The Last Dance

Dulu waktu aku masih kanak-kanak, Bude kami yang saat itu tinggal bersama kami, sering mengajari kami menari dan menyanyi. Sungguh-sungguh menari dan menyanyi dalam arti sesungguhnya, karena saat itu tak ada alat musik atau kaset yang mengiringi, jadi kami menggunakan nyanyian untuk kami menari.
Apapun lagunya, apapun tariannya, yang penting kami bergerak dan bergembira ria.
Ini sepotong lagu yang masih kuingat.

Tari menari, tari tempurung,
Tempurung berdetak-detak…

Lalu kami menamburkan batok kelapa di tangan kami sekeras-kerasnya. Prok!! Prok!!
Hahaha…itulah bagian yang paling kusuka.
Gerakan kami sangat sederhana, berputar membentuk lingkaran kecil dengan kaki menapak sepatah-sepatatah dan berjingkat, lalu tangan menepuk-nepukkan batok di kedua tangan kami. Lagu berganti menjadi lagu lain dan gerakan pun bertambah: menamburkan tempurung di atas kepala dan di belakang punggung kami.. prok..prok…prok..

Aku dan kakakku punya payung kecil. Merah milikku, jingga milik kakakku. Dengan kedua payung itu Bude mengajari kami menari payung. Tentu saja dengan irama nyanyian dari mulut kami. Payung dibuka, ditutup, lalu dibuka lagi. Diputar-putar gagangnya, lalu digerakkan dari sisi kiri badan pindah ke sisi kanan, sambil menggeleng-gelengkan kepala dengan kenesnya.
Ada pula tari piring. Berbekal piring blek kecil (-kaleng), kami diajari cara memutar piring dengan kedua telapak tangan memegang piring di depan badan, diputar di samping badan, memutar sedemikian rupa di atas kepala sambil badan meliuk, lalu piring kembali ke posisi semula di depan badan. Syaratnya piring tak boleh jatuh!
Aku ingat, kami berusaha dan terus berlatih sampai piring tak terjatuh dari tangan kami.
Kata Bude, kalau kami sudah mahir, piring itu akan diberi lilin menyala.. nah seru kan?
Ternyata tidak mudah memutar piring dengan lilin menempel. Takut-takut, jangan-jangan ketiak terbakar atau rambut kami dijilat api.. hihihi…

daann… Lilinku sering mati atau jatuh..😦

Siapa yang tak pernah tertarik pada kipas? Kami  sering menari-nari menggunakan kipas. Mama membuatkan kami masing-masing sepasang dari kalender bekas. Kami pun bergembira bersama Bude menyanyi dan menari kipas. Apapun alatnya, -payung, tempurung atau kipas-, itulah judul tari itu meski nyanyiannya sama saja hahaha…

****

Pertama kali aku mengenal lagu-lagu daerah Anging Mammiri, Apuse dan Sarinande dari Bude Sri. Jaman kecilku dulu sebelum TK kami belum punya TV, jadi hampir tak pernah kami mendengar lagu-lagu asing.
Di TK ketika penilaian menyanyi, aku maju ke depan kelas menyanyikan lagu Sarinande. Guruku heran darimana anak TK sepertiku mengenal lagu daerah ini, sementara teman-temanku yang lain menyanyikan lagu anak-anak pada umumnya: Bintang Kecil, Balonku, Lihat Kebunku, Pelangi dan sebagainya.

“Siapa yang mengajarimu menyanyi lagu ini?” tanya Bu Guru.

“Bude…”, jawabku polos.
Kami juga beberapa kali piknik dengan Bude dan Bu Sum (eyang-tante kami). Sekedar jalan-jalan di sawah sekitar rumah, kami membawa bekal makan dan minum dalam keranjang. Kami menggelar kain atau jas hujan lalu makan di alam terbuka. Sederhana dan berkesan sekali piknik begitu..

 

****

Akhir Agustus lalu, adik bungsuku menikah. Bude Sri datang dari Jawa Timur untuk membantu acara istimewa ini. Di tengah-tengah pesta resepsi, spontan terjadi tarian massal. Kami menari dengan gembira. Kedua pengantin juga kompak turun menari dan berpolonaise. Tamu-tamu yang lain terbengong melihat kami.
Bude Sri lah dari kaum sepuh yang pertama kali ikut menari bersama yang muda. Bude Sri terlihat gembira sekali, sumringah dalam kebaya birunya; tanpa jaim mengikuti gerakan dan nyayian massal kami.

Sepupu-sepupu kami yang tadinya malu-malu, mendadak serta merta melempar tas mereka dan ikut menari.
It was fun! 
Usai menari bersama diiringi beberapa lagu, kami bersorak dan bertepuk tangan sambil terkekeh-kekeh mengingat betapa kacau dan ngawurnya gerakan kami.
Tapi yang terpenting dan paling menggembirakan adalah kegilaan kebersamaan dan spontanitas antara yang tua dan yang muda.
Kapan lagi coba ada pesta semeriah dan seheboh ini?
It was a completely precious moment of happiness for all of us..

****

6 Oktober 2014.
Kami mendapat kabar Bude Sri berpulang. Sungguh berita yang mengejutkan kami semua. Aku segera terbang ke Surabaya dan langsung menuju Mojokerto.
Aku tak sempat lagi melihat wajah Bude Sri untuk terakhir kali. Bude telah tertutup rapi.
Kami pun mengantarkan Bude Sri ke peristirahatannya yang terakhir.
Tak ada yang menduga, itulah tarian terakhir Bude Sri bersama kami.
She saved her last dance for us..

 
Semalam, aku bermimpi.
Bude Sri datang berkebaya biru dan bersanggul, persis seperti Bude berdandan dalam pesta resepsi lalu. Dalam mimpiku Bude memintaku membenahi kebayanya di bagian perut, pinggang dan lengan.
“Dik Nana, tulung (kebaya) iku dirumatno yo…”.
(Tolong kebaya ini dirawat ya… )
Lalu Bude pergi mengenakan kebaya krem pucat yang bersih sekali.

Aku tak paham soal makna mimpi.
Mimpi tentang Bude Sri semalam kuartikan sebagai pesan bahwa Bude minta untuk kami doakan.
Tentu, Bude… akan kami doakan Bude, Pakde dan Mbak Pipin, semoga berbahagia di surga berkumpul dengan Mbah Kung dan Mbah Uti, ikhlaskan untuk melepaskan segala urusan di dunia ya Bude..

Menarilah di surga bersama para malaikat..

Doa kami untuk kalian semua:

Semoga arwah orang-orang beriman beristirahat dalam ketentraman karena kerahiman Tuhan. Amin. 

 

dancing with the bride and bridegroom

…dancing and singing  with the bride and bridegroom, she shared her love and laugh…

 

with the men in suites

..with the men in suites and the ladies in blue..

 

..as we share the happiness..

..as we share the happiness..

 

in memoriam

Ibu Zita Marcella Josephine Dewi Sri Sumartiningsih

11 Maret 1950-6 Oktober 2014

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Special Ones, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

10 Responses to The Last Dance

  1. krismariana says:

    Pasti senang sekali ada yang mengajari menari di masa kecil.
    Semoga Bude berbahagia di surga, ya Na.

    • nanaharmanto says:

      Hehehe iya Nik… yang jelas sih seneng banget dulu, nggak pernah kesepian.. ada yang ngajak “sibuk” dan aktif.
      Matur nuwun untuk doanya ya Nik…

  2. monda says:

    bu de Sri seorang yang istimewa… pasti orangnya selalu ceria ya
    kenangan menyenangkan bersamanya akan tetap hidup

  3. nyoman selem says:

    … apapun alatnya, … nyanyiannya sama saja… hahaha… bener banget, Mbak!.. buat anak kecil, yang penting dia bisa bergerak ke sana ke mari dan menyanyi… dan yang penting buat orang tua adalah anaknya senang, dan anaknya ‘melek’ irama.. hehehe… RIP untuk Budhe tercinta, Mbak…

    • nanaharmanto says:

      hahaha… mengalami juga ya masa-masa nyanyi dan menari dengan alat seadanya.
      Asal rame dan seru anak-anak pasti suak deh ya..

  4. nh18 says:

    Semoga Bude Tenang di sisi NYA

    BTW …
    Acaranya unik juga ya Na …

    Salam saya
    (1/11 : 12)

    • nanaharmanto says:

      Amin… terima kasih doanya ya Om…

      hehehe… betul, Om.. acara resepsi adik saya memang unik.. spontan itu Om..
      seru banget Om… lain dari yang lain.. lumrahnya kan pengantin duduk manis /berdiri di pelaminan terus. dan para tamu “hanya” datang, salaman, makan, pulang..
      Kemarin itu memang istimewa banget… seneng deh Om…
      Sayang sekali ya di Jawa ini nggak ada tarian /dance massal seperti di luar negeri dan Indonesia Timur?

      salam saya,Om NH..

  5. Arman says:

    ikut berduka cita ya na…

    emang kalo lagi pesta trus nari rame2 (line dancing) itu seru ya…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s