Kunang-kunang

Waktu TK, aku mengenal lagu ini.

Kunang-kunang, kunang-kunang, kunang-kunangku

Kaubawa ke mana lampu-lampumu

Bawalah kemari kunang-kunangku

Berikan padaku lampu-lampumu

Lagu ini pendek sangat, sederhana, mudah pula dihafal.

Dalam bahasa Jawa, serangga mungil ini cukup disebut “kunang”, dan dalam bahasa Indonesia mengalami perulangan menjadi kunang-kunang.

Serangga yang hanya muncul di malam hari itu, memikatku karena cahayanya yang berkelip-kelip dalam kegelapan.

Dulu waktu SD, aku pernah berdebat seru dengan salah seorang temanku. Katanya, kunang-kunang itu serangga “hantu” karena dia terbentuk dari kuku manusia atau orang yang sudah meninggal..

Huah. Nonsense.

Meski masih kecil, toh aku sama sekali nggak bisa menerima pendapat temanku itu.

Kunang-kunang ya serangga, mahluk ciptaan Tuhan yang unik. Gitu saja.

Aku jadi terkenang ketika dulu aku gemar menangkap kunang-kunang lalu menaruhnya dalam selembar kapas lembut yang kucuri dari meja rias mama. Kapas itu kubentuk menjadi bola kecil, dengan nyala kunang-kunang berkelip dari dalam bola kapas putihku.

Indah.

Kawan-kawan kecilku di kampung juga punya kegemaran yang sama. Mereka menangkap kunang-kunang lalu dimasukkan dalam plastik. Lalu membawa kantong plastik bening itu  kemanapun.

Hmm… jaman segitu, tak terpikirkan untuk menangkapnya dalam toples kaca. “mahal” dan pastilah dipakai untuk menyimpan makanan. Orang dewasa di rumah kami takkan mengijinkan kami bermain-main dengan toples kaca. Botol bekas selai pun tidak, karena ia akan digunakan lagi untuk menyimpan barang-barang kecil lainnya.

Aku masih ingat alotnya berdebat dengan kawanku. Menurutnya, kunang-kunang lebih bagus ditaruh di dalam plastik, bisa dipandangi.

Menurutku, lebih baik ditaruh di dalam bola kapas, jadi ia masih bebas bernapas. Esok malamnya, ia masih hidup dan berkelip lagi. Kunang-kunang dalam plastik kawanku, sudah mati lemas pagi harinya.

Ah…ah…

Kusadari kini, betapa kejamnya perilaku kami saat itu. Menangkap kunang-kunang, memerangkapnya dalam plastik atau bola kapas sama buruknya. Itu kami lakukan hanya untuk memandang kerlip lampu di perutnya.

Anak-anak lelaki bahkan memburu dan menangkap kunang-kunang hanya untuk berlomba mendapatkan sebanyak mungkin agar menang.

Terkadang kami lupa melepasnya kembali. Kadang kami teringat ketika mereka sudah terlanjur mati.

Aduh, sedih..

Sudah dewasa kini, aku baru sadar, melihat mahluk-mahluk berkeliapan di malam hari yang sejuk diiringi dengan riuh celoteh kodok bersahutan dan suara jengkerik itu adalah suatu keindahan, ya keindahan yang terasa sangat mahal saat ini.

Coba kau ingat-ingat,  kapan terakhir kali kau melihat kunang-kunang bebas beterbangan?

Rasanya sudah belasan tahun aku tak melihat langsung serangga bercahaya kuning emas ini.

Ke mana mereka pergi?

Kalah kah dengan cahaya lampu-lampu listrik?

Tenggelam kah dalam binar lampu kota?

Sepertinya aku mendapatkan jawabannya.

Mereka lenyap karena semakin sedikit lahan sawah yang tersisa karena desakan pembangunan “ala kota”.

Mereka tiada karena sawah-sawah kini telah terkontaminasi dan teracuni berbagai pupuk kimia dan pestisida pemusnah hama serangga.

Daun-daun padi tak lagi nyaman untuk mereka berteduh. Batang-batang padi menjadi terlalu beracun untuk sekedar hinggap.

Mereka yang tak mampu bertahan hidup, mati sia-sia tanpa sempat meninggalkan generasi. Yang bertahan hidup pun, aih… masih adakah?

Dan yang lebih menyesakkan adalah, kelak, kalau aku punya anak, aku tak lagi bisa mengenalkan kunang-kunang cantik ini pada mereka. Mungkin mereka masih bisa mendengar ceritaku tentang mahluk mungil yang terbang sambil berkelip membawa lampu emas di perutnya. Lalu apa yang akan mereka bayangkan? Entahlah.

Akankah anak cucuku nanti percaya bahwa dulu pernah ada malam-malam gulita jadi indah penuh berjuta kerlip kuning kehijauan beterbangan? Dan bahkan aku pernah memerangkapnya dalam sebuah bola kapas?

Rasanya tak berlebihan aku punya kekuatiran begitu, kan?

Anak-anak kota sekarang, kalau ditanya, pernahkah melihat kunang-kunang secara langsung?

Tidak.

Beberapa waktu lalu aku sempat mudik ke Muntilan, daerah asalku. Dan memang lho, tak satupun kulihat  kunang-kunang ini.

Aku sungguh berharap, kunang-kunang ini tak benar-benar punah dan lenyap begitu saja.

Tapi adakah yang peduli selain aku yang terkenang akan nostalgia masa kanak-kanakku?

Kembali ke lagu di atas,

Aku jadi betul-betul bertanya:

Kunang-kunang, kau bawa kemana lampu-lampumu?

Bawalah kemari, kunang-kunangku… JANGAN berikan padaku lampu-lampumu..

Terbanglah bebas dan gembira, hiasi malam ini dengan binar emasmu…

kunang-kunang

Catatan: gambar saya pinjam dari sini.

Kapan Anda terakhir melihat kunang-kunang hidup? yuk, berbagi..

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Kunang-kunang

  1. niqué says:

    mbak nana nakal yaaa waktu kecil😀
    aku tak punya nyali untuk menangkap kunang2
    cuma berani lihat2 saja hehehe
    tapi sejak di Jakarta sini udah lamaaaa banget gak liat kunang2
    di Bekasi dulu masih sesekali .

    • nanaharmanto says:

      hehehe… iya masa kecilku lumayan badung… gemar nangkap kunang-kunang, sekarang mah gak tega… cukup ngeliatin aja deh..

  2. marsudiyanto says:

    Sudah lama nggak lihat “konang”…
    Jaman saya kecil, kalau lihat “konang” langsung nutup telinga karena terlanjur termakan kata para tetua yg bilang bahwa kalau “konang” itu masuk telinga bisa menyebabkan tuli…

  3. Arman says:

    wah gua seumur2 gak pernah lho na ngeliat kunang2 secara langsung… pengen tapi gak tau mesti nyari dimana…

    • nanaharmanto says:

      Waah… dulu kamu tinggal di kota ya, atau di daerah yang nggak ada sawahnya?
      Dulu sih aku tinggal di desa yang masih banyk sawahnya, jd sering banget liat kunang2.. sekarang udah gede begini kangen liat kunang-kunang karena sekarang susaahhh bgt cari/ngeliat kunang2 asli…

      hmm… kalau udah ilang aja, baru deh ditangisin/dicari-cari, dulu ada berlimpah malah disia-siakan…

  4. krismariana says:

    waktu aku kecil aku tinggal di rumah di tepi jalan yang cukup besar. jadi tidak terlalu sering lihat kunang-kunang. sakne yo? haha. tapi waktu aku di jogja (di rumahku yang ndeso ituh), sesekali aku melihatnya. tapi ya sudah jarang sekali. kayaknya karena kalah dengan pembangunan ala kota deh na, jadi mereka menghilang. kasihan ya.

    • nanaharmanto says:

      Kalau gitu aku yg tinggal di desa lebih “kaya” dong ya Nik.. hehehe…

      Sekarang di rumah Jogja masih sering liat kunang? Mbok aku tak maen ke tempatmu biar bisa liat kunang meneh hehehe…

  5. farizalfa says:

    Kalau aku hampir setiap malam melihat kunang-kunang mbak, soalnya tempat tinggalku berada di dekat kebun jeruk. jadi kunang-kunangnya sering berterbangan di sekitar pohon jeruknya.

    • nanaharmanto says:

      Fariz tinggal di mana? jadi kepengen ke sana liat kunang-kunang hehehe… udah lamaaa banget nggak liat kunang-kunang🙂

  6. Zee says:

    Itu dia mbak, terakhir aku lihat kunang2 ya tahun lalu waktu ke Jogja. Takjub sendiri hahahaa…. soalnya terakhir lihat KunKun itu waktu masih kecil di BIak.🙂

  7. Konon katanya, kunang2 ndak akan pernah bisa punah, mbak nana. di sebagian orang desa percaya kalau kunang2 itu jelmaan dari kuku orang mati. kok bisa begitu, ya?

  8. nanaharmanto says:

    Saya pernah baca sebuah artikel Pak Sawali,.. artikel itu menyebutkan, kunang-kunang gemar bertelur di tanah yang “gembur”, salah satunya adalah tanah makam.. karena kunang-kunang keluar dari tanah makam itulah muncul mitos bahwa kunang-kunang berasal dari kuku orang mati..

  9. Imelda says:

    selama aku tinggal di Jakarta, tidak pernah melihat kunang-kunang,
    aku pertama kali dan terakhir melihat kunang-kunang itu th 2005 atau 2006, waktu itu Riku baru berusia 3 th. Kami ajak pergi ke gunung di Chiba, menginap di pemandian air panas. Dan mengikuti tur malam ke tempat kunang-kunang. Malam itu gelap dan semua cahaya dari mobil dimatikan sama sekali. lalu kami bisa melihat banyak kunang-kunang… tentu saja waktu itu musim panas, krn mereka hanya keluar waktu musim panas.

  10. cindy says:

    Emangnya kunang-kunang itu kukunya orang mati ??

  11. cindy says:

    jadi penasaran .. :@

    • nanaharmanto says:

      Enggak, Cindy… itu mah mitos doang, cerita orang-orang “tempoe doeloe”… kunang-kunang termasuk serangga, sama sekali bukan dari kuku orang mati. Nggak penasaran lagi kan? 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s