Cintaku di Tepi Babylon…

Hehehe… judulnya romantis amat yaaa…

 

Babylon adalah sebutan kami penghuni asrama Syantikara untuk sebuah kali kecil yang melewati kampus asrama kami.

 

Kalau tidak salah sih, sumber alirannya adalah selokan Mataram yang terkenal itu. Ada yang mau menambahkan info?

 

Entah siapa yang mula-mula menciptakan nama ini, yang jelas sih, nama ini nggak luntur turun temurun dari generasi ke generasi. Aku bahkan nggak tahu persis bagaimana harus mengejanya –BABYLON- atau -BABILON?

 

Untuk masuk ke bangunan utama asrama bawah, harus melewati jembatan di atas Babylon. Ada pembatas jembatan yang rendah yang sering digunakan untuk duduk-duduk di situ. Meski sudah dilarang untuk duduk di situ, tetap saja ada penghuni asrama atau pengunjung yang nekat duduk di situ. Kalau ketahuan Suster Ben, pasti deh ditegur.

Di pinggir Babylon, digunakan sebagai lahan parkir. Nah, itu juga dijadikan tempat untuk ngobrol. Padahal ya sudah berkali-kali ditekankan untuk tidak ngobrol dalam posisi apapun di situ, -entah berdiri, boncengan di motor, jongkok, bersila di aspal.. *halah, kok ya adaaa aja…

Sudah disediakan ruang tamu untuk mengobrol dengan enak dan sopan.

Tapi yaaa… ratusan penghuni asrama begitu, pasti adalah beberapa yang nggak nurut. Termasuk yang nulis cerita.😀

 

 

Babylon ini nggak bisa dibilang cantik. Biasa saja, kadang air melimpah ruah, kadang mengalir gemericik menyenangkan, kadang berair keruh, kadang bening, dan tak jarang membawa sampah yang sama sekali tak indah.

Setiap kali hujan deras, pastilah Babylon banjir air kotor. Air coklat pekat berbau khas lumpur meluap sampai halaman asrama, dan sampah ikut tersangkut di pagar asrama.

Mas-mas karyawan pasti akan disibukkan dengan bersih-bersih setelah banjir usai.

Di saat kering kerontang pun, jadi pemandangan yang nggak indah, kering,  batu berserakan dan terlihat kotor.

 

****

Selama tiga tahun berturut-turut, aku menempati unit yang paling dekat dengan Babylon.

Ah, Babylon….

Sering aku menonton kali Babylon banjir dari nako jendela unitku…. berbagai sampah dan benda aneh-aneh hanyut terbawa banjir keruh dan kotor itu.

 

Lalu ada saat ketika Babylon kebanjiran banyak ikan. Beberapa pria membawa senter, petromax dan jaring sibuk menangkap ikan. Ada empang ikan jebol di atas sana, begitu selintas yang kudengar.

Seram dong mendengar suara-suara pria di luar jendela, malam-malam pula…

Pernah juga tiba-tiba beberapa anak riuh gegap gempita mengganggu tidur siang kami. Mereka menangkap ikan sapu-sapu yang ternyata lumayan banyak di Babylon. Entah untuk apa ikan-ikan berkulit keras itu. Dimakan pun sepertinya tak enak.

Tapi bagi anak-anak itu, serunya berburu itulah yang paling penting.

Kehebohan itu ditambah pula dengan hardikan Mas-mas karyawan menyuruh anak-anak itu pergi.

“Akeh beling, Le! Ayo munggah kabeh! Husss! Ayo dho mulih kono!”

(Banyak beling, Nak. Ayo naik semua! Hus! Pulang sana!)

 

Di tepi Babylon, pernah kulihat seorang pria exhibisionist sengaja mempertunjukkan bagian tubuhnya “yang itu” tepat di depan jendela unitku. Kami semua tunggang langgang dengan panik.

 

Di tepi Babylon juga kulihat kakak-kakak asrama yang hilir mudik berboncengan mesra dengan pacar-pacar mereka.. terlebih di hari Minggu, saat mereka berdandan dengan gaun terbaik untuk pergi misa dengan para kekasih, boncengan menyamping dengan anggun dan sumringah… ah, bikin iri betul saat itu…

 

Di tepi Babylon pula, aku melihat salah seorang kakak asrama di-sun kilat pacarnya… hihihi *wink-wink…

 

Juga di tepi Babylon cintaku kandas sebelum mekar. Kulihat cowok pujaan hati ternyata mengunjungi penghuni lainnya..  dan tak berapa lama memproklamirkan diri dengan berbocengan… *glodak!

 

Babylon juga menjadi saksi waktu aku dengan paniknya kucing-kucingan dengan seorang cowok yang nekat menungguku keluar dari asrama. Ini type cowok agresif dan pemaksa yang tak paham semua isyarat-gelagat-maklumat penolakanku. Ia benar-benar tak mau mengerti.

Aha, dia tak pernah tahu aku menyelinap keluar dari pintu kapel dan buru-buru lari lewat jembatan kecil, terus naik ke asrama atas, mlipir lewat Menza dan Kafe, dan selamatlah aku sampai di luar asrama, minggat dengan merdeka.

 

 

Di tepi Babylon, konspirasi tingkat tinggi terjadi.

Saat itu, si cowok agresif itu berniat mengajakku malam mingguan. Pesannya jelas: jam 5 sore dia akan menjemputku.

Segera kuputar otak. Aku meminta tolong pada seorang mahasiswa di parkiran.

“Mas ikut misa KMK di atas ya?”.

“Iya, Mbak….”.

“Boleh minta tolong nggak, Mas?”

“Oh ya, apa tuh Mbak?”

nngnjenengan kenal sama Mas ininggak?”

“Oh, kenal, Mbak… aktifis KMK tuh… kenapa Mbak?”

“Titip pesan aja nanti kalau udah selesai misa, tolong ketemu saya bentar”.

“OK. Siap Mbak.. “.

 

Tak berapa lama menunggu, tokoh itu datang berlari-lari kecil. Melintasi Babylon, menemuiku. Konspirasi berjalan singkat dan lancar. Intinya, Sabtu sore kami akan pergi dolan sebelum jam 5. Putar-putar kota Jogja, nonton Sekaten di alun-alun, lalu makan bareng.

Begitu saja. Nggak ada yang terjadi tuh…😛

 

 

Entah kapan bermula. Lama berselang setelah konspirasi itu, kami jadi makin akrab. Ada saat-saat enggan berpisah *halah* setelah turun dari motornya. Jadilah kami ngobrol di parkiran tepi Babylon. Oh, tentu saja lengkap dengan adegan (pura-pura) hampir berpamitan dan siap menginjak gas…

Pernah ketauan Sr. Ben dan bisa ditebak: kena tegurlah aku.. hehehehe…

 

Kini hampir tujuh tahun tokoh konspirator itu mendampingi hidupku…

 

Terima kasih, Babylon…  untuk segala kenangan bersamamu…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to Cintaku di Tepi Babylon…

  1. septarius says:

    ..
    so sweet hehehe..
    konspirator yg keterusan.. *wink*
    ..

  2. marsudiyanto says:

    Sensasi Tepi Babylon tak akan sekuat saat ini seandainya tak ada kejadian istimewa yang tak terlupa sepanjang masa…😀

    • nanaharmanto says:

      hehehe… benar juga Pak Mars.. kalau nggak ada yang istimewa tentang Babylon, pasti yang teringat ya sekedar kali biasa…
      Karena ada kejadian-kejadian itu makanya jadi kenangan dan jadi posting pula hehehe…

  3. nh18 says:

    Ouw ouw ouw …
    Jadi begitu ketemuannya …
    hahahaha
    gara-gara konspirasi tinggi di tepian sungai Babylon … rupanya … qiqiqiqi

    Salam saya
    (salam Boney M)

  4. prih says:

    Babylon menyimpan cerita nih Jeng Nana. Kinipun jadi saksi cerita dara-dara jelita adik kelas Jeng Nana, merakit banyak calon pasangan baru …..

    • nanaharmanto says:

      hehehe…iya Mbak… pasti banyak cerita-cerita yang terjadi di seputar Babylon selama puluhan tahun… ada yang pahit, ada yang manis, ada yang tak terlupakan…🙂

  5. krismariana says:

    jadi kangen Babylon. aku juga tiga tahun dapat unit di samping Babylon. itu masa-masa yang tak terlupakan. selama tiga tahun itu bunyi air Babylon menemaniku. aku senang Sr. Ben selalu memberiku unit pojok (UBA dan UBB). dua tahun terakhir di UBB aku dapat biro di dekat jendela, jadi bisa menikmati Babylon. dulu aku suka sekali duduk di biro sambil dengar radio dan menikmati sungai itu dari balik unit.

    betul-betul ngangeni masa-masa itu.

    baru tahu kalo Babylon jadi saksi kalian hehe.

  6. Yudi says:

    Saya baru tahu kalau sungai yang membelah syantikara itu ada namanya: Babylon. Kalau saya ingat sungai itu karena dulu tahun 1994-1995, sewaktu masih kuliah sambil kerja di Syantikara, setiap malam jaga parkiran anak-anak mahasiswa/i yang belajar di ruang aula atas.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s