Dua Nahkoda

Sebuah cerita lama yang tersimpan di file komputerku, sayang kalau hanya terbuang.

 

Note: ilustrasi kupinjam dari sini.

 

 

Nahkoda I

Sewaktu masih tinggal di Jakarta, aku dan suamiku pernah bertemu dengan seorang sopir taksi yang benar-benar meninggalkan kesan istimewa dalam benak kami. Kami menumpang taksi BB yang dikemudikannya.

Sepanjang perjalanan kami mengobrol.

Mulai dari basa-basi, obrolan kami mengalir lancar. Ternyata, baru dua bulan dia menjadi sopir taksi biru terpercaya di ibukota ini. Hebatnya, menjadi sopir taksi ini adalah pekerjaan yang dipilihnya ketika cuti 6 bulan dari sebuah perusahaan pelayaran terkemuka di negeri ini.

“Yah, daripada 6 bulan nganggur Bu, nggak ngapa-ngapain di rumah, mending ya saya nyopir begini. Enak, ketemu orang banyak, bisa ngobrol. Saya sih tidak berniat sombong, saya nggak mementingkan dapat uang berapa pun. Yah, sebuah “kemewahan” bagi saya bisa berada cukup lama di darat, makanya saya sangat menikmatinya sekalian jalan-jalan. Lain kalau bawa mobil sendiri, Bu, Pak…nggak ketemu orang… Dengan nyopir begini kan ketemu macam-macam orang dan dapat banyak cerita”.

“Maaf, Pak, Bapak ini nahkoda kapal?”, tanyaku langsung.

“Iya, Bu, kebetulan saya dipercaya menyandang jabatan itu”.

Waaah…hebat dong Pak…”, kataku kagum, sambil melirik papan identitas di dashboard taksi: Edw*rd

“Tidak juga, Bu, kebetulan saja saya dipercaya oleh pimpinan saya. Di atas kapal, semua memegang peranan hebat dan penting. Semua harus bisa bekerja sama. Tapi memang, tanggung jawab nahkoda jadi bertambah karena harus memimpin banyak orang, bertanggungjawab atas navigasi an keselamatan perjalanan, melihat peta dan masih banyak lagi”.

“Ada sepupu saya yang kerja di pelayaran juga, Pak..” kata suamiku.

“Di bagian apa?”, tanya si sopir taksi.

“Di bagian kepala dapur dan logistik, Pak…”.

“Wah, bagian penting itu. Orang hebat itu. Bayangkan, dia harus bisa merancang untuk berbelanja kebutuhan satu bulan di atas kapal. Dia harus menghitung dengan cermat bahan yang harus dibawa jangan sampai berlebihan dan jangan sampai kekurangan, karena bisa jadi kami berlabuh satu bulan sejak hari keberangkatan untuk bisa berbelanja lagi di darat.

Dia harus teliti memperkirakan jangan sampai bahan makanan menjadi busuk dan mubazir. Kalau saya bilang, mungkin bagian ini yang memegang peranan paling penting. Dia harus menyediakan makanan bagi para ABK dan penumpang kapal. Ketersediaan makanan ada dalam tanggungjawabnya. Coba kalau misalnya tak ada makanan, mana bisa kami ini bekerja maksimal”.

“Meskipun dibantu beberapa koki, tidak mudah melayani kemauan dan selera sekian ratus orang, tiga kali sehari pula..”, tambahnya lagi.

Kami manggut-manggut setuju.

Pak sopir yang nahkoda ini sempat bercerita tentang kedua anaknya. Si sulung tengah melanjutkan studi S2-nya di luar negri, sementara si bungsu sedang menyusun skripsi dan berencana mencari beasiswa untuk melanjutkan S2-nya.

“Wah Bapak benar-benar hebat bisa mendidik anak-anak hingga kuliah ke luar negri, Pak”.

“Ah, tidak Bu. Ibunya anak-anak itu yang hebat. Kan dia yang menemani anak-anak sepanjang waktu, mendidik anak-anak. Apalah saya ini. Terus menerus berlayar, saya bertemu anak-anak ya hanya saat saya cuti di darat begini. Tapi sepanjang waktu, istri saya lah yang lebih pantas dikatakan berhasil mendidik anak-anak. Saya tidak bisa ada setiap saat untuk keluarga, tapi istri saya melakukan semua yang terbaik untuk anak-anak kami. Dan saya bersyukur sekali karenanya”.

****

Nahkoda II

Gara-gara banjir parah di awal tahun 2007, Pernah aku terjebak dalam kereta api selama 17 jam dalam perjalanan dari Jakarta ke Jogja. Penumpang di sebelahku saat itu mengajak ngobrol.

Dia menanyakan pekerjaanku. Dan sebaliknya aku pun bertanya dia berkerja di mana.

“Di P*LNI,” jawabnya mantap.

“Pelayaran? Nahkoda?” tebakku.

“Iya, Mbak… kok tau?”

“Saya asal nebak aja sih Pak… Sepupu suami saya juga kerja di pelayaran, Pak”.

“Oh ya? Kapal apa? Bagian apa?”

“Kapal X, Pak. Bagian kepala dapur dan logistik Pak”, jawabku.

Tanggapan pak nahkoda ini membuatku cukup tercengang.

“Ooooh, pekerjaan gampang itu. Cuma ngurus dapur dan belanja itu kan gampang. Semua sudah disiapkan di darat, begitu perlu belanja, semuanya sudah diatur orang, tinggal angkut saja, beres.. lha, yang berat itu ya nahkoda, mulai dari memastikan kondisi kapal laik berlayar, memastikan pelampung cukup untuk semua penumpang kapal. Lalu yang paling penting harus menentukan dan menghitung kecepatan angin, dan tingginya ombak, belum lagi kalau terjadi badai. Tanggung jawab nahkoda itu besar Mbak, kan dia membawa ratusan nyawa orang. Memastikan bahwa penumpang terjamin di atas kapal. Bla..bla..bla.. disebutkannya semua jasa tugas-tugasnya..

Kuakui, semua itu memang tugas yang tidak mudah, tapi…entahlah… ada nada bangga yang tak bisa disembunyikannya.

Lalu tiba-tiba dia memamerkan foto keluarganya didalam telepon genggamnya: istrinya, dan ketiga anaknya.

Teringat akan pembicaraan dengan Pak Edw*rd, aku berkomentar.

“Hmmm.. pastinya istri Bapak hebat sekali ya, bisa mengurus tiga anak masih kecil-kecil dan sendirian pula”.

Jawabannya membuatku lebih tercengang lagi.

“Ah, nggak juga. Istri itu kan memang tugasnya begitu, sudah biasa itu. Lagipula ada ibunya kok di rumah. Yang namanya istri itu kan tinggal menerima dari suami. Dia sih enak, kalau saya pulang tinggal menerima uang dan oleh-oleh yang dimintanya. Yang kerja di laut begini yang repot…”.

Tiba-tiba saja aku tak berselera melanjutkan obrolan dengan bapak nahkoda ini.

Dia mengeluhkan kereta api ini terhenti sekian lama kok tidak ada pengumuman dari masinis.

“Seharusnya ada pengumuman, kenapa perjalanan harus terhenti. Penumpang kan berhak tau apa yang terjadi. Ini saya sampai maju ke depan tadi, saya protess sama masinisnya kenapa tidak ada kejelasan info… kalau saya, pasti sudah saya informasikan pada penumpang, suhu saat ini berapa, kecepatan angin berapa, ketinggian ombak berapa…”.

Yah, semua juga maklum Pak, namanya imbas banjir besar ya merembet ke mana-mana, batinku..

Masih sempat bapak nahkoda ini mengeluhkan kinerja perusahaan kereta api Indonesia yang begini dan begitu. Yang kurang ini dan itu. Dibandingkannya dengan perusahaan tempatnya bekerja yang lebih beginih dan begonoh…

Aduh, Bapak… kalau mau ngeributin transportasi di darat tapi jelas nggak menolong, udah deh, ke laut aja, Pak…😀

Jujur saja, aku lebih respek pada Nahkoda I. Betapa ia menghargai setiap orang, betapa ia rendah hati dan tetap sederhana, padahal gajinya sebagai nahkoda tentunya besar sekali.

Tentang Nahkoda II, ah, ya sudahlah…

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

17 Responses to Dua Nahkoda

  1. Imelda says:

    hmmm manusia memang berbeda ya
    ada yang mengeluuuuuh terus, merasa dirinya manusia tersulit sedunia.
    tapi ada yang terus bersyukur atas segala nikmat yang dimiliki.
    Tentu saja aku lebih respek Nahkoda I karena dia bisa menghargai semua orang. Semua orang itu penting, dan tidak menyombongkan dirinya.
    Semoga… aku bisa terus mensyukuri hidup, dan tidak sombong.

    • nanaharmanto says:

      Semoga aku juga bisa seperti Nahkoda I, selalu menghargai orang lain apapun pekerjaannya, dan terus mensyukuri hidup.. ah, jadi inget sambutan papanya Mbak Imel: berterima kasih dan bersyukur atas segala sesuatu. Aku ingat betul itu..

      Aku juga takut menjadi sombong… aduh, jangan sampai deh..

  2. monda says:

    Pak nakhoda pertama positif banget ya, nggak membanggakan diri, semua orang juga tau nakhoda itu kan bosnya di kapal tapi dia mau mengakui bagian lain juga sama pentingnya.
    Tak ada seorangpun yang lebih hebat dari orang lainnya

    • nanaharmanto says:

      Kak Monda, aku belajar beberapa hal dari pak Nahkoda I dan itu berkesan banget. Tidak semua orang punya pikiran positif terhadap orang lain seperti dia.
      Semoga semakin banyak orang-orang yang berpikiran positif seperti pak Edw*rd… aku juga kepengen bisa seperti ini…🙂

  3. nh18 says:

    HHmmm …
    Tipe Nakhoda nomer dua itu beberapa kali sempat saya temui juga …
    walaupun pekerjaannya bukan Nakhoda … tetapi jenis pekerjaan lainnya … tetapi esensinya tetap sama …
    meremehkan kontribusi pihak lain …
    apa yang dikerjakan orang lain selalu salah …

    dan kalau sudah begini …
    saya sama seperti Nana … males meladeninya … hahahaha

    salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Saya paling males ngeladenin orang macam begini Om.. juga orang yang selalu merasa diri paliiiinnggg bener… wah bisa bete saya hehehehe…

      Orang-orang bisa menjadi “besar” karena kontribusi orang-orang yang lebih “kecil” tanpa orang-orang “kecil”, tak mungkin mereka menjadi “besar”

      Saya jadi ngebayangin, kalau nahkoda II lagi kelaparan, apa ya bisa kerja dengan baik.. kayaknya disuruh coba aja tuh, seminggu aja tanpa koki di kapal… pasti akan terasa bedanya hehehe…

  4. Arman says:

    obrolan yang menarik… tapi emang manusia begitu ya na, beda2 sifatnya…
    salut ama pak nahkoda yang pertama. sangat humble sekali… justru karena sifatnya yang humble bikin orang jadi lebih respek ke dia ya…
    beda ama yang kedua…. ngeliat orang sombong dan sok gitu malah orang jadi sebel… hahaha

    • nanaharmanto says:

      Iya bener, Man… tiap-tiap orang beda dan unik.. Sayangnya kita nggak bisa memilih untuk ketemu hanya dengan orang yang baik-baik dan rendah hati..

      Orang-orang sombong dan sok gitu emang harus juga ditemui biar imbang kali ya hahaha…

  5. aurora says:

    jadi inget dulu kak, sering naik kapal dari padang-surabaya atau padang-jakarta. juga ikut sama ayah, ngobrol-ngobrol diatas kapal sama orang-orang yang sedang bertugas. Memang, tidak mudah, bahkan menurutku tak satupun tugas atas nama pelayaran itu yang mudah. Terisolasi sedemikian rupa dari daratan, mustahil jika tak membutuhkan keahlian. Namun tetap, seberat apapun tugas dan tanggung jawab, kerendahhatian harus teteap dijaga. Jempol buat nehkoda 1….

    Halo buat kak nana, long time no see….

    • nanaharmanto says:

      what a surprise!
      Wah… sampai kaget aku… kenapa lama menghilang nih? tiba2 nongol… nice to see you again! eh, udah kuliah ya sekarang?

      Wah, pengalamanmu naik kapal banyak juga ya? Ayo ditulis…
      Aku ngebayangin, emang di laut itu nggak mudah… harus rela “terisolasi” selama beberapa waktu… makanya salut sama nahkoda I yg menikmati liburan di darat sebagai suatu kemewahan… nggak peduli macet dan ruwetnya lalu lintas di darat…
      Aurora masih suka nulis kan? aku udah lama banget nggak main ke blogmu…

  6. tutinonka says:

    Kita sering bertemu dengan orang-orang dengan karakter seperti ini ya Na. Orang hebat yang rendah hati, dan orang hebat yang suka merendahkan orang lain (tapi sehebat apapun kalau suka merendahkan orang lain apa masih bisa disebut hebat ya?).

    Orang pasti senang dan hormat kepada Pak Nakhoda I. Sebaliknya, Pak Nakhoda II yang ingin dihormati, kemungkinan besar malah tidak mendapatkannya …

    • nanaharmanto says:

      Halo Bu Tuti…

      Sayangnya kita nggak mungkin memilih untuk bertemu hanya dengan orang-orang seperti Nahkoda I ya Bu…. adaaaa aja saat kita ketemu orang seperti Nahkoda II ysng sombong dan merendahkan orang lain. Sayangnya pula, orang yang bersangkutan barangkali tidak sadar bahwa dirinya itu sombong dan bisa bikin orang lain sebel dan nggak respek…

  7. anna says:

    wah, 2 orang dengan pekerjaan yang sama, tapi punya cara berpikir yang sangat berbeda..

    tapi dari kedua nahkoda itu tetep ada yang bisa kita pelajari..
    dari Nahkoda I, betapa dia menghargai setiap orang di sekitarnya, tidak mengartikecilkan peran orang lain. Justru dengan begitu menunjukkan ‘besar’nya dia..

    dari Nahkoda II, tentu saja sebaliknya…
    bahwa dengan merendahkan orang lain, sedikit banyak menunjukkan rendahnya dia.

    Nice post mbak Na..

    • nanaharmanto says:

      Hai Jeng Anna…
      meskipun aku merasa nggak nyaman saat ngobrol dengan Nahkoda II, aku tetap bersyukur, bahwa aku bisa mengenal dua orang berbeda dengan satu profesi meski berkarakter berlainan. Aku bisa belajar bahwa orang seperti Nahkoda I pasti akan lebih banyak memperoleh teman dan sahabat dekat..
      aku belajar untuk tetap menghargai orang lain, apapun sumbangsihnya di masyarakat, meskipun kecil dan mungkin “sepele”

      Dari nahkoda II aku jg belajar, untuk tidak meniru sifatnya itu..

  8. krismariana says:

    Na, aku paling eneg ketemu orang sombong kaya nakhoda II itu. Tapi aku kadang berpikir, kasihan juga ya orang seperti itu. Pertama, mungkin banyak orang yang tidak menyukainya. Kedua, dia merasa perlu menyombongkan diri supaya mendapat posisi. Padahal dengan seperti itu, dia malah nggak dapat simpati kan ya? Jadi, sebetulnya mungkin ada kekosongan dalam dirinya sampai dia merasa perlu menonjolkan diri. Sayangnya, banyak orang tidak mau menegur orang sombong seperti itu. Dan belum tentu diterima juga sih tegurannya hehehe. Namanya juga orang sombong kan?

    • nanaharmanto says:

      Bener Nik… kebayang reaksiku kan saat ngadepin nahkoda II itu? hihihihi….

      malesssss bgt urusan sama orang kayak gitu.

      Aku setuju dengan pendapatmu, orang sombong kayak gitu mungkin memang merasa kosong dan unhappy di dalam, sampai perlu meyombongkan harta/kekuasaan/jabatan hanya untuk mendapat pengakuan. sepertinya sih, orang yang selalu bersyukur dan bahagia kayak pak Nahkoda I nggak perlu menonjolkan diri udah pasti disegani banyak orang deh ya…

  9. clararch02 says:

    Nahkoda dua itu nyebelin banget sih Mba? Ga Mba jitak aja kepalanya? Sombong banget! Saya jadi pengen liat dia ngurus anak, bisa ga tuh? Egois dan menganggap dirinya doang yang hebat. Dasar… (emosi)

    Ceritanya bagus Mba, saya jadi pengen sharing ini ke teman2 saya…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s