Puuuu….

Di komplek rumah yang kutempati sekarang, banyaaak sekali pedagang makanan keliling. Mulai dari cilok, es campur, siomay, rujak, bakso, roti, es krim, dan masih banyak lagi.

Penjual  barang lainpun ikut hilir mudik menjajakan dagangannya. Tukang sayur, tukang gas dan galon, bahkan ada juga tukang laundry keliling.

Macam-macam cara  mereka menawarkan dagangan yang mereka bawa.

Tukang bubur ayam memukul mangkok dengan sendok, teng…teng….teng..!

Tukang siomay membunyikan bambu dipukul beradu berbunyi tok tok tok tik tok tik tok……

Tukang cilok memukul botol kosong..  ting ting ting…ting!

Tukang gorengan memukul penggorengan tek..tek..tek…

Tukang kue putu membunyikan peluit uapnya… tuiiiiiiittt…..

Penjual roti dan es krim membunyikan recordernya keras-keras…… kadang baterenya habis sehingga suara menjadi sember… dan meliuk tak indah.

Penjual bakso malang mengandalkan rekaman juga… dengan nada do mi sol do… do sol…  mi do… Bakso Malaang… Bakso Malang…. caca….marica… hey…heeeyyy… !!  *apa hubungannya coba?

Atau mereka yang mengandalkan suara.

“Sayuuuurr…!! Yuuuuuur…..! Sayur!”

“Laundry….laundry…. !! cepat jadi… !”

“Jaaakkk….. Rooojak!”

“Buuu…ah! “

“Riiiii….sooo…leeesssss……!”

Yah, aneka rupa dagangan yang mereka tawarkan, dengan macam-macam cara dan intonasi nada. Sering membuatku menolehkan kepala sekedar melihat dagangan apa yang mereka bawa.

Ada satu suara yang membuatku penasaran.

“Puuuu…..”. lalu diam… Kemudian terdengar “pu” pendek sekali lagi.

Suaranya tak lantang, tapi masih bisa terdengar.

Awalnya aku tak berminat melihat keluar. Tapi suatu kali aku tertarik melongok keluar, ketika seorang bapak tua berhenti di depan rumahku dan menawarkan dagangannya: sapu ijuk dan keset sabut kelapa. Aku menggelengkan kepala. Dan bapak itu berlalu.

“Puuuu…”.

Ah, jadi bapak itu yang bersuara “Puu…” itu.

Tubuhnya kurus renta, rambut kelabunya mengintip dari bawah topi kumalnya.  Bahunya agak terbungkuk memanggul dagangannya. Sapu ijuk, sapu lidi, keset, dan kemoceng.

Aku jadi iba… duh, hari gini… mungkin hampir tak ada yang membeli dagangannya. Rasanya tak banyak lagi yang menggunakan sapu ijuk bergagang bambu kurus. Kebanyakan memilih sapu modern berbahan plastik warna warni yang lebih awet dan tak mudah rontok..

Keset sabut kelapa… ah, maafkan aku.. rasanya aku memakai ukuranku sendiri. Sepertinya banyak yang meninggalkan keset model begini.. kalaupun masih memakainya, barang satu ini toh tetap akan dipakai selama bertahun-tahun…

Aku ingin menyapa Bapak itu, tapi mengajaknya ngobrol tanpa membeli dagangannya juga aneh.

Sapuku ada tiga, tak perlu membeli yang baru lagi. Lalu kemoceng bulu ayam… punyaku masih awet…

Aku tak memakai keset sabut kelapa…

Aku kehilangan cara untuk sekedar membeli dagangannya…

“Puuuu….”

 

Hari ini…

Sebuah sapu lidi berpindah tangan. Sapu lidi yang terbilang cukup “kurus” untuk harga enam ribu rupiah. Tak apa. Aku tak berniat menawar.

Kuberikan selembar uang. Dan bapak itu tak punya kembalian.

Biarlah. Aku tak hendak menuntut kembalian.

Ketika kutanya asalnya, bapak itu menyebutkan sebuah tempat yang lumayan jauh dari tempatku.

Membayangkan ia yang renta berjalan kaki di tengah terik mentari dan gelengan kepala orang-orang yang menolak penawaran dagangannya membuatku trenyuh…

Aku hanya bisa berharap semoga dagangan bapak itu laku. Semoga ia bahagia apapun kehidupan yang dijalaninya…

 

puu yang langsing bersanding dengan si buluk..😀

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to Puuuu….

  1. Zee says:

    Duh sedih bacanya….. kalau sudah ketemu mereka yang kerja keras mencari nafkah, rasanya berdosa kalau kita mengeluh sedikit saja dengan pekerjaan kita.

    • nanaharmanto says:

      iya ya Zee… kadang kita merasa “ditegur” ketika udah melihat hidup orang lain yang lebih susah daripada kita..

  2. marsudiyanto says:

    Meski beda cara menjajakannya, di tempat saya juga ada bapak tua yang berjalan tertatih2 membawa dagangan sapu lidinya Mbak…
    3 sapu saya jadikan 1 sehingga agak gemukan
    Dan 3 sapu itu harganya 10 ribu

    • nanaharmanto says:

      Wah… Pak Mars memberi saya ide untuk beli satu sapu bapak itu lagi untuk digabungkan dengan yang sebelumnya … matur nuwun, Pak…

  3. nh18 says:

    Semoga bapak tua itu diberi rejeki halal untuk menyambung hidupnya …

    Salam saya Na

  4. prih says:

    Keteladanan dalam bekerja tanda keberadaan diri ya Jeng, kondisi senada pada penjual tape tape manissss di tempat kami. salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s