Terima kasih seribu, oh terima kasih seribu!

Dulu, waktu aku masih kanak-kanak, nenekku mengajariku bernyanyi.

1. Surya bersinar udara segar, terima kasih
di tepi pantai ombak berderai, terima kasih

Reff:
T’rima kasih seribu (o t’rima kasih seribu)
pada Tuhan Allahku (o pada Tuhan Allahku)
aku bahagia karna dicinta terima kasih

2. Hati manusia pandai mencinta, terima kasih
setiap waktu bisik hatiku, terima kasih  -Reff

3. Melati wangi ketilang nyanyi, terima kasih
serimba raya dengungkan lagu, terima kasih -Reff

Panjatkan doa setinggi langit, terima kasih
sepanjang masa terucap kata, terima kasih -Reff

by: NN

Nenekku begitu menyukai lagu yang sangat serderhana liriknya dan bernada ceria ini. Setiap kali aku mendengarnya aku pasti teringat akan nenekku ini…

“Kalian harus merasakan hidup di asrama!” begitu nenekku sering mengatakannya kepada kami.

Huaaahh…. apa enaknya hidup di asrama? semua harus serba teratur, bangun pagi, piket, nggak boleh ini, nggak boleh itu… uh! terlalu banyak aturan!

Kan lebih enak hidup di rumah aja? Deket orang tua, mau makan enak nggak masalah, mau minta uang juga gampang, ngapain asrama? pikirku saat itu.

****

Well, singkatnya, ketika kuliah, kakakku memutuskan untuk tinggal di asrama mahasiswi di Yogyakarta, dan didukung sepenuhnya oleh orangtua dan nenekku.  Baru kudengar namanya saat itu: Syantikara.

Aku sendiri merasakan tinggal di asrama semasa SMA, dan cukup bosan dengan suasana asrama. Kalau kuliah nanti, aku nggak ingin hidup di asrama lagi! aku mau kost aja, pikirku. Tekadku bulat. Kost.

Dan tibalah hari-hari di mana aku harus mengikuti ujian masuk Perguruan Tinggi. Kakakku sudah minta ijin pada Suster asrama, bahwa aku akan “dititipkan” di Syantikara selama ujian.

 

Aku penasaran, gimana ya suasana asrama mahasisiwi itu? Aduh, hidup dengan 150 cewek lainnya? Kalau pagi pasti antri bahkan rebutan kamar mandi deh! Kayaknya kurang menarik tuh!

 

Jadilah aku masuk Syantikara untuk nebeng sementara.

Hohoho…. di luar dugaanku, seketika aku jatuh cinta pada Syantikara. Jauh dari bayanganku akan asrama: berbangsal besar dengan puluhan tempat tidur susun berderet-deret, dan ribuuuutt..

 

Ternyata, asrama ini dibagi dalam unit-unit berpenghuni 8 orang. Setiap penghuni asrama harus hidup bersama selama setahun penuh di unit yang sama, dan bertanggungjawab atas kebersihan dan kerapihan masing-masing unit. Setiap unit dilengkapi dengan ruang tamu merangkap dapur, kamar tidur, kamar ganti dan kamar belajar. Kulihat setiap pintu unit ditempel hiasan unik dan lucu-lucu karya penghuni unit masing-masing.

Aku jadi tak sabar ingin segera tinggal di sini. Aku lupa pada keinginanku untuk kost.😀

Saat itu aku tidur di unit kakakku, di unit 6. Kakakku memberitahu apa yang harus kulakukan di asrama, kapan waktu sarapan, makan siang dan makan malam.

Di tempat baru, aku selalu gamang, kaku… aku harus gimana? Ngapain aja? Kalau dijudesin yang lain gimana nih? Kakakku begitu sibuknya dengan kegiatan kuliah dan entah apalagi. Pulangnya selalu malam  … wedewww…

Tapi, kakak-kakak di unit 6 itu semuanya baiiikk banget… setiap saat aku habiskan waktu untuk latihan soal ujian masuk PT. Kak Ina (Papua) selalu mau kutanya soal-soal ekonomi dan dengan senang hati menjelaskannya. Kak Yenni (Tegal) yang lucu, selalu mengambilkan makan siang untukku. Lalu Kak Iva yang tomboy dan cuek yang menemani ngobrol.

 

 

Ada satu yang menarik. Hampir setiap saat kudengar ucapan terima kasih dengan berbagai cara dan nada. Di dalam unit, tetangga unit, bahkan di lorong asrama.

“Terima kasih, ya…”

“Makasiiih…”

“Thank you…. “

“Thanks lho…”

Tengkyu ya…”

 

 

Suatu saat, ada tetangga unit yang berseru dari jendela.

“Unit 6, halo? Pinjam kamar mandi ya? Makasih…”

Setelah selesai urusannya, dia kembali lagi hanya untuk mengucapkan terima kasih.

“Makasih, Unit 6… “.

 

Wah, hanya untuk urusan pinjam kamar mandi aja sampai harus memerlukan untuk kembali lagi hanya untuk mengucapkan terima kasih. Bukannya tadi waktu minta ijin aja udah cukup terima kasihnya? 😀

Tapi begitulah yang terjadi.

Lalu, aku resmi menjadi penghuni di Syantikara tahun 1996 itu.

Atas kebaikan suster, kami berdua mendapat sedikit keringanan. Suster rupanya tahu persis kondisi kami yang pas-pasan😀.

Asyiknya, tinggal di Syantikara nggak sebaku yang kubayangkan. Semua bebas dengan jadwal kuliah dan kegiatan kampus. Pendeknya, seperti kost, hanya dengan peraturan sedikit lebih ketat, tanpa perlu pusing-pusing memikirkan soal makan. Asrama menyediakan makanan 3x sehari. Hhmm.. menyenangkan!

 

Setiap kali ada pertanyaan soal hukum, ekonomi, bahasa Inggris, Kimia, Fisika, hitungan Matematika, dsb, datanglah pada mahasiswi dengan jurusan-jurusan itu, pasti kita akan dapat jawaban. Kalau pusing atau sakit ringan, kita bisa bertanya pada mahasiswi kedokteran..

Syantikara yang kaya raya!

 

****

Aku masih mengingat jelas, kakakku mengatakan padaku. “Lebih baik kita menjadi orang yang dipercaya suster, daripada disayang suster”.

 

Meskipun aku nggak paham, tapi kemudian aku belajar, bahwa memang lebih baik dipercaya suster karena kita mampu menjaganya dan benar-benar bertanggungjawab atas kepercayaan itu.

 

Aku termasuk agak badung di asrama. Eyel-eyelan dengan suster itu biasa. Diomelin pun…. lumayan sering! hihihi… Pulang ke rumah tanpa pamit juga sering terjadi karena aku lupa! Lalu biasanya aku telepon ke asrama bahwa aku pulang ke rumah. Atau setelah sampai diasrama lagi, baru aku bilang pada suster dan minta maaf😀

Biasanya Sr. Ben akan berkata,”Ah, kamu tuh, kebiasaan! Jangan diulang lagi!”

 

I wasn’t Suster’s golden girl…. but she trusted me.

I never ruined her trust… that’s all… 

 

Ketika adikku masuk Syantikara tahun 1999, seingatku, aku pun meneruskan nasehat kakakku itu pada adikku. Disusul si bungsu pun menghuni Syantikara tahun 2004.

Kami empat dara dari lereng Merapi betul-betul merasakan jasa Syantikara dalam kehidupan selama kuliah. Kami semua ditempa untuk mandiri, berhemat, menjaga kepercayaan dari orang tua maupun suster, bertanggung jawab atas studi dan pergaulan kami.

Kami bersyukur digodok dalam melting pot dengan saudari-saudari dari segala penjuru Nusantara. Kami berkenalan dengan aneka rupa budaya berbagai daerah, ngicipin makanan khas yang unik, bahkan katut dialek daerah teman seunit.

Perbedaan itu sungguh indah, kawan…

Tampaknya, tak satupun dari kami berempat yang menjadi anak kesayangan suster hehehe…

 

****

Tanpa kusadari, aku belajar berterima kasih untuk hal-hal kecil. Entah berapa kali dalam sehari aku mengucapkan terima kasih. Pada penjaga kafe yang mengurus makanan penghuni asrama, pada teman seunit, pada tetangga unit, pada suster, pada mas-mas yang mengepel lantai dan menjaga kebersihan.

 

Terima kasih terucapkan dari setiap penghuni Syantikara. Jika seorang mengucapkannya lebih dari sekali setiap hari, berpuluh kali dalam seminggu, sebulan, setahun, lima tahun… wah, berapa ribu kali kata terima kasih ini bergaung di Syantikara?

 

Rasanya nggak berlebihan kalau kubilang semua penghuni Syantikara terbiasa dengan ucapan terima kasih dan menanggapinya dengan baik pula.

 

Ketika aku menjalani program PPL di sebuah SMA Negeri, aku harus bisa bekerjasama dan beradaptasi dengan mahasiwa dari perguruan tinggi lainnya.

Suatu kali, aku menawarkan bantuan untuk mengelola administrasi murid-murid baru, dan dijawab dengan ketus oleh mahasisiwi dari universitas lain,  “Nggak usah deh, nanti malah berantakan semua… “.

“….??…”

 

Sejujurnya aku tersinggung saat itu. Yah, aku bukanlah anak kecil yang hanya bisa bikin berantakan! Sekian lama aku hidup di Syantikara, dimana penolakan secara halus pun tetap diikuti terima kasih, -tiba-tiba aku menghadapi penolakan yang menurutku kasar.. ah ya sudahlah…

 

Setelah menikah, aku mengikuti suami bertugas dan tinggal di kota kecil di Sulawesi Selatan selama 2,5 tahun. Awal tinggal di sana, aku pun terkaget-kaget dengan kebiasaan setempat. Kalau kami pesan makanan di rumah makan, menjadi kebiasaanku dan suami untuk berterima kasih pada pramusaji yang melayani kami.

“Terima kasih…”.

Lalu si pramusaji akan berbalik lagi.

“Apa Bu/Pak?”  Mengira kami akan memesan lagi.

Kami ulangi lagi dengan senang hati.

“Terima kasih, Daeng… “.

Biasanya pramusaji di sana akan mendengus berbalik badan tanpa mengucapkan apapun, sekedar kata “sama-sama” pun, tak pernah terdengar.

Dengan tetangga pun demikian. Ketika aku memberikan oleh-oleh atau hasil masakanku, kadang tak kudengar ucapan terima kasih dari mulut mereka.

Oh, well, lain padang lain belalang….

 

Saat aku mengucapkan terima kasih pun, jarang banget aku mendengar kata “terima kasih kembali” atau “sama-sama”. Lebih sering kudengar adalah “iyek” (=iya, dalam dialek setempat).

Awalnya aku cukup risih mendengarnya, karena dalam bahasa daerahku, “iyek” umum digunakan untuk anak kecil, untuk memperhalus/ menggantikan kata “jijik”.

Hahaha…. lain lubuk lain pula ikannya!

 

 

Kini, di mana pun aku tinggal, aku tetap berusaha mengucapkan terima kasih untuk setiap bantuan dan jasa yang kudapatkan, -sekecil apapun itu- tak penting bagaimana tanggapan mereka.

Terima kasih, Suster Ben…. sejahteralah selalu!

Terima kasih kakak-kakak, teman-teman senasib dan adik-adik yang pernah berbagi kebersamaan di Syantikara (1996-2001). It was wonderful time…

Terima kasih Syantikara, oh terima kasih seribu!

 ****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

29 Responses to Terima kasih seribu, oh terima kasih seribu!

  1. Imelda says:

    Lagu wajib sih itu! hehehe

    Senang membaca ceritamu tentang asrama. Masih ingat usulku dulu?😉

    Dan ya, aku bersekolah di sekolah suster, dulu waktu TK dan SD amat sangat ditekankan untuk mengatakan terima kasih dan…sedapat mungkin mengerjakan semuanya sendiri. Maklum sekolahku banyak anak kaya. Tapi memang beda ada yang menjalankan ada yang tidak. Kalau di asrama, pasti wajib menjalankannya ya….

    Aku senang sekali di Jepang ini SEMUA orang pasti bilang terima kasih… paling sedikit mengangguk hormat! (Sering kuanggap mereka lebih religious daripada kita-kita)

    • nanaharmanto says:

      Makasih Mbak Imel…

      Sejak dari kecil sama orang tuaku kami diajarin untuk berterima kasih, tapi ucapan terima kasih yang hampir setiap saat terdengar ya di asrama hehehe….

      Rasanya sih, kalau ada anggota asrama yang nggak pernah mengucapkan terima kasih, kayaknya jadi beda sendiri, tapi aku yakin pasti dia ikut “arus” yang baik deh…

      Iya bener, aku juga salut sama orang Jepang yang selalu bilang terima kasih.. semoga masyarakat kita (di manapun dan apapun suku mereka) belajar banyak dari budaya yang baik ini..

    • nanaharmanto says:

      Hampir lupa…. makasih Mbak, udah komen,…. hehehe….🙂

  2. Clara Croft says:

    Aku selalu berusaha bilang makasih untuk apapun juga Mba Na, meskipun ga ditanggapi, yang penting dia udah tau kalo aku tertolong sekali dengan bantuannya. Di sini, ternyata orang2nya ramah, bahkan setelah kita bayar bus mereka duluan yang ucapkan terima kasih, jadi saya senang🙂

    • nanaharmanto says:

      Kebiasaan yang baik harus tetep di pertahankan di mana pun kita berada ya Cla… semoga betah di tempat yang baru ya… pasti banyak cerita seru nih..
      Setuju banget untuk tetap mengucapkan terima kasih meskipun dicuekin hehehe…
      Wah, lama banget nggak main ke blog-mu Cla…

  3. nh18 says:

    Nana …
    menurut saya … adalah suatu kewajiban bagi kita untuk mengapresiasi kebaikan yang telah diberikan orang pada kita … sekecil apapun itu …
    walaupun mungkin itu sudah menjadi kewajiban kerja mereka … tetapi tetap saja … (menurut saya) kita wajib berucap terima kasih …

    (walaupun jawaban dari pihak sananya … cuma mendengus … atau melengos saja …)

    hehhe

    welkom bak Nana …

    Salam saya

    Ditunggu ceritanya di tempat yang baru !

    • nanaharmanto says:

      Halo Om NH,
      setujuuuu….. berterima kasih nggak akan ada ruginya ya… meski dicuekin atau nggak ditanggapin…

      Kebiasaan baik (salah satunya mengucapkan terimakasih) akan tetap terus saya lanjutkan, Om… malahan rada aneh kalau terlupa mengucapkan terima kasih hehehe…

      Terima kasih komennya ya Om… *wink* 🙂

  4. krismariana says:

    Na, bagiku tinggal di Syantikara adalah suatu keistimewaan. Dulu aku juga enggan masuk asrama. Bayangannya sudah serem duluan. Tapi ternyata, sekarang aku merasa dari asrama itulah aku belajar banyak hal. Semuanya jadi terasa menyenangkan kalau kutelusuri ulang. Na, terima kasih juga ya jadi teman senasib dan seunit yang menyenangkan.🙂 Dan oya, teman-teman Syantikara bagiku lebih nempel di hati rasanya sampai sekarang.😀 Kapan-kapan kalau ada reuni besar bareng mbak-mbak yang lain, ikut yuk hehehe.

    • nh18 says:

      Kris … ketemu Nana …
      Aaahhh pasti “Teng-Teng Crit” nih …

      hahaha

    • nanaharmanto says:

      Nik, tinggal di asrama Syantikara juga saat-saat dan kesempatan istimewa… ketemu teman-teman baru, dari daerah2 yang sebelumnya hanya kukenal dari peta dan buku pelajaran… hehehe…

      Pasti ada kejadian nggak mengenakkan juga, namanya juga hidup dengan banyak orang… tapi kayaknya aku enjoy-enjoy aja tuh dan nggak terlibat konflik yang dramatis hehehe…

      Wah, mau dong ikut reuni dengan mbak-mbak, temen seangkatan dan adik-adik… kalau waktunya dan tempatnya memungkinkan, aku akan datang…

      Makasih juga ya Nik, udah jadi temen seasrama dan seunit-ku (dan ngomong saru)…. **huuussshhh!! jangan dibuka di siniiii…. hahahahaha…. 🙂

  5. Reny says:

    Na, ada satu hal yang belum disebut…kebiasaan Di Syantikara kalau ada yang mau berangkat kuliah atau ada ujian pasti ada kata…Sukses yaaa…rasanya selalu ada support dari teman yang sudah seperti saudara kita sendiri,,,Sukses Na…!!!!

    • nanaharmanto says:

      Eh iya bener…. “sukses ya!!” pasti sering juga terdengar tuh…. iya betul-betul! disupport banyak orang itu menyenangkan…. rasanya adem dapet perhatian gitu dari temen seunit/ se asrama…

      Sukses juga, Mbak Reny…🙂
      Terima kasih udah komen ya…

  6. yustha tt says:

    Wui…syantikara, asrama di pojok Sagan…
    Aku gk tingggal di sana si kak, cuma ada teman yg tinggal di sana.
    Ah, aku datang th 2001, pas mb Nana selesai.. Hehe…

    Dulu aku pernah ngelesi di asrama Stece. Dan ikut merasakan kehidupan asrama anak2 lesku. Hihi….bagaimanapun hidup bersama dalam waktu yang lama menumbuhkan perasaan sehati dan ikatan kekeluargaannya terikat erat. Kebiasaan mengucapkan terimakasih di Syantikara pasti benar2 tertanam dalam hati mb Nana dan sudah menjadi habit.

    Tetap berikan yang terbaik meskipun tidak mendapat balasan yang sama dari lawan kita. Tugas kita memberi yg terbaik.

    Terimakasih seribu ya Kak untuk sharringnya..🙂

    • nanaharmanto says:

      Halo Titi….
      wah, sayang ya nggak ngerasain hidup di syantikara hehehe…
      Bener yang kamu bilang, hidup bersama dalam waktu yang lama menumbuhkan perasaan kedekatan dan seperti saudara sendiri…

      Kebiasaan mengucapkan terima kasih sudah diajarkan sejak kecil di rumah, Ti… tp di Syantikara makin tertanam banget hehehe…
      Lha wong hidup dengan banyak orang, banyak kontak, pastinya banyak hal-hal yang harus dilakukan bersama dan setiap orang merasa terbantu sehingga wajib berterima kasih pada bantuan orang lain..

      Makasih juga ya Ti, sudah komen… 🙂

  7. DV says:

    Di Indonesia dulu aku jarang berucap “Terima kasih” untuk hal apapun tapi kini, di sini, semua orang selalu berterimakasih dan say sorry ketika melakukan kesalahan kepada siapapun.. mau tak mau akupun ikut dan merasakan indahnya sapaan2 itu🙂

    Cerita menarik dan eh.. aku dulu di asrama juga 3 taon pas SMA🙂

    • nanaharmanto says:

      Kebiasaan baik apa lagi ya yang kira-kira bisa ditiru masyarakat kita Don? budaya antri dan disiplin kayaknya ya… ada lagi yang lain?

      syukurlah kau ikut kebiasan yang baik dan benar… hehehe… pastinya kau juga ingin menularkan kebiasaan ini pada anakmu kan? 🙂

  8. Devie says:

    Senang sekali membaca ceritamu,Na. Jadi teringat tentang pelajaran berharga yg kita dapat sewaktu di asrama. Sama seperti kamu, tradisi selalu mengucapkan terima kasih adalah salah satu pelajaran berharga yg aku dapat ketika di Syantikara. Sebelumnya aku tinggal di Jakarta yang terkesan cuek dan kata “terima kasih” adalah hal yang jarang diucapkan. Aku teringat waktu awal tinggal di asrama aku ditegur oleh mbak Icha (SKK) karena tidak mengucapkan terima kasih kpd orang yang membantuku mencarikan koran di ruang koran. Tapi sejak saat itu aku selalu ingat untuk mengucap terima kasih untuk bantuan sekecil apapun yg orang lain berikan. Saat inipun aku berusaha menanamkan dalam diri anak-anakku untuk selalu mengucap terima kasih kepada siapapun.
    Ya,ini hal sederhana tetapi sangat penting kita tanamkan dalam hidup kita.
    Terima kasih Nana, Sr.Ben,Mbak dan adek2 asrama, mbak dan mas yang membantuku selama di asrama. Banyak pelajaran berharga kutimba dari sana.

    • nanaharmanto says:

      Halo Devie…
      Terima kasih ya udah komen di sini…

      Sedari kecil aku diajarin untuk berterima kasih… tapi di Syantikara, menjadi lebih berkesan lagi karena semua orang berterima kasih untuk hal-hal kecil yang kita terima. Seeetiapp hari, bahkan tiap saat, kita dengar “terima kasih” diucapkan, dan kayaknya mustahil untuk tidak ketularan kebiasan baik ini.

      “Terima kasih’ diucapkan nggak lebih dari 3 detik, dan sama sekali nggak ada ruginya mengucapkannya pada siapapun… (menurutku)

      Terima kasih Devie, sudah berbagi… 🙂

  9. edratna says:

    Saya juga tinggal di asrama yang diisi 50 orang, satu kamar 4 orang, ada juga yang 2 orang. Tapi nggak ada ibu asrama, jadi kami mengatur sendiri, dibuat kesepakatan yang dituangkan dalam aturan tertulis dan tak tertulis.
    Sebenarnya enak hidup di asrama, tapi yang nyebeli pas masuk harus melalui semacam ospek, ini yang kurang kusukai.

    Bagaimanapun hidup di asrama banyak suka nya, dan kita menjadi biasa hidup bersama orang lain, saling tenggang rasa,

    Tentang Syantikara ini, saya mengenal namanya dari cerita karangan Marga T, letaknya di dekat RS Panti Rapih, di jalan Colombo.

    • nanaharmanto says:

      Ibu Enny…
      mungkin karena dianggap sudah dewasa dan bisa bertanggungjawab penuh, maka nggak ada ibu asrama ya…
      tapi kalau asrama setingkat SMA pasti masih memerlukan ibu asrama/pengawas.. saya sendiri 3 tahun di asrama selama SMA, dan merasakan sendiri, tanpa pengawas asrama, pasti kacau balau semuanya… hehehe…

      Saya juga mengalamai semacam Ospek, waktu (terpaksa) mengikuti ya sebel… tapi setelah berlalu, malah jadi salah satu kenangan lucu..

      Saya bersyukur banget bisa merasakan hidup berasrama, latihan bersabar ngadepin berbagai macam orang, latihan bertenggang rasa, belajar menahan diri dan selalu menjaga kebersihan dan kerapihan supaya yang lain pun merasa nyaman….

      iya betul, Bu… di situlah Syantikara…
      Syantikara ini pernah menjadi setting film di awal tahun 80an yg dibintangi Ro* Mart*n (kalau nggak salah 😀 )

      • krismariana says:

        Kabarnya, kapel asrama pernah masuk di adegan film Cintaku di Kampus Biru. heheheh. Syantikara ternyata cukup terkenal ya? :p ikut bangga. halah… ra penting hihihihi…

  10. anna says:

    asrama syantikara…
    yak, dulu pas kuliah aku juga pernah ke sana. Kebetulan Unit Kegiatan Mahasiswa ku pernah minjem tempat di sana. Sempat masuk ke aula yang luas itu.. bersih sekali tempatnya…

    mengucapkan terima kasih harus menjadi kebiasaan. bukan sekadar kewajiban, tapi lebih pada kesadaran.

    • nanaharmanto says:

      Betul Jeng… Syantikara dengan bangsalnya (besar dan kecil) memang menjadi salah satu alternatif tempat mahasiswa mengadakan berbagai kegiatan. Selain tempatnya strategis, gampang dicari, tempat luas dan gratis pula hehehehe….
      Banyak mahasiswa yang memilih belajar di bangsal Syantikara, ada yang belajar beneran, ada yang sambil cuci mata hahahaha…ada juga yang berdalih belajar bersama untuk ketemu pacar hueheheh…. lengkap deh..

      Setuju bahwa mengucapkan terima kasih harus menjadi kebiasaan (baik) karena kesadaran dan bukan paksaan…

  11. enniy purba says:

    thanks ya lagunya !

  12. anne says:

    Hai mbak, salam kenal yaa….sangat tertarik membaca tulisan mbak…mbak pernah tinggal dimana di sulawesi selatan? Kebetulan saya dari sana, dari Toraja tepatnya, tapi saya juga dibesarkan dengan berpindah2 kota di sulsel dan jawa karena mengikuti org tua yg sering di pindah tugaskan. Dialek org sulawesi memang tdk seperti org jawa, tapi setahu saya mereka juga tahu yg nama TRIMAKASIH dan seingat saya waktu saya kecil hidup didaerah bugis kata trimakasih itu selalu ada. Trus kata IYEK untuk kalangan suku Bugis dan Makassar adalah kata pengucapan ‘Iya’ yang bermakna paling sopan, biasanya diucapkan pada org yg dihormati dan dihargai, serta biasanya hanya diucapkan oleh org bermartabat didaerah tersebut. Pendapat saya dimanapun kita berada harus pintar membawa diri dan menyesuaikan dengan keadaan masyarakat setempat, dari tulisan mbak seharusnya mbak tidak perlu mengharapkan perlakuan yang sama dari masyarakat dengan kehidupan yang mbak jalani di asrama🙂. Anyway trimakasih atas segala koreksinya dan mohon maaf jika ada kata yg gak berkenan. k

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga, Mbak Anne..
      terima kasih telah berkenan membaca tulisan saya ya, terima kasih juga telah meninggalkan komentar di posting ini, saya jadi cepat-cepat membaca kembali tulisan saya. Mohon maaf kalau ada bagian tulisan ini yang tidak mengenakkan Anda sebagai masyarakat Sulawesi Selatan.
      Saya tidak bermaksud membela diri, Mbak Anne… bagian yang kurang mengenakkan tersebut saya tuliskan sebagai bagian minor dari tulisan ini, yang notabene adalah pengalaman asli yang saya dan suami alami secara pribadi. (yang tampaknya mustahil saya buktikan di media apapun juga).
      Saya tidak membesar-besarkan masalah tersebut karena yah, memang saya menyadari sungguh bahwa adat istiadat dan kebiasaan masyarakat sangat berbeda-beda satu dengan yang lainnya. Saya menghargai setiap tempat yang saya pijak, tempat saya pernah makan dan minum dari tanahnya, tempat saya pernah hidup dan mendapat kenalan-kenalan baru.

      Saya tidak berkenan menjawab di mana saya pernah tinggal, karena ini adalah salah satu upaya saya untuk tetap menghargai tempat tersebut, -menghindarkan perselisihan atau kesan negatif ataupun pemahaman yang berbeda yang akan timbul.

      Terima kasih atas masukan Anda tentang kata “iyek”, saya juga mengucapkannya dulu sebagai upaya saya berbaur dengan tetangga dan masyarakat sekitar.

      Tanpa merubah sedikitpun isi tulisan ini, ucapan “terima kasih” sudah menjadi kebiasaan saya pribadi yang saya ucapkan pada setiap orang yang telah memberikan jasa -apapun bentuknya- tanpa mengharapkan balasan ucapan terima kasih. Saya tuliskan cukup jelas di paragraf terakhir sebelum paragraf berwarna biru.

      Salam saya, Mbak Anne…
      nana harmanto

  13. Tommy Haryadi says:

    Jujur ya Mbak Nana, itu lagu kesukaan saya lho. Lagunya sederhana tapi gak bosen buat dinyanyiin. Lagu ini mengingatkan saya spy saya selalu bersyukur, bahwa TUHAN YESUS mencntai saya, apapun keadaan saya. TUHAN YESUS Memberkati

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s