Dan Dia Kembali

Aku merasa perlu meminta maaf pada para pecinta dan penyayang kucing sebelum memulai tulisan ini.

Mungkin beberapa bagian dari tulisan ini tak menyenangkan bagi para cat lovers…salaman dulu ah sama Ata dan Bu Tuti.. :)

Entah kapan persisnya, tiba-tiba seekor kucing tua yang nyaris sekarat datang ke rumah kami di Muntilan. Dia kucing yang luar biasa jelek dan menjijikkan. Gimana nggak menjijikkan? Bulunya rontok, kepalanya nyaris gundul karena koreng….hiiiy…..

Matanya juga sayu. Bukann….bukan…sayu yang manis begitu..tapi yang ini, hadoh…rembes! jiah…pokoknya nggak banget deh.

si buluk... buluk rupa...

Awalnya, si tua yang tak lagi lincah itu hanya berkeliaran di luar rumah. Berkali-kali diusir, berkali-kali juga dia datang lagi. Meskipun sudah digertak, dilempar sandal dan nyaris digebuk sapu hingga disiram air, dia nggak pernah kapok untuk datang lagi. Barangkali dia memang sudah terlalu pikun untuk sekedar mengingat perlakuan kejam kami padanya.

Mungkin juga dia terlalu bodoh untuk tahu bahwa kami tak menginginkan  kehadirannya.

Lalu….Dengan pede-nya, dia mulai masuk rumah….berkali-kali pula dia terusir dengan amat sangat hina. *wedew…bahasaku….

Well, tak ada yang mau mengundangnya apalagi merawatnya. Menyebalkan sekali kalau dia masuk rumah saat kami tengah makan bersama. Nggak cuma siang, malam pun dia masuk mengeong-ngeong sok lemes sambil membawa koreng dan mata rembesnya itu. (ya iyalah…masak ditinggal di keset pintu?) Hiiiy…jijay kan? Bisa bikin patah selera tuh. Makan bersama jadi terganggu deh, karena harus mengusirnya keluar.

Aku tak suka kucing, gilo malah. Meski tingkatnya tak seakut rasa gilo-ku pada ulat. Ketika merebak kabar bahwa salah satu media penularan toxoplasma,-yang merugikan dan membahayakan kesehatan kandungan-, adalah kucing, aku jadi semakin membenci kucing.

Saat aku pulang kampung Desember lalu, suatu malam, aku tidur di kamarku. Kebetulan pintu sedikit terbuka. Tiba-tiba ranjangku bergetar sesaat. Kupikir aku bermimpi. Gempa kah? Lalu ranjang bergetar lagi. Aku merasakan sesuatu di ujung tempat tidur, di atas kepalaku.

Aku terbangun mendadak dengan kalut. Kucing rembes itu!! Aku jengkel betul pada kucing buluk itu. Kuusir dia sambil dalam hati ngedumel. Sialan! Dia mengganggu tidurku. Tak cukup begitu. Aku merinding gilo membayangkan korengnya menempel di sprei hiiiiyy….aku pun pindah tidur. Mendadak aku merasa gatal-gatal…

Kebencianku makin menjadi pada kucing tak tahu diri itu.

****

Kucing itu harus disingkirkan. Kali pertama, papa berhasil memasukkannya di karung untuk dibuang di suatu tempat. Sayang, kucing itu berhasil lolos dari karung.

Kali kedua, kucing itu dimasukkan dalam karung, lalu kami minta tolong pak supir untuk membuangnya jauh dari rumah. Malam itu, kami lega. Bebas deh kami dari si buluk itu…. du di…di dam dam….

Ow…ow…Tak sampai tiga hari. Terdengar ngeong-ngeong sok memilukan di luar rumah.

Orang rumah mengira kucing lain datang ke rumah. Setelah terlihat mahluknya, yaelahhh…..kucing yang sama! Si buluk, si rembes, si koreng, si botak itu!!

Yaaahhh….pak sopir buangnya di mana ya? * tapi, terima kasih ya Pak…sudah membantu membuang kucing itu…

Lhadalah…berarti si bulukupret itu nggak pikun dong? Nyatanya dia berhasil menemukan rumah kami. Lha kok dia kuat jalan jauh? Berarti dia nggak sejompo dugaan kami dong? Jauh dari sekarat kalau gitu?

Hih, tetap saja kami tak senang dengan kembalinya si buluk. Tak ada upacara penyambutan!

Kami sempat terbahak-bahak waktu tahu dia balik lagi. Mak njenggirat-nya itu lho….🙂

Malah makin tertantang nih untuk menemukan cara lain menyingkirkannya supaya dia nggak kembali lagi.

****

Ada yang punya ide cara menyingkirkan si buluk?

About nanaharmanto

menulis dengan hati....
This entry was posted in Curhat tak penting, Uncategorized and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink.

23 Responses to Dan Dia Kembali

  1. bawa menyeberang pulau pasti ngga kembali deh hihihi

    (BTW aku juga gilo dengan kucing hihihi)

    EM

  2. monda says:

    kucing emang gitu, dibuang jauh2 pasti bisa balik lagi

  3. arman says:

    gua juga lho benci banget ama kucing. huahahaha…

    sekarang sih udah mendingan lah, pas kecil pernah dendam ama kucing gara2 kita pernah beli hot dong trus disimpen di atas meja. eh ada kucing masuk rumah trus main nyamber aja tuh hotdog kita. jadilah gua dan kakak gua dendam banget.

    suatu hari ngeliat ada kucing, walaupun gak jelas kucing nya sama gak, kita lemparin batu dah tuh kucing (maaf ya sadis :P). eh kena pas ke kepala lho. kucingnya sampe gak tau dah gegar otak apa gimana pokoknya trus jadi muter2 kayak kesetanan trus kabur ilang dan gak balik lagi.

    • nanaharmanto says:

      hihihi….aku senyum-senyum sendiri ngebayangin kalian berdua masih kecil dan berwajah bete gara-gara hotdognya dicolong kucing…

      tapi, aduh, dalam hal ini kalian sadis bener deh…belum tentu kucing si maling yang sama lagi…🙂
      kalau aku nggak tega segitunya deh, meski aku sangat membenci kucing.

  4. DV says:

    Nenek buyutku (alm) dulu sangat suka pada kucing padahal ia tahu bahwa ia dan keturunannya punya bakat asthma yang akut🙂

    Tapi yang menarik, setiap ia tak suka kucing dengan warna tertentu, ia akan suruhan orang untuk membuang kucing…

    Tips yang masih kuingat adalah ia membuangnya ke seberang sungai… niscaya ia tak balik lagi🙂

  5. edratna says:

    Waktu kecil saya dan adik-adik punya piaraan kucing, lucu-lucu suka dipeluk dan di sayang. Tapi yang menyebalkan dia suka buang kotoran di mana-mana…dan yang akhirnya membuatku putus asa..dia berak di sprei yang baru di ganti. Aduhh..padahal saya mencuci sendiri seprei itu (umurku saat itu 14 tahun)..pakai air yang mesti ditimba pake kerekan…zaman dulu belum musim pompa sanyo apalagi di kampungku listriknya byar pet.

    Sejak itu saya suka kucing tapi tak mau memelihara. Setelah menikah dan punya anak, suami dan kedua anakku alergi teradap bulu dsb nya…karpetpun tak punya, karena debu juga membuat bersin-bersin. Jadi bener2 deh berpisah dari kucing.

    Hanya tinggal adik bungsuku yang masih memelihara kucing, dan anak-anaknya juga menyayanginya.

    Kata orang, kucing pinter encari jalan kembali ke rumah…saran DV patut dicoba

    • nanaharmanto says:

      Salah satu sebab saya benci kucing ya karena kalau buang kotoran sembarangan. Meski sudah ditimbunnya dengan tanah, tetap saja baunya menyengat…
      Bulunya juga bertebaran dan menempel di mana-mana uh…
      Saya nggak tertarik untuk memelihara kucing deh.🙂
      Kayaknya saran dari simbah buyutnya DV bisa dicoba nih…

  6. hayyah……. Mbak Nana lagi sebel sama kucing buluk yg setia, gak mau pergi2 ha ha ha😀😀
    katanya sih, kalau mau buang kucing dibawa kepasar saja Mbak, krn disana banyak makanan, tapi harus ditutup matanya atau masukin kedalam kantong kucingnya, dijamin gak bakal balik lagi deh .
    selamat jalan2 kepasar dgn kucing setia itu ya Mbak😀😀
    salam

    • nanaharmanto says:

      Hehehe… kayaknya bukan setia deh Bunda, dia cuma numpang menghabiskan sisa hidup di rumah dengan harapan nggak perlu susah-susah nyari makanan sendiri🙂

      Jalan-jalan ke pasar dengan kucing? oh NO!🙂

  7. bunda dulu sempat punya kucing yang cantik, warna coklat campur putih, dia baik hati sekali , gak pernah nyuri makanan, juga dah pinter buang hajat di pasir yg memang kita sediakan.
    selalu dimandikan seminggu sekali dan pakai bedak, supaya gak kutuan.
    namun, akhirnya dia pergi selamanya , dan sampai sekarang kami sekeluarga terus mengenangnya hiks hiks jadi sedih dan kangen sama Inyot (nama kucingnya).😥
    salam

  8. septarius says:


    *Salaman dulu*
    Hmm..
    Jadi tau nih orang-orang pembenci kucing, nge-cek yang komen..
    *sambil melirik sinis*😀

    Cara ngusir kucing gampang mbak, pelihara aja anjing..
    Kucing kan takut anjing..
    Hi..hi..
    ..

    • nanaharmanto says:

      hayah….jangan sinis gitu dong…katanya hadapi dunia dengan senyum? hihihi…🙂

      Aku beberapa kali pelihara anjing, tapi beberapa anjing kami diculik dan dieksekusi orang lain hiks…hiks..
      jadi sekarang nggak pelihara anjing lagi, kasian kalau harus jadi korban kebiadaban orang😦

  9. nh18 says:

    Heheheh …
    Itulah hebatnya kucing …

    Yang jelas …
    memang (kadang) sulit untuk membuang kucing …
    Kalau saya sih …
    Asal dia tidak “fuf” seenaknya … atau nyolong makanan di meja makan … kami membebaskan dia untuk berkeliaran di halaman rumah kami

    Salam saya Na

    • nanaharmanto says:

      Dulu pernah ada kucing yang datang sendiri ke rumah Om, trus dipiara deh, eh, trus ngilang sendiri. nah yang si buluk ini kagak mau pergi2 juga…padahal penampakannya jijay gitu…

      Kalau ada kucing yang bandel gimana tuh? ninggalin “hartanya” atau nyolong gitu? apa sanksinya Om? hihi…

  10. Ceritaeka says:

    Mbak…
    mungkin si kucing itu dikirim untuk menjaga rumah mbak dr mahluk gaib😀

  11. AFDHAL says:

    kasiin bu tuti aja..beress !!!

  12. Intan says:

    Saya juga ada pengalaman. Ada kucing jantan besar keliaran dirumah kebetulan sayang pelihara 2 ekor yang masih kecil lahh anak kucing saya malah mau dimakann untung nya ketauan saya langsung bawa ke dokter hewan dan masih saya biarin kucing jantan itu ternyata waktu malem dia balik lagi mau makan kucing yg satunya lagi sampai leher bawah nya berdarah lukanya dalem. Pagi harinya saya suruh Papah buang kucingnya yanggg jauh (1-2hari amann) lah dia balik lagiii ampunnn gmn cara buangnya belum ada ide yg paling manjur takut kalo anak kucing saya dimakann habis😥 😭 ikut nanya yah mba 😀gemes sama kucing pembunuh itu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s