Coklit

Salah judulkah? Maksudnya coklat?
Atau singkatan coklat didulit?

Hahaha… enggak … memang itulah istilahnya: COKLIT.
Sebenarnya ini kisah lama, setahun lalu tepatnya, ketika aku harus memperpanjang KTP-ku. Jadilah aku pulang ke Yogya khusus untuk keperluan ini 2 minggu sebelum jatuh tempo.
“Cepet, kok… langsung jadi di kecamatan”, begitu kata suamiku.


Seperti biasa, urusannya dimulai dengan minta surat pengantar dari RT/RW, lalu ke kelurahan dan kecamatan. Tak ada masalah hingga di kelurahan.
Sampai di kantor kecamatan, jreeenngg….!! ketahuan kalau dataku diblokir!
Hah? Kok bisa? Kaget, bingung, blank….

Setahuku data seseorang akan tercatat tidak aktif jika orang tersebut sudah almarhum, dengan demikian datanya tidak akan bisa disalahgunakan pihak yang tidak bertanggung jawab.
Lha ini jelas-jelas aku masih segar bugar nan kinyis-kinyis je..
Petugas kecamatan mengatakan bahwa aku kena “COKLIT” . Baru kali ini kudengar istilah ini, sampai aku harus bertanya ulang. Ibu petugas menjelaskan bahwa mungkin saja aku sudah punya KTP di tempat lain. Kujawab bahwa aku tidak punya KTP ganda di manapun juga. Ibu petugas menambahkan bahwa kecamatan pun tidak bisa –dan tidak berhak untuk mengaktifkan data yang terblokir.
Yang harus kulakukan adalah mendatangi ketua RT lagi, minta surat pengantar untuk mengaktifkan dataku di pusat Catatan Sipil dan Kependudukan di kantor provinsi. Ya ampuun… masalah apa pula ini sampai rumit begini?
Lantas aku bertanya lagi, “Coklit itu apa, Bu?”
Jawab ibu petugas, “Ya begini ini, data Ibu terblokir, sebabnya kenapa diblokir kami tidak bisa tahu. Bagaimana pemblokiran bisa terjadi, ya pasti karena adanya laporan dari RT/RW..”.
OK. Dataku terblokir. Tapi pertanyaanku coklit itu apa tidak terjawab.
Aku pulang dengan masgyul… terus memikirkan istilah baru ini.
Saking penasarannya, sampai dirumah aku segera mencari istilah coklit. Nggak ketemu. Apakah istilah Inggris dengan pengucapan salah dengan lokal Jawa medok? Di kamus bahasa Inggris kucari, tak ketemu juga!
Ah… aku benci tidur malam ini dengan membawa persoalan yang belum tuntas..

 

****

Kembali aku menemui Pak RT dan kusampaikan masalahku.
Aku bertanya apa itu coklit. Pak RT inilah yang akhirnya menjelaskan padaku dengan sabar.
Coklit adalah PENCOCOKAN DAN PENELITIAN.
“Oooooo…..” panjang dari mulutku. Bebas tidur deh malam ini. Hihihi…
Bagaimana dataku bisa diblokir, ini alasannya.
1. Bisa jadi karena aku punya KTP ganda
Hal ini kusanggah. Aku pindah dari tempat kelahiranku secara resmi, untuk mendapat KTP Yogya, dengan demikian KTP Magelang sudah dicoret/dicabut. Jadi KTP-ku tetap satu.

2. KTP-ku tercatat aktif di tempat lain.
Naah… ini dia! Aku pernah kena sensus sewaktu tinggal di Sulawesi Selatan, KTP-ku dicatat petugas sensus. Tak berapa lama, aku pindah ke Jawa Barat, dan kena sensus lagi! KTP-ku dicatat lagi. Rupanya, ini yang terjadi. Dengan sistem menuju e-KTP, semua data warga negara terpusat dan terkoordinasi secara sistematis yang memudahkan para petugas mendata dan meneliti jangan sampai seorang warga mempunyai dua atau lebih identitas. Nah, dengan adanya sistem PENCOCOKAN DAN PENELITIAN inilah bisa diketahui KTP-ku aktif secara bersamaan di 3 tempat berbeda yang secara jarak berjauhan. Untuk menghindari kemungkinan dataku dipakai orang lain untuk tujuan penipuan, terorisme dan penghimpunan suara tidak sah (terkait pemilihan umum), maka dataku di pusat (Yogya) segera diblokir..
Lantas, kok data suamiku tidak diblokir juga? Mungkin karena coklit ini baru efektif sejak Januari 2013, sementara suamiku memperpanjang KTP-nya akhir 2012.
Beda sebulan doang, urusan bisa pening yah… hihihi..
3. Aku tidak aktif di tempat asal

Wahh… malunya.. hihihi… ketahuan kalau aku ber-KTP Yogya tapi tidak berdomisili di Yogya. Setiap kali ada kegiatan dari kelurahan/kecamatan, dan pemilihan umum, surat undangan atas namaku tidak pernah kembali, artinya aku tidak menggunakan hak pilihku dan dianggap aku tidak aktif (baca: tidak berdomisili di Yogya). Dalam 6 bulan jika seseorang terdeteksi tidak aktif, -dan kebetulan pula terbukti pada saat sensus- maka data yang bersangkutan segera diblokir.

Nah, karena alasan ke 3 itulah, aku dan suamiku sepakat untuk mudik sewaktu coblosan pilihan legislatif 9 April kemarin.

“Walah… segitunya sampai perlu mudik segala? Lha wong coblosan untuk milih orang yang nggak kita “kenal” gitu kok…”

“Kenapa repot-repot milih untuk “mengantarkan” orang duduk di kursi empuk makan gaji buta?”

“Getol amat? Toh kamu juga beberapa kali golput kan?”

Begitulah tanggapan orang-orang yang tahu kami mudik kemarin.
Yah, kami nggak mikir ke situ lagi deh. Yang utama sih agar kami terlihat “aktif” di tempat asal, menggunakan hak pilih, dan KTP kami nggak diblokir lagi.. . Repot deh kalau tiap kali harus menjelaskan..

bukti ... :D

bukti …😀

Mudik lagi untuk pilpres 9 Juli.. yuukk milih cerdas dan tepat, biar satu putaran doang, irit duit negara milyaran/trilyunan rupiah lhoo..  *kode*

****

Sewaktu mengurus di kantor Catatan Sipil dan Kependudukan, aku bertemu petugas yang keukeuh mengatakan yang bisa mengaktifkan data adalah kepala dinas yang kebetulan sedang tidak ada di tempat. Padahal ya, aku datang jam 8 pagi, berharap bisa segera selesai segala urusan blokir ini.
Tanpa tanda tangan beliau, dataku tidak bisa diaktifkan. Datang lagi besok!

Uh.. Bukan Nana namanya kalau nggak ngeyel mendebat bapak yang berwajah jemu dan lebih ingkul dengan talipong bimbitnya itu.
Kukatakan aku sengaja datang awal di jam kerja berharap mendapatan pelayanan segera, pula adakah jaminan pasti kepala dinas ada di tempat besok? Terlebih aku harus kembali ke Jakarta besok.

Bapak itu berkeras bahwa formulir yang kuisi harus ditandatangani kepala dinas sendiri.
Melihatku tak bergeming, bapak itu sedikit mengalah. Coba Ibu naik ke atas, tanyakan pada petugas di sana.
Aku naik ke atas, ke ruang tempat aku mendaftar untuk proses e-KTP dulu. Mbak yang bertugas menyambutku. Kuutarakan maksudku. Dimintanya KTP-ku, beserta surat pengantar dari RT.
Mbak itu membuka data di komputer, ketik beberapa tuts keyboard, lalu menulis sesuatu di pengantar tersebut. Tertulis: data sudah aktif, -paraf.

“Sudah, selesai Bu, sekarang Ibu kembali ke kecamatan untuk mendapat KTP baru”.
Aku bengong. Hah? Bener nih? Udah selesai? Hanya 2 menit kurang!
Aku berterima kasih dan segera pulang. Lahhh… dengan bapak tadi ngeyel 20 menit! Tau gitu langsung deh…

Segera aku ke kecamatan, dan tak sampai 10 menit, KTP-ku sudah jadi.. yuhuu…!!
Semoga nggak kena coklit lagi deh… rempong sangaad..

Anda pernah punya pengalaman serupa?
Yukk berbagi…

 

 

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

12 Responses to Coklit

  1. nh18 says:

    Bapak yang ingkul dengan talipong bimbit itu … ???
    Produk kedaluarsa …
    casingnya bisa masa kini … tapi softwarenya jaman dulu …
    (melu gemes aku …)(dimejanya pasti ada kopi yang bubuknya luber-luber di gelas … di lepeknya ada kulit kacang … dan puntung rokok )(di jarinya ada akik tipe “kecubung”)(giginya ada satu terbuat dari emas)
    (ada papan nama kayu di meja … doktorandus … nganu sunganu)

    Hahahah

    Salam saya Nana

    (16/4 : 9)

    • nanaharmanto says:

      hahaha…. komentar Om NH malah bikin saya terbahak-bahak… ah, pokoknya ndk profesional babar blas deh Om.. hihihi…
      sepertinya memang pakai cincin akik yg agujubile itu deh Om…😀

      salam hangat, Om..

  2. Arman says:

    Waduh jadi kalo kayak gw yg tinggal di luar negeri bisa2 kena coklit juga dong ya na?

  3. MS says:

    meski merepotkan ternyata sistem pengamanan dengan moel eKTP yang pakai nomor induk kependudukan ini sudah jalan ya

    • nanaharmanto says:

      Iya Kak, sistem NIK udah jalan. Memang kesannya “merepotkan” tapi salut deh, negara kita mau berbenah ke arah yang lebih baik.. semoga setiap warna negara hanya punya satu KTP aja dan berlaku secara nasional, jadi nggak perlu lagi membuat KTP ke 2 di daerah domisili baru.

      Berkali-kali kita kecolongan… terduga teroris X punya nama alias dan KTP palsu samai 3 atau 4. Semoga data dengan rekam sidik jari dan kornea mata bisa menghambat adanya KTP dan identitas palsu..

  4. clararch02 says:

    Bapak RT kami malah ngambek sama suami karena mereka minta amplop tapi suamiku ga kasih.. parah banget.. untuk di kelurahan orang-orangnya baik-baik aja..

  5. prih says:

    walah tidak aktif di alamat asal bisa dihadiahi COKLIT ya Jeng Nana, segera cawe2 tuk 2 jagoan yang boro dengan KTP rumah nih.
    Manggut2 dengan jawab Jeng Nana atas komen mBak Monda, sedang berbenah menuju perbaikan.
    Salam

  6. Ch. Nissa says:

    Uring2an gara2 anakku yg batu umur 13 bulan kena coklit. Kok bisa, pdhsl udah maduk kk sejak baru lshir itu. Aneh mba

  7. Ughnie AL Kaafie says:

    Makasih skrang q udah ngerti pa thu COKLIT!

  8. Danny says:

    Bener2 rempong banget kalo kena coklit.. Sakitnya tuh di sini..di otak! Bikin pussiiing.. Gw jg kmrn lusa kena coklit waktu perpanjang KTP..
    Disuruh buka blokiran di kantor walikota jakarta timur. Jauhnyee.. Pdhl gw tinggal di Cijantung.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s