Muka Galak

Aku dan kawan satu ini tak pernah bertemu lagi sejak lulus sekolah menengah terbilang belasan tahun lamanya.

Dalam sebuah chatting dalam sebuah jejaring sosial, begini komentarnya,  “Wah, Na, lama ya kita nggak ketemu…kowe isih galak koyo mbiyen?”  (masih galak kayak dulu?)

 

Well, itu pendapat orang lain. Sah-sah aja…

 

Lalu ada lagi komentar kawan yang lain ketika kami bertemu langsung.

“Kamu pasti galak kalau sama suamimu… jangan galak-galak dong Na sama suami… nanti susah punya anak kamu…”.

 

Eh? Glek…

Iya bener… aku nyaris keselek…

Tersinggung?

Jujur, iya….

 

Seperti kubilang di awal, aku tak pernah bertemu muka dengan kawan satu ini hingga  belum genap dua tahun lalu gegara salah satu media sosial yang canggih menghubung-hubungkan kenalan dan relasi yang tercerai berai karena domisili dan pekerjaan itu.

Dan, aku yakin seyakin-yakinnya, kawan satu ini BELUM PERNAH ketemu suamiku. Paling melihat foto kami di jejaring sosial itu.

Is that enough to jugde somebody you haven’t met before ONLY by our picture?

Apakah hanya dari foto seseorang, orang lain bisa menilai kualitas hubungan rumah tangga seseorang dengan pasangannya?

Aku pernah lihat seseorang memasang foto keluarganya yang terlihat agamis, bahagia sejahtera dengan anak-anak sehat lucu yang tertawa riang. Dalam kenyataannya,  aku melihat sendiri, istri ini sebegitu takut tunduknya pada suami, dan bahkan anak-anaknya berpolah liar tidak menghargai sang ibu. Anak-anak itu meniru sang ayah dengan memperlakukan ibu mereka bagai pembantu.

 

Dan dalil apa pula itu yang mengatakan galak pada suami bisa menyebabkan sulit punya anak?

For only heaven knows, mereka jelas tidak pernah tahu perjuangan kami selama ini.

Tuhan, ampunilah dia karena dia tak tahu apa yang dikatakannya.

And I have forgiven you, my friend, for all that you’ve said. Seriously.

 

 ****

Cuek aja napah, Na?

Iya, aku cukup bijak *preett… untuk tidak meladeninya, sebaliknya malah kutanggapi dengan bercanda.

“Iya tuh, suamiku khilaf memilihku… “ . 😀

Atau begini.

“Untung dong ya, dulu kamu nggak dapetin aku… “.

 

Pembicaraan singkat itu mau nggak mau, tetap menyisakan ganjalan. *Gue cukup jujur kan bo’?

Sesampai di rumah langsung kuburu suamiku. Kutanya apakah dia merasa selama ini dia kugalakin? Aku terlalu galak padanya?

 

 

Enggak. Begitu jawabnya.

Jujur?

Jawaban mantapnya membuatku lega bahwa aku bukanlah pemangsa dan penindas suami😛

Sebenarnya tanpa kutanya pun seharusnya aku sudah tahu dari sikapnya selama ini, dia mencintai dan menerimaku apa adanya, dan bersyukur bahwa kami memiliki satu sama lain, melewati segala manis-pahit-tawar-asin-kecut-getirnya perjuangan dalam kehidupan pernikahan kami selama ini.

 

****

Aku tak pernah mendikte orang tuaku untuk meminta muka seperti yang kuinginkan. Pun tak menghujat Tuhan atas wajah yang diciptakan-Nya untukku.

Aku bersyukur untuk semua yang kumiliki. Dahi nongnong, hidung pesek, bibir tebal dan alis gondrong plus sorot mata tajam setajam silet… *uhuk…

Jika dilihat satu-satu, memang tak istimewa, tapi jika dilihat secara keseluruhan, toh tidak sejelek Mak Lampir…

Aku menyadari, dari leluhurku aku mewarisi raut muka tegas begini… indeed, I am grateful for it…

 

Dan untuk suatu waktu di masa lalu, ketika yang terkenang adalah raut muka galakku, well, OK, aku tak akan mendebat hal itu. Jika memang itu yang teringat oleh mereka, so what? Ya sudah.

 

Terlahir dalam naungan shio ular, orang akan maklum bahwa memang beginilah bawaan orokku.

Meskipun aku tak terlalu mendewakan kepercayaan yang mendasarkan sifat orang dari shio-nya, aku pun tak hendak menolak atau memperdebatkan hal itu.

 

Di sisi lain, aku sungguh sangat bersyukur akan semua yang kumiliki. Karena wajah galakku, aku berhasil menghadapi tiga preman kampung tanpa mundur sejengkal pun waktu aku (bahkan) masih SMA.

 

Karena raut wajahku pula, tak sembarang orang bisa mempermainkan aku. Juga pengakuan murid-muridku dulu, ngadepin Miss Nana nggak bisa main-main…

Serem, begitu mereka bilang.  Tapi toh mereka mengakui sendiri, aku tak pernah membentak mereka atau marah-marah tak jelas.

 

Beberapa kali aku “diselamatkan” oleh wajahku ini dari kebawelan para pencari nasabah kartu kredit, salesman penjual panci, dan para sales girl yang merayu agar aku membeli produk mereka.

 

Pengalamanku berpindah-pindah mengikuti suami, dan bergaul dengan berbagai suku di tanah air, juga menyadarkanku, menghadapi orang lain haruslah fleksibel. Aku pernah mengandalkan “kehalusanku” sebagai orang Jawa, tapi toh ketika aku diremehkan dan dimanfaatkan, ketegasanku lah yang menyelamatkanku.

 

Aku tahu, tak perlu aku terganggu dengan pendapat orang lain. Aku tahu kapan harus tegas, dan semoga ketegasanku membantuku menjalani hidupku. Seperti ular, aku tahu kapan harus mempertahankan diri😀.

 

Tak masalah aku dianggap galak, lha wong aku nggak makan dari uang mereka, nggak pernah punya utang ke mereka, dan toh aku nggak melukai dan merugikan mereka..

 

****

Dalam rumah tangga pun, aku tak pernah mencaci maki atau membentak-bentak suamiku. Begitupun suamiku tak pernah membentakku.

Oh, jelas ada badai prahara dalam perjalanan kami berdua. Kerikil dan batu karang kami hadapi juga. Sepanjang ingatanku, tak pernah kami berantem sampai adu mulut yang melukakan hati masing-masing. Kemarahan kami sikapi dalam diam. Saat amarah mereda, kami bisa mengungkapkan unek-unek kami tanpa emosi lagi. Saling minta maaf, saling berpelukan, dan selesai satu perkara.

 

Trus, sing galak sing endi?

ha embuh…

 

Aku tak pernah tahu mereka meneropong kehidupan kami dari jendela yang mana…

Aku tak pernah minta untuk dinilai dan disorot…

 

Live your life!

 

Urusi dan jalani saja hidupmu sendiri….

 

Gimana tuh, Na, kalau yang ngatain kamu seperti di atas baca posting ini?

Ya nggak apa-apa… setidaknya belajarlah sesuatu dari si muka galak ini… bahwa, terkadang perkataanmu kita sendiri menjauhkanmu kita dari pertemanan yang nyaman…

 

Mukaku galak? Masalah buat lo?

 

Catatan: ilustrasi kupinjam dari sini.

 

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

13 Responses to Muka Galak

  1. marsudiyanto says:

    Inilah salah satu sisi lemah tulisan dan gambar Mbak…
    Tulisan dan gambar tak akan penah bisa mewakili sosok kita.
    Amat sangat berpotensi mengecoh.
    Bisa pula ada yg tulisannya renyah bak kacang asin, tapi orangnya malah pendiam dan pemalu…
    (seperti saya ini)😀

  2. nanaharmanto says:

    Betul juga ya Pak Mars… tulisan kadang tidak menampilkan diri kita sebenernya.. Foto juga ternyata bisa dijadikan sebagai penghias saja, menutupi yang sebenarnya.
    Tentang kawan saya itu, ya sudah saya maafkan…

    Oh, Pak Mars aslinya pendiam dan pemalu toh? tulisan Anda segar dan renyah seperti rujak dikasih kerupuk Pak.. *Kriuk…kriuk… hihihi.. 😀

  3. nh18 says:

    Muka galak ?
    Aku ndak setuju babar blas
    kamu itu mukanya…njawani bangetz

    sumpah.

    Salam saya

  4. Riris E says:

    Bibir Tebel? Jidat Nonong? : Kau tak sendiri Na.. hihhi..
    Orang yang sotoy memang selalu menyebalkan.

  5. Arman says:

    first of all.. kita shio nya sama nih… hehehe

    kalo gua kebalikannya na. dulu kalo di rumah tuh gua terkenal galak. suka marah2. huahaha. tapi ya orang2 kalo ngeliat gua malah pikirnya gua gak bisa marah. yang suka ketawa2 katanya. pernah sekali waktu temen gua ngeliat gua lagi marah sampe kaget, katanya kok gua bisa marah begitu. hahahaha.

    • nanaharmanto says:

      Tapi aku ngeliat foto-foto kamu, susah ngebayangin kamu bisa galak deh… masa sih? atau emang bener, foto-foto dan tulisan kita bisa “menipu” hihihi…

  6. prih says:

    Belajar dari Jeng Nana, syukur atas keistimewaan diri kita, inilah penghargaan indahnya: “Juga pengakuan murid-muridku dulu, ngadepin Miss Nana nggak bisa main-main…” Biarkan lebah berdengung karena kita tidak bisa menghentikan persepsi orang lain atas diri kita.Selamat terus berkarya Jeng.

    • nanaharmanto says:

      Saya juga masih terus belajar bersyukur kok Mbak…
      Setuju bahwa kita tidak bisa menghentikan persepsi orang lain atas diri kita… , jadi ya nggak perlu dimasukkan ke hati pikiran dan omongan orang lain itu ya Mbak…

  7. krismariana says:

    muka galak? hmm …
    seingatku dulu ada anak asrama yang takut sama kamu deh. hihihi. tapi aku lali sopo.

  8. DV says:

    Masalahnya cuma satu, orang-orang banyak yang kepo…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s