A Never Ending Story

Lama sekali kuabaikan blog ini.. nyaris lumutan!

Hampir satu tahun ini kami pindah rumah. Selesai dengan segala kerepotan pindahan, ternyata adaaaa aja hal-hal kecil yang menyita perhatian.

Salah satunya adalah lahan kosong disamping rumah yang tak berempu, yang pernah kutulis beberapa waktu lalu di sini

Awal kami pindah disini, lahan kosong ini benar-benar terbengkalai. Kotor penuh tumpukan sampah. Tidak ada yang peduli.

Aku panggil tukang untuk membersihkan lahan ini, menjadi ruang terbuka hijau yang layak. Aku meletakkan beberapa pot disana agar orang tahu bahwa lahan kosong ini memang dirawat dan seterusnya diinginkan terawat baik dan bersih.

Untuk sesaat kami bisa bernafas lega. Setidaknya lahan samping tak menjadi sarang nyamuk dan ular.

Sayang seribu sayang, tetangga kampung sebelah kembali berulah. Dia menebang pohon bambu yang tumbuh di bagian dalam komplek kami. Alasannya daun bambunya mengotori lahan mereka. Heloooww… puun nangka mereka juga mengotori lahan di dalam komplek, dan toh kami tak meributkan hal itu.. please…!!

Pendeknya, warga kampung sebelah memotong bambu dengan semena-mena, nggak pakai estetika, serampangan. Pokoknya tebang dan ambrukin ke dalam komplek. Sisa urusan, meneetehe…

Aduh, jujur aku kesal sekali. Kerja keras membersihkan lahan ini pakai tenaga dan uang yang nggak sedikit dan tiba-tiba keadaan berubah seperti semula lagi.  Pot-potku diambrukin batang-batang bambu. Sampah menumpuk lagi.

Ini memang kisah tak berujung. Lagi-lagi komplain kami tak segera ditanggapi. Aku sudah melapor ke satpam berkali-kali dan ke RW.

Nyatanya? Tukang angkut taman tak mau mengangkutnya. Alasannya? Klise! Itu bukan hasil kerjaan mereka!

Konyol sekali.

Aku bayar Iuran Pemeliharaan Lingkungan dan apa yang kudapat?

2 kali si abang petugas taman berjanji akan mengangkut sampah itu tapi ia ingkar. Katanya akan diangkut besok. Kali kedua,dia janjikan hari Minggu pasti diangkut.

Nol besar. Sampah bambu tak juga diangkut. Dari RW kudapat jawaban: yah, ini sih memang never ending story, Bu…

Oho! Dari gelagatnya, petugas pengangkut sampah taman minta uang untuk pembersihan itu. Aku keberatan untuk memberi mereka uang. Mereka sudah digaji, dan ini tugas mereka. Dan ini lahan milik pengembang, bukan property pribadi kami. Tanggung jawab pemeliharaan seharusnya menjadi kewajiban pengembang.

Aku pernah memberi mereka uang, dan mereka mengangkut sekedarnya, sama sekali jauhh dari tuntas membersihkannya.

Aku kapok memberi mereka uang karena hanya dongkol yag kudapat. Masih mending kukasih uang dan mereka kerja bener. Kalau sudah dikasih uang dan mereka kerja asal-asalan, nggak rela dong??

 

Sampah bambu sedari ijo royo-royo, hingga rontok dan separuh membusuk tetap teronggok disitu. Setiap melihat ke arah itu, aku jadi jengkel.

Pertama, kotor kan, jadi sarang nyamuk dan ular. Alasan kedua, janji yang tidak ditepati itu.

Alasan ketiga, dengan menumpuknya sampah begitu, kami tidak bisa menapak berdiri dengan nyaman dan aman untuk membersikan dan menyiangi daun dan ranting bambu yang tubuh terlalu liar dan lebat.

Petugas taman juga seharusnya bertugas menyiangi dan memangkas bambu yang sudah lebat. Tapi menunggu mereka beraksi hampir sama saja dengan menunggu bang Thoyib pulang! Hahahaha… *hiperbolis sangat..

Jadi sebelum tumbuh terlalu liar, aku dan suamiku memutuskan untuk merapikan sendiri bambu-bambu itu. Inilah salah satu kegiatan rutin kami di akhir pekan.

Kegiatan kami ini akhirnya juga berhenti karena tumpukan sampah menyebalkan itu.

Gegara tumpukan sampah bambu itu pula, petugas pemotong rumput enggan memotong rumput di area itu, sehingga rumput pun tumbuh subur. Ruwet..terulang lagi dan lagi dengan kisah yang sama.

 

 ****

2 orang baru yang kumintai tolong membersihkan sampah itupun ternyata “muntaber” mundur tanpa berita saking udah nggak karuan sampah bambu itu.

Dan yang membuatku benar-benar naik pitam adalah orang-orang mengira itu tempat sampah umum. Kok ya ada yang tega membuang botol plastik, styrofoam dan kardus bekas makanan disitu.

THAT’S ENOUGH!

 

Kuputuskan aku yang harus turun tangan sendiri. Suamiku membantuku di saat akhir pekan, dan aku berterimakasih padanya. Kubersihkan sampah itu sedikit demi sedikit setiap hari. Kumasukkan ke kantong sampah hitam besar dan kutitip-buangkan di tempat sampah rumahtangga .

Caraku ini salah, karena seharusnya sampah taman adalah “sampah hijau” yang akan diolah lagi menjadi pupuk. Tapi kalau petugas pengangkut sampah taman tak peduli, lalu??

Setiap kali kulihat petugas sampah rumahtangga mengangkut sampah “ilegal” itu hihihi… aku memberinya sebungkus rokok atau uang sekedarnya.

Aku sudah pundung bin mutung terhadap petugas pengangkut sampah taman. Nggak mau ada urusan lagi.

Toh, aku pernah mendapati kerja mereka yang setengah-setengah. Mereka memangkas bambu dan hasil pangkasan itu mereka tinggal begitu saja, dan yang dipangkas hanya 3 rumpun dari sekitar 10 rumpun di tembok pembatas komplek itu. Benar-benar asal-asalan.

 

Beberapa kali tangan kami terluka kecil saat membersihkan bambu-bambu itu. Perih memang, tapi jadi semacam candu setelah melihat hasil kerja kami hehehe…

Ada juga kejadian lucu saat aku memangkas dengan gunting rumput besar. Gunting sudah menganga saat kulihat ranting bambu muda bulat sebesar sumpit, berwarna hijau bersih dan bagusss sekali warnanya. Rasanya kok sayang ya memangkasnya… kuamati ranting hijau menawan itu, lalu kusadari ternyata itu adalah ular bambu seukuran 20cm yang berbaring diam-diam menyatu dengan ranting bambu.

Kubilang pada suamiku, lalu dengan satu anggukan.. kerja kami bubaarrr! Huahahaha..

Lalu aku bisa mengerti kenapa warga sebelah begitu gusar karena masalah bambu gondrong ini. Yah, mereka juga pasti nggak mau tinggal berdekatan dengan rumpun bambu yang mungkin jadi sarang ular..

Menurutku nih, masalah pemangkasan liar oleh warga kampung sebelah nggak akan terjadi kalau petugas pemangkas rutin memangkas rapi. Kemudian petugas pengangkut juga langsung bekerja tanpa menunda-nunda lagi.

Kami memutuskan untuk memotong rumpun bambu menjadi pendek, agar lebih mudah merapikannya di kemudian hari sebelum ia menjulang terlalu tinggi dan mengganggu warga sebelah.

Jika nanti kami ditegur pihak pengelola karena memotong bambu terlalu pendek (bambu ini dimaksudkan untuk pagar hidup, mencegah orang luar masuk lompat tembok), yah, kami punya foto-foto pembiaran lahan kosong ini berikut masalah yang muter-muter begitu-begitu terus..

Ah, pengen segera Sabtu! Terjun ke kebun sebelah… ! 😀

 

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , . Bookmark the permalink.

8 Responses to A Never Ending Story

  1. clararch02 says:

    Mba Nana rajin banget sih, hehe.. padahal itu tanggung jawab bersama ya? Beruntung deh pak RTnya punya warga kaya Mba Nana dan Broneo hihihi

    • nanaharmanto says:

      Lahan terbuka hijau tanggung jawab pengembang, Clara… lahan itu tidak boleh dimiliki /dibeli perorangan, dan tidak boleh didirikan bangunan apapun.. Boleh dimanfaatkan untuk penghijauan/taman bermain tapi tidak boleh disemen.

      Seharusnya pemeliharaan rutin oleh petugas khusus dari pengembang. Tapi faktanya memang nunggu petugas datang serupa dengan nunggu bang Thoyib pulang hahaha….
      Padahal kami gak pernah telat bayar Iuran Pemeliharaan Lingkungan lho..

  2. nh18 says:

    ular bambu seukuran 20cm yang berbaring diam-diam
    Aadduuhhhh … yang seperti ini yang seram ya Na …
    saya tidak tau apa ini berbisa atau tidak … tetapi tetap saja membuat begidig …

    Semoga didapat solusi yang baik

    Salam saya

    (20/3 : 8)

    • nanaharmanto says:

      Iya Om… biar pun kecil (dan cantik loh Om😀 ) tetep aja ular…hiyyy…
      konon ular jenis ini memang ukurannya kecil, dan pintar sekali berkamuflase di rumpun bambu.
      Katanya sih tidak berbisa, tapi teuteup saya pilih menghindar jauh-jah dari mahluk satu ini… dan sebisa mungkin tinggal di lahan yang bersih dan rapi..

      salam hangat, Om NH… )

  3. prih says:

    Jeng Nana, bila warga sekompleks yang relatif ciut saja sulit menyatukan hati untuk masalah kebersihan lingkungan, apalagi untuk lingkup makro ya. Apresiasi untuk kerja keras Jeng Nana dan suami, semoga ada pemecahan masalah yang baik.
    Eh istilah muntaber, mundur tanpa beritanya siip.
    Salam

    • nanaharmanto says:

      Terima kasih atensinya ya Mbak Prih…
      ya mungkin ini sifat penghuni kompleks yang notabene hanya punya lahan taman kecil di depan rumah, maka hanya secuil lahan itu saja yang menjadi perhatian..

      Untuk penghuni rumah pojok/berbatasan dengan lahan terbuka hijau, memang dari dulu sampai sekarang sering komplain masalah rumpun bambu yang terlambat dipangkas petugas pengembang. Akibatnya sampah rontokan daun bambu menggunung, ranting-ranting bambu juga merimbun.. ular pasti betah banget di lingkungan seperti itu, bahkan beberapa kali ditemukan ular yang terlihat masuk halaman dan rumah warga. ini yang serem…

      hehehe…istilah muntaber saya denger dari Mama saya… hihihi…

  4. krismariana says:

    Wah, bener-bener “never ending story” ya, Na? Bisa dijadikan bahan novel hihihi.

    • nanaharmanto says:

      Aku wes bertekad sebisa mungkin ga tergantung sama “bang Thoyib”, Nik… tiap weekend sebisa mungkin ngerapiin bambu2 itu.. sekarang masih ada PR 2-3 rumpun lagi yg masih gondrong..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s