Ta’jil

 

Istilah ini tentu nggak asing ya untuk kita… apalagi di bulan puasa seperti ini, seringkali kita mendengar ta’jil diucapkan dalam berbagai suasana.

 

“Aduh, pengen yang seger-seger deh… ntar beli ta’jil apa ya?”

“Eh, yuk… kita buka bersama… elu siapin ta’jil-nya deh yaa..”

“Titip beliin ta’jil yang gocengan dong… “.

 

Lalu presenter TV menyiarkan secara langsung dengan sangat PD.

“Pemirsa… bisa Anda saksikan di layar kaca Anda, pasar Ramadhan ini yang penuh sesak dengan pembeli hingga membuat jalanan semakin macet. Sudah menjadi tradisi di daerah ini, setiap sore selama bulan puasa, penduduk menjajakan berbagai ta’jil untuk berbuka puasa. Aneka ta’jil yang segar dan manis, menjadi pilihan menarik untuk berbuka setelah seharian berpuasa…”

Terjadi penyempitan atau pembelokan makna di sini.Ta’jil lalu dianggap sebagai makanan atau minman  untuk berbuka puasa. Apalagi TV gencar memberitakan dan menyebut ta’jil seakan istilah ini memang benar begitu maknanya.

 

Dari hasil googling sana-sini, aku baca bahwa arti ta’jil sesungguhnya adalah bersegera. Bersegeralah berbuka puasa bila sudah tiba. Berbuka dengan yang manis. Tapi tidak berarti bahwa ta’jil lantas berarti makanan manis untuk berbuka puasa.

Ada yang bersedia menjelaskan lebih lanjut?

 

 

****

 

Sudah 3x bulan puasa ini macam Bang Thoyib aku membuat es buah-agar-jelly atau es kolak atau variasi menu manis lainnya untuk berbuka puasa para karyawan di kantor suamiku. Nggak banyak sih, hanya satu toples sekali buat. Tiga-empat kali selama Ramadhan aku meminta OB kantor untuk mengambilnya ke rumahku.

Nggak... aku nggak bikin ta’jil…🙂

 

Dulu waktu aku tinggal di kota dengan sepuluh taksi, aku juga mengirimkannya sebagian pada tetangga. Nggak semua sih, tetangga-tetangga terdekat saja, gantian..

Ada tetanggaku yang “njagakke” apa ya istilahnya… mengharapkan aku membuat es buah untuk berbuka mereka. Sempet dongkol lho setiap tetangga ini melongok ke dalam rumahku dan mengharap bahkan “minta” aku membuat es buah.

Yeee… yang puasa kan situhh...kok ngandelin sini sih?

 

Kadang anaknya memata-matai dapurku.😀

Aku pernah mendengar anaknya gedabugan pulang ke rumahnya dan laporan pada ibunya.

“Maaakkk…. Tante Nana biking es buaaahh…. !!”.

 

 

Wedew….

Jahat nggak sih, aku memang nggak memberi tetanggaku ini. Minggu lalu dia udah kukasih, masak sekarang mau minta lagi? giliran tetangga yang lain dong… dan lagian, aku nggak mau “dimanfaatkan” begitu.

Waktu orang kantor datang ke rumah mengambil es buah,  anak tetangga ini bertanya.

“Tante, itu apa? “ katanya sambil menunjuk toples yang dibawa pergi orang kantor.

“Es buah”, jawabku. Hihihi…padahal dia tahu persis sejak dia mengintip dapurku tadi.

*aduh, sopan banget to kowe, Le?

 

 

Punya kisah unik tentang makanan/minuman untuk berbuka?

 

 

es buah

 

 

es kolak

foto koleksi pribadi

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Ta’jil

  1. nh18 says:

    saya tersenyum membaca kisah … “njagakke” … itu …
    kok bisa begitu ya …

    Mari berfikir positif … bahwa … kita perlu mensosialisasikan bagaimana manners yang baik … (mensosialisasi dengan amat sering tentunya … )(heheh)

    Mengenai ta’jil … ?
    Saya bukan ahli bahasa … pula ahli agama …
    namun memang betul apa yang kamu katakan … Ta’jil pada umumnya diartikan untuk merujuk pada minuman atau makanan untuk mematahkan puasa kita dengan segera. Ada sebutir kurma ya kurma … ada segelas air mineral ya segelas air mineral …

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Saya juga terbengong-bengong waktu awal mengalami itu, karena di Jawa, “saru” untuk meminta makanan/minuman pada orang lain…

      Sepertinya perlu ahli agama ya Om… hehehe…

  2. Zizy Damanik says:

    Wkwkwwkw…..
    Kalau saya mungkin juga akan kesal kalau kesannya dimanfaatkan begitu, mana yang minta itu-itu saja orangnya…🙂

    Ya setahuku ta’jil itu istilah untuk makanan pembatal puasa saat berbuka. Jadi kalau tidak manis juga tak apa, yang penting untuk membatalkan saja…

    • nanaharmanto says:

      hihihi… iya loh, kesel banget…
      awalnya mencoba untuk biasa aja, tapi kok jadi keterusan begitu.. jadi gak rela berbagi hihihi… *pelit ya.. 😀

  3. DV says:

    Fotonya mbikin aku jadi pengen ikutan puasa, Na! Hahahaha

  4. soyjoy76 says:

    Baiknya mba Nana… membuatkan kolak untuk yang berpuasa meski mba Nana sendiri tak berpuasa. Pastinya takaran manisnya terjaga dibanding yang bikin kolaknya orang berpuasa..hehehe

    • nanaharmanto says:

      hahaha…halo Bang… lama nggak berkabar…
      iya, saya icipin berkali-kali sampai yakin pas rasanya, dilebihin manisnya dikit dengan perhitungan es batunya mencair sampai waktunya berbuka…
      sehat-sehat kan Bang?

  5. Orin says:

    Suka gitu ya mba, jadi orang baik seringkali malah ‘dimanfaatkan’ begitu😦

    • nanaharmanto says:

      hehehe… sering ngalamin seperti itu di pulau seberang, Mbak Orin…
      tapi lantas aku belajar ninggalin budaya “pakewuh” nya orang Jawa. (segan). dan berani bersikap tegas kalau aku nggak mau dimanfaatin..🙂

  6. krismariana says:

    soal istilah ta’jil itu suamiku juga berpendapat sama denganmu. memang katanya artinya “bersegera”. katanya sih ya, wong aku juga nggak belajar bahasa sono. hihihi.

    aku gara-gara bulan puasa ini pernah pengin banget makan kolak. karena beberapa kali beli tidak ada yang enak, akhirnya bikin sendiri. kenyang, puas, dan enak (menurutku sih :D). oya, di jam-jam ketika orang berburu ta’jil aku berusaha untuk tidak keluar rumah. biasanya di mana-mana sudah mulai terjadi kemacetan. sangat tidak nyaman.

    • nanaharmanto says:

      Eh, Nik… jadi inget di Jogja dulu..menjelang berbuka puasa buanyaakkk banget mahasiswa yg jualan kolak dn es buah di pinggir-pinggir jalan. Jadinya jalanan penuh sesak dan macet parah gilaa… aku pernah terjebak dalam ratusan motor yang berjubel mau beli kolak/es buah… bising dan megap-megap kena asap knalpot hehehe…

  7. edratna says:

    Cerita yang sederhana jadi menyentuh jika Nana yang menuliskannya.
    Memang sulit ya hidup bertetangga, apalagi jika kondisi ekonomi berbeda. Memang kita harus hati-hati…..kadang berbuat baik jadi dijagakne…ehh apa ya yang pas bahasa Indonesia nya.

    Saya lebih suka minum teh hangat saat berbuka puasa…nanti baru minum yang segar. Dan sulitnya…terus merasa kenyang…..tapi kok ya berat badan nggak turun ya.

    • nanaharmanto says:

      Dear Ibu Enny…
      terima kasih aprsiasinya ya…
      Tetangga saya itu cukup berada, suami istri PNS. pasti sanggup deh bikin es buah/minuman segar setiap berbuka puasa, tapi memang sudah terkenal suka “njagakke” orang lain itu yang bikin nggak nyaman,🙂

      Sepertinya memang enak ya Bu, perut yang kosong lalu diisi teh hangat manis…wah..sedapp… *jadi kepengen teh manis..🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s