Catatan Kecil Dari Negeri Tetangga #3

 Air…air..air.. air…

Ketika menuliskan tulisan ini, ingatanku melenting ke masa kanak-kanakku dulu, ketika dengan riang gembira aku bermain-main air. Membantu mama menyiram halaman pada sore hari yang berdebu di musim kemarau adalah kegiatan yang kusukai, karena aku bisa bermain-main air, kadang sampai basah kuyup… barulah pergi mandi.

Lalu simbah buyutku akan berseru, “Ojo ngguwang-ngguwang banyu! Banyu larang saiki!”

(jangan membuang-buang air! Air mahal sekarang)

Tinggalah Nana kecil yang terbengong tak mengerti. Apa maksudnya? mahal? Kan air nggak perlu beli? kan tinggal ambil dari sumur yang tak pernah kering?

Bahkan sering kami mengambil air dari kolam untuk menyiram halaman supaya tidak membuang-uang air bersih…. dan air terus tersedia…

****

Tiga puluh tahun berselang…

Aku berkesempatan mengunjungi Singapura. Negeri kecil ini memang menakjubkan. Setidaknya bagiku. Kunjungan singkatku yang hanya 2 hari beberapa waktu lalu, membuatku mempelajari banyak hal. Salah satunya tentang air.

Sepele ya? Tunggu dulu.

Mari melirik sejenak ke negeri singa ini. Sebuah negeri kecil di sebuah pesisir berair asin, negeri tanpa sumber air tawar yang memadai untuk menyokong kehidupan bangsanya sehingga memaksanya mengimpor 40% kebutuhan airnya dari Malaysia.

Singapura bekerja keras mengatasi kebutuhan 60% kebutuhannya akan air: 30% dari pengolahan air terpakai atau reclaimed water; 20% diperoleh dari reservoir dan daerah tangkapan  air lainnya;   penyulingan dan desalinasi air laut (yang mahal biayanya) menyumbang 10%.

Ketiga sumber inilah yang terus dioptimalkan untuk mencapai impian negeri pecinta taman ini akan target swasembada air bersih pada tahun 2060an.

Singapura menetapkan setengah dari luas daratannya sebagai area tangkapan air yang dilindungi dari alih fungsi dan pemanfaatan lahan lainnya. Singapura terus mengejar target untuk memperluas area yang dilindungi undang-undang ini.

Daerah tangkapan air ini bertujuan utama untuk menampung sebanyak mungkin air hujan yang mengguyur Singapura, -lalu memanfaatkannya semaksimal mungkin, agar jangan sampai lari sia-sia begitu saja  ke laut.

Setiap tetes air hujan diusahakan tertangkap drainase permukaan, sungai, dan reservoir, kemudian masuk kembali ke dalam instalasi pengolahan untuk diproses menjadi bahan baku air minum.

Sungai, kanal dan drainase di Singapura ini diistimewakan –karena peruntukannya memang untuk menangkap dan mengolah kembali air hujan menjadi bahan baku air minum dan supply kebutuhan rumah tangga– sehingga jaringan pengalirannya dipisahkan dari air limbah industri (waste) dan air limbah rumah tangga (used water) agar tidak tercemar.

Air “bekas” atau air yang sudah terpakai dalam kegiatan rumah tangga mengalir ke dalam Deep Tunnel Sewerage System (DTTS).

DTSS adalah jaringan pipa yang ditanam 25-50 meter di bawah tanah. Jaringan pipa sepanjang 48km ini menampung used water dan mengalirkannya ke instalasi pengolahan air limbah yang berteknologi tinggi untuk diproses dan disterilkan. Air yang telah diproses tersebut kemudian dipurifikasi lagi sesuai standar kesehatan WHO untuk menjadi air minum.

DTSS Singapura

DTSS Singapura

Foto kupinjam dari link ini.

Catatan: beberapa info kusarikan dari sini dan sini.

****

Kita harus belajar dari Singapura,-negara kecil yang “miskin” sumber daya alam… ia dikepung lautan asin tanpa pantai yang indah…

Singapura demikian mendambakan sumber mata air sendiri, tanpa harus tergantung pada negara lain. Maka dia terus bekerja keras berusaha mandiri..

Beginilah Singapura menghargai air yang didapatnya.

  1. Teknologi pemanfaatan daur ulang air hujan. Atap bangunan-bangunan di Singapura didesign untuk menampung sebanyak mungkin air hujan. Bahkan bila mungkin, setiap tetesnya!
design atap bangunan penangkap hujan, kufoto dari jendela kamar hotel..

design atap bangunan penangkap hujan, kufoto dari jendela kamar hotel..

Catatan: foto koleksi pribadi.

2. Konon, Singapura mencuci gerbong MRT hanya dari pengolahan daur ulang air hujan.

3. Singapura menyiram taman-taman kota hanya dengan tampungan air hujan.

4.  Mereka mendinginkan kota di beberapa tempat dengan uap air sejuk dari…. daur ulang air hujan!

wuuusss..! *cling   nenek gayung muncul secara mistis... jreng..jrenng!

up air sejuk… wuuusss..! *cling* nenek gayung muncul secara mistis… terreenngg!!

5. Bermain air sekaligus seminim mungkin membuang air. Misalnya nih, Sky Park… seperti kuceritakan di posting ini, Singapura yang tidak  punya pantai bagus membuat sebuah kolam renang raksasa ala pantai di ketinggian 2 meter. Dengan demikian mereka punya kolam renang berair tawar sekaligus “pantai” buatan.  Air kolam renang ini didaur ulang agar seseeeedikit mungkin air yang terpaksa dibuang.

Sky Park... kolam renang di awang-awang... cerdas memanfaatkan dan mengolah airnya

Sky Park… kolam renang di awang-awang… cerdas memanfaatkan dan mengolah airnya

6. Hiasan dan hiburan bertemakan air, juga dari air hujan…

Di mana-mana, Singapura memanfaatkan air sebagai hiasan dan hiburan.  Dari segi estetika juga “nggak main-main” lho…

Merlion

Sebenarnya konsepnya kan “hanya” air mancur saja, toh membuat jutaan wisatawan mendatanginya. Perairan sekitarnya terjaga selalu bersih dari sampah..

Patung Merlion dari jauh.. "hanya" air mancur saja, toh membuat jutaan wisatawan mendatanginya. Perairan sekitarnya terjaga selalu bersih dari sampah..

1. Patung Merlion dari jauh..

Wonder Full Show..

Mungkinkah ini “plesetan” dari kata wonderful? Pernah lihat air mancur menari di Grand Indonesia Mall? nah, konsepnya mirip itu. Hanya saja, selain menari, air mancur ini juga membentuk layar dari butiran air dilengkapi dengan film pendek dan musik berdurasi kurang lebih 15 menit. jalan ceritanya sih tidak terlalu istimewa. Tapi audio dan tata cahayanya kerennn! Pertunjukan ini ada di bagian luar sebuah mall pada jam-jam tertentu. Penonton duduk di dermaga terbuka.

wonder full show

wonder full show

Sinar laser ditembakkan dari menara Marina Bay Sands, dari atap kanopi di luar mall dan dari perairan di belakang layar air, menghasilkan tata cahaya dan efek warna yang indah untuk wonder full show ini. Kami duduk beberapa meter di depan kanopi ini dan mendongak melihat kerennya konsep teknologi terpadu ini..

sinar laser ditembakkan dari menara Marina Bay Sands dan atap kanopi di luar mall untuk wonder full sho ini. kami duduk beberapa meter di depan kanopi ini dan mendongak melihat kerennya konsep teknologi terpadu ini..

Sinar laser yang saling menembak dan memotong  menghasilkan warna-warni keren..

Mangkok Kaca Raksasa

Awalnya aku tak mengerti ketika melihat cekungan aneh ini di dalam sebuah mall.

Mangkok Raksasa, andai jadi mangkok bakso... hmm... berapa truk bakso muat di sini ya?

Mangkok Raksasa, andai jadi mangkok bakso… hmm… berapa truk bakso muat di sini ya?

Ternyata ini adalah mangkok kaca raksasa, aku nggak mengukur diameternya.. tapi lihat orang di balik mangkok itu sebagai pembanding. Ketebalan dinding mangkok ini sekira 10 cm.

Beberapa menit kemudian..

bergolak berisi air...

bergolak berisi air…kok ini

Mangkok ini terisi air dan mulai berputar searah jarum jam lalu berputar melawan arah jarum jam…  bersuara air bergolak dan “cuma diobok-obok” begitu, toh banyak yang menontonnya :D  Dan nggak ada seorang pun yang iseng bin jahil untuk melemparkan apapun ke dalamnya. mantap!

bawah mangkok raksasa, tersambung dengan kanal di sebelah kiri..

bawah mangkok raksasa, tersambung dengan kanal di sebelah kiri..

Kanal di dalam mall

kanal di tengah mall, berujung di bawah mangkok. Sayang waktu aku kesini sampan hanya tertambat karena sedang tak ada pengunjung yang menaikinya..

kanal di tengah mall, berujung di bawah mangkok. Sayang waktu aku kesini sampan hanya tertambat karena sedang tak ada pengunjung yang menaikinya..

Air berjalan (?) 

air cetek berjalan.. :D

air cetek berjalan..😀

entah apa namanya. Ini mungkin semacam tempat duduk utuk pengunjung mall. Ditengahnya, seperti genangan air tanpa makna. Tapi kalau diperhatikan, ternyata air ini berjalan pelan di atas susunan kepingan batu alam. Jangan kuatir anak kecil akan kecemplung di sini. Dalamnya hanya kurang dari 2 cm saja.😀

Dinding Air Mancur

Di bandara, dan di mall, ada beberapa dinding air mancur yang menyumbang keindahan dan kesejukan tempat-tempat tersebut.

air mancur dinding.. ada taman di dalam bandara Changi, dengan 3-4 air mancur dinding serupa.

air mancur dinding.. ada taman di dalam bandara Changi, dengan 3-4 air mancur dinding serupa.

****

Tentang Kita

Banyak pemerhati dan pecinta lingkungan yang menganjurkan untuk selalu seefisien mungkin menggunakan air. Tak sedikit pula yang mengaku berlaku sebagai sahabat alam dan keukeuh dengan perilaku “go green” –nya. Tapi ternyata banyak juga yang hanya sibuk beretorika. Masih terlalu banyak yang membiarkan air terbuang mubazir begitu saja.

Sepertinya masih sedikit yang benar-benar serius berlaku hemat-bijak-cerdas memakai air.  (ini sekaligus pengingat untukku pribadi untuk tetap berhemat air). Masih terlalu sedikit yang benar-benar menghargai air sebagai sumber kehidupan yang paling penting.

Kita tidak belajar apa-apa dari krisis air di musim kemarau… bahkan dari berlimpahnya air di musim hujan… kita kaya raya…sumber air merdeka memancar di mana-mana… kita mengabaikan air karena air begitu mudah didapat di tanah air kita.  Menimba sumur, putar keran, pencet tombol pompa listrik, air mengalir melimpah ruah.. tanpa memikirkan darimana air layak pakai itu didapat. Tanpa peduli bagaimana dan kemana air yang bekas kita pakai akan terbuang.. kita keterlaluan cueknya!

Kita seperti anak kecil yang terlalu manja karena kelimpahan materi dan mainan; yang tak pernah benar-benar peduli pada mainannya karena toh segalanya sudah tersedia begitu saja di depan mata; yang tak pernah bisa benar-benar mandiri karena tak pernah harus bersusah payah mendapatkan yang kita inginkan.

Haloo!! Kita bukan anak kecil lagi… umur kita sudah 68 tahun! Oh…oh… dan air bukanlah mainan!

Kupikir, bangsa-bangsa lain menyebutkan “homeland” untuk tanah kelahiran mereka. Hanya kita lho yang bangga menggunakan istilah “Tanah Air” sebagai negara kita, -karena kondisi negara kepulauan dan kelautan kita-, tapi ironisnya, kita justru menyia-nyiakan air yang berlimpah itu…

****

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Uncategorized and tagged , , , , , , , , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

11 Responses to Catatan Kecil Dari Negeri Tetangga #3

  1. hmmm itulah yah mbak..negara kecil tapi makmur..banyak hal perlu dicontoh …
    tapi aku pernah baca dikompas bulan lalu dari hasil survey..meskipun negara makmur tapi singapura ternyata penduduknya “level kebahagiaannya” ada di urutan bawah…jadi dikompas itu ditulis bahwa negara makmur tidak menjamin penduduknya bahagia…hmmm…ya kembali lagi kediri masing masing yah kalo soal kebahagiaan hidup ini..:)
    thanks for sharing mbak..

    • nanaharmanto says:

      Halo Mama Kinan…
      ternyata memang gitu ya, negara makmur dan modern tidak menjamin penduduknya bahagia.. teman saya di New York juga bilang gitu, banyak orang tergntung pada obat tidur untuk bisa tidur nyenyak…

      Beda sama saya banget. kalau ngantuk ya udah grokkkk aja nggak pake obat apapun hihihi

  2. marsudiyanto says:

    Karena merasa “turah2”, maka di kita sering menghambur-hamburkan segala hal, tak terkecuali air.
    Sawah juga dihambur2kan buat perumahan dan bangunan

    • nanaharmanto says:

      nah… betul Pak Mars, yang berlimpah-limpah dan turah-turah itu lantas nggak disayang-sayang… nggak dieman-eman, kalau sudah sampai pada kekurangan atau kehilanga baru deh bengak-bengok hehehe…

    • nanaharmanto says:

      nah… betul Pak Mars, yang berlimpah-limpah dan turah-turah itu lantas nggak disayang-sayang… nggak dieman-eman, kalau sudah sampai pada kekurangan atau kehilangan baru deh bengak-bengok hehehe…

  3. krismariana says:

    karena sudah kaya, makanya malah kita suka buang-buang air. (eh, ini maksudnya bukan diare loh hihi.) sebetulnya sudah saatnya kita mengolah limbah air ya. bagaimanapun, ini penting untuk masa depan kita sendiri.

    • nanaharmanto says:

      Bener Nik.. aku setuju… sudah saatnya kita mengolah air terpakai dan air limbah rumah tangga. jangan sampai terbuang mubazir begitu aja … seharusnya perusahaan daerah macam PDAM gitu jangan hanya sibuk mengupayakan air bersih doang ya… tapi juga mengolah air limbah rumah tangga… minimal menampung dan mengolah air hujan deh…

  4. prih says:

    Kunjungan singkat yang menorehkan kekaguman pengelolaan air dilanjut keprihatinan mensyukuri air berlebih di tanah air. Rasa handarbeni dipadu akal budi (penerapan iptek) yang didukung komitmen tinggi negara singa. Langkah kecil mulai skala rumah tanggapun semisal lubang resapan biopori memanen air hujan bisa dijajal. Matur nuwun Jeng Nana tlah berbagi berkah. Salam

    • nanaharmanto says:

      Sebenarnya saya agak malu lho Mbak Prih… lha untuk menyadari betapa kita kuayaaa raya dan berkelimpahan air, gratis pula di mana-mana– kok ya harus meloncat dulu ke negeri tetangga yang “miskin air” itu…

  5. Christina Tri Handayani - CPA says:

    Siapa bilang Indonesia seluruhnya kelimpahan air…
    Jeng, tak bocorin ya….
    di Indonesia bagian timur, spesifiknya di pulau Timor – NTT
    (Kupang nggonku kene termasuk di dalamnya)
    Air tergolong makhluk langka yang harus dilindungi lho…
    Setuju dengan yang dibilang si Mbah Buyut, “banyu larang” po “larang banyu ” mau kae
    Di sini musim hujan efektif cuma 2 sampe 3 bln aja,
    Sisanya musim panas n musim puanas bangeeettt di sini
    Satu hal paling menguntungkan dari situ, Setidaknya disini daerah yg paling bebas banjir.

    So orang disini harus belajar banyak nich sama negara tetangga yg minim air tapi bisa manfaaitin sebaik-baiknya, n tetap good looking.
    Ma’acih ya, tulisane siiiippp

    **** Tapi jangan sekali-kali kalian yg disitu berpikir untuk buang air di tempatku ya….

  6. nanaharmanto says:

    halo Jeng Tri…
    terima kasih apresiasinya ya… terima kasih juga udah memperkaya isi posting ini..
    Aku pernah ke Kupang, dan memang panas banget….

    aku dulu pernah KKN di daerah gunung kidul, daerah yg juga susah air…
    di kalimantan dulu juga kira-kira 1 tahun kesulitan air bersih.. jadi ya care pada masalah krisis air meski baru berhemat di tingkat rumah tangga sendiri..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s