Tentang Sebuah Lahan Kosong Yang Merana

Lahan kosong di samping rumah yang kami huni ini benar-benar merana nasibnya. Ngenes. Potongan dahan, ranting dan daun bertumpukan menjadi pemandangan yang sangat mengganggu.  

Aku mengajukan komplain tertulis kepada pengembang perumahan kami pada bulan Juni. Tampaknya tak segera ditanggapi.

Komplain kedua kuajukan setelah hampir 3 minggu tak ada reaksi, kutunjukkan pula foto. Mereka menjanjikan tanggapan dalam 3 hari kerja. Ini yang kutunjukkan pada mereka.

merana.. bulan Juli 2013

merana.. bulan Juli 2013

sisa pangkasan Juli 2013

sisa pangkasan Juli 2013

salah satu sudut, tumpukan puing bangunan ditumbuhi tanaman liar

salah satu sudut, tumpukan puing bangunan ditumbuhi tanaman liar

dalam proses oleh komplek Juli 2013

dalam proses oleh komplek Juli 2013

Menyedihkan banget kan?

Kotor, sumpek, menyebalkan. Sampah ranting, daun dan rumput bertumpukan setiap hari memberati lahan itu. Para asisten rumah sekitar seenaknya membuang sampah daun di situ, juga sampah koran, gabus dan bungkus makanan.

Aku hanya bisa menahan jengkel melihat para asisten rumah tangga itu membuang sampah di situ.

Dari para satpam komplek, kudapat berbagai tanggapan tentang sampah ini:

 1.     1. Bikin laporan ke pengembang, mengajukan komplain , nanti akan ditindaklanjuti.

2.      2. Gampang itu Bu, tinggal kabarin kami aja, nanti kami bantu panggilkan mobil box untuk mengangkut ini semua. Yaa… ibu tinggal ngasih aja mereka uang rokok.

3.      3. Ditunggu aja Bu, nanti saya bantu laporkan ke pengembang, nanti akan ditindaklanjuti tapi memang kita nggak tau kapan.. .

4.      4. Susah Bu kalau pengembang mah, lamaaa…. mending Ibu bayar mobil bak aja… ya paling kasih uang rokok deh seikhlasnya.

 

****

 

Hasil ngobrol dengan petugas pangkas taman:

Kenapa pengembangi membiarkan lahan sampai begini kotor dan terbengkalai? Seharusnya ada kontrol rutin kan? Saya takut ini menjadi sarang ular.

 

Kata petugas taman, dulu sih bersih. Waktu dia cek terakhir belum separah ini. Menurutnya, ini bukan tanggungjawabnya. Tugasnya hanya memangkas tanaman pagar yang jadi milik dan tanggung jawab pengembang. Sampah ini bukan hasil pangkasannya. Dia selalu memotong dahan dan batang bambu sepenjang 1.5 meter sehingga mudah diangkut.  

Dugaan sementara, warga perkampungan sebelah yang memotong bambu yang menjorok mengganggu perkampungan mereka. Mereka asal motong dan “diambrukin” ke dalam pagar pembatas.

Seharusnya kan begitu ada keluhan dari warga harus segera ditangani dong? Sanggahku.

Menurutnya, dia tidak bisa mengawasi tiap hari ke sini. Cakupan wilayah pengembang ini terlalu luas, dan dia hanya berani memangkas kalau ada perintah dari atasannya. Tanpa perintah dia tidak berani karena bisa disalahkan,  dan pula dia harus koordinasi dengan petugas pengangkut juga.

Ditunjuknya sampah bekas pangkasan pohon bintaro dan mangga. Ini bukan tanggungjawabnya. Ini tanggung jawab masing-masing warga. Petugas dari pengembang  hanya merawat lahan hijau di sepanjang komplek tapi pohon yang masuk halaman warga menjadi tanggungjawab masing-masing warga.

Pangkasan ini berasal dari rumah warga, jelas bekasnya. Salahnya, seenaknya saja dibuang ke sini. Mungkin  mengharap diangkut petugas sampah. Nah petugas sampah mana mau mengangkut karena tugas mereka hanya mengangkut sampah rumah tangga.

Sampah pangkasan begini beda lagi petugasnya, dengan mobil khusus. Tanpa perintah dari pengawas, mobil pengangkut tak akan datang.

 Kalau mau cepet sih Ibu panggil aja mobil bak, kasih uang rokok kek, pasti mau deh tuh ngangkut, katanya.

 

Pengawas datang, motret sana sini jepret jepret jepret… kasih perintah ini dirapiin ya.. yang sana juga..

Menurutnya, sebenarnya petugas pengangkut sudah datang minggu lalu. Tetapi ada komplain lagi dariku. Ternyata mereka salah alamat, justru mengangkut  yang depan sana.. *padahal alamat blok jelas banget lhoo.. *alasan yang terlalu dicari-cari? Entah…

 (Petugas pengangkut kudengar mengomel panjang pendek: yah kerja berat begini, mana lagi puasa begini *lah…katanya puasa… ).

 

Pak, ini nanti akan dibersihkan sampai bersih seperti semula kan?

Petugas pengangkut menjawab, mereka hanya disuruh ngangkut bagian atas-atas saja, ranting-ranting bambu, bintaro dan mangga. Tak bakal cukuplah semobil pick up begitu. Katanya sampah bawah (daun-daun), beda lagi petugasnya. Aku tinggal bilang ke pangawas kalau ingin sampah itu dibuang semua.

 

Kata Pengawas: Kalau ibu mau cepet, ya Ibu panggil aja nanti mobil bak, ya akan kami bantu lah, nanti ibu kasih uang rokok aja.

Uh, kesel rasanya mendengar itu. Heloooww!! saya baru menghuni rumah ini. Saya datang udah kayak gini, BUKAN saya yang buang sampah di sini, bukan saya yang main pangkas pohon, bukan saya yang membiarkan sampai jadi begini. Masak saya yag harus keluarkan uang untuk membereskan kekacauan yang tidak pernah saya mulai? Setahu saya, urusan pemeliharaan lahan kosong dan lahan hijau adalah tanggung jawab pengembang.

Pengawas: Ya, kasih aja Bu uang rokok seikhlasnya..

Aku sangat tak puas dengan jawaban itu dan enggan berkomentar lagi. Aku tahu, berdebat sepanjang apapun masalah tampaknya akan menggantung. Ujung-ujungnya sih jelas: DUIT!! Tapi masalahnya berapa banyak? Uang rokok? Hah! Dimana-mana “uang rokok” jadi alasan untuk minta uang. Diberi terlalu sedikit ngomel.. Terlalu banyak, jadi kebiasaan.

Apa ukuran nilai uang rokok itu? Setara sebatang rokok? Dua batang? Satu bungkus? Dua bungkus? Tidak jelas kan?

Pula, aku curiga dengan cara kerja yang setengah-setengah begitu. Kalau aku beri uang terlalu banyak tapi kerja mereka asal-asalan, Hmm… nggak rela juga dong?

Kalau aku kasih uang terlalu sedikit, siapa tau mereka  ngedumel kan?  

Serba salah. Itu kan tanggung jawab mereka, mereka digaji untuk menjaga lahan hijau tetap bersih dan hijau kan?

Kalau aku kasih uang, akan jadi kebiasaan dong! Mereka jadi nggak mau kerja kalau nggak ada duit.  Ihh… padahal mereka udah digaji kan…

Nah…nah… aku mencium gelagat beberapa oknum ini justru membuat celah agar duit bermain di situ.

Well, bakalan eskalasi nih..

 

****

Hari berikutnya aku ngobrol dengan ibu  penyapu kompleks.

Aku lihat ibu itu selalu memasukkan daun-daun ke dalam karung. Dibuang ke mana?

Kata ibu penyapu, dedaunan tidak dibuang, tapi dikumpulkan, diproses menjadi pupuk. Semua tanaman komplek dirawat menggunakan pupuk tersebut. Tugasnya hanya menyapu dan mengumpulkan dedaunan yang gugur di jalan. Sebetulnya wargalah yang menyapu halamannya sendiri, sampah daunnya dikumpulkan di depan rumah, untuk diangkutnya setiap 1-2 hari sekali.  

Sambil menunjuk tumpukan sampah di lahan kosong. “Ya kalau udah banyak gitu ya susah ngambilnya. Saya ngambil daun-daun yang rontok doang yang di jalan gini. Kalau di situ, ranting gede-gede mah bukan bagian saya”.

Setelah tukang kami melapor melihat ular di tumpukan sampah dan persis di sisi tembok luar rumah, aku jadi gusar banget. Akhirnya, aku tak tak tinggal diam.

Aku menegur baik-baik para asisten rumah tangga yang kupergoki hendak membuang sampah di lahan kosong untuk tak lagi membuang sampah di situ, karena jadi sarang nyamuk dan ular.

 “Mbak, tolong jangan buang sampah di situ lagi ya, dilarang sama pengembang.. takutnya jadi sarang ular tuh”

Sabtu sore itu, suamiku ikut menyapu daun-daun bintaro yang berserakan di depan rumah, mengumpulkannya di salah satu titik.

“Semoga ini menjadi contoh pada yang lain untuk ngumpulin daun seperti ini”, kata suamiku.

Terdengar seorang asisten rumah tangga berseru pada temannya yang juga tengah menyapu.

“Hey, nggak boleh lagi buang sampah di situ”.

“Siapa yang ngelarang?”

“iniih”

Kami mendengar hal itu tersenyum sambil terus menyapu.

 

contoh ngumpulin daun yang bak dan benar :D

contoh ngumpulin daun yang baik dan benar😀

Aku terbangun suatu pagi. Terlihat tumpukan sampah baru sudah nangkring paling atas. Jelas ini sampah baru, bunga bintaro yang dibuang masih terlihat baru dan bersih.

Aku sebal. Rupanya ada yang bergerilya pagi-pagi buta untuk tetap membuang sampah di situ.  

Aku jadi parno deh, tiap mendengar orang menyapu, aku pasti mengintip. Kalau dia bergerak ke arah lahan kosong, aku segera keluar dan melarang mereka buang di situ.

Hhmm… rasanya gatal deh pengen membakar sampah-sampah itu. Tapi mana mungkin bisa. Aturan pengembang sangat jelas: dilarang membakar sampah di dalam komplek.

 

****

Hari Minggu sekembali kami dari gereja, aku mendapati di lahan kosong sudah tertumpuk pangkasan pohon yang lumayan banyak. Daunnya masih seger ijo royo-royo. Uh, sebeelll banget rasanya. Kutegur baik-baik bapak pemangkas.

“Maaf Pak, Bapak yang membuang sisa pangkasan di sana? Tolong diambil kembali ya Pak”.

Bapak itu menunjukkan rasa tak suka dan memprotes. Kan begini begono bla..bla..bla…

Dan kujawab dengan sopan bahwa tempat itu bukan tempat sampah umum, bahwa petugas dari pengembang tidak akan mengangkut sampah disitu tanpa duit. Bahwa aku sudah lama komplain dan sampah tak juga diangkut.

“Jadi saya buang di mana dong?”

“Kalau Bapak mau, saya punya karung, tinggal aja di dekat tempat sampah ini, besok ibu penyapu akan ambil. Terima kasih ya Pak, maaf saya tegur begini, biar sama-sama enak.. “.

Tak berapa lama bapak itu memungut kembali sampah pangkasan dari lahan kosong.

Horeee!! berhasil! Tegur halus, kasih solusi! It works…!😀

Plok…plok… plok…

Etapiii… lahan itu masih merana…

 

beda tipis.. Agustus 2013

beda tipis.. kondisi terakhir Agustus 2013

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Intermezo and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Tentang Sebuah Lahan Kosong Yang Merana

  1. nyonyasepatu says:

    Nakal bgt ya tapi emang gt mba nasib tanah2 kosong itu huhu. Sedih deh

    • nanaharmanto says:

      Iya… nasib tanah-tanah kosong selalu menyedihkan, ditumbuhi rumput dan tanaman liar atau jadi tempat buangan sampah. hiks…

  2. nh18 says:

    Pertanyaan saya …
    Lahan kosong itu apakah ada pemiliknya ?

    Kalau di tempat saya … lahan kosong itu harus didaftar pemiliknya siapa …
    tetap membayar uang kebersihan dan keamanan … (walaupun besarnya berbeda)

    dan kalau lahan itu sudah bala/kotor penuh dedaunan … pemilik bertanggung jawab untuk membersihkannya … dan merapikannya …

    Dan sebaliknya kalau ada tetangga kiri kanan yang mau macem-macem …. pasti di sikat sama satpamnya …
    Dulu malah pernah ada yang coba-coba buang sampah di lahan kosong … ada yang motret … langsung aplod di milis … pembantu kena tegur … majikan malu … hehehe

    Salam saya Nana

    • nanaharmanto says:

      Dear Om NH,
      lahan itu memang kavling “mati” yang oleh komplek dikhususkan untuk ruang/lahan hijau, sehingga ada larangan untuk mendirikan bangunan permanen atau semen lainnya (mis lapangan). Seharusnya menjadi tanggung jawab komplek, tapi dari beberapa kesaksian tetangga, lahan ini memang jadi “anak tiri”, kurang diperhatikan dan akhirnya terbengkalai dan jorok karena orang membuang sampah disitu. Nah, disini terjadi cerita saling melempar tanggung jawab. Nah, sebagai warga baru, kami kebagian paitnya doang; nggak tau asal mula cerita dan pelakunya, eh tiba-tiba makbedunduk dapat nangka busuk…😀

      Kayaknya idenya bisa juga tuh Om… potret oknum yang buang sampah, upload di milis ..
      Sepertinya memang harus ada reminding untuk segenap warga dan satpam untuk saling mengingatkan agar tidak buang sampah sembarangan.

      salam hangat,
      nana

  3. monda says:

    di dekat rumah juga ada rumah kosong udah mau ambruk, halamannya cukup luas yg punya hanya datang sekali …, sempat dijadikan tempat sampah oleh warga, akhirnya dibuat pagar bambu di situ sama tetangga terdekat, dibersihkan sama tetangga lain lagi, dan kami mulai tanam pohon aja di situ.., sebagian disemen buat parkir.., entah yg punya siapa, developer ditanyain nggak tau

  4. Arman says:

    ya ampun.. ya repot ya na kalo pada gak ada yang peduli gitu. padahal kalo ntar sampahnya numpuk disitu dan jadi sarang nyamuk, apalagi ular, kan para penghuni sana yang bakal repot juga ya…

  5. krismariana says:

    weleh, tak kira kalau sudah di kompleks begitu, urusan lebih gampang. tinggal lapor pengembang, beres. tapi ternyata enggak ya. apalagi itu kompleks besar kan? (seingatku…)

  6. Pingback: A Never Ending Story | sejutakatanana

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s