Kota kecil, apa peranmu?

Genap satu tahun aku dan suami pindah ke pulau jawa lagi. Kepindahan
yang amat sangat kami syukuri.
Kami tinggal di sebuah kota di Jawa Barat. Biar kecil, tak mengapa,
toh kota ini lebih beradab lebih maju, lebih dinamis dan dalam hal
menu makanan pun, jauh lebih bersahabat daripada saat kami tinggal di
tempat sebelumnya.

Suatu kali, saat aku main ke Jakarta dan berjumpa seorang kawan di
sana, ia bertanya padaku.
“Gimana Na di kotamu sekarang? Kerasan?”
“Wuahh… kerasaann bangeet…”, jawabku berbinar. Senang. Semangat!
Ceria! Jujur! Polos!
Kau bayangkan sajalah..😀

“Dibandingin dengan kotamu dahulu?” selidiknya.
“hmmm…. bumi langit!” jawabku sedikit hiperbolis.
“Tapi di sana kan nggak ada apa-apanya, Na… “ tukasnya.
“Nggak ada mall, apaan tuh… nggak ada hiburan… apa enaknya?”
“Kalau aku, nggak kerasan pasti di sana… “, sambungnya lagi.

Ciyusss…
Binarku hilang. Semangatku menguap. Ceriaku kandas. Tumpas serta merta.
Aku ingin mendebat. Tapi ah, perjumpaan ini lebih lebih penting
daripada sekedar berdebat soal “kota kecil yang nggak ada apa-apanya
itu”…

Dalam perjalanan pulang, aku merenung.
Well, setiap orang punya pemikiran sendiri tentang tempat tinggal yang
paling cocok untuknya.
Temanku yang kuceritakan ini, bisa kau duga, sangat menyukai tinggal
di Jakarta, tempat segala yang diinginkannya ada. Rumah nyaman, mobil
keren, kantor bonafid, mall-mall megah untuk hiburan keluarga,
restoran lezat, sekolah bergengsi untuk anak-anaknya… semua yang ia
inginkan ada di sekitarnya. Tinggal suruh pak sopir ke sana, sampailah
ia.. tak perlu lihat kemacetan, toh ia sibuk dengan gadgetnya atau
tidur dengan pulas.

Mungkin temanku ini tidak bermaksud meremehkan kota kecilku sekarang
ini. Entahlah. Aku tak pandai merangkai kata untuk membahasakannya.

Aku tidak mungkin memaksanya untuk sepaham denganku. Ia bahkan mungkin
tidak pernah mengerti meskipun hanya-setengah-kadar dari rasa syukurku
pindah ke kota ini.

Pindah kembali ke pulau Jawa adalah kenikmatan tiada tara, bahkan
sebuah kemewahan.
Tahun lalu, begitu suamiku memberitahuku wacana kepindahan kami
kami ke Jawa, believe me, aku memerlukan waktu beberapa hari hanya
untuk berjingkrak-jingkrak kegirangan, menubruk suamiku dengan (lebih)
girang ketika ia pulang dari kantor, mengecupnya lebih ganas dari
biasanya, bersyukur pada Tuhan yang mendengar doa kami, dan berterima
kasih pada semesta yang mendukung semua ini terjadi. Pindah ke Jawa…
seperti mimpi…

Di sinilah kami.
Tak mengapa tak ada mall besar di kota ini.
Toh aku bukan orang yang gila belanja di mall, pun bukan orang yang
gemar jalan-jalan di mall. Dua “Mall” kecil di kota ini cukuplah.
Di tempat tinggalku sebelum ini, bahkan tak ada mall sama sekali.
Tidak masalah tak ada bioskop mewah di kota ini.
Toh aku tak terlalu suka nonton bioskop. Kelas 21 di kotaku ini cukup
bagiku. Tak setiap minggu aku nonton kan…
Di tempat tinggalku dulu, bahkan tak ada bioskop sama sekali.
Di kotaku ini, banyak rumah makan dan jajanan yang memanjakan lidah,
beda jauuuhhh dengan kotaku dulu. Sedikit sekali yang menyajikan
masakan yang bersahabat dengan selera dan lidah kami.

Sekarang aku tinggal di kota berpenduduk ramah dan santun. Sangat
berbeda dengan di kotaku dulu, seperti kuceritakan di sini dan di
sini.

Kepindahan kami kembali ke Jawa adalah anugrah. Tidak semetropolitan
seperti Jakarta, juga tidak semewah kota-kota satelit ibukota itu.
Apa yang  ada di kota ini kusyukuri semua, tak ingin menuntut lebih.
Adalah sebuah kemewahan saat suami berangkat ke kantor tanpa
terburu-buru atau takut terjebak macet.

Sebuah kenikmatan ketika suamiku bisa menyempatkan pulang ke rumah
untuk makan siang.

Adalah sebuah kelegaan bahwa kami tinggal di daerah yang bebas banjir.

Kotaku resik dan lumayan berhawa segar, maklum di kaki gunung. Di
Jakarta? Pengap dan sumpek karena berbagai polusi, bising pula…

Seandainya kami pindah ke Jakarta, isi posting ini jelas akan berbeda jauh.
Biaya hidup kami sehari-hari pasti akan berlipat ganda. Mungkin setiap
hari suamiku harus berangkat ke kantor subuh dan pulang selepas Isya.
Bagus kalau tak terjebak macet atau banjir.
Dan manalah bisa suami pulang ke rumah untuk makan siang?
Suatu ketika, linimasaku di media burung mungil berkicau itu banjir
oleh kicauan dari temanku ini.
“…gilaaa…. banjir di mana-mana…ampunnnnn dehhh…”
“…macet…cet…cet…. nggaak gerak sama sekali…”
“…matiihhh guee…. macetnya nggak nahaaann…kebelet pipiss nihhh….”
“….orang-orang pada gila! Frustrated semua! Klakson sahut-sahutan,
jelas mandeg gini, emang mau terbang?”

Di saat lain, ia berkicau lagi.
“…  edyaaannn…. Jakarta panasnya nggak nahaaannnnn…!!!”.
“… dasar sopir gobl*k!! nekat nerobos, nyerempet Avanz*, jadi rame
deh tuh adu mulut nggak mau ngalah…”
“…lalu lintas semrawut gini… macet gila… bakal telat deh meeting
sama boss anu…. huaaaa…!!”

Aku di kota kecil yang “nggak ada apa-apanya” ini, tak tahu harus
tersenyum atau terenyuh. Yang aku tahu, aku harus mengikat jempolku
erat-erat, supaya nggak gatel membalas berkicau “iyaa… di Jakarta
semuanya adaaa…. lengkap dari banjir, polusi dan macet, selamat
menikmati… hidup kota cilik!”  Eh…

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

18 Responses to Kota kecil, apa peranmu?

  1. niqué says:

    cita2ku klo sudah tak laku lagi daganganku di Jakarta, justru pindah ke kota kecil mbak …
    di Jakarta memang semua ada, tapi yaaaa banyak juga minusnya
    sekarang ini di Jakarta lebih karena emang ladangnya di sini hehehe
    aku malah ngiri sama mbak Nana, hehehe tapi pasti gak mau tukeran toooh😀

    • nanaharmanto says:

      Jakarta memang gemerlapnya “menyilaukan” ya Nique…
      orang-orang berlomba datang ke Jakarta untuk bekerja. Beberapa orang juga sangat bangga kalau sudah berlabel “rumah di Jakarta, kuliah/kerja di Jakarta”. yah, mau gimana lagi…
      Orang yang udah nyaman dan mendapatkan segalanya di ibukota rasanya enggan ninggalin Jakarta deh…

      aku kalau disuruh balik ke Jakarta juga pasti mikir2 lagi deh… paling nggak nunggu Jakarta jadi lebih baik dulu deh setelah dipimpin Jokowi-Ahok… #lahh… jadi ngomongin Jokowi-Ahok deh…😀

  2. Arman says:

    ya sebenernya tinggal dimanapun juga, pasti ada plus ada minusnya ya na…🙂

    • nanaharmanto says:

      iya bener Man…pasti ada enak dan nggak enaknya…
      aku nggak memungkiri fakta bahwa aku pernah tinggal di Jakarta, pernah jadi korban kemacetan dan banjir juga.. tapi aku juga nggak mau munafik, saat itu aku enjoy dan seneng-seneng aja hidup di Jakarta th 2002-2007.

      tapi… kalau sekarang-sekarang ini aku (sedang) nggak kepengen balik tinggal di Jakarta lagi. Kalau ibukota sudah lebih humanis dan “manis” barangkali aku nggak terlalu keberatan kalau harus pindah ke Jakarta…

  3. DV says:

    Waktu masi tinggal di Jogja, inginku membayangkan Sydney itu semegah Jakarta. Tapi setelah pindah kemari, Sydney ternyata tak lebih luas dari separo kota Jogja!

    Dua taon berlalu, aku memilih untuk pindah ke pinggiran kota dengan penduduk yang sangat sedikit dan kantor yang puji Tuhan tak terlalu jauh dari rumah.

    Seminggu sekali saja kami menikmati Sydney setiap akhir pekan. Dan di saat-saat itu, aku mendadak sering jadi nggak kerasan dan pengen cepet-cepet ‘get off’ dari city dan balik ke rumah.

    Hidup ini perkara menikmati dan bukan dinikmati, Na.
    Kita yang menentukan apa yang patut kita dapat, bukan sekitar yang menentukan apa yang kita dapat🙂

    Hidup kota kecil!

    *eh iya, walaupun misal aku harus balik ke Indonesia, akupun tak mau tinggal di Jogja. Barangkali tetap di sekitar Jogja tapi kawasan lereng merapi lebih menyenangkan sepertinya :p

    • nanaharmanto says:

      Aku membayangkan Sydney itu kota gede banget je.. ternyata enggak to? Mungkin karena aku ngeliatnya secuil-secuil dari TV, peta dan internet kali ya..

      Aku suka komentarmu: hidup ini perkara menikmati dan bukan dinikmati… kita yang menentukan apa yang patut kita dapat, bukan sekitar yang menentukan apa yang kita dapat… mirip kata-kata Ajahn Brahms… 🙂

      Tentang Jogja… aku pengen juga suatu saat balik ke Jogja tapi juga bukan di tengah kota, mungkin sedikit menepi ke arah kidul.. kalau kangen lereng merapi tinggal nenepi ke Muntilan😀

    • nh18 says:

      Saya suka kata-katanya DV :
      “Hidup ini perkara menikmati dan bukan dinikmati, Na.
      Kita yang menentukan apa yang patut kita dapat, bukan sekitar yang menentukan apa yang kita dapat … ”

      Mantep !

  4. nh18 says:

    Kotamu dan Bro itu bukan kota kecil Na … hehehe …
    Dan lagi kalo mau liat mall … tinggal drive “sak nyu-an” … sudah sampe ke pusatnya mode Indonesia kan ??? (sak nyu-an itu bisa satu dua atau tiga jam … )🙂

    Puji Allah … bisa kembali ke Jawa ya Na …
    Yang jelas … saya rasa … yang namanya enak atau tidak enak itu adanya di Hati …

    Saya menunggu postingan tentang … bordir … klompen … payung … nih (qiqiqiqi)

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      hehehehe… Oh, kota kami itu termasuk gede ya Om?
      beberapa kali saya ikut suami ke kota yang “sak nyuk an” itu, Om… lumayan buat ganti suasana, Om…

  5. krismariana says:

    sik… sik … aku mbayangke kowe jingkrak-jingkrak selama beberapa hari. piye kuwi yo? hehehe.

    aku kini membayangkanmu leyeh-leyeh di lereng gunung, menikmati hawa yang sejuk … wah, nyaman tenan. senang kalau kamu sudah kerasan tinggal di sana.

    mungkin benar ya, Jawa itu tanah surga. di sini bisa dibilang semua ada, harga sayur juga murah, tanahnya subur, orang-orangnya juga pasti lebih ramah.

    aku sendiri datang ke Jakarta tahun 2008. kalau kata Oni, Jakarta makin ke sini, semakin ruwet. tapi jelas, aku sudah kebagian ruwetnya. kalau mau dibilang tidak kerasan, ya memang tidak kerasan. tapi rasanya sejak pindah kontrakan ini, aku tidak sesenewen dulu. dan lagi aku sepertinya tidak terlalu hidup dalam Jakarta yang sesungguhnya. lha wong jarang pergi jauh. paling hanya ke pasar, ke gereja, kadang main ke sekitar kantornya Oni. tapi memang kalau dibilang Jakarta semua ada, ya ada. lengkap dengan banjir dan macetnya. haha. cuma, aku lebih suka kota yang biasa saja. tidak terlalu gemerlap. tapi hati tetap tenang.

    • nanaharmanto says:

      Hahahaha…Nik, aku jejingkrakan berhari-hari itu nganti horeg bumine hhehehe…
      meskipun di lereng gunung, tapi nggak terlalu berasa hidup di gunung je… pas di tengah kota sih, jadi nggak bisa liat langsung gunungnya.

      Paling enak memang di Pulau Jawa, Nik, seperti kamu bilang, sayur mayur dan buah melimpah dan murah.. how grateful I am…

      Aku ninggalin Jakarta tahun 2007. waktu itu sih aku masih bisa enjoy tinggal di sana, pernah kena imbas banjir besar tahunan itu juga. tapi kalau disuruh pindah masuk Jakarta lagi, mikir-mikir dulu deh,…hehehe.

  6. monda says:

    aku udah tinggal di banyak kota kecil….semua menyenangkan…
    bekerja di kota besar sama menyenangkan dari sisi lain…,
    yang menarik berkeliaran di kota besar itu bisa keliling datangi museum dan pameran yg di kota2ku dulu kejadian yang amat sangat langka…..(mall nggak usah masuk hitungan,karena jarang banget ngemall)
    sebaliknya di kota kecil kemana2 gampang dan dekat..juga tenang

    • nanaharmanto says:

      Saya juga suka kota kecil karena kemana-mana relatif dekat dan gampang transportnya, Kak Monda…
      Dulu di Jakarta harus berkali-kali pindah angkot/bus way untuk sampa tujuan… belum lagi kalau nyasar…😀

  7. Kikis says:

    Yach…haiiiiiiiiiiii….mbakyu….lama ndak sua …wah kisahmu mengingatkan kami ketika kami tinggal di pulau di riau kepulauan sana….aduuuuuh….jangankan mall, kendaraan roda empat aja kagak ada, kami harus pake boot kalo mau ke kota, tapi ada satu hal yang bisa kudapatkan….nyamaaaaan…tentreeeeeeeemmmm….semoga lebih kerasan di tempat baru ya mbakyu…..

  8. prih says:

    Halo Jeng Nana sesama penghuni kota kecil, selamat menikmati bumi Pasundan. Di kota kecil kami perjalanan ke tempat kerja cukup 7-10 menit, bila ingin menikmati kota besar tinggal segelindingan ban ke JOGLOSEMAR. Salam

    • nanaharmanto says:

      Halo juga Mbak Prih… tinggal di Jabar juga ya?
      smoga bisa kopdar ya kapan-kapan… 🙂
      sampai sekarang sih saya lebih enjoy dengan kota kecil… nggak sumpek…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s