Listrik Prabayar

Ceritaku

Sewaktu tinggal di Sulawesi dulu, di depan rumah kontrakanku dibangun rumah baru, dilengkapi dengan meter listrik prabayar. Kata tetanggaku, cara membayarnya seperti mengisi pulsa HP; kalau pulsa mau habis, meter itu akan berbunyi atau lampu akan berkedip-kedip, lalu listrik padam jika pulsa benar-benar habis.

Saat itu aku tidak tertarik untuk mengetahui lebih lanjut mekanismenya. Bagiku pembayaran listrik secara auto debet dari rekening sudah sangat membantu. Tidak perlu antri di loket PLN, tidak akan didenda karena terlambat bayar dan jelas tidak menunggak.

Nah, sewaktu kami pindah ke kotaku sekarang ini, kami menempati rumah kontrakan yang cukup nyaman. Ternyata, listrik di rumah ini menggunakan meter listrik prabayar. Wah, bisa dibilang aku buta sama sekali dengan sistem baru ini. Suamikulah yang selalu membeli pulsa elektrik di ATM dan memasukkan 20 digitnya ke dalam meter. Aku tinggal menikmati listriknya dan berupaya menghemat pemakaiannya. :D

Setiap kali kami keluar kota selama beberapa hari, suamiku memastikan mengisi pulsa listrik kami, hingga yakin bahwa listrik tidak akan padam tiba-tiba selama kami pergi..

Beberapa kali aku mendengar suara bip..bip..bip… dari rumah tetangga. Di lain hari, rumah lainnya yang berbunyi… suara ini di saat-saat tertentu agak mengganggu sebenarnya, maklum di  perumahan yang berdempetan satu sama lain. Tapi akhirnya aku menemukan cara untuk mengaburkan suara itu. Setel saja musik!

Suatu malam di bulan lalu, saat aku tengah asyik menulis dan main games dengan laptopku, blep! Tiba-tiba listrik padam. Aku nggak terlalu panik saat itu, karena masih ada banyak cahaya dari  luar jendela.

Lhoo?!!

Cahaya? Dari luar jendela?

Berarti rumahku doang dong yang mati listrik!

*kwang…kwaaaanng….

Aku keluar … rumah-rumah tetangga tetap benderang lengkap dengan suara musik dan acara TV… whaaa!!!  rumahku aja yang gelap…  hehehe…

Jangan-jangan konslet? Aku mencoba mengecek. Lalu kuingat-ingat lagi.. jangan-jangan pulsa habis?

Kulihat meteran. OFF.. tak ada nomor digital seperti biasanya.

Kutelpon suamiku di kantor, menanyakan kapan terakhir mengisi pulsa listrik. Rupanya dia juga lupa. Dan setelah diingat-ingat sih, memang 2 bulan terakhir kami belum mengisi pulsa lagi. :D

Nah loh, kok aku nggak mendengar bip..bip.. dari rumahku sendiri sih? Sedangkan bip-bip tetangga aku bisa dengar! *garuk-garuk kepala*

Aku ingat, ruko di samping rumahku menjual juga pulsa listrik. Aku bergegas ke sana dan membeli pulsa 100 ribu.

“Nomor seri meternya berapa, Teh?”

“…nngg…. Wah, saya nggak tahu tuh Cik…”.

“Biasanya beli pulsa di mana, Teh?”

“Di ATM”.

“Nah, kalau beli di ATM itu kan pasti masukin nomor meter juga, baru kita tentukan mau beli pulsa berapa, nanti kan tercetak di struknya nomor seri token yang harus kita masukkan di meter listrik di rumah…”.

“Apa Cik? Token? Apa tuh token?”

“Ya nanti kalau sudah transaksi, nanti dapet token-nya”.

Wah, kukira beli pulsa listrik elektronik begini, modelnya seperti kartu voucher seluler yang harus digosok nomor serinya yang tertutup itu.. ternyata…

“Jadi harus bawa nomornya ya Cik?”

“Iya, Teh,… kalau nggak ada nomornya ya kita nggak bisa jualin juga…”.

Aku tak membawa HP. Aku terpaksa pulang dulu ke rumah, menelepon suamiku lagi menanyakan nomor ID meter listrik rumah kami.

Pikiranku penuh dengan pertanyaan. TOKEN itu apa? Setauku token ini istilah untuk elemen terkecil elektronik yang  yang mempunyai fungsi tertentu. Dalam hal ini apa dong?

Setelah mendapat nomer seri meter rumah kami, aku kembali lagi ke toko seluler itu.

Pemilik toko yang melayaniku memprosesnya melalui komputer lalu menyebutkan nama pelanggan sekaligus pemilik rumah kontrakan kami. Setelah aku memastikan bahwa memang benar itu nama yang dimaksud, aku mendapat nota yang ditulis tangan, jumlah pulsa yang kubeli, nomer seri meter dan 20 digit nomer seri pulsa yang kubeli plus paraf penjual.

Glek… udah? Gitu doang?

Lah, kupikir aku akan mendapat nota yang dicetak dari komputer.. seperti di ATM begitu, karena aku melihatnya sendiri, transaksiku dilakukan melalui komputer…

Pemilik toko itu memberitahu, bahwa nomer seri itulah yang harus dimasukkan di meter di rumah, lalu tinggal tekan tombol OK. Pulsa akan langsung terisi.

Aku segera pulang membawa nota itu. Biasanya, aku sering menjejalkan nota pembelian langsung ke dalam dompetku, lalu mengabaikan atau membuang yang tak berharga lagi. Tapi ini, selembar nota yang harganya seratus ribu.. wah, nggak boleh hilang nih!

Aku tidak tahu bagaimana rincian “keuntungan” untuk penjual pulsa listrik ini.

“begini” doang…. seratus ribu…

Note: foto koleksi pribadi

Sesampainya di rumah, masalah lain menunggu. Meternya terlalu tinggi. Aku segera mengambil anak tangga aluminium kami. Masalah lainnya menyusul: gimana masukinnya coba?

Aku jelas harus berpegangan pada sesuatu saat nangkring di tangga begitu. Aku harus memegang nota dengan satu tangan dan tangan lainnya memasukkan nomer seri ke meter listrik. OK, bisa lah diakalin… tapiiii…. kan gelap! Harus pakai senter dong… nah gimana pula tuh pegang senternya?

Yah, memang perkerjaan sederhana tapi harus dilakukan dua orang nih..

Kuputuskan menunggu suami. Toh biasanya dia juga yang mengisi, kalau salah ngisi kan ada yang bisa disalahin… ups! Hihihi…

Dalam kegelapan, teteeep... lanjut main games… :D

Tak berapa lama, suamiku pulang. Lalu dia naik ke tangga sambil membawa senter.  Sementara aku membacakan nomer seri di nota, suamiku meng-input-kannya ke dalam meter elektronik.

Pencet OK, selesai.

………

………

Rumah tetap gelap, sodara-sodara! Tak ada tanda-tanda listrik akan menyala.

“Wah, jangan-jangan ada yang konslet beneran nih?”

“Atau, jangan-jangan salah masukin nomernya dong?”

“Atau, salah baca nomernya juga bisa… “.

Glek… seratus ribu bisa ilang sia-sia donghuaaa…

Suamiku naik lagi ke tangga, aku mendiktekan nomor serinya sekali lagi. Satu digitpun nggak boleh salah.

Pencet tombol OK lagi.

Byar! Listrik menyala tiba-tiba.

Whaaaaa….!! kami berseru berbarengan. Lalu tertawa terpingkal-pingkal.. lega.. plong…!

Pelajaran hari itu:

  1. Catat kapan terakhir isi pulsa, lalu kira-kira di tanggal yang sama, mengisinya kembali.
  2. Mengisi pulsa di siang hari, meminimalkan resiko salah baca dan salah pencet tombol.
  3. Aku harus bisa sendiri melakukannya, tanpa mengandalkan orang lain.

****

Listrik prabayar? Apa tuh?

meter listrik prabayar

meter listrik prabayar, berbeda dengan meter listrik lama, ada keypad untuk meng-input nomor seri token..

Note: foto koleksi pribadi

Dengan sistem elektronik begini memang ada keuntungannya.

  1. Tidak perlu antri di loket PLN atau di bank yang bekerjasama dengan PLN.
  2. Bisa mengatur jumlah pulsa yang kita inginkan, bahkan kalau lagi bokek, bisa mengisinya dengan cukup 20 ribu saja. (setara dengan 30 Kwh).
  3. Seperti halnya kita memperlakukan pulsa HP, maunya kita hemat-hemat dong… begitu juga dengan sistem ini, jadi lebih serius dalam hemat listrik. Kendali penuh di tangan konsumen…
  4. Kita membayar sejumlah persis pulsa yang kita beli. Tidak dilebihkan sepeserpun, pun tidak didiskon juga. Cukup menurutku.
  5. Tidak ada biaya abonemen tiap bulan.
  6. Nilai token yang kita beli, tidak memiliki masa kadaluarsa. Maksudnya, kita beli token hari ini, boleh-boleh saja kita memasukkannya kapanpun, besok atau minggu depan. Intinya, tidak ada expired date selama belum diaktifkan.
  7. Pelanggan tidak perlu takut salah memasukkan nomor. Seperti cerita kami di atas..  :D . sepertinya sih, segera setelah kita membeli pulsa token, di data pusat sudah tercatat nomor meter pelanggan dan kode token kita. “pasangan” ini akan menunggu aba-aba OK dari pihak meter elektronik kita. Kalau salah “pasangan” ya nggak akan aktif…  **ada yang bisa membantu memberi penjelasan? **
  8. Privasi tidak terganggu oleh petugas yang datang mencatat meter kita. Meminimalkan resiko penipuan berkedok petugas PLN kan?
  9. Nilai kwh yang tersisa tidak akan hilang/hangus.
  10. Tetap bisa mengetahui pencatatan pemakaian listrik dengan mengakses PLN.

Jadi TOKEN itu apa? Dari hasil googling, aku paham bahwa token adalah istilah untuk sebuah kode berupa kombinasi 20 digit nomor yang unik yang harus dimasukkan ke meter listrik prabayar, sehingga dapat menyalurkan sejumlah listrik (kWh) tertentu ke instalasi konsumen. Yah, serupa deh dengan VOUCHER.

 

Wuih… nggak bayar pajak dong?

Jangan salah. Token yang kita beli, sudah meliputi Kwh, PPJ dan materai. Di struk ATM lebih terinci termasuk administrasi bank.

rincian lengkap tercetak..

Note: foto koleksi pribadi

Harga voucher/token ini bervariasi mulai dari 20 ribu, 50 ribu, 100 ribu, 250 ribu, 500 ribu hingga 1 juta rupiah. Konon, harganya tetap mengacu pada Tarif Dasar Listrik dan sama dengan harga listrik pasca bayar.

Aduuhhh…. masih nggak ngerti cara kerjanya!

Apalagi gue yang buka petugas PLN.. :D

Yah, aku nggak terlalu paham mekanisme pastinya gimana, terlalu panjang pula untuk dituliskan di sini.

Aku belajar dulu sebelum share… kalau salah tolong diralat ya…

Sepemahamanku sih, meter elektronik prabayar yang terpasang di rumah kita akan otomatis mengecek nomer seri token yang kita input; jika nomer tersebut valid, sesuai dengan “pasangan” yang tercatat di data pusat, layar meter akan menunjukkan jumlah Kwh sesuai yang kita beli. Pulsa langsung bertambah deh..

Kalau pulsa kita hampir habis, meter akan berbunyi bip..bip.. untuk mengingatkan kita agar segera mengisi ulang. Tapi tampaknya memang meter di rumah kami tidak berbunyi bip..bip… hanya lampunya saja berkedip-kedip..

Jadi nomor yang muncul di meter kita itu apa?

Nomor yang muncul di meter elektronik kita, menandakan jumlah Kwh yang kita miliki, semakin menurun seiring dengan pemakaian listrik sehari-hari. Pulsa lama tidak akan hangus/hilang sebagai akibat pengisian pulsa baru.

Awet enggaknya pulsa listrik kita, tergantung pemakaian sehari-hari…

Ada tambahan atau ralat?

Note: beberapa info kusarikan dari sumber ini.

****

Nah, bagaimana sistem pembayaran listrik di rumah Anda? Bagi yang tinggal di luar negeri, pasti berbeda lagi ya, atau malah gratis? Berbagi yuuk…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

21 Responses to Listrik Prabayar

  1. Imelda says:

    waaah lucu! Baru tahu ada pra bayar…

    Di sini kayaknya ngga ada deh sistem listrik prabayar. Yang ada, menjual listrik (dari solar panel) sambil membeli listrik (jika kurang asupan dari solar panel)…. aku juga tidka begitu jelas, karena aku tidak pakai solar panel.

    Kalau aku tahunya token dari key BCA :D

    • nanaharmanto says:

      Aku tau istilah token dulu waktu nerjemahin.. trus lama gak denger istilah token. Setelah itu denger lagi juga dari key BCA… hehehe…
      ada bagusnya juga sih, jadi gak ada alasan nunggak lagi… abis pulsa ya pet! aja hehehe…

  2. vizon says:

    Rumah kami yang di Jogja maupun Curup keduanya menggunakan pra bayar. Aku sangat merasakan manfaatnya memakai sistem ini. Antara lain, mengurangi resiko telat bayar atau resiko asal catat oleh petugas.

    Kalau untuk isi pulsa, aku berlangganan dengan seorang teman penjual pulsa selluler dan pulsa PLN. Jadi, kalau pulsa listrik sudah habis, tinggal sms kawan tersebut, dan dia akan sms-kan nomer tokennya. Sehingga tidak perlu repot mencari atm atau gerai pulsa.

    Nah, kalau posisi meteran, memang lumayan tinggi juga. Cuma kalau mengisi, cukup naik ke kursi, gak perlu pakai tangga. Sehingga, takutbjatuh bisa diatasi.. :-)

    Begitu ceritaku setelah membaca ceritamu…. :-D

    • nanaharmanto says:

      Wah, asyik tuh punya langganan pulsa listrik… jadi lebih gampang belinya…

      meter di rumah kami lumayan tinggi, dengan naik kursi aja aku kurang tinggi. Suami sih bisa, tapi kasian kursinya hehehehe… paling aman dan kuat ya pake tanggak aluminium. Cuma 3 step sih, jadi nggak terlalu tinggi juga..

  3. Arman says:

    hmm walaupun lu udah nulis keuntungan2nya tapi kok gua berasanya jadi lebih ribet ya? hahaa. kalo mati nya di tengah malem gimana… masa kudu keluar ke atm dulu. repot banget… :P
    enakan abonemen kali ya… bayarnya juga bisa dari atm kan. at least gak mungkin mati tiba2. hahaha.

    kalo di sini, bayar listriknya sama kayak abonemen, gak prabayar. dan tagihannya tiap 2 bulan sekali.

    • nanaharmanto says:

      Hehehehe…sejujurnya sih, aku juga merasa lebih nyaman dengan listrik pascabayar… toh ada auto debet yang banyak membantu..
      Yah, namanya kontraktor ya harus siap menyesuaikan diri aja dengan yang ada.. hehehe…
      Aku sih sekarang nyimpen struk token kalau sewaktu-waktu kelupaan ngisi dan pulsa abis pas malem misalnya, jadi gak perlu panik karena udah ada cadangan hehehe…

      enak ya, tagihannya tiap 2 bulan gitu… tapi kalo gede ya nyesek juga kali ya hahaha…

  4. Nh Her says:

    Saya kurang begitu paham dengan hal ini Na …
    Namun yang jelas … di rumah kami … selama ini … selalu memakai Pasca Bayar …

    Saya rasa keduanya ada plus minusnya …

    Namun untuk mengelola pengeluaran … saya rasa … Prabayar itu lebih bagus … untuk mendisiplinkan kita …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Setuju Om, keduanya punya plus minus….
      Saya pribadi lebih sreg dengan pascabayar dgn autodebet… nggak was-was listrik padam tiba2 karena pulsa abis…

      Konon, metode ini banyak membantu PLN dari kerugian ratusan juta rupiah karena tunggakan yang menumpuk dan nggak dibayar oleh para penunggak, malah penunggaknya demo …
      Untuk orang-orang semacam itu, ya paling pas pake prabayar aja deh… pulsa abis ya mati… mau pake listrik lagi, ya beli pulsa dulu… :)

      salam hangat juga, Om… :)

  5. Riris E says:

    Sering dengar tentang Listrik Pra Bayar, tapi baru sekarang tahu dengan lengkap.

    Soal Token, sempat saya pikir seperti kalau kita menggunakan klik BCA..hihi.. ternyata nomer seri to?

    • nanaharmanto says:

      Aku tadinya juga bingung, Mbak…kirain beli token itu dikasih semacam chip kecil gitu (kayak voucher)…
      Sempet juga terpikir metode terbaru lagi dengan dikasih token kayak klik BCA gitu… ternyata cuma nomor 20 digit…hehehehe…

  6. krismariana says:

    gosipnya (gosip lo ini), PLN memang berencana untuk membuat listrik jadi prabayar. katanya kalau kita tambah daya, akan langsung jadi prabayar. aku sampai sekarang belum tertarik pakai sistem prabayar ini. lebih murah atau sama saja Na?

    • nanaharmanto says:

      Iya konon kabarnya untuk rumah tangga pembayaran listrik jadi prabayar semua.. Kalau mau jujur sih, aku lebih suka pembayaran pascabayar.. telat sehari dua hari listrik tetep nyala…
      Kayaknya sih harganya sama aja Nik..

  7. Hotel Promo says:

    Pernah dengar soal listrik Pabayar tapi belum tahu gimana caranya
    terima kasih infonya

  8. saya gak bisa mbayangin klo pengguna listrik tingkat tinggi seperti kami ini kudu pake prabayar mbak. entah bagaimana, saya kok gak nyaman aja pake prabayar. atau mungkin karena udah terbiasa sama pascabayar kali yah.

    untuk mengatasi kehabisan pulsa itu, bisa juga dengan menyediakan stok pulsa nominal berapa kek untuk antisipasi kejadian darurat. Daripada gelap2an mending keluar modal lebih kan mbak hehehe

  9. hehehe.. cerita yg jenaka, tapi emang bener kok klo banyak banget yg mengalamin spt itu.
    Klo gak darurat sih kayaknya no problem, tapi klo pas darurat dan padam di saat gak tepat kayaknya maki runyam urusan. Krn itu skrg banyak cara mengisi pulsa listrik, salah satunya cukup mjd member server pulsa yang bs buat mengisi token listrik.

    Salam kenal ya

  10. anna says:

    saya belum pernah punya begitu…
    tapi rumah tetangga yang dikontrakin make yang begituan. Mungkin lebih simple, karena menjadi tanggung jawan yang menghuni…

    tapi apes juga ya kalo pas lupa… tau2 matiiiii aja…

  11. Meter prabayar merupakan inovasi PLN untk mengurangi tunggakan yang sangat besar yang mana secara automatis menurunkan kerugian pertahunnya dan jika inovasi ini berhasil maka PLN akan menbentangkan jaringannya ke pelosok tanah air dari keberhasilan inovasi tersebut.

    Jadi secara tidak langsung kita membantu saudara saudara kita dalam kegelapan di malam hari…

    thanks.

  12. Zell says:

    Di tempat saya listrik prabayar sangat bermasalah. Yaitu di tempat2 yang bertegangan rendah. Tegangan di rumah saya sampai menyentuh angka 135 volt. Angka yang sangat rendah mengingat kondisi standar adalah 220 volt.

    Masalah yang diakibatkan oleh tegangan rendah adalah, listrik di dalam rumah akan padam karena KwH meter akan menganggap tidak ada aliran listrik yang masuk. Sehingga lampu “connection” di meter akan mati.

    Hal ini biasa terjadi pada jam2 beban puncak, sekitar pukul 7 – 9 malam. Dan terjadi berulang2. Padam nya listrik kira-kira memiliki ritme seperti berikut : padam 3 detik, nyala 1 menit, padam 30 detik… begitu seterusnya sampai tegangan naik.

    Sudah komplain berkali2 ke PLN, dan kata mereka : “memang seperti itu pak, kalau tegangan sangat rendah maka listrik akan padam”…
    What the &%$#$# ….. jawaban macam apa ini…

  13. ilham says:

    di tempat saya, sudah terpasang meteran listrik pra bayar yang daya 900, saya langsung isi pulsanya 200 ribu….hanya saja saya terkendali karena sering turunnya MCB nya karena mungkin tidak kuat….sehingga saya mau menambah daya dari 900 ke 1300 yang saya pertanyakan apakah bila saya menganti daya ke 1300 pulsa aku yang lama akan hilang….mohon informasinya

    • nanaharmanto says:

      Salam, Mas Ilham…
      wah, maaf ya, mengenai permintaan menaikkan daya dan pulsa yang tetap atau hilang setelahnya saya tidak mengerti. Sebaiknya telepon langsung saja pada pihak PLN..

  14. mobiandroid says:

    gan gimana cara mengatasi listrik pulsa yang tiba2 mati, sedangkan pulsanya masi ada, ???? mohon sharingannya gan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s