Alpukat

Avocado. Atau alpukat. Anda pasti pernah memakannya, paling tidak, pasti pernah melihatnya. Konon, buah dengan nama latin  Persea Americana ini berasal dari Amerika Tengah, dengan meminjam dari kata aslinya dalam bahasa Aztek yaitu ahuacatl (sumber: wikipedia)

Daging buahnya berwarna hijau kekuningan dan sangat lembut saat masak. Aku tak tahu persis berapa jenis alpukat ini. Yang jelas, ada yang berbentuk bulat, lonjong, atau seperti buah pear yang menggendut di bagian bawah. Ada yang rasanya tawar, ada yang terlalu lembek dan nyaris berair, ada pula yang daging buahnya terlalu tipis. Nah, alpukat mentega adalah jenis yang menurutku paling enak. Disebut demikian karena teksturnya yang sangat lembut, berwarna kuning dan rasanya gurih lezat seperti mentega.

daging buah yang lembut dan gurih...

****

Waktu aku masih kecil, tumbuh sebatang pohon alpukat yang tinggi sekali di halaman depan rumah kami. Di kampung kami, hanya itulah satu-satunya pohon alpukat yang ada. Saat musim alpukat, buahnya bergelantungan berlimpah. Saking tingginya, tak mungkin kami menjangkau buahnya. Dengan galah sekalipun. Satu-satunya cara mendapatkan buahnya adalah dengan menunggunya jatuh. Saat buahnya mulai matang dan bersemu keunguan, buah itu jatuh dengan sendirinya. Biasanya, pagi-pagi benar kami menemukan sebuah alpukat tergeletak di tanah. Sering pula, sesaat setelah kami mendengar bunyi ‘buk!’ kami segera berlari memungut alpukat yang terjatuh.  Kami mengguncangnya hingga terdengar isi di dalamnya berbunyi “gluthuk-gluthuk”.

Lain cerita saat terdengar bunyi “darr!” artinya, alpulat jatuh di tembok atau di jalan yang keras, hingga alpukat itu pecah dan hancur. Biasanya sih, kalau buah itu hanya retak, atau pecah tapi masih berbentuk, kami masih memungutnya. Tapi kalau buah kehijauan itu hancur berkeping-keping, kami tak memungutnya karena tak bisa lagi diperam dan dimakan.

Ketika itu, para tetangga tak mengetahui betapa lezatnya alpukat. Mereka bilang alpukat tak enak rasanya sebab dagingnya keras dan tawar. Sama sekali tak berasa. Mereka tak tahu, bahwa alpukat harus diperam sekitar 3 hari hingga warnanya ungu sepenuhnya dan daging buahnya menjadi lembek. Barulah alpukat bisa dimakan dengan campuran gula, serbuk kopi atau coklat, di-jus atau sebagai campuran es buah.

warna ungu, salah satu tanda alpukat mulai lembek dan siap disantap

Bocah-bocah di kampungku juga sedemikian ndeso, hingga saat mereka menemukan alpukat itu, mereka malah membantingnya hingga hancur lebur, lalu serpihannya mereka gunakan untuk saling lempar! Uh….bod*****hh!!

Nah, kalau dulu kami segitu getolnya berlomba memungut alpukat yang jatuh, bukan karena kami pelit, semata agar tak mubazir jika dipungut tetangga tapi tak termakan.

Ketika rahasia kelezatan alpukat terkuak, persaingan lomba mendapatkan alpukat jatuh semakin ketat, karena para tetangga pun ikut-ikutan berlomba memungut buah yang jatuh…yeah, kalau jelas buah itu dimakan sih kami rela, tapi kalau tak termakan kan sayang…

Sewaktu malam, kadang terdengar suara “buk!”  alpukat jatuh! Tapi, kalau malam-malam begitu, aku tak berani sendirian memungutnya, lalu biasanya ditemani adik atau papa atau mama menggunakan senter, kami mengambilnya. Kalau menunggu pagi datang, biasanya tetangga telah memungutnya lebih dulu🙂

Pernah suatu malam, hujan turun dengan lebat.  Terdengar suara Buk! Buk! Buk!

Terbayang, besok pagi kami akan memungut tiga buah alpukat. Dan ketika pagi datang, kami segera mencari alpukat yang jatuh. Ternyata, setelah dihitung, ada tujuh buah alpukat yang jatuh! Waahhh…banyak sekali!

****

Suatu hari, aku menawari seorang temanku, apakah dia suka alpukat. Kalau ya, akan kubawakan besok karena dirumahku saat itu ada banyaaaakk sekali, tak mungkin kami menghabiskannya setiap hari, bisa mblenger atuh!

Ternyata dia mau, jadi kubawakan dia sebuah alpukat. Keesokan harinya, dengan berseri-seri dia bercerita bahwa alpukatku enak sekali, hingga papa, mama, kakak dan adiknya ikut memakan buah itu bersama-sama. Katanya, keluarganya itu jarang sekali bisa berkumpul akrab meski hanya sekedar makan bersama sekalipun, sebab kedua orangtuanya begitu sibuknya. Gara-gara sebuah alpukat itu, mereka bisa berkumpul bersama-sama menikmati buah itu. Saat itu, aku terharu sekali, sebab biasanya dia bercerita, betapa dia kesepian di rumah, kadang-kadang mereka tak saling menyapa atau bahkan tak bertemu karena orang tuanya begitu sibuk dengan urusan bisnis dan toko.

Lalu, paginya aku kembali membawakannya alpukat. Dia begitu senangnya….

****

Aku masih ingat, suatu ketika, saat kelas 4 SD, aku membawa alpukat untuk teman sebangkuku. Nah, saat pelajaran berlangsung, tiba-tiba alpukat itu terjatuh, ngglundhung bergulingan hingga ke depan kelas!

Hah, aku melongo, teman sebangkuku juga terbengong kaget, wajahnya pucat pasi takut dimarahi guru kami.

Seisi kelas tertawa berderai-derai. Sumprit…aku malu sekali. Aku dan teman sebangku hanya bisa sikut-sikutan… sambil terus menunduk…

Bu Guru pelan-pelan memungut alpukat sialan itu, lalu mengangkat alpukat itu. “Punya siapa ini?” tanya Bu Guru. Kami tak berani menjawab, hanya menunduk…takut dimarahi Bu Guru.

Huah…dasar anak SD! Teman-temanku spontan menyebut namaku. Semakin lemaslah aku. Aduh, pasti dihukum nih!

Bu Guru berjalan mendekatiku sambil terus membawa alpukat itu. Aku tak berkutik…dag dig dug….aku tak berani menatap wajah Bu Guru.  Betapa sebalnya aku melihat alpukat itu di tangan halus Bu Guru. Aku menyesal kenapa juga ya aku repot membawa alpukat hari itu? “Kenapa sih harus jatuh segala? Huh!”

“Nana yang bawa? Tanya Bu Guru.

“Iya, Bu…”, jawabku takut-takut.

“Punya pohonnya ya?”

“Iya, Bu…”.

“Ini untuk siapa?”

“Nggg….untuk si Anu, Bu….”.

“Ya, sudah, ini Ibu kembalikan. Kalau masih ada, kapan-kapan bawakan untuk Ibu ya?”.

Aku mengangguk, legaa….ternyata Bu Guru tak marah. Ketika Bu Guru berlalu dari mejaku, aku masih sempat menoleh ke belakang, meleletkan lidah pada temanku yang saat itu getol sekali jadi provokator, tampaknya dia bahagia sekali jika alpukatku bisa menjadi senjata makan tuan. Weeeek…aku selamat!!

Malamnya, aku bercerita pada orang-orang di  rumah. Mereka tertawa geli mendengar ceritaku. Lalu papa segera memilihkan buah alpukat terbagus dan terbesar yang ada di meja makan, lalu memasukkannya ke dalam kantong plastik, kemudian mengikatkan kantong itu di tas sekolahku. (Itu adalah salah satu trik agar kami tak ketinggalan barang.)

Sampai di sekolah, kuberikan alpukat itu pada Bu Guru.

Paginya, Bu Guru bilang padaku, alpukatku enak sekali…..hmmm….aku jadi senang sekali. Hihi…

****

Ada saat ketika buah alpukat itu sedemikian banyak, hingga kami nyaris mblenger. Lalu alpukat yang masih bagus dibagi-bagikan pada teman-teman papa dan mama, atau teman-teman kami.

Pohon alpukat mentega itu menjadi pohon kesayangan nenekku. Betapa bangganya nenekku pada rasa buah istimewa itu.

Beberapa waktu setelah nenekku meninggal, anehnya, pohon itupun mulai terlihat sakit. Benalu tumbuh subur di dahan-dahannya. Lalu batangnya pun mulai keropos.

Lalu diputuskan,sebaiknya pohon itu ditebang saja.

Wah, rasanya sayang sekali. Tapi untuk keselamatan bersama, pohon itupun akhirnya benar-benar ditebang.

Hampir sepuluh tahun berlalu, kini, di halaman yang sama, telah tumbuh pohon alpukat dan mulai berbuah. Papa-lah yang berhasil menumbuhkan dan merawat pohon itu. Kata papa, pohon ini berasal dari induk yang lama, yang salah satu buahnya ngglundhung di depan kelas itu…

the glundhung junior, aku belum sempat ngicipin buahnya..

bandingkan ukuran alpukat dengan gelasnya...

****

Anda pernah punya pohon kesayangan?

Suka alpukat? hmmm??

Foto: dok pribadi. (terima kasih untuk papa yang telah mengirimkan foto-foto the glundhung junior…)

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Golden Moments, Uncategorized and tagged , , , . Bookmark the permalink.

41 Responses to Alpukat

  1. pertamaxxxxx dan selamat pagi hehehehe

  2. ikkyu_san says:

    suka alpukat, tapi ngga punya pohon alpukat
    Dan setelah aku datang ke Jepang, baru tahu bahwa Alpukat bisa dibuat sebagai salada atau makanan lain selain jus alpukat atau es teler😀

    EM

    • ikkyu_san says:

      tambah lagi:
      doooh itu alpukat gede amat!!!
      mantap tuh

      • nanaharmanto says:

        Mbak, aku juga baru tau alpukat bisa dijadikan bahan isi sushi waktu kopdar di Jakarta itu…dan rasanya enak banget! hihi…

        Aku pernah lihat resep salad selada dengan campuran tomat dan alpukat..dengan saus ala Thailand, kayaknya enak dan seger deh, jadi pengen nyoba bikin kapan-kapan…

        selain rasanya, ukurannya itu yang bikin alpukat di rumah sangat istimewa. makan setengahnya udah kenyang deh, hehehe..

  3. Riris E says:

    coba kita tetanggaan, dengan senang hati aku dikasih alpukat. dari kecil aku suka sekali makan buah ini. Sebelum punya blender, kami biasanya memakannya dengan cara dikerok, terus dicampuri susu kental manis yg coklat..hmmm..yummy

    • nanaharmanto says:

      Wah, Mbak…ternyata cara kita makan alpukat hampir sama ya…tanpa blender pun jadi dah! abis lagi hehehe..🙂

      Kalau aja rumahmu deket, ambil sepuasnya deh Mbak… hehe🙂

  4. jeunglala says:

    Hihi..
    The Ngglundhung Junior.. Mesam mesem aku bacanya…🙂

    Aku suka alpukat, tapi sejak tahu kalau nggak baik buat body-ku yang seksi ini — plis deh, La.. lebay banget! haha – akhirnya aku jadi menghindari alpukat.

    Oh ya, soal pohon kesayangan, aku juga punya lho, Mbak Na. Dulu, tapi. Waktu itu aku masih tinggal di rumah yang lama.

    Aku punya pohon srikaya yang dikawinin sama pohon jambu air. Enak banget, deh. Selalu jadi rebutan temen2 yang main ke rumah…🙂

  5. zee says:

    Mbak saya suka nih bacanya.
    Hebad mbak kok bisa ya hanya ada satu pohon alpukat di kampung itu, pantas saja orang2 di kampung gak kenal alpukat.
    Saya sering beli alpukat di mall tp diperam sampai 3-4hari ga jadi ungu juga, hehee.. tp emg sih mateng cuma tetep ga enak sih…
    Pengen juga klo rumah halamannya gede, pengen nanam pohon alpukat..

  6. SALAM KENAL dan SALING MENGUNJUNGI serta SALING BERBAGI.WAH…WEB-NYA CUKUP INFORMATIF …OYA,BISA PASANG BANNER/LINK GA YAH…???
    HTTP: / / DUTACIPTA.WORDPRESS.COM 🙄

  7. serasa bunda ikut nyicipi alpukat dr pohonnya Mbak Nana.
    terbayang lezatnya si alpukat mentega itu.
    Kalau dirumah , bunda punya pohon mangga harummanis, kalau berbuah dahsyat manis dan banyaknya , hingga tetangga kebagian semua.
    senang rasanya kalau punya sesuatu yg bagus , bisa berbagi dgn tetangga.
    Salam.

  8. itu alpukat super gedenya, jadi ngiler nih Mbak.
    ayo bertanggung jawab dong (nah lho …?) 😀
    salam.

  9. arman says:

    wah alpukatnya gede banget ya na….
    asik banget punya pohonnya… mau dong dibagiiiii… kita juga penggemar alpukat. hahaha.

    • nanaharmanto says:

      Hehe…kupikir aku hampir lupa ukurannya, soalnya udah hampir 10 th nggak lihat alpukat itu. Dulu sih, makan separo aja udah kekenyangan…hehe..
      Kalau aja kamu tinggal deket-deket rumah…ambil aja tuh🙂

  10. DV says:

    Pohon kesayanganku adalah pohon mangga di rumah Klaten.

    Ada dua pohon mangga, yang di dalam pekarangan dan di tepiannya. Yang di dalam buahnya tak terlalu enak, tapi yang ditepian enaknya bukan main.

    Sayang, sejak simbah buyut dulu, beliau mengajarkan bahwa khusus pohon mangga yang ditepian itu, kalau buahnya menjorok ke jalan, itu jangan diambil karena itu ‘hak tetangga’ meski nanamnya ya di tanah sendiri🙂

    Aku suka alpukat! Dicampur susu dan ice cream… nyam!

  11. aurora says:

    woys… gede amat alpukatnya… aku suka alpukat lho kak…. apalagi yang kecil-kecil imut itu…. hmm sedapp….
    *apa tetangga kak nana sebodoh itu? ga tau enaknya alpukat??

    • nanaharmanto says:

      Wah, tampaknya banyak bener penggemar alpukat🙂

      Kami kan tinggal di desa, dulu para tetangga nggak doyan buah asing, taunya ya buah yang lazim ada di kampung seperti pepaya, mangga, dsb. mereka saat itu kan masih sangat sederhana🙂

      Setelah mereka tau alpukat harus diperam dulu dan enak rasanya, nah…mereka jadi getol deh hehehe…

  12. edratna says:

    Aku senang sekali jus alpukat…
    Nana punya alpukat? Duhh senangnya.

    Dan daun alpukat bisa untuk menyembuhkan penyakit batu ginjal…dulu suamiku diberitahu seseorang, untuk minum lima daun alpukat, direbus dengan lima gelas air, kemudian sampai menjadi segelas …diminum tiap hari….dan benar ternyata saat buang air kecil ada kristal kecil-kecil yang ikut keluar dan sejak itu sakit pinggangnya hilang.

    Andaikata ke rumah nana, saya mau dibawakan alpukat karena kalau beli terkadang tak banyak yang rasanya gurih dan dagingnya banyak.

    • nanaharmanto says:

      Wah, jadi tambah pengetahuan nih…
      Saya malah baru tahu kalau daun alpukat bisa digunakan sebagai obat tradisional batu ginjal…ternyata selain buahnya enak, daunnya pun bermanfaat ya…

      saya jadi ingat, dulu pernah ada tetangga yang minta daun alpukat, entah untuk obat apa, saya nggak perhatikan karena keluarga nggak ada sakit seperti itu.

      Andai Bu Enny dekat dengan rumah saya, boleh Bu, ambil alpukatnya…
      Saya juga belum pernah menemukan alpukat sejenis ini di pasaran, dagingnya tebal dan banyak. makan setengahnya sudah langsung kenyang hehe🙂

  13. nh18 says:

    Tiga hal …
    #1.
    Wedew ,,, guede banget alpokatnya Na …
    Itu bukan semangka kan ???

    #2.
    Bu guru juga manusia … dia tau mana buah yang mahal dan enak …
    so … Beruntunglah punya pohon alpukat ..

    #3.
    Alpukat pake coklat … pake susu …
    Aaarrggghhh

    Udah gitu aja komen saya

    • nanaharmanto says:

      1. Bener itu alpuket Om…suer…🙂

      2. Iya Om, kami beruntung punya pohon alpukat, buahnya bisa dibagi-bagikan lagi hehe… juga bisa dijadikan “alarm” bangun pagi untuk lomba memungut alpukat jatuh hahaha…

      3. kurang satu nih, Om… ditaburin serbuk/kristal coklat yang bungkusnya ijo itu….maknyus deh…🙂

  14. septarius says:


    Dikebonku juga ada pohon alpukat merah sama ijo..
    Alpukat Kalo berbuah emang banyak banget, bisa dibagi ke tetangga se Rt..
    He..he..
    Itulah enaknya urip nang ndeso, rasa kekeluargaan dan berbagi masih tinggi..
    ..

  15. Gileeee alpukatnya gede bener mbak!
    Anw tersentuh loh pas baca bahwa alpukat itu bikin keluarga temenmu jadi nggrumpul mbak🙂

    Btw apa kbr mbak? Maaf yah baru bisa maen lagi skr…

  16. monda says:

    salam mbak Nana,

    aku teringat waktu kecil oomku buatin pestolan dari isi pulpen yg dari logam itu, pelurunya ya daging biji alpukat

    • nanaharmanto says:

      Salam kenal juga Mbak…
      wah, aku baru denger sekarang ada mainan pistol berpeluru daging biji alpukat…hiy…kayaknya sakit kali ya kalau kena kulit?

      terima kasih sudah berkunjung ke sini ya?

  17. dykapede says:

    Have a nice day, undangan penuh kebahagiaan di hari yang ke-56 Ayah tercinta, salam D3pd😀 [minuman kesukaan saya]…

  18. Ria says:

    kalau ngomongin buah alpukat…dulu di kampung papaku depan rumah tante ada pohon alpukat mbak, dan karena rumah tanteku rumah panggung dari teras aku bisa metik alpukat ini😀

    buah kesukaanku adalah mangga manalagi…masih muda aja udah manis apalagi kalau sudah matang…nyummy!

    • nanaharmanto says:

      Aku pernah naik ke rumah panggung di sini…pas ada pohon mangganya lagi…wah, rasanya tanganku udah gatal pengen metik mangga itu. tapi masih ingat malu, jadi urung deh metik mangga hihi🙂 abis itu nyesel…yah, kenapa tadi nggak ambil ya? 🙂

  19. krismariana says:

    Na, kapan2 aku tak maen ke rumahmu di Muntilan lagi ya, jadi bisa teng2 crit sambil makan alpukat. Rasanya pasti mantep tuh Na🙂

  20. marshmallow says:

    subhanallah, cantik sekali alpukatnya.
    mbak nana, aku adalah salah seorang penggemar alpukat. nggak heran sih, alpukat memang likable banget kan? siapa sih yang nggak suka buah yang satu ini?

    soal pohon kesayangan, aku punya. ada beberapa, karena ayah dulu juga suka banget bertanam dan kebetulan halaman rumah cukup luas. ada pohon jambu air yang buahnya manis banget, serta sebatang pohon mangga manalagi. yang terakhir yang jadi favoritku banget.

    tapi saat aku SMA, kami terpaksa menjual rumah itu untuk pindah ke tempat lain. hiks…

    • nanaharmanto says:

      Kalau melihat beberapa komentar di atas, rasanya memang pantas nenekku bangga sekali pada alpukat ini.🙂

      Wah, pasti sedih sekali ya Uni, ninggalin rumah dan pohon jambu air dan mangga itu…hmm..jadi rejeki yang beli rumah itu dong… hehe🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s