Pete

Siapa doyan pete??
Sepertinya banyaaak banget penggemar pete / petai ini, mengalahkan penggemar batu akik..😀
Penyandang nama ilmiah Parkia Speciosa ini menjadi idola di berbagai wilayah di Indonesia. Ia dikeluhkan ketika harganya melangit terutama menjelang lebaran, tapi toh tetap dibeli juga demi tersedianya hidangan khas tertentu yang menjadi menu favorit keluarga.

****

“… kuberikan padamu, setangkai kembang pete..
tanda cinta abadi namun kere…”

Sepenggal lagu Iwan Fals yang sangat menggelitik ketika petama kudengar dulu. Lahh.. kenapa memberi pacar kembang pete yang bentuknya nggak seindah dan seromantis mawar atau anggrek?
Nama kembangnya dalam bahasa Jawa pun aneh dan ndeso, pendhul.. hahaha.. dinamai pendhul barangkali karena bentuknya.
Pernah lihat kembang pete?
Ini nih..

pendhul 1

pendhul.  kuncup kembang pete. bertangkai panjang

note: gambar kupinjam dari website ini, dengan sedikit editting/crop.

 

 

Dulu, di pekarangan belakang rumah kami, ada sebatang pohon pete. Tinggi besar. Kata mama, pohon itu sudah cukup tua, merupakan peninggalan simbah buyutku. Bunganya banyaaakk sekali. Berjatuhan di atap dan tanah. Aku sering memungutnya dan kujadikan mainan. Bentuknya menurutku sama sekali tak mirip kembang, tak berwarna-warni cerah, tak berkelopak dan tidak wangi.. ya bau pete lah..

pendhul mekar.

pendhul mekar.

Note: gambar kupinjam dari website ini,  dengan sedikit editting/crop.

Ini pendhul favoritku dulu, karena lucu bentuknya, berbulu kuning dan berjambul putih. Sayangnya, ketika jatuh ke tanah, bulu-bulunya pasti rontok, dan botak di sana sini.

 

 bakal buah,

hasil penyerbukan menjadi bakal buah

 

note: gambar kupinjam dari website ini, dengan sedikit editting/crop.

Nah, terbayang kan kelak bakal buah itu akan bernas dengan biji pete, si pendhul hijau berubah warna menjadi coklat.
Pertanyaannya sekarang, apakah aku doyan pete?
Doyan sih, tapi tidak terlalu suka..
Lho, gimana sih?
Istilah di Jakarta, doyan= suka (banget)
Nah, di daerah Jawa, doyan = bisa makan sesuatu, mengunyahnya hingga tertelan ke dalam perut. TETAPI, belum tentu suka pada makanan itu, -jadi memilih untuk tidak mengkonsumsinya lagi karena alasan rasa, aroma, tekstur makanan, alergi atau karena harganya yang mahal..

 

Nah, itu jawabanku. Aku doyan pete (baca=bisa makan pete), tetapi tidak terlalu suka (memilih untuk tidak mengkonsumsinya terlalu banyak).

 
Doyan pete ini dengan beberapa syarat “wajib” lhoo.. hihihi…
1. Pete harus dibelah. Dulu aku memperhatikan mama cara mengupas pete. Sayat “mata pete” satu persatu dari ujung ke pangkal, lalu keluarkan isinya. Aku harus yakin betul bahwa biji pete itu benar-benar bersih mulus tanpa penghuni ulat didalamnya. Pete bolong bekas ulat, pasti kusingkirkan. Aku benci sekali, “gilo” pada mahluk berjudul ulat.. hiii.. Jadi pete dengan bekas ulat tak kuijinkan masuk mulutku. Biji pete utuh pun kuhindari. Daripada ketika kugigit, ternyata ada ulat di dalamnya. Oh nooo…

2. Pete harus digoreng. Selain digoreng, aku memilih untuk tidak memakannya. Baunya nggak tahaann.. Pete mentah itu bau banget! Aku tak mau memakannya. Pete direbus pun aku enggan memakannya. Direbus utuh berikut kulitnya, ya sama aja ada kemungkinan penghuni di dalamnya ikut mateng. Ogah ah makan ulat rebus..
3. Pete yang dimasak sebagai penyedap atau pelengkap masakan, misalnya pada sambal goreng. Hmm… asalkan terbelah, atau dipotong -bukan biji utuh aku masih mau memakannya.

4. Sedia karbol untuk toilet. Berani makan pete, dia harus bertanggung jawab atas urusan toiletnya. Aku sangat keberatan toiletku bau pete.😀
Nah, itulah syarat “mutlakku” makan pete.

Dulu, asisten rumah tangga kami, -Yu Tentrem- sering menimbun pete utuh ke dalam abu panas di dalam tungku kayu. Aku masih kecil waktu itu dan sama sekali tak berniat untuk makan pete, jadi aku tak tahu bagaimana rasanya.
Waktu KKN, nyonya rumah sesekali menyediakan pete yang ditimbun di abu panas begitu, karena beliau masih menggunakan tungku dan kayu bakar untuk memasak. Aku mencobanya setelah kubelah *teteupp.. rasanya lumayan enak, lebih enak daripada pete rebus. Tapi haree genee... mana bisa menimbun pete di abu panas?
Aku pernah membakar pete utuh di atas kompor gas, tapi menurutku sih tidak seenak ala abu panas deh.

 

 

****

Aku jarang sekali makan pete dalam jumlah banyak. Rasa khasnya, agak getir terasa awet di lidah. Sepertinya aroma aduhai merajalela di dalam mulut. Getirnya di lidah agak menggangguku karena bisa tahan hingga 2-3 hari. Sulit hilang meski sudah makan permen atau gula merah. Itulah sebabnya aku menahan diri untuk tak terlalu banyak makan pete. Jadi tak percaya diri untuk ngobrol dengan orang lain deh.

Keengganku makan pete terlebih juga karena aroma di toilet dan gas sisa metabolisme, yah, yang gitu dehh..

Salah satu temanku dari Bukittinggi pernah membawakanku kering kentang dengan teri medan dan pete. Uniknya, pete ini diiris halus berikut kulit luarnya, digoreng hingga garing lalu dibumbui cabe merah, garam dan bawang merah. Lumayan enak sih, dan tak terlalu berbau.
Pernah ada pengalaman konyol ketika aku belanja di pasar. Butir-butir pete kupas hijau-gendut-segar mengkilat bergelantungan dalam plastik bening di kios tukang sayur. Kuambil sebungkus, dan tiba-tiba di dalam plastik ulat pete lemu ginuk-ginuk merambat bergegas-gegas di antara butiran pete. Gerakannya cepat, rasanya seperti merambat langsung di telapak tanganku. Kaget, tanpa sadar kujatuhkan plastik itu, pecah dan  isinya berhamburan di lantai pasar. Aku bergidik melihat dua ekor ulat subur makmur menggeliat kabur  di antara hamburan pete.
Abang tukang sayur membantuku memungutinya, kubayar pete itu tapi terpaksa kubuang karena terlanjur jatuh di lantai pasar. Aku terlanjur parno membayangkan butir pete selebihnya juga berpenghuni..
Aku tak suka bau pete. Ada pengalaman unik ketika aku bertemu teman yang cantik menarik, supel, ramah dan pintar menyanyi. Aku kagum padanya karena suaranya bagus sekali. Ketika latihan koor bersamanya, aroma pete kuat merebak dari nafasnya.. *kwannnggg

Pernah juga aku semobil dengan penggila pete. Setiap dia bicara, atau bahkan hanya bergerak sedikit saja, aroma pete menguar dari tubuhnya. Matihh… di dalam mobil aku mati gaya, tersiksa dalam perjalanan selama cukup 6 jam saja. *pingsan

Ternyata, ada tips jitu yang kudapatkan dari teman-temanku penggemar pete di tanah Sunda. Jadi, makanlah pete berikut kulit arinya. Lalu selesai makan, minumlah Spr*te. Aku tak tahu apakah minuman bersoda lainnya juga bisa manjur menumpas aroma pete. Tips lainnya, segera makan pil arang batok kelapa Nor*t minimal 3 butir. Sesuai dosis minum pil karbon aktif itu memang kelipatan tiga sih.

pete

pete dibelah, syarat mutlak…😀

note: foto koleksi pribadi.

Bagaimana dengan Anda? Anda penggemar pete?
Punya resep menu favorit berbahan pete?
Atau punya tips menghilangkan aroma pete di mulut/napas dan di toilet?

 

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Intermezo and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

6 Responses to Pete

  1. nyonyasepatu says:

    Gak doyan pete hehehe, bau soalnya

  2. monda says:

    aku sama Na, maunya cuma yg direbus dan makan hanya pada hari libur aja

  3. Arman says:

    waduh gua amat gak suka pete. bau na. hahaha.
    gua inget pernah mesen nasi goreng dan udah diwanti2 jangan dikasih pete. eh datengnya pake pete. walaupun udah gua buang2in petenya tapi seluruh nasi goreng tetep bau pete akhirnya gak bisa makan sama sekali😛

  4. admin says:

    Ada yang tahu nggak ya??
    sejak bendul sampai panen, berapa bulan itu si bunga pete??

  5. Edi says:

    4 bulan.
    Saya jual pupuk buat pete supaya berbuah banyak.

  6. hualoooooo…lama tak besuoooo…pete its so good for us…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s