Cipanas Garut

Bertahun lalu  aku pernah mendengar tentang sebuah situs wisata di Jawa Barat yang terkenal karena pemandian air panasnya. Konon, tempat itu ramai dikunjungi wisatawan. Tapi karena aku tak bisa berenang dan enggan berendam di tempat umum, tempat itu menjadi tak terlalu menarik untukku.

Siapa sangka, akhirnya aku terdampar di bumi Parahyangan.

Tak kuduga juga, -akhirnya-, tanpa direncanakan aku menginap di Cipanas kabupaten Garut, Jawa Barat.

Suatu kali dalam perjalanan pulang dari Jakarta, ternyata kami kemalaman di jalan. Kondisi kami yang kelelahan, dan diperparah dengan kondisi jalan yang benar-benar macet, membuat kami memutuskan untuk berbelok arah ke Garut, menginap semalam di sana dan melanjutkan perjalanan pulang keesokan hari.

Jadilah kami menginap di sebuah hotel di Cipanas, sangat dekat dengan pemandian umum air panas yang terkenal itu. Masuk ke sana?

Enggak.

Aku kan tidak suka berendam di tempat umum😀

gerbang pemandian umum Cipanas… banyak rumah penduduk yang akhirnya disulap menjadi penginapan dengan harga terjangkau..

Tapi aku ingin cerita tentang air panas di Cipanas ini. Di sepanjang jalan mendekati sumber dan pemandian air panas ini, banyak terdapat hotel-hotel mulai dari bintang 4 sampai hotel kuncup melati.

**last updated: menurut info dari Bro, malah nggak ada hotel bintang 4 di sini… yang ada bintang 3…

Banyak lelaki akan melambaikan tangan di kiri kanan jalan untuk menawarkan penginapan murah. Kadang malah kemunculan mereka agak membahayakan lho, karena di tikungan jalan, tiba-tiba mereka muncul, bahkan berdiri ke tengah untuk “menggiring” mobil yang datang untuk masuk ke penginapan tertentu.

Tapi mending pilih hotel/penginapan yang jelas keamanan dan kenyamanannya deh..

dari jendela kamar lantai 3 hotel tempat kami menginap

Nah, inilah uniknya. Semua air yang keluar dari tanah di daerah ini bersuhu panas hangat.

Semuanya? Katanya sih begitu.

Aku tidak tahu suhu pastinya berapa tapi enak dan nyaman untuk mandi dan berendam memang.

Jadi… semua penginapan itu menyediakan air hangat tanpa pemanas buatan.. untuk hotel kelas tertentu malah ada yang menyediakan bak untuk berendam. Begini nih bentuk bak di hotel tempat kami menginap.

bak berendam di dalam kamar mandi, dilengkapi shower/pancuran.. lucu ya bentuknya…

Dan memang bener sih, airnya benar-benar hangat dan nyaman…

Di hotel ini tersedia fasilitas kolam renang besar, kolam berendam dan pancuran terapi. Seperti ya asyik ya.. aku jadi kepengen mencoba suatu saat nanti, toh, pengunjungnya juga lebih terbatas daripada kolam pemandian umum…

Khusus untuk pancuran terapi ini, konon, nggak boleh lebih dari 20 menit, karena kaau kelamaan, darah jadi cepat membeku dan malah bikin pusing-pusing..

catatan: Foto kolam renang, kolam rendam dan pancuran terapi tidak jadi ku-upload di sini karena beberapa pertimbangan🙂 .

Hotel ini juga menyediakan bilik-bilik dengan bak untuk berendam yang terpisah untuk bilik pria dan wanita. Gratis untuk tamu hotel tentunya, dan terbuka untuk umum dengan membayar 20 ribu rupiah untuk sekali masuk, bisa menikmati kolam renang, pancuran terapi dan bilik berendam.

****

Di waktu malam, jalanan ke arah pemandian Cipanas ini berubah menjadi sungai.. hehehe,… nggak ding…

Jalanan menjadi banjir meski tanpa hujan. Air mengaliri jalan yang menurun, lucunya, airnya mengeluarkan asap tipis… seperti aspal panas diguyur air hujan, pasti berasap kan? Nah, seperti itulah kira-kira “pemandangan kali” di aspal ini..

Ada apa nih?

Kata masyarakat sekitar, hal itu sudah biasa.

“Oh, nggak apa-apa itu, Bu… biasa ini mah, air kolam yang dibuang..”.

Glek..

Air hangat sebuaanyyaakk itu dibuang doang.

Padahal di tempat lain, air hangat adalah kemewahan.

Padahal banyak orang harus menggunakan pemanas listrik atau gas…

Padahal di rumah, kami harus merebus air dengan kompor untuk mendapat air hangat untuk mandi.

Padahal di beberapa tempat kesulitan air…

Padahal…

Padahal…

Masih banyak padahal-padahal lainnya…

Yah, itulah berkah kemurahan Tuhan untuk masyarakat sini, kata suamiku…

****

Kali ketiga aku menginap di Cipanas, sayang beribu sayang, bertepatan dengan akhir pekan dan liburan sekolah pula.. hotel penuh. Akhirnya kami menginap di penginapan murah. But honestly, not recomended…

Fasilitasnya kurang memadai, dan kamarnya sangaaat sederhana. Minim bahkan.

Di kamar mandi, disediakan bak air hangat untuk berendam. Bak ini rendah, kira-kira berukuran 1.5x 1.5m dengan tinggi 40cm. Begitu aku masuk, bak penuh tapi banyak endapan kotor kehitaman di dasar bak-nya.

Langsung deh menyingsingkan celana dan…. menguras bak! Hahahaha…

Baru pertama ini aku menginap di penginapan dan langsung menguras bak.. hihihi….

Sukses berendam dong?

Enggak… ternyata airnya panas banget, sodara-sodara… nekat berendam bisa setengah mateng tuh…😀 . Jadi memang disediakan gayung untuk mandi guyur. Karena kamar mandinya sempit, dan airnya terlalu panas, akhirnya malah mandi menjadi nggak terlalu nyaman deh…

Kebetulan kran yang mengalir di kamar mandi kami rusak, sehingga air panas mengalir terus menerus. Ada lubang untuk pembuangan air sehingga air tak sampai meluap dari bibir bak. Nah, seandainya kran bisa ditutup, suhu air di bak pasti akan menurun dan suhunya pun pas untuk berendam nyaman atau mandi biasa.

penampakan nenek gayung…😀

Nah, trus…. darimana semua air hangat alami itu?

Jawabannya di posting berikut ya…

Cekidot…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Dari Pelosok Negeri and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Cipanas Garut

  1. krismariana says:

    fotomu yang terakhir itu mengingatkanku pada tugas di asrama: membersihkan kamar mandi atas dan kamar mandi bawah.😀

    oke, komentar ke isi tulisannya. aku suka sekali mandi air panas. tapi ya karena butuh usaha lebih untuk mandi air panas, aku jarang melakukannya. sayang ya air di sana terbuang. mungkin perlu kebijakan khusus atau dialihkan untuk hal lain.

    aku terus terang penasaran dengan Garut. pengen sesekali ke sana. susah nggak ya jalan ke sana?

    • nanaharmanto says:

      wahahaha…. aku malah jadi terkekeh-kekeh ingat tugas di unit asrama… paling sebel tugas bersihin kamar mandi bawah hehehehe…. tspi toh tetep harus dilakukan juga ya…

      iya lho, Nik,,, aku kok merasa eman-eman air panas dibuang begitu aja… aku nggak ngerti, limbah bekas berendam banyak orang gitu masih bisa nggak ya ditampung di kolam khusus, biarin jadi dingin dan dipakai untuk budidaya ikan gitu? siapa tau ikan-ikannya malah jadi sehat dan gemuk gegara hidup di bekas berendam orang hahaha…

      oh, banyak alternatif ke Garut kok Nik dari Jakarta… aku sering lihat bus-bus besar jurusan Garut-Jakarta.. biasanya sih bus Bud*man, itu banyal banget…
      yuk, ke Garut?

  2. albertobroneo says:

    wah yg bintang 4 ada gk ya? setahuku cuma ***

    • nanaharmanto says:

      heitsss… nggak ada ya?
      owwwww….. langsung edit… hihihi…
      Thanks for correcting me ya….

  3. Nh Her says:

    Saya tersenyum ketika melihat penampakan “nenek gayun” …
    yang selopnya saya pernah lihat di suatu tempat itu …

    hahahaha

    (aspal “berasap” ? … waahhh pasti eksotis sekali ini …

    Salam saya Nana

  4. marsudiyanto says:

    Kalau kebetulan dapat penginapan yang di bawah standar, yang saya lakukan pertama kali saat masuk kamar mandi juga sama Mbak, menguras bak.
    Nggak tau kenapa tapi nggak sreg kalau pakai air yg sudah ada.

    • nanaharmanto says:

      Setuju Pak Mars, bahkan meski nggak ada endapannya, saya tetep akan menguras bak itu… risih aja dengan air yang kita tak tahu pasti bersih enggaknya, bekas orang lain atau enggak.. mending pastiin bahwa air yang akan kita pakai bener2 bersih..

  5. Salam kenal mba Nana….yang atas itu hotel Tirta G*****. Pilihannya Sumber A***, Danau D***** (baru nih) atau depannya yang ada waterpark. Kalau Aug**** sudah dibawah. Masalah air kolam yang dibuang mungkin sekalian buat bersihin jalan (soalnya banyak kotoran kuda). Cobain Kampung Sampi*** terus naik ke atas ke kawah kamojang ada kolam air panas di kaki gunung. Sekarang dibumi parahyangan bagian mana Mba Nana?

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga Pak Suryadi…
      Saya baru 2 kali menginap di Cipanas di hotel yang sama di foto itu. saya belum pernah mencoba hotel yang lain yang Pak Suryadi sebutkan di atas… kepengen juga deh mencoba hotel yang lain…

      Sekarang saya tinggal di tasik, Pak..
      terima kasih ya sudah berkenan membaca dan berkomentar…
      salam hangat selalu…

  6. vizon says:

    Nenek Gayung…? Bwahaha… *ngakak koprol*😀

    Aku belum pernah ke Cipanas. Postingan ini bisa jadi referensi jika suatu saat berkunjung ke sana..

    Soal membuang air ke jalanan, menurutku wajar saja sih bagi mereka, karena kelimpahan yg mereka miliki. Ada pepatah yg mengatakan: “Segala sesuatu jika membanyak, akan menjadi murah”. Bagi mereka air hangat adalah sesuatu yg murah, meski bagi daerah lain merupakan suatu kemewahan. Begitu juga sebaliknya. Mungkin ada suatu kemewahan bagi mereka, tapi di daerah lain adalah sebuah kemurahan..🙂

    • nanaharmanto says:

      Suatu saat berkunjunglah ke Cipanas Garut, Uda… bisa berendam sepuasnya hehehe…

      Tapi bener juga ya Uda, kadang kelimpahan yang mudah didapat malah

      menjadi barang yang dianggap lumrah.. saya jadi berpikir, apa ya, kemewahan bagi penduduk Cipanas yang sulit didapat di sana?

  7. dea says:

    saya orang garut mbak…🙂 garut seru banget yaa..😀

  8. dea says:

    nenek gayung nya lucu yaa😀
    saya orang garut mbak .. coba yang di taman air nya donng mbak..!!

  9. noah says:

    di daerah saya juga ada pemandian air panas, lho,,,namanya cipanas cipacing di Tasikmalaya. silahkan googling…promo …hehe

  10. venusgazer says:

    nice story….🙂

  11. Zee says:

    Saya suka banget berendem air panas, tapi memang kalau di tempat umum ya enggak sih. Kurang nyaman aja. Itu baknya seperti bak mandi, kotak gitu, ujungnya tajam, bahaya juga berendam di situ kalau tergelincir misalnya.

  12. Pingback: Gunung Guntur « sejutakatanana

  13. thanks untuk infonya

    salam kenal
    ditunggu kunjungan baliknya ya..!!
    .n_n.

  14. edratna says:

    Foto Nana yang paling bawah bikin saya senyum-senyum sendiri…pemilik hotelnya harus terimakasih tuh, tamunya membersihkan kamar mandi…betapa beruntungnya tamu berikutnya.

    Saya dulu sering praktek lapangan di daerah Garut dan sekitarnya, jadi termasuk sering ke pemandian air panas tersebut. kayaknya ada kolam di bak tertutup kok Nana, jadi nggak rame-rame sama orang lain.

  15. Lolo says:

    Mba nana itu hotel rekomended mba yg di poto apa nama hotelnya n di daerah mana tarifnya mahal ga?makasih mba nana

  16. Pingback: THE NINE FROM THE RED LOTUS « The Ordinary Trainer writes …

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s