Jengkol

Jengkol…. hmm…  Makanan terlezat bagi penggemarnya. Musuh bagi pembencinya.
Makanan satu ini memang dahsyat. Digemari kelezatannya, dicintai kelegitannya dan dirindukan saat ia menghilang dari pasaran karena harganya yang melambung. Tapi tak sedikit yang mencaci karena baunya.
Bernama latin Archidendron Pauciflorum / Pithecellobium Jiringa, di beberapa daerah jengkol diberi nama jering, jariang dan ada pula yang  “memperhalusnya” dengan sebutan jengki.


Pohon jengkol tumbuh hingga 25 meter, merupakan tumbuhan khas di Asia Tenggara, dan termasuk suku polong-polongan (fabaceae).
Buahnya berupa polong dengan kulit ari berwarna coklat dan mengkilat.
Dulu waktu tinggal di Jawa Barat, di salah satu warung Sunda yang terkenal, kudengar seorang pembeli bertanya, “Teh, aya semur ati maung teu?”
Hmm.. hati macan. Itu julukan khas untuk si jengkol rupanya. Aromanya segalak macan memang…😀

masakan jengkol

masakan jengkol

gambar kupinjam dari website ini.
Aku bukan penyuka jengkol. Bisa dikatakan benci pada makanan ini, apapun kreasi olahannya: emping jengkol, semur, rendang, sambal goreng jengkol, mangut hingga karedok jengkol.
Aku pernah makan jengkol, –enak sih, tapi aku memilih untuk tak mengkonsumsinya lagi. Sepertinya lidahku memang tak bersahabat dengan jengkol ini. Tertinggal rasa pahit di lidah dan bertahan hingga berhari-hari. Aku merasa, pahit getir itu pun menguarkan aroma khas jengkol yang tak kusuka. Ah, sungguh nggak nyaman buatku. Aku jadi merasa tak percaya diri berdekatan orang lain, takut orang lain terganggu bau jengkol.
Sewaktu aku tinggal di rumah kost di Jakarta Barat, setiap hari aku terganggu bau jengkol. Dekat kostku berderet rumah-rumah petak kontrakan. Nah, di situ terdapat kamar mandi umum. Aroma sisa metabolisme jengkol selalu menguar dari situ. Menyesakkan betul.
Sialnya, bau menusuk itu menerobos kamarku melalui lubang ventilasi. Sengaja kututup ventilasi dengan lembaran kertas, lalu kupasang pengharum ruangan yang sesekali harus kutekan supaya menyemprot untuk menghilangkan bau itu. Jelas sih, tak sehat menghirup pengharum ruangan begitu. Apa boleh buat. Aku tak punya pilihan lain. Mencari tempat kost lain yang aman tidaklah mudah.
Bau jengkol dari kamar mandi umum itu benar-benar membuatku senewen. Mau marah, tak tahu harus marah pada siapa.

Jengkolan
Suatu ketika, aku harus mengantarkan seorang rekan yang sakit ke Instalasi Gawat Darurat sebuah rumah sakit. Selesai tindakan oleh dokter di ruang IGD, aku menemani rekanku ini sambil mengurus persiapan opname. Satu ruangan IGD berisi 6 bed dan hanya disekat-sekat dengan tirai.
Aroma dalam ruangan itu benar-benar bagai neraka. Bau jengkol kuat sekali.
Pasien di balik tirai sebelah mengerang-erang kesakitan. Si pasien meringis, mengerang dan bahkan menangis. Katanya, sakitnya luar biasa. Setiap kali ibu itu bergerak sedikit saja, bau jengkol semakin menggila. Setiap erangannya mengembuskan bau jengkol berlipat ganda. Aku jadi sangat pusing dan rasanya mau tumpah isi perutku.
Kata anaknya yang menemani, ibunya ini sakit jengkolan. Betul-betul penyakit yang memalukan kata anaknya sambil tersenyum kecut.
Ibunya gemar makan jengkol. Terlalu banyak ia makan, lalu jadilah ia jengkolan. Tak bisa buang air kecil, BAB, bahkan buang gas pun tak bisa. Pasti tersiksa betul.
Jengkol mengandung asam jengkolat, struktur mirip asam amino yang tidak dapat dicerna. Dalam jumlah banyak, dapat menjadi kristal dan merusak pembuluh darah. Penderita jengkolan biasanya merasakan nyeri pada perut bagian bawah, lalu disertai keluhan tak bisa buang air kecil meskipun rasanya kebelet.
Beberapa pengantar pasien lain di ruang tersebut ada yang terang-terangan terganggu dan mengomel atas bau tak sedap itu. Sempat kudengar pula perawat yang berbisik-bisik karena kasus jengkolan yang nggak elit ini, dan mengeluh karena baunya betul-bentul menyengat.
Kututup hidungku dengan berlembar-lembar tissue.
Betapa mualnya.
Tiba-tiba aku harus lari keluar ruangan IGD. Tumpahlah isi perutku di luar.
Aku tak sanggup masuk ruangan IGD lagi. Aku bicara dengan dokter yang menangani rekanku dan perawat jaga lalu menandatangani berkas rekanku ini di luar IGD. Aku memilih menunggu di luar.
Setelah itu aku tak mau makan jariang lagi, meskipun tampilan santan kentalnya memikat dan bumbunya terlihat lezat. Peristiwa kecil tak mengenakkan di luar IGD itu menjadi teror bagiku.

****

Setelah berlalu sekian tahun…
Beberapa kali aku pindah ke banyak tempat yang bebas dari aroma jengkol. Bertahun-tahun sudah aku tak mau makan jengkol. Hingga suatu saat, suamiku ingin makan jengkol. Kami membeli rendang jengkol. Agak ngeri-ngeri penasaran kucoba makan juga jengkol itu. Satu gigit. Getir khasnya terasa menyengat di lidahku. Rasanya lama betul proses menelannya. Ora kolu kata orang Jawa (tidak tertelan). Tak bersemangat aku memakannya. Kata suamiku, ekspresi wajahku jauh dari bahagia hahaha…
Aku benar-benar tak bisa menghabiskan jengkol itu. Lalu jengkol itu berpindah ke piring suamiku. Dialah yang menyelesaikan secara adat jengkol-jengkol itu.
Aku tidak suka jengkol dan sangat berkeberatan toilet rumah kami bau jengkol. Susah hilangnya! Butuh banyak cairan pembersih dan penghilang bau toilet untuk membereskannya. Belum lagi bergulat melawan bau selama membersihkan toilet. Hidungku terlanjur amat sangat peka pada bau jengkol.
Aku tak melarang suamiku makan jengkol, asal tak meninggalkan jejak bau di toilet. Boleh makan jengkol secukupnya, tapi harus bertanggungjawab atas kebersihan toilet di rumah kami hihi… cukup fair kan?

****

Menghilangkan bau jengkol
Beberapa orang Sunda memberitahuku cara menghilangkan bau jengkol sesudah menyantap ati macan ini. Caranya bisa pilih minum kopi kental, minum minuman bersoda atau menelan beberapa butir Nori* setelah menyantap jengkol. Mana yang paling efektif, silakan coba dan pilih sendiri.
Salah seorang temanku punya resep andalan memasak jengkol tanpa bau. Konon, resep keluarga. Semua orang yang pernah mencicipi masakan jariangnya memuji-muji dan menggilai hasil masakan jengkolnya. Acungan jempol dan emoticon drooling kerap menghiasi setiap postingan gambar masakan jariangnya. Karena daulat sekaligus provokasi salah satu temanku, kuambil sepotong jengkol dalam suatu pertemuan.
Secuwil kecil, dan aku langsung tahu, aku memang belum bisa berdamai dengan jengkol. Keping jengkol itu pindah lagi ke piring suamiku.😀

Anda doyan jengkol?

 

catatan: beberapa informasi kusarikan dari sini.

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink.

2 Responses to Jengkol

  1. nyonyasepatu says:

    makanan kesukaan ayahku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s