Voucher Diskon Makanan Untuk Amal

Beberapa waktu yang lalu, setelah melayat Budeku di Jawa Timur, aku kembali bersama papa dan mama naik mobil ke Muntilan. Istirahat 3 hari di rumah, aku pun kembali ke Jakarta naik kereta api.
Aku sudah mulai tak enak badan, bahkan meriang di dalam kereta.
Sesampainya di Gambir, kuputuskan untuk sejenak isirahat sambil makan soto ayam. Tampaknya enak deh, kuah soto yang panas mengepul  disantap saat sedang meriang begitu.
Tiba-tiba datanglah dua orang yang dengan sopan meminta waktuku “3 menit saja” untuk memperkenalkan program mereka.


Mereka memperkenalkan diri sebagai mahasiswa semester 3 sebuah universitas terkenal di Jakarta.
Singkatnya, mereka adalah volunteer yang mencari dana untuk sebuah yayasan peduli Lupus. Lalu menawarkan sebuah booklet berisi puluhan diskon makanan dari beberapa restoran dan waralaba (terkenal) di kota-kota besar di Indonesia dengan variasi 5% hingga 30%. Cukup aku memberikan donasi 100 ribu saja, dan itu artinya aku sudah menyumbang yayasan tersebut.
Setelah kulihat-lihat, aku tidak tertarik sih -demi kesopanan saja-, aku kembalikan booklet tersebut dengan sopan dan kukatakan bahwa aku tidak tertarik.
Nah, mahasiswa yang lain segera memberondongku dengan kalimat begini. Heh? Keroyokan nih?
“Masak Kakak nggak mau nyumbang sih? Kakak beruntung banget lho bisa duduk-duduk nyaman di ruangan ber-AC dan makan enak disini, sementara penderita lupus yang dibantu yayasan ini boro-boro bisa makan enak, untuk bertahan hidup setiap harinya aja beraaat banget, Kak…. Mereka orang nggak punya Kak, hanya bisa mengandalkan bantuan dari yayasan ini Kak untuk berobat”.
Satu lagi menimpali.
“Bayangkan Kak, cuma dengan 100 ribu Kakak bisa makan enak, dapat diskon lagi dan ini berlaku sampai dua tahun, Kak.. “.

Yang lain segera menyahut.
“Apalah arti 100 ribu buat Kakak? Saya yakin segitu sih kecil buat Kakak…”.
Aku masih keukeuh menggelengkan kepala. Kepalaku makin pening.
Masih mereka memojokkan.
“Ya kalau 100 ribu berat buat Kakak, ya serelanya aja deh.. tetep kita terima kok..”.
Waktu aku masih menolak dengan sopan, salah satu dari mereka bilang.
Yaelah, Kak… serelanya aja masak nggak mau nyumbang sih? Kakak masih punya nurani kan?”.
Blllztttt… @#$#@%*(&^%^//??$&!!!!
Di situlah aku mulai meradang.
“Maaf, kalian sudah mengganggu saya. Saya akan menyumbang langsung ke yayasan apapun yang saya mau, tanpa iming-iming imbalan begini..”.
“Oh, ini bukan imbalan Kak… ini sebagai rasa terima kasih kami karena Kakak sudah mau menyumbang… “.
“Saya tidak tertarik menyumbang dengan cara begini”.
“Jadi gini Kak, kan nggak enak nih kalau kami minta sumbangan langsung nih. Itu namanya nodong dong Kak.. makanya kami berikan ini sebagai tanda terima kasih kami, Kak..”.
Aku menghela nafas yang memang sudah megap-megap, dengan suara hampir habis karena batuk dan flu kujawab mereka.
“Jadi gini, Dik.. kalian mempertanyakan nurani saya tadi. Menurut saya, saya TIDAK SETUJU menyumbang dengan cara makan enak, didiskon pula. Saya tidak bisa enak-enakan makan sementara orang lain menderita sakit parah begitu. Saya akan menyumbang LANGSUNG ke rekening yayasan yang akan saya tentukan sendiri. Ini nurani saya. Selamat sore, waktu 3 menit Anda sudah habis dua menit yang lalu”.
Gagal menodongku, mereka pun pamit.

Nah, yang cewek, mukanya sumpe, aseem banget..

 

****

Yah, sejujurnya aku terganggu sangat.
Keinginan untuk istirahat sejenak sebelum terjun ke keramaian jalanan ibukota untuk melanjutkan perjalanan ke rumah, buyar sudah.
Jengkel betul aku dengan gangguan “3 menit-yang-lebih” itu.
Aku selalu ingat nasehat nenekku untuk tetap berusaha memperlakukan orang lain dengan baik meski mereka menjengkelkan/membuat kita marah.
Gimana nggak mangkel, coba?
Satu. Mereka sudah mengganggu dengan menodong begitu di saat orang sedang makan/istirahat. Lagipula kelihatan banget aku sedang sakit begitu.
Dua. Keroyokan.
Satu aja udah cukup membuat nggak nyaman, apalagi keroyokan.

Tiga. Nyinyir.
Membuat kesimpulan dengan menyindir. “Uang segini mah nggak berarti… “.
Owwh.. mereka tak tahu, bagiku SETIAP rupiah sangat berarti! Setiap sen hasil kerja keras suamiku yang hampir tiap hari pulang malam, belum lagi kalau harus lembur dan keluar kota..
Setiap rupiah yang dicarinya dengan kerja jujur tanpa mau korupsi uang, waktu dan barang.. –tidak akan kuhamburkan tanpa tujuan jelas..

Empat. Mempertanyakan nurani.
Ini mah sinting. Kurang tepat atuh trainingnya, Bos! Mempertanyakan nurani orang lain mah fatal deh!
Ini mahasiswa baru kemaren aja berani mempertanyakan nurani emak-emak? Heh!
Nuraniku mengatakan untuk menyumbang langsung ke rekening yayasan yang berbadan hukum, jelas dan terpercaya – bahkan tak perlu kuharapkan imbalan dalam bentuk apapun- mereka pertanyakan?

Lha, nuranimu sendiri piye, Dik? “Jualan” diskon makanan mewah seharga 100 ribu , sementara ada *tulisan kecil-kecil berbintang*  yang jelas mengatakan hasil penjualan booklet itu akan disumbangkan ke yayasan yang disebutkan semula sebesar 10 %.
10% artinya hanya 10 ribu doang! 90 ribu buat siapa? Buat perusahaan yang bikin booklet itu sebagai ongkos ganti cetak kan?
Ketika muncul tulisan dengan font kecil dan bertanda bintang, hati-hati, unsur penipuan sudah sangat dekat –dengan dalih syarat dan ketentuan berlaku, masa berlaku terbatas, stok terbatas, hanya berlaku di P. Jawa dan sebagainya..

Lima. Duduk di ruangan AC dan makan enak.
Hmm.. mereka nggak tahu, jajan makanan enak sudah kutinggalkan 2.5 tahun terakhir. Pola makan kami beralih ke masakan rumah (masak sendiri) yang lebih bersih dan sehat. Iming-iming diskon besar dari puluhan resto dan waralaba itu nggak menarik buatku. Sebagian besar nggak bisa kukonsumsi karena aku dan suamiku menghindari beberapa bahan makanan.
Wah..wah… kok bisa sih jawab dengan lugas begitu Na?
Hahaha…. wes kerep! Udah sering dapat beginian.
Thanks anyway, practices makes perfect!
Jawabanku makin ke sini makin lengkap deh!

 

Anda pernah punya pengalaman serupa? “Nyumbang” nggak? Hihihi… *kepo

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Intermezo and tagged , , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

4 Responses to Voucher Diskon Makanan Untuk Amal

  1. Arman says:

    ya ampun kok nyebelin banget gitu ya na…
    maksa banget. orang nyumbang mah sukarela ya. kalo maksa gitu kok gua malah gak percaya kalo mereka niat nya bener2 baik..

  2. prih says:

    simpati awal yang segera beralih mendekati antipati ya Jeng
    Penjelasan lugas Jeng Nana mestinya bisa jadi masukan introspeksi kegiatan yang lebih elegan ya.
    Saya pribadi juga tak selalu membeli kupon makanan atas nama usaha dana koq Jeng tergantung sikon. Salam

  3. Christine says:

    Jawaban yg sempurna buat “penipu” macam mereka Jeng Nana…

  4. dinda says:

    Pernah, mb. Tapi ini bukan di Jawa aja. Di Makassar malah kuudah pernah dapat 2x, tp g pernah beli. Cuma g liat aja tulisan 10% nya saja yg disumbangkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s