Kartu Kredit

Teleponku berdering suatu siang mengagetkanku dari keasyikanku menonton serial detektif favoritku. Terdengar suara empuk dan merdu.

 “Selamat siang, dengan Ibu Nana?”

“Ya saya sendiri..”

“Saya Farida dari Bank B** pusat Jakarta…, maaf mengganggu, Ibu Nana… boleh minta waktunya sebentar?”

“Ya, silakan…”

*Berdebar berharap mendapat kejutan atau hadiah undian*😀

“ Terima kasih, Bu Nana… kami  mau menawarkan kartu kredit untuk Ibu.. kebetulan  sekarang kami sedang ada program promosi khusus… bla…bla…bla…

….keuntungannya Ibu dibebaskan dari biaya  apapun selama 1 tahun periode promosi ini, kalau Ibu melanjutkan di tahun kedua, baru biaya akan diberlakukan bla…bla..bla..bla..“,  si Mbak Farida nerocos tanpa titik koma.

 Yah, aku tahu, dia hanya membaca guideline di layar komputernya. Jawaban apapun dari calon klien, sudah ada trik tertentu di sana untuk Mbak Farida sigap menangkis.

“Maaf Mbak, saya tidak tertarik…” jawabku.

“Dengan kartu kredit dari B** ini, Ibu akan mendapatkan potongan khusus di berbagai restoran dan merchat yang bekerja sama dengan kami…. “

“Ibu juga akan mendapatkan kemudahan bertransaksi di luar negri seperti di negara-negara Eropa dan Amerika…”

“ Ibu akan mendapatkan diskon menarik dari restoran-restoran ini… (sambil menyebut berbagai nama restoran mewah dan mahal di Jakarta)..  dan  juga tambahan diskon lagi jika Ibu menginap di hotel Rizt Carlt*n, hotel Muli*, Sh*ngri-La, Sherat*n.. (dan sederet hotel mewah nan bonafid di seantero dunia). …..bla..bla..bla…

“Bagaimana Ibu tertarik? Kalau tertarik, saya bisa bantu sekarang untuk proses dan aktivasinya”.  

Mbak Farida ini ya, bicaranya “superior” sekali, menguasai percakapan, melaju dengan suara menarik, nada persuasif dan pilihan kata-kata rapi terstruktur  dengan kecepatan yang mengagumkan hingga lawan bicara menjadi plekah-plekoh geragapan dibombardir begitu rupa.

Ahya…tentu saja Mbak Farida ini  sudah dilatih berbulan-bulan dan tinggal membaca guideline aja kan…

Jawabanku tetap konsisten.

“Maaf, Mbak… saya tidak tertarik…”.

 

“Ibu tidak akan repot kok, semua  kami bantu dari sini, karena data Ibu kan sudah ada pada kami, jadi kami tinggal memerlukan persetujuan Ibu untuk segera memprosesnya, nanti begitu kartu kreditnya sudah jadi, kami akan kirim ke alamat tempat tinggal Ibu..”.

“Saya TIDAK tertarik..”. *kadar ramah mulai berkurang*.

“Bagaimana kalau dicoba dulu satu tahun, Ibu… nanti kalau Ibu merasa tidak ada manfaatnya, Ibu bisa menonaktifkan Kartu Kredit Ibu” rayunya lagi.

“Saya merasa belum memerlukan Kartu Kredit sekarang ini, Mbak”. *sok cool..

 

“Kalau dilihat dari basis data kami di sini, jumlah dan frekuensi transaksi  Ibu kan termasuk lumayan tinggi ya, jadi kami sarankan untuk membuat Kartu Kredit, Ibu jadi lebih nyaman dan aman berbelanja tanpa harus membawa cash terlalu banyak..”.

 Mulai deh gue naik pitam.

Gini Mbak, saya kan punya tabungan, untuk apa saya harus berhutang?”  *jiahh sombong..

“Dengan Kartu Kredit ini akan memberi kemudahan dan keamanan kalau Ibu bertransaksi di luar negri.. bla..bla..bla.. dan… terlihat eksklusif”.


“Saya tetap tidak tertarik, Mbak”

“Maaf, Ibu, kalau boleh tahu alasannya, kenapa tidak tertarik? Sudah punya kartu kredit sebelum ini? Dari bank lain mungkin?”

Hmmm…Mbak Farida ini please deh ya… udah nerocos tanpa jeda, mulai mengusik lagi ke alasan yang bersifat pribadi.

“Untuk alasan yang AMAT SANGAT pribadi, saya tidak bisa dan tidak berkenan memberitahu Anda alasan saya. Begini, Mbak, saya tahu Anda melakukan pekerjaan Anda, saya menghargai itu, tapi  maaf, jawaban saya tetap TIDAK tertarik. Terima kasih, selamat siang… “

“Oh, baik… kalau Ibu sudah berniat memiliki Kartu Kredit, silakan Ibu menghubungi kami, akan kami bantu….”.

“Baik. SELAMAT SIANG”.

Aku tak menunggu jawabannya selesai.

(Wah… ketinggalan bagian yang seru deh… lho piye critanya tokoh yang  tak mencurigakan awalnya kok bisa tiba-tiba jadi psikopat pembunuh begini? Yahhh…elu, mbak Farida… ! )

 

 ****

kartu kredit, jamanin aman dan nyaman ke manapun..

 

Note: ilustrasi kupinjam dari web ini.

 

Entah sudah berapa kali aku ditawarin kartu kredit begini.

Dari pencari nasabah kurang terpercaya yang bertebaran di mall dan pusat perbelanjaan, hingga ditelepon dari bank tempat aku menyimpan tabunganku.

Suamiku juga pernah menawariku.

“Silakan lho kalau kamu mau bikin Kartu Kredit”.

Sampai detik ini aku masih belum tertarik memiliki kartu ajaib ini. Lha wong aku belum berencana keluar negeri dalam waktu dekat… menginap di hotel berbintang atau makan di restoran mewah yang disebutkan Mbak Farida tadi… wuaah…  nunggu bintang jatuh dulu!

 

Bagi yang sering bepergian ke luar negri, Kartu Kredit memang menjadi salah satu sarana andalan yang praktis untuk bertransaksi.

Belum mendesak deh untukku.

Transaksi harianku ya hanya dengan eMang-eMang sayur yang setiap pagi setia mengantarkan dagangan sayurnya hingga di muka rumahku. Nggak perlu Kartu Kredit jee…

Banyak cerita nggak enak yang kudengar tentang Kartu Kredit. Sebut saja, mulai dari keenakan gesek-gesek hingga tak sadar nominal tagihan merenteng lebih dari 7 digit… terlambat membayar tagihan hingga bunga berlipat, lalu diganggu oleh tagihan lewat telepon, dalam beberapa kasus anggota keluarga lain ikut ditelpon bila tagihan tak segera dibayar. Bahkan ada cerita sampai didatangi dan dikejar-kejar debt collector dengan cara yang nggak smooth…

Ya nggak semua pemegang Kartu Kredit begitu. Banyak juga yang menggunakannya secara tepat dan arif.

 

Tapi ada juga orang yang bangga dengan dompetnya yang gendut karena serentetan Kartu Kredit keluaran berbagai bank berjejalan di dompetnya. Begitu membuka dompetnya, jreennng…! warna warni kartu kreditnya sengaja dipamerkan secara demonstratif, dan herannya, banyak orang yang kagum akan banyaknya kartu kredit itu.

Aku ora gumun. Ora kepengen.

Biar terlihat ekskusif, kata Mbak Farida. Keren kan tinggal tanda tangan di struk yang tercetak dari mesin gesek Kartu Kredit?

Lha wong hutang kok eksklusif… hutang ya tetep hutang… Keren ya keren, tapi tetep aja utang…

Bagiku pribadi, kalau aku kepengen suatu barang, cocok harga dan modelnya, aku beli. Gesek kartu debit kalau lebih dari 100 ribu. Ada uang aku beli. Nggak ada uang ya nggak usah beli. Take it or leave it. Sesimple itu.

Nggak mikir punya utang, nggak mikir barang belum lunas…  nggak kuatir jatuh tempo terlewat. Hidup nyaman, tidur nyenyak😀

 

Tapiii kaan…. pake Kartu Kredit banyak diskonnya, Na… begitu kilah seorang teman.

Ya silakan aja menikmati diskon-diskon itu. Itu kan tujuan diskon-diskon menarik  itu supaya kau terus menerus menggesek kartumu?

Lupa ya, tetep ada kan biaya administrasi kartu itu per tahunnya?  Katakan 150 ribu sampai 300 ribu satu kredit. Tiga kartu kredit? Berapa tuh? Mending buat beli bakso hehehe…

 

Aku nggak 100% anti Kartu Kredit, siapa tahu suatu saat ada jin lewat yang menyenggolku dan sukses membujukku untuk membuat Kartu Kredit barang satu ekor buah… tapi nggak lah sampai saat ini.

Ndeso memang… peacefully ndeso…😀

Aku juga nggak akan sinis kok pada pemilik “uang plastik” itu, pilihan dan pertimbangan orang kan lain-lain…

Nah, Anda punya cerita tentang Kartu Kredit? Pertimbangan tertentu memilikinya mungkin?

Jujur lho, telepon begini ini kadang menjengkelkan..

 ****

 

 

 

 

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

15 Responses to Kartu Kredit

  1. Imelda says:

    hehehe, betul kok Na, CC atau KK ini perlunya kalau pergi ke luar negeri aja. Untuk alasan keamanan dan kepercayaan pihak LN. Padahal di LN belum tentu juga loh CC keluaran Indonesia diterima hehehe.

    Aku di sini memang perlu CC karena mengumpulkan mileage untuk ditukar menjadi tiket.

    • nanaharmanto says:

      hehehe, iya itu dia Mbak… CC “hanya” diperlukan untuk keamanan di luar negeri dan di tempat-tempat berkelas tertentu.
      Malah ada hotel yang menyatakan “kami hanya melayani transaksi dengan kartu kredit” hmm.. mungkin bentuk kerjasama dengan pihak bank kali ya…

      Kayaknya semua Kartu Kredit punya iming-iming diskon sekian persen dan point reward ya Mbak…🙂

  2. Devie says:

    Sama Na,aku juga mengalami. Sampe aku kesel dan njawab “mbak2 sebenernya saya boleh nolak gak ya? Kalo saya punya hak memutuskan,maka tolong hargai keputusan saya”. Kadang sebenarnya kasihan dgn mereka krn mungkin saja mrk dikejar target,tp caranya itu lho bikin jengkel. Pernah ada yg melas bgt minta2 tolong smp aku jawab,” tolong saya juga dong supaya gak ngutang”. Tapi itulah fenomenanya masyarakat kita yg msh blm bijak scr ekonomi sdh dijejali dgn fasilitas belanja mudah tanpa mikir shg jd konsumtif.

    • nanaharmanto says:

      Iya kadang kasihan sama mereka yang seperti kamu bilang: dikejar target.
      tapi siapa sih yang merasa nyaman saat “dipaksa” melakukan sesuatu yang nggak disukainya?

      Bahwa mereka memang melakukan pekerjaan mereka, atau mungkin trainee yang sedang dilatih/ditest atasan mereka,(kita nggak pernah tau..) yang jelas sih telepon begitu di saat yang nggak tepat memang sangat mengganggu dan menjengkelkan. apalagi kalau caranya “maksa” gitu..

      […] Tapi itulah fenomenanya masyarakat kita yg msh blm bijak scr ekonomi sdh dijejali dgn fasilitas belanja mudah tanpa mikir shg jd konsumtif.
      >> komentar ini TOP!! aku suka..

      Makasih ya Devie… sudah memperkaya posting ini…🙂

  3. Arman says:

    gua pakai kartu kredit sejak kuliah na, sejak masih pake kartu tambahan.
    gua pribadi sih a big fan of kartu kredit. hehee. karena masalah kenyamanannya. gua tuh sangat gak suka dan gak nyaman kalo harus bawa2 banyak uang tunai. parno aja kalo sampe ilang gimana? kalo kartu kredit ilang kan tinggal diblokir.

    udah gitu kartu kredit banyak diskon (kalo dulu di indo) dan banyak point (kalo disini). dibanding kalo bayar tunai gak dapet apa2, kan mendingan dapet point jadi bisa dituker gift card… itung2 bisa belanja gratis nantinya. hahaha.

    tapi yang penting, kalo pake kartu kredit itu jangan dianggap sebagai penghasilan tambahan. jangan kebablasan intinya. dan jangan pernah ngutang. setiap tagihan harus dibayar full. gak boleh ngutang sama sekali. itu prinsip gua sih.

    tapi emang nyebelin ama orang2 bank yang suka maksa nawarin kartu kredit ya. dulu gua juga kalo dapet tlepon gitu paling males. hahaha.

    • nanaharmanto says:

      hahahaha…. kalau doyan belanja emang lebih enak pake kartu kredit ya.. apalagi di Amrik… semua serba kartu kredit..

      Emang sih, pegang kartu kredit harus pinter dan bijak makainya, jangan sampai kebablasen dan disiplin bayar tagihannya jangan sampai nunggak.. Suamiku juga kayak kamu Man, jangan sampai telat dan jangan sampai nunggak…

      ternyata banyak ya yang “terganggu” dengan telepon nawarin kredit… nada maksanya itu lhoo… kayak kita “nggak boleh bilang “tidak”

      • Arman says:

        bukan masalah doyan belanja sih na…
        untuk beli kebutuhan sehari2 pun kita selalu pake kartu kredit. kan lumayan lho dapet point 1%. kadang bisa lebih. bayangin aja berapa jumlah yang kita keluarkan untuk kebutuhan sehari2 dalam setahun… kaliin 1% itu lumayan banget lho…🙂

        dari 1% itu bisa di redeem jadi macem2. gift card atau barang. atau sering juga bisa dapet cash back. jadi duit kita balik.🙂

  4. honeylizious says:

    saya sebenarnya tertarik untuk membuat kartu kredit agar bisa bertransaksi di internet dengan akun paypal. maksudnya pengen buka lapak jual saldo paypal atau bantu temen yang pengen belanja keluar negeri sih

  5. Fanny Novia says:

    aku juga ga punya kartu kredit mbak..yang ada cuma kartu debit..hihiiiihihiii..:-D

    Kalau punya kartu kredit itu ya bawaannya pengen ngutang terus deh mbak..

  6. marsudiyanto says:

    Kadang kasihan juga sama petugasnya, karena dia ditarget dan memang dilatih untuk jadi penodong…
    Tapi lebih kasihan lagi pada yang tergoda untuk membikin kartu kredit itu…

  7. krismariana says:

    selama ini aku belum punya CC atau KK itu. soalnya masih belum butuh juga sih. setelah di Jakarta aku melihat kecenderungan orang pakai CC itu semakin tinggi. banyak diskon menarik yang mengharuskan kita pakai CC. tapi sekali lagi, aku belum tertarik dan belum butuh. sama kayak kamu kurang lebih alasannya. selain itu, aku bisa nebeng CC suamiku. lagian, kalau belanja barang yang lumayan mahal kan bareng. kalau cuma belanja buku atau keperluan sehari-hari, paling pol pakai kartu debit. lagi pula, aku bukan orang yang gemar belanja ini itu.

  8. prih says:

    Pertimbangan urgensitas dari Jeng Nana sangat membantu pertimbangan kepemilikan KK. Salam

  9. DV says:

    Aku pernah sangat tergila-gila pada kartu kredit, Na! Pernah punya lima kartu! Tapi semuanya kupikir adalah jebakan batman sih, sekalinya kamu terperangkap ngutang, jangankan mbayar ‘pokok’, ngelunasi bunganya aja seberat memanggul salib kali🙂

    Sekarang aku cuma pake satu kartu, itupun aku ngga berani pake, karena aku tahu aku lemah kalau udah soal gituan.

    Sering juga dapet tawaran kartu kredit lewat telp yang menjengkelkan begitu. Tips dariku, putuskan segera saja telponnya! Ngga usah ngomong ‘maaf’ dan ini-itu.. tapi pura2 disconnect dengan ‘halo.. halo… kok jadi putus-putus nih’ lalu pencet tombol OFF🙂

  10. Zizy Damanik says:

    Haha….. Mereka memang sudah dilatih untuk tebal muka, jadi saya pun tidak pernah peduli apakah mereka akan tersinggung atau tidak, Mbak. Kalau saya lagi di jalan, dengan pedenya bilang bisa minta waktunya sebentar tanpa konfirmasi kita bisa atau tidak. Ada juga yang tidak pakai permisi main nyerocos bilang, “Ibu terundang kembali……” Dan saya cuma bilang, maaf mbak saya lagi nyetir, lain kali saja, langsung ditutup.

    Emang nyebelin banget para tukang kartu kredit ini….. Karena sudah masuk dan mengganggu prrivacy orang lain.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s