis says:

    hanya ingin mengikuti postingan agan .
    salam kenal yya
    http://www.hajarabis.com

  11. septarius says:

    ..
    hihihi.. jadi nostalgia masa kecil..
    kalau maenan gitu sering denger kata ‘urik’ atau curang..hehe..
    dulu aku paling jago maen dampu, sama permainan kelereng.. ^^
    ..

  12. meidy says:

    waaahh… ikut lomba ya, semoga menang ya mb🙂
    btw, permainan masa kecil ternyata universal ya.. dimana-mana ada dan sama🙂 bahkan kadang berulang loh…

    • nanaharmanto says:

      terima kasih ya Mbak Meidy…

      iya ya Mbak… permainan masa kecil kok sama ya padahal lain tempat, lain pulau pula, hanya beda namanya saja.. yang pasti sih seru dan berkesan banget…🙂

  13. Mama Kinan says:

    wah buah ceremai..kalo dibikin manisan enak sekali, saya paling suka..manisan buah ceremai.dah berapa lama nggak makan manisan buah ini yah..wah jadi kangen..:)
    semoga sukses kontesnya mbak..:)
    salam

    • nanaharmanto says:

      Mama Kinan…. saya juga udah lama banget nggak makan ceremai segar atau pun manisannya. Sekarang kepengen lagi lho… mesti cari di mana ya? hehehe… kayaknya udah jarang ya?

  14. Abi Sabila says:

    Selamat! Artikel ini terpilih sebagai salah satu pemenang kontes Mainan Bocah. Sekali lagi, selamat!

    Salam sukses!

  15. vizon says:

    Nana, tulisan ini terpilih sebagai salah satu pemenang Mainan Bocah Contest. Selamat🙂
    Info selengkapnya, silahkan lihat di Surau Inyiak

  16. nia/mama ina says:

    di rumah aku masih ada loch pohon ciremai….tapi buahnya ngga pernah dimakan…abis tinggi banget susah klo mau diambil…yang ada malah pada rontok setiap hari……iya dulu waktu aku kecil suka juga makanin buah ceremai ini…..asem banget..

    selamat yach jadi pemenang di kontes mainan bocah

  17. yati rachmat says:

    nanaharmanto, artikel yang memenangkan Mainan Bocah Contest ini memang sangat menarik. Bunda jadi inget masa kecil, dikampung, main kejar-kejaran disepanjang pematang sawah, hhmmmm…indahnya masa kanak-kanak. Ceremei? Wuih, bunda suka bikin tuh manisan ceremai dan rasanya? Yummy….manis-manis kecut. Selamat ya nanaharmanto untuk kemenangannya.

  18. anna says:

    wah baru liat kali ini ceremai seperti apa…
    tapi kalo di liat2 kok malah kayak blimbing wuluh ya mbak.. tapi bentuknya lebih pendek bulat. tumbuh bergerombol pada batang.. persis kyk blimbing wuluh.. rasanya pun juga sama2 kecut, asam …

    mungkin masih satu famili ya..

  19. Orin says:

    Foto ceremainya bikin ngiler mba😀

  20. Pingback: Blog update: Pemenang « sejutakatanana

  21. edratna says:

    Ceritamu membuatku terkenang masa kecil. Syukurlah anak-anakku masih sempat bermain gobak sodor, memanjat, dan juga main lego.
    Makin kawatir karena tinggal di kota yang makin sesak…entah apa permainan cucuku nanti….hehehe…sekarang udah nggak bingung dengan anak, tapi cucu?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s