Mr. Sholeh

Hari Minggu lalu, aku dan suamiku makan siang di sebuah rumah makan dengan menu bebek goreng. Hari Minggu biasanya menjadi hari libur juga untukku, libur memasak dan libur dari segala household chores… hehehe…😀

Untunglah kami masih bisa makan daging unggas yang bukan racun untuk kami.

Waktu kami hampir selesai makan, datang seorang pria separuh baya. Tubuhnya kurus, dan tak terlalu tinggi.

Bapak itu membawa, 3 payung kertas kecil, mainan dari bilah bambu, sepotong papan bertuliskan: pijat sehat dan happy.. serta sebuah tas lusuh berisikan beberapa payung kertas dan mainan bilah bambu.

 

Berdiri agak jauh di luar jendela rumah makan, bapak ini mulai sedikit bergoyang dan menyanyi lagu “Kapan-kapan”, karya grup musik kondang era tahun 1970an..

Aku bergerak mengambil dompetku, mencari receh untuk kuberikan pada bapak tadi.

 

Suamiku mengingatkan, “Na, dia tidak mengemis…”.

Sesaat aku terdiam. Speechless. Ragu. Urung memberinya receh dari dompetku.

 

“Bukankah dia mengamen?” tanyaku.

Gantian suamiku yang terdiam.

 

Aku melambaikan tangan untuk menyampaikan maksud “tidak” pada bapak itu. Bapak itu tetap melanjutkan nyanyiannya hingga selesai.

 

 ****

Cuaca di luar sangat panas. Bapak itu masuk ke dalam rumah makan dan mulai menjajakan dagangan dan jasanya ke bagian dalam rumah makan itu. Setelah mendapatkan penolakan lagi, bapak itu duduk di bangku untuk beristirahat.

Sejak awal melihatnya, aku ingin memberinya sesuatu, menghargai usahanya mencari uang untuk penghidupannya hari itu. Aku tadi sempat mengeluarkan dompet tapi urung memberinya uang. Terlintas pikiran bahwa  mungkin saja bapak itu awalnya sempat merasa sedikit senang dengan harapan akan memperoleh sedikit uang, tapi akhirnya dia harus kecewa karena ternyata aku tidak jadi memberinya uang.

 

Aku mengungkapkan rasa iba-ku pada bapak yang tampaknya agak kelelahan itu pada suamiku.

“Gimana, kita pesankan saja nasi?”

 

Kupanggil teteh yang melayani kami. Kupesan nasi dan sepotong bebek goreng untuk dibungkus.

Kuperhatikan lagi bapak itu.

Dia tidak mengemis.

Dia menjajakan payung kertas, kerajinan tangan khas daerah sini. Dijualnya pula mainan serupa capit dari bilah bambu. Jika pangkal capit itu ditekan dengan ibu jari dan telunjuk berulang-ulang, maka dua karakter boneka sederhana yang terpasang diantara ujungnya yang terbelah (seperti huruf V) akan jumpalitan seiring dengan meregang dan mengendurnya tali yang menghubungkan di kedua ujungnya. Lalu dia menawarkan jasa pijat, dan terakhir, dia mengamen meski tanpa iringan musik. Tiga hal dilakukannya sekaligus.

Dia tidak mengemis.

 

Suamiku bercerita, bahwa dia sering sekali melihat bapak itu di sepanjang jalan ini. Pokoknya, daerah operasionalnya di sepanjang jalan ini, bolak balik dari satu rumah makan ke rumah makan lainnya, menawarkan dagangan dan jasanya.

“Sering lho dia menyapa dalam bahasa Inggris…”.

“Oh ya?” balasku takjub..

“Menyapa gimana, say hello, gitu, how are you, gitu?”

 

Enggak juga, kadang malah panjang ngomongnya, dan lumayan lancar tuh… “…

“Oh ya?”, makin takjublah aku.

 

 

 ****

Suamiku membayar semua pesanan kami, sementara aku malah diam-diam memotret bapak tadi. Bebek bungkus kami belum selesai diproses ketika kami lihat bapak itu juga mulai berdiri membawa semua bawaannya dan hendak pergi.

Lalu suamiku berinisiatif menyapa bapak itu.

“Hello, how are you?”

Dan rupanya bapak itu senang sekali karena ada yang menyapanya. Mengalir rangkaian kalimat-kalimat berbahasa Inggris yang sangat lancar, meski agak belepotan di sana-sini. Grammatically not perfect in some ways, but understandable….. neither American English nor British English…     it’s Indonesian English… Sundanese one, for sure… *wink🙂

 

Aku menghargainya karena dia sangat percaya diri, tak memperdulikan ikatan dan aturan grammar, tapi berani langsung bicara. Lancar.

Aku tidak tahu pekerjaan bapak ini sebelumnya. Yang jelas kalimat-kalimatnya sangat bisa dimengerti. Aku jadi ingat dulu awal-awal kuliah aku nggak terlalu PD untuk bicara dalam bahasa Inggris, karena takut salah.

Bicara sajalah! Toh komunikasi akan tetap berjalan selama obrolan kita bisa dipahami maknanya, tanpa harus terbebani aturan grammar yang saklek..

 

Kami mengobrol dengan diperhatikan banyak orang.. aneh mungkin, sama-sama mahluk berkulit coklat, kenapa musti gaya-gayaan ngomong Inggris? Hihihihi…

 

Nasi kotak pesanan kami sudah siap dan petugas kasir menyerahkannya pada suamiku.

“This is for you..” kata suamiku sambil mengulurkannya pada bapak tadi.

 

Bapak tadi, rupanya tak menduga sama sekali, tergopoh menerima kotak nasi, sambil tangannya kerepotan memegang dagangannya.

“Thank you, thank you very much, Mister…”, katanya berulang-ulang.

 

“Now I want to give you this… “, katanya sambil mengulurkan sebuah capit bambu mainan.

Kami menolak dengan halus, meski bapak itu tetap keukeuh hendak memberikan mainan itu kepada kami.

 

I can speak Indonesian too, Sir.. I can speak Italian, Spanish and German… bla..bla..bla..

I know that you…you..you.. very kind people…  I know you can think very wise..“.

 

 

 

Ketika kami hendak meninggalkan parkiran, bapak itu masih berupaya mengejar kami, masih tetap ingin memberikan mainan capit bambunya. Kami halus menolak sekali lagi.

“You don’t have to do it, Sir…, “ kataku pula.

 

“What’s your name?” tanya suamiku.

“My name is Sholeh. It means very good people.

I hope you happy and healthy. I can pray for you both.. thank you very much..thank you… “.

 

“Nice to meet you, Sir.. now we have to say goodbye…” kataku pamit.

 

Mengerjap mataku. Lihat niat tulusnya untuk “mengganti” nasi bebek dengan salah satu dagangannya. Aku merasa, bukan hanya basa-basi semata hingga dia memerlukan memburu kami sekali lagi.

Ah,  kawan, andai kau lihat binar mata itu saat ia menerima nasi bebek itu, kau akan mengerti rasa syukur itu indah.. syukur masih bisa memberi walau sedikit dan melihat orang lain bersuka cita..

 

Dia tidak mengemis…

Jujur saja, aku paling tidak suka melihat orang sehat muda tegap, tapi mengemis. Kadang aku memang tidak memberi mereka receh dari sakuku. Aku lebih menghargai mereka yang tetap bekerja untuk mencari uang.. how menial they are… entah mengamen, jadi tukang parkir, jual koran, apapun, asal tidak melulu mengandalkan iba dari orang lain.

 

Semoga Mr. Sholeh dan semua orang berbahagia dengan apapun keadaan dan pilihan hidup mereka. Amin.

 

Mr. Sholeh, payung kertas dan capit bambu

 ****

 

Note: foto koleksi pribadi.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Consideration and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

22 Responses to Mr. Sholeh

  1. Imelda says:

    Ahhh… Na, aku terharu sekali. Ya, Pak Sholeh TIDAK mengemis! Dia berusaha membuang semua gengsi, asal bekerja dengan halal.

    Aku bisa membayangkan wajahnya yang gembira. Karena kalian berdua menghargai dia sebagai MANUSIA.

    May God bless you, and also Mr Sholeh

  2. nanaharmanto says:

    Iya Mbak Imel… aku salut karena dia mau bekerja dengan halal…
    Terima kasih ya Mbak…., God bless you too…

  3. Pak Sholeh yang ntah bekerja di mana dulu … tapi klo bisa banyak bahasa, biasanya pelaut … hehehe asal nebak …
    senang ya mbak kalau melihatnya masih mau berusaha
    seperti senangnya hati ini melihat nenek yang sudah renta tapi masih menjajakan sapu ataupun cobek.

    Semoga Pak Sholeh diberkati, dan Tuhan juga memberkati kita smua🙂

    • nanaharmanto says:

      Eh, iya ya… malah nggak terpikir kalau Pak Sholeh dulunya pelaut…masuk akal deh…
      Seneng aja ngeliat orang mau berusaha, dan nggak sekedar ngemis.. Aku juga penah ngeliat nenek-nenek jualan keset dari sabut kelapa. Kasian juga ngeliatnya…

  4. yustha tt says:

    Hebatnya Pak Sholeh…

    #terharu

    • nanaharmanto says:

      Hebatnya dobel, Ti… dia masih mau berusaha jualan barang dan jasa, trus PD berbahasa Inggris tanpa takut salah… keberaniannya perlu dicontoh nih… 🙂

  5. Huuaaa, saya terharuu…
    Salut ama pak sholeh.

    Dulu waktu kuliah, saya dan teman2 punya program memandirikan kaum terpinggirkan. Tapi ternyata beberapa pengemis lebih milih untuk tetap ngemis daripada d kasih kerjaan.

    • nanaharmanto says:

      Ada pengemis yang terpaksa mengemis karena nggak ada pekerjaan lain… tapi ada juga pengemis hanya karena malas bekerja keras… diberi kesempatan kerja dan ketrampilan kalau mentalnya udah terlanjur malas ya susah untuk berubah…

  6. Nh Her says:

    Tulisan seperti ini …
    cuma Nana yang punya … !!!
    Detil tetapi tidak bertele-tele … National Geographic style dari sisi humanioranya …

    sangat menyentuh sisi kemanusiaan

    Gaya repetisi yang sangat keren Na

    Dia Tidak Mengemis … !

    Semoga Pak Sholeh … selalu diberi rejeki yang halal

    Salam saya

  7. Arman says:

    salut buat mr sholeh!!

    iya kadang jadi kesel kalo ngeliat orang masih kuat tapi malah ngemis ya na…

    • nanaharmanto says:

      Banyak hal yang bisa kita pelajari dari orang-orang sederhana di sekitar kita ya Man… dan bener… suka sebel aja ngeliat orang muda sehat tapi ngemis..

  8. Evi says:

    Dulu Pak Sholeh mungkin guru atau minimal sudah pernah bersusah payah belajar English. Terharu aku baca ini Mbak. Semoga lebih banyak orang lagi seperti dirimu ya, sehingga Sholeh-sholeh lain bisa ikut merasakan berkat dari Atas. Salam kenal ya Mbak Nana🙂

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga Mbak Evi…
      iya ya, Mbak.. mungkin pak Sholeh itu pensiunan guru atau pelaut atau malah tour guide? Yang jelas sih dia unik…

      Terima kasih sudah berkunjung ke sini ya Mbak….

  9. monda says:

    sosok yang masih sangat bersemangat mencari rejeki halal dengan bekerja

    Trims for share,
    Senang Nana kembali sering nulls lagi dengan gaya khas yang cuma punya Nana

    • nanaharmanto says:

      Saya mengakui salut pada pak Sholeh, Kak… entah berapa ratus kali dia ditolak orang lain, mungkin dengan biasa, dengan sopan, atau bahkan dengan kasar… kita nggak tau… tapi dia terus mencari nafkah dengan cara itu. berarti kan dia orang yang tangguh yang nggak gampang patah semangat.., nggak cemen…

  10. krismariana says:

    Na, sharing yang menarik🙂
    aku jadi terharu. duh rasanya aku kok sekarang jadi kurang peduli dengan keadaan sekeliling ya? entah kenapa bisa jadi gini.😦
    tapi tulisanmu ini menginspirasi.🙂

    aku kok tertarik dengan payung kertasnya itu ya. di tasik banyak yg jual kah?

    • nanaharmanto says:

      Aku cuma inget kata-kata yang pernah kudengar; “Berbuat baiklah setidaknya satu kali hari ini… ” idealnya sih tiap hari ya.. tapi yang penting sih berbuat baik dengan tulus, bukan sekedar menuruti kata-kata bijak doang..

  11. haha mantap dua jempol deh buat Mr salut.
    Mengapa org penyandang ccd bisa jauh lebih baik dari org yang sempurna karena usahanya😀

  12. nor sholeh says:

    bagus juga,bisa jadi inspirasi dan pelajaran bagi smua teman2 yang membaca,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s