Ke Jakarta Aku ‘Kan Kembali..

Cukup lama aku “mengabaikan” blogku ini.. karena berbagai alasan.

Awal tahun ini, aku menemukan kegiatan baru. Aku sangat enjoy dengan kegiatan ini. Koor di gereja  paroki tempat tinggalku..  dan segera saja aku terlibat di dalamnya. Ikut Latihan rutin seminggu sekali, -bila perlu ada latihan tambahan. Ikut membantu mengurus dan membereskan partitur, dan beberapa hal lainnya.

Aku menikmati kebersamaan dengan anggota koor yang lainnya. Dan di rumah.. semakin sering aku bersenandung di segala kegiatanku, sambil nyapu, ngepel, masak, dan mencuci baju… I do enjoy my new community.. I love it.

 

Lalu datang berita itu. Suamiku ditarik kembali ke kantor Jakarta..

Wahh…

Jujur, awalnya aku merasa berat harus meninggalkan kota kecil ini, meninggalkan kelompok koor,meninggalkan teman-teman baru di kota ini.

Aku masih mencoba menawar… boleh nggak sih kebijakan itu ditawar? Jangan ke Jakarta deh…

 

Terbayang semrawutnya Jakarta, gerah dan panasnya, bising dan pengap polusinya.. ruwet macetnya.. belum lagi kalau banjir besar yang melumpuhkan nadi ibukota itu.

Belum lagi memikirkan hunian yang harus kami cari.. Gampang-gampang susah mencari hunian yang nyaman dan “bersahabat” di Jakarta. Kriteria nyaman dan bersahabat itu yah, yang aman, nyaman, bebas banjir dan bebas macet.

Tapi kami harus realistis. Hampir mustahil mencari hunian impian di jantung Jakarta setara kantong kami. Semua harga rumah pasti sudah melambung mahaaall sekali.

Kami harus mencari rumah tinggal di salah satu kota satelit Jakarta: Bekasi, Tangerang, Bintaro, Serpong, Bogor… Semua daerah punya keunggulan dan kelemahan masing-masing. Ada yang didukung transportasi massal seperti kereta api listrik, feeder busway dan transjakarta. Ada yang macetnya tak terlalu parah, ada juga yang mengunggulkan sebagai kota mandiri — semuanya serba ada– dengan akses bagus.

 

Jadilah tambah kesibukanku “hunting” rumah di internet dan ngoprak-oprak menghubungi kawan-kawanku yang tinggal di Jakarta. ini PR yang harus segera diselesaikan nih…

 

Seorang kawan  merekomendasikan hunian A yang muahhhaaall..

Kawan yang lain tidak menyarankan hunian tersebut, karena macetnya gila-gilaan, lalu menyarankan hunian B.

Kawan yang lain lagi  tidak merekomendasikan hunian B  karena tak ada alternatif  transportasi lain, dan menyarankan hunian C.

Seorang lagi menyarankan hunian D yang paling begini dan begitu…

Nah… pusing? Iyaaa... hahahaha…

 

****

 

Tampaknya suamiku juga nggak tega melihat kesedihanku untuk meninggalkan kegiatan dan teman-teman baruku. Dia tahu persis bagaimana repotnya pindahan rumah (again). Dia tahu perihnya tercabut dari tempat kita sudah terlanjur “mengakar”..

Yah… pilihan hanya 2.. take it or leave it.

 

Suatu pagi kupeluk suamiku.

Don’t worry, Honey… I’m ready to move…”.

 

… and here we are …

Setelah 6 tahun meninggalkan Jakarta, kami kembali lagi…

Siap hidup di dalamnya..

Siap menghadapi setiap tantangannya…

Siap menemukan komunitas baru dan beradaptasi di dalamnya.

Semoga kami bisa menikmati setiap harmoni dan menyikapi setiap ironi di sini dengan bijak, tanpa banyak mengeluh karena toh mengeluh tak akan menolong memperbaiki keadaan.

Wherever my husband is, that’s my home..

 

****

 

Terima kasih untuk kantor suamiku *nggak boleh menyebut merek* yang telah memberi kami kesempatan keluar dari Jakarta, menikmati keindahan dan keunikan pelosok Nusantara, mengenal langsung budaya dan masakan daerahnya, mempunyai sahabat dan teman baru dari berbagai suku. Dan yang utama, kenangan dan pengalaman berlaksa-laksa!

Terima kasih… beribu terimakasih!

 

 

… ke Jakarta aku ‘kan kembali…. walaupun apa yang ‘tlah (‘kan) terjadi…

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , . Bookmark the permalink.

14 Responses to Ke Jakarta Aku ‘Kan Kembali..

  1. Imelda says:

    welcome back to jakarta. Semoga bisa lebih cepat lagi kita ketemuan ya😀
    dan satu : Wherever my husband is, that’s my home..<< ini juga prinsipku. Tapi kelihatannya suamiku yang tidak bisa berpindah dari Tokyo

    • nanaharmanto says:

      Thank you mbak Imel… nanti lebih gampang kopdar deh kita… bisa double or triple kopdar deh hahaha…
      Menurutku “A home” menyangkut masalah hati juga, nggak peduli tinggal dimana dan berapa jaraknya..

  2. nh18 says:

    Sama dengan EM di atas …
    saya sangat tersentuh dengan kata-kata … “Wherever my husband is, that’s my home.. ”

    Ini bukan bentuk kepasrahan …
    ini sebuah bentuk kecintaan dan kesetiaan …
    Bro sangat beruntung mendapatkan Nana …

    Salam saya Na
    (Saya sekarang “buta” percaturan dunia persilatan di kantor yang satu ituh …)
    (Sepertinya Bro … kurang lebih … menangani pekerjaan pertama yang dulu pernah dia handle ya Na )

    • nanaharmanto says:

      Hahahahahalloooo Om NH… lama tak berjumpa…apa kabar Om? 😀

      Suatu hari nanti kita harus kopdar ya Om.. ketemuan sama Bro juga.. untuk update berita terbaru soal kantor yang nggak boleh disebutkan itu hehehe…

      Sepertinya memang menangani pekerjaan yang mirip dengan yang pertama dulu…
      dan pasti perlu penyesuaian dengan rekan kerja baru dengan dinamika yang baru.. rada-rada mati gaya dia Om.. biasa dinamis di area.. ketemu outlet dan EO dan community, market visit.. sekarang lebih banyak di belakang meja..😀

    • edratna says:

      Waduhh…saya kena nih om…
      Soalnya suami di Bandung dan saya di Jakarta.
      Setelah pensiun, penginnya ikut suami…ehh suami malah stres lihat saya nggak kerja…
      Jadilah kerja lagi…hehehe

  3. DV says:

    Aku suka kalimatmu: Wherever my husband is, that’s my home.. Aku pernah mengalaminya dan adalah suatu kebahagiaan tak terkira dari suami yang diucapi seperti itu oleh istrinya.

    Good luck!

    • nanaharmanto says:

      Makasih DV…
      sing jelas suami juga jadi lega, lebih tenang kerjanya juga kalau tahu keluarga/ istri selalu mendukungnya..

  4. krismariana says:

    horeee! kita bisa kopdar blogger dan reuni asrama nih. masak-masak udah. trus kapan lotisan? :p *menunggu-nunggu pesta selanjutnya*

    • nanaharmanto says:

      hahahaha…. asyik bisa lebih gampang ketemuan nih… yookk masak2 meneh hehehehe…
      next agenda: lotisan hihihi…

  5. vizon says:

    Nana.. Aku sama seperti kawan yang lainnya, suka banget dengan kalimat “Wherever my husband is, that’s my home..” Sebagai seorang suami, aku sangat merasakan effect dahsyat dari kalimat tersebut.. Sungguh itu akan sangat melegakan..🙂

    Selamat memulai kembali kehidupan di ibukota ya Na..
    Selamat menemukan pengalaman-pengalaman baru lagi..

    • nanaharmanto says:

      Wah..iya ya… Uda kan harus merantau jauh dari kampung halaman… pastinya butuh dukungan Uni di manapun Uda berada ya…

  6. prih says:

    Senada sahanat-sahabat, pernyataan ‘Wherever my husband is, that’s my home.. ‘ cerminan garwa sigaraning nyawa, belahan jiwa, perekat bahagia keluarga
    Selamat bertugas di Jakarta Jeng Nana…. Koor di Paroki lingkungan yang baru pastinya senang mendapat dukungan Jeng Nana
    Salam

  7. septarius says:

    ..
    semoga betah ya Mbak, kan banyak teman di Djekartah.. hehe..
    ..

  8. edratna says:

    Ayooo Nana kopdaran…mumpung belum puasa…asal di daerah yang mudah dicapai taksi, maklum nggak bisa nyopir sendiri.
    Asal tidak tanggal 16 dan 23 Juni…..hehehe
    Sekalian ketemu Menik….
    Jadi, sekarang tinggal dimana?

    Kabar-kabari ya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s